
-Al
Suara sorak-sorai mengisi seisi ruangan kelas, saat mendengar Pengumuman jika hari ini akan diadakan rapat, dan tentu saja semua murid dipulang lebih cepat.
Tidak mau kalah heboh dari yang lain, aku ikut bersorak paling keras.
“Wuhuu… uwo..uwo..”
Roni berdecak kesal, merasa terganggu karena aku berteriak tepat disampingnya.
“Dari pada kita pulang, gimana kalau kita makan dulu dikantin.. Perut gue dari tadi udah disko nih” Eluh Dio seraya menghelus-elus perutnya.
“Yuk Al, gue juga lapar” sahut Baim.
“Kalian duluan aja, Gue mau ke Toilet dulu entar” Bohongku pada Dio dan Baim.
Keduanya mengangguk mengiyakan, Sebelum beranjak pergi merekapun masih sempat-sempatnya saja menggoda si Es Batu.
Emang dasar nggak ada kapoknya dua alien ini dicuekin mulu sama Roni yang bahkan untuk menoleh saja ogah.
Lalu tidak lama setelah itu, kini ruangan kelas hanya menyisakanku dan Roni.
Aku langsung mengalihkan pandanganku padanya yang masih asik membaca, sepertinya dia tidak sadar kalau semua orang sudah pergi kecuali aku dan Dia.
“Ak”
“Maaf soal kejadian yang kemarin” Potong Roni, namun kedua bola matanya masih tertuju pada buku yang sedang dibacanya.
Aku terbelak kaget mendengar permintaan maafnya, tidak tau harus berkata apa aku memilih diam menunggu apa lagi yang akan dikatakan olehnya.
Roni lalu beranjak dari kursi dan menutup buku yang tadi asik dibacanya. Gadis es batu itu sekarang berdiri berhadapan denganku.
“Aku harap kamu bisa melupakan kejadian kemarin” sambungnya.
“Lo Vampir ya?”
Tanpa basa-basi terlebih dahulu, Pertanyaan itu terucap begitu saja dari mulutku, Keinginan tahuku dan rasa penasaranku yang sudah aku tahan dari kemarin sudah tidak bisa dibendung lagi.
“Haaah!?” kata itu yang keluar dari mulu Roni.
Aku sedikit bingung karena ekspresi yang sedang ditunjukkan oleh Roni sekarang bukanlah ekpresi seseorang yang sedang tertangkap basah.
Melainkan ekspresi yang mengatakan, sudah nggak waras nih orang.
“Imajinasi yang kamu punya, err…” Roni memiringkan sedikit kepalnya mencoba berpikir keras kata apa yang paling tepat untukku saat ini. “Liar” sambungnya.
"Yee! kalau lo ada diposisi gue pasti mikirnya juga gini kali" Belaku.
"Sekali lagi aku minta maaf, kemarin aku sakit dan aku punya kebiasan buruk dimana aku suka mengigit orang-orang disekitarku, maaf" Jelasnya, tidak masuk akal bagiku.
"Lo kira gue percaya sama alasan lo?"
"Iya"
"Alasan yang lo kasih nggak masuk akal buat gue, dan gue cukup yakin kalau lo memang Vampir!" Ungkapku percaya diri.
"Apa yang mendasari kamu, sampai kamu bisa berimajinasi sejauh itu?"
Aku melipat kedua tanganku didada mencoba terlihat angkuh.
"Pertama, lo gigit gue kemarin. Kedua, Gimana caranya kemarin lo bisa menghilang secepat itu dari pandangan gue? dan yang ketiga, gue liat warna mata lo berubah jadi merah, bisa lo kasih penjelasan yang logis buat gue?" tanyaku dengan raut wajah serius.
Sorot mata Roni kini berubah, Gadis itu menatapku dengan tajam. Diapun melangkah maju, mempersempit jarak kami.
"kamu tertarik nulis novel ya?" tanyanya.
Aku menggeleng, kakiku perlahan melangkah mundur, dan Roni terus melangkah maju.
"Kayanya kamu cocok nulis novel deh, imajinasi yang kamu punya udah setingkat penulis." Sambungnya.
Aku menelan liur saat badanku sudah menyentuh dinding, aku tidak bisa melangkah mundur lagi.
Jarakku dan Roni sudah sangat dekat, Gadis itu menatap tajam kedua bola mataku. Jujur saat ini aku merasa sangat terintimidasi olehnya.
"Dengar ya, lebih baik kamu nurut apa kataku dan lupakan semua imajinasi liarmu, atau kamu akan menyesali semuanya" Kata Roni.
Tidak tau kenapa, aku merasa apa yang baru saja Roni katakan bukanlah permintaan melainkan sebuah Ancaman.
"Paham?"
Aku diam nggak menjawab.
"PAHAM?" Ulangnya, kali ini dia sedikit meninggikan suaranya.
Aku mengangguk, "Iya"
Roni tersenyum puas mendengar jawabanku. Gadis itu kemudian mengambil tasnya yang dimeja dan pergi meninggalkanku yang masih diam tertegun memikirkan apa yang baru saja terjadi.
dreett...drett...
Panggilan masuk dari Baim berhasil menyadarkanku.
Baim : Dimana lo? belum selesai buang hajatnya?
"Wait, gue otw kesana sekarang." Balasku, lalu mematikan panggilan tersebut dan terduduk lemas.
Ada yang tidak beres, kesadaranku kembali saat Roni sudah meninggalkan kelas.
Tadi aku merasa seperti sedang dikontrol olehnya, aku bahkan tidak berani menyuarakan pendapatku. Aku benar-benar merasa terintimidasi olehnya.
Selain itu aku bisa merasakan tubuhku diselimuti Aura dingin, Aku semakin yakin kalau Roni bukanlah manusia biasa.
🔥🔥🔥
-Roni
Aldianysah Teguh Dewanta, Pikiranku saat ini dipenuhi olehnya. Aku tidak mengira jika dia ternyata melihat kedua bola mata yang berubah.
Aku tidak menyangka jika lepas kontrolku kemarin ternyata bukan perkara haus saja.
Selain itu yang lebih membingungkanku adalah kenapa aku tidak bisa memanipulasi ingatannya? padahal tadi aku sudah cukup yakin, tekanan yang aku berikan sudah cukup.
Noah.
Kuraih ponselku disaku dan menekan nomor 2 dipanggilan cepatku, Noah.
Drrtt...ddrttt....Drtt...drrttt...
Noah : Hi!
Noah menjawabnya dideringan keempat.
Noah : Tumben?
tanyanya Noah keheranan, karena tidak biasanya aku berinisiatif untuk menghubunginya duluan. Selama ini dialah yang selalu menghubungiku.
Noah : What's Up?
"I need your help"
Noah : Did something happen?
"Dia melihat mataku" Jawabku singkat, aku yakin Noah sudah paham maksudku.
Noah : Dia yang bilang?
Aku berhem pelan menjawabnya.
Naoh : Terus kenapa nggak kamu manipulasi aja ingatannya?
"Nggak berhasil" Ungkapku sebenar-benarnya.
Naoh : Are you serious?
"Serius Noah, kamu tau sendiri aku nggak bisa bohongi kamu?"
Noah : Oke, kamu harus tenang. Everythings gonna be okay.
Kata Noah mencoba menenangkanku.
"What should i do? kalau Daemon sampai tau, aku..."
Noah : Dia nggak akan tau, karena minggu depan aku akan ke Jakarta, dan hal yang harus kamu lakuin selama satu minggu ini adalah jauhi dia sebisamu sampai aku tiba, paham?
"Oke, Thank you so much Noah"
Noah : U're wellcome, and...anyway... aku harus pergi sekarang, Daemon memintaku untuk menjalankan misi, See ya!
"See ya!"
Misi?
Misi? apalagi yang sedang direncanakan oleh Daemon sekarang. Aku harap bukanlah suatu hal yang berbahaya.
🔥🔥🔥
-Al
Setelah Baim mengantarku menjemput jojo, mobil kesayangku.
Aku langsung pulang, setibanya dirumah langkahku langsung menuju ke kamar mandi yang ada dikamarku.
Sudah semenjak tadi aku membayangkan bisa berendam air hangat.
"aahh"
Lega rasanya ketika tubuhku sudah menempel dengan bath-tub. Rasa lelah dan semua beban dipundakku seakan terangkat.
Aku memejamkan mataku senjenak, dan....
***aku membuka kembali mataku...
"Aku dimana?" Gumamku kebingungan saat menyadari kini aku tengah berada disebuah hutan berkabut, bukankah tadi aku sedang berendam air hangat dikamar mandiku?
aku melihat keselilingku, tidak ada siapa-siapa.
"Halooooo? apa ada orang?" aku berteriak panik.
Tidak ada satupun orang yang menjawab, aku terus belari dan berlari sampai aku akhirnya tiba disebuah danau, dan disana aku melihat dia.
"Roni?"
Kenapa ada Roni disini?
Bukannya langsung berlari ataupun memanggilnya aku lantas memilih untuk memandangi terlebih dahalu.
Roni duduk didermaga danau dengan mengenakan gaun berwarna hitam dan rambut hitamnya yang terurai.
Aku tau dia memang cantik, tapi aku tidak pernah sadar kalau ternyata dia secantik ini? Untuk pertama kalinya aku merasa tersihir karena kecantikannya.
"ah"
Roni akhirnya berdiri dan mata kami bertemu.
Kedua bola mata Roni yang berawrna merah membulat, dia tampak terkejut dengan kehadiranku disini, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
Aku berjalan mendekat kearahnya dan*...
"Akh***"
aku membuka mataku secara pelahan, ku lihat keselilingku dan ternyata aku masih berada di bath-tub.
Aku mengacak rambutku yang basah dan berpikir sejenak.
"Mimpi aneh macam apa itu?"
TBC