
-Al
"Woy! Sadar lo" Kataku berusaha menyadarkan Roni yang pada saat ini tengah menghisapku.
Terlebih dari itu, bagaimana jadinya jika nanti tiba-tiba saja ada orang yang masuk? bisa-bisa nanti terjadi kesalapahaman.
"Ahh" Sembusan nafas kecil dari Roni dapat kurasakan dileherku.
perlahan, tancapan tajam yang sejak tadi menancap erat dileherku mulai menghilang.
Dan ah, aku sudah bisa menggerakan tubuhku kembali.
Saat aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi tertindih dibadan Roni, aku dapat melihat kedua bola mata Roni kembali berubah warna.
Bagaimana bisa?
"Maaf" Ucap Roni pelan, sepertinya dia sadar apa yang telah dia lakukan tadi.
sebelum menjawab permintaan maafnya, aku bangkit lalu mengambil kaca kecil yang tergeletak dimeja dan melihat bagimana keadaan leherku sekarang.
Kedua bola mataku melebar begitu melihat bekas gigitan dileherku.
"Jelaskan padaku apa maksudnya ini?" Kataku sambil menunjuk bekas gigitan yang masih terlihat merah dileherku.
"Aku menggigitmu, apa kamu buta?" jawabnya santai.
aku terbelak kaget mendengar betapa santainya dia menjawab pertanyaanku.
"Hah?! ini bukan gigitan! aku yakin kamu juga menghisapku tadi?" balasku sedikit Emosi.
"Kamu belum pernah di Hickey sebelumnya?" tanya Roni dengan wajah datarnya.
Aku terdiam, memikirkan Hickey? tunggu dulu aku tau itu apa, itu adalah..
"Cu..******!" Sontakku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku ucapkan dan aku dengar.
"Lo gila ya! ngapain lo lakuin itu ke gue?" tanyaku tanpa melihat matanya.
Sial, aku bisa merasakan pipiku kini berubah merah.
"Hooh, jadi memang belum pernah ya" Ledek Roni.
Aku memalingkan wajahku darinya, bagaimana bisa dia bersikap biasa aja setelah melakukan hal seperti itu padaku?
"Lo suka ya sama gue?" Tebakku.
"No" Balas Roni cepat tanpa pikir panjang terlebih dahulu.
"Terus kenapa lo lakuin itu ke gue? asal lo tau aja ya, ini namanya pelecehan sek-"
"Karna manis" Kata Roni saat memotong ucapanku.
Aku tertegun mendengarnya, kedua pipiku semakin panas dan semakin memerah. Untuk pertama kalinya aku bertemu gadis seterus terang ini.
"Maksud lo gue manis?"
Roni mengangguk, tidak ada rasa malu sedikitpun.
jujur aku merasa sedikit kesal dengan sikap dinginnya.
"Dengar ya, apa yang lo lakuin tadi itu namanya pelecehan seksual! gue bisa aja nuntut lo, jadi jangan pernah lo sentuh gue lagi!" Ancamku tegas.
"Oke, i won't" balasnya santai.
"Haaah" aku menghela nafas resah. "Ayo bangun, gue antar lo pulang" sambungku.
"Thanks, tapi aku bisa pulang sendiri" tolaknya.
"Udah nurut aja!" Paksaku.
sebelum satu kata keluar lagi dari mulutnya, aku sudah beranjak pergi membawa tasnya yang sejak tadi tegeletak dilantai.
saat aku menoleh kebelakang, Roni ternyata sudah berjalan mengikutiku. Awalnya aku pikir dia akan bersikeras menolak.
"Ayo naik" Perintahku padanya saat kita telah sampai di parkiran dimana mobilku terparkir.
"eeh, lo mau kemana?" sahutku menghentikan langkahnya.
"Bukannya kamu suruh aku masuk?" tanyanya.
"Emang gue nyuruh lo masuk, tapi lo duduknya didepan bukan dibelakang, lo kira gue supir apa!" Jelasku padanya.
Roni memutar kedua bola matanya, seolah mata itu berbicara padaku dan mengatakan betapa menyebalkannya aku.
ughh, kalau bukan karena ini permintaan langsung dari Bu Wati aku juga tidak akan mau.
Lebih baik aku cepat-cepat mengantarnya pulang, karena lebih cepat aku mengantarnya aku tidak akan berurusan lagi dengannya.
Aku lalu segera membuka pintu mobil dan masuk kedalam, bersamaan dengan Roni yang juga ikut masuk. Namun tidak lama setelah itu Roni tiba-tiba saja memegang pundakku.
aku sedikit tersentak kaget olehnya, terlebih lagi mata yang menatapku dengan tajam seolah ingin membunuhku.
"Al" jawabku singkat, jujur aku tidak terlalu mengerti kenapa dia menanyakan aku siapa.
"Aku akan pulang sendiri" Kata Roni lalu membuka pintu mobil dan keluar.
"Hah? tunggu woy" kataku, lalu ikut turun mencoba untuk menghentikannya.
"Loh?" Aku tertegun, Roni sudah tidak ada.
Aku lalu berlari menuju gerbang sekolah mencarinya namun aku tidak menemukannya sama sekali. Nggak mungkin dia bisa pergi secepat itu bukan?
Aku ingat dengan jelas saat Roni keluar tadi akupun ikut keluar untuk menghentikannya, tapi begitu aku keluar kenapa keberadaan Roni sudah menghilang dari pandanganku.
dan kalau aku ingat-ingat kembali kejadian tadi, aku merasa ada hal penting yang aku lupakan.
"Mata!" gumamku saat berhasil mengingatnya.
Aku ingat jelas kedua bola mata Roni tadi berubah, selain itu tubuhnya sangat dingin.
Hanya ada satu teori yang bisa menjelaskan semua ini. Apa mungkin dia adalah sosok yang saat ini sedang aku bayangkan?
****
-Roni
Aroma itu dan Rasa itu, aku masih mengingatnya dengan jelas.
Bagaimana bisa dia memiliki Aroma dan Rasa manis yang sama seperti orang itu? dan bagaimana bisa Aroma itu mengisi seisi mobilnya?
"Haaah.." Aku menghela nafas panjang, dan menjatuhkan badanku kekasur.
ddrrtt...ddrrtt..
Getaran Hp dikantongku menyadarkanku.
Kuambil Hpku dari kantong, Panggilan masuk dari Noah muncul dilayar Hp.
"Halo" jawabku.
"Hi! How's your day?" Tanya Noah bersemangat, menanyai bagaimana hariku disekolah.
Ada sedikit jeda sebelum aku menjawab pertanyaan Noah, begitu kejadian tadi terlintas dibenaku.
"Pretty Good" Bohongku sambil menggigiti kuku kananku.
"Don't lie"
Sial, Aku lupa aku tidak akan pernah bisa membohonginya.
"Percuma kamu bohong, Kamu tau betul tidak ada satupun yang bisa membohongiku" Jelasnya.
ya aku tau itu, tidak ada satupun mahluk didunia ini yang bisa membohongi Noah.
"Aku cuman membuat kesalahan kecil tadi"
"Kesalahan? Jelaskan" Perintah Noah mutlak.
Aku menghela nafas panjang sebelum menjelaskan semuanya pada Noah.
"Kamu nggak akan aduin hal ini ke Daemon kan?" Tanyaku pada Noah begitu selesai menjelaskan apa yang terjadi tadi.
Noah terdiam cukup lama, aku cukup yakin apa yang aku jelaskan tadi membuatnya khawatir. Mengingat kembali bahwa sekarang aku di Jakarta tinggal sendiri dan tidak ada yang mengawasi.
"Oke, aku nggak akan melaporkan masalah ini ke Deamon, tapi aku mau kamu untuk lebih hati-hati lagi mulai dari sekarang" Kata Noah, aku bisa membayangkan betapa seriusnya wajah yang Noah tampakkan sekarang.
Aku hanya berhem pelan membalas perkataan Noah. Tidak ada gunanya membantah.
"Jika terjadi sesuatu, call me right away. Okay?" Sambung Noah.
"Iya" jawabku, lalu mengakhiri panggilan kami.
"Haaah"
Aku kembali menghela nafas, Pikiranku kembali pada kejadian tadi.
Ini adalah kali pertama aku lepas kendali. Tidak perduli sehaus apapun, aku selalu bisa menahan rasa Hausku dengan sangat baik.
Apakah itu karena dia memiliki Aroma dan Rasa yang sama?
TIDAK! STOP! aku harus berhenti memikirkannya.
Aku lalu bangkit dari kasur dan menatap dengan lekat pantulan diriku dicermin.
"Ah" Kini mataku sudah berubah kembali menjadi merah.
I Hate It, I Really Do.
Karena mata ini terus menyadarkanku mengenai identitasku yang sebanarnya.