Reborn

Reborn
PART XII



Rael membawa anak itu dan adiknya ke UGD rumah sakit. Para suster pun segera memeriksa keadaannya dan memberikan penanganan. Namun tiba-tiba para perawat itu menghentikan pemeriksaannya.


"Ada apa, sus?" Tanya Rael.


"Maaf, silahkan bawa anak ini ke rumah sakit lain" Kata salah seorang perawat dengan pandangan ke bawah.


"Bagaimana keadaannya? Apa dia harus dirujuk ke rumah sakit lain?"


"Mohon maaf, kak. Kami tidak menerima pasien berdarah campuran disini" Saut perawat lainnya. Rael menatap orang itu datar.


"Hanya karena itu?" Tanya Rael.


"Maaf, kak?"


"Kamu pasti bukan perawat, kan?"


"Tentu saja saya perawat. Mohon maaf kak kami tidak bisa melanjutkan pemeriksaan silahkan pergi ke rumah sakit lain" Perawat itu bergegas membukakan pintu keluar untuk Rael. Rael terdiam.


Prangg!!! Dalam keheningan itu tiba-tiba sebuah lampu di ujung ruangan pecah.


"Maaf, aku tidak sengaja" Kata Rael.


"Aku tidak tau kalau perawat di Negeri ini seegois itu" Ia melepas topinya dan menggerai rambut panjangnya.


"Kalau gitu bagaimana denganku, bangsa asing yang mengabdi untuk keamanan Negerimu?" Rael melepas chip di telinganya dan menunjukkan wajah aslinya. Para perawat itu pun terkejut.


"Bukankah tindakanmu itu sama saja dengan ajakan perang untuk para petinggi militer yang menerima blasteran sepertiku?"


"Ugh!" Perawat itu menahan kekesalannya dengan mencengkeram gagang pintu.


"Tidak, nona. Kami akan menyembuhkannya" Kata seorang perawat di samping Rael. Ia yang tadinya gugup sekarang dengan cekatan memeriksa keadaan pasiennya.


"Baik, nona. Silahkan ke depan untuk mengurus administrasi pasien"


Rael mengenakan topi dan chip-nya lagi. Seketika wajah dan rambut pirangnya tetutupi dengan wajah penduduk lokal yang mirip dengan Linda.


Rael menatap tajam perawat yang tadi mengusirnya dan berlalu pergi.


"Rael, kamu sudah selesai?" Dafa menghubunginya lewat komunikasi pribadi.


"Sebentar lagi"


"Oke. Cepat selesaikan"


"Baik"


Rael kembali lagi ke ruang UGD setelah menyelesaikan pembayaran administrasinya.


"Berikan ini pada anak itu saat ia bangun nanti. Aku berhutang budi padamu, Hersha Madcien" Rael memberikan sebuah amplop berwarna coklat pada perawat yang menolong anak itu tadi dan berpamitan pergi.


"Dari mana saja kamu?!!!" Fendy meneriaki Rael ayang baru keluar dari pintu UGD. Rael segera berlari ke arahnya. Ia melihat seseorang membisikkan sesuatu pada Fendy.


"Lapor ketua—"


"Langsung masuk!! Kita harus segera pergi. Aku tunggu di ruanganku setelah ini!" Kata Fendy. Rael menurutinya dan langsung masuk ke dalam mobil.


Pukul setengah 4 dini hari mereka kembali ke bandara. Rael berada di mobil tepat di belakang mobil Gubernur. Ia sedang memikirkan apa yang akan dikatakan ketua nanti.


Dor! Dorr!


Suara tembakan terdengar dari mobil di belakang Rael. Salah satu mobil rombongan penggiring mereka tertembak di ban depan kirinya. Mobil itu pun oleng seketika dan menabrak trotoar dan tiang pertokoan.


"Mereka mulai mengejar" Kata si sopir.


"Mereka siapa?" Tanya seseorang di samping Rael.


"Hmm.. Ini misi pertama kalian, ya. Mereka hanya penduduk lokal. Tapi mereka dengan terang-terangan menentang kehadiran blasteran dan pendukungnya. Merekalah yang harus kita waspadai. Kalian berdua, ambil senjata kalian! Jangan bunuh siapapun, cukup hambat pergerakan mereka saja!"


"Siap!" Jawab Rael dan prajurit di sebelahnya.


Prajurit itu mengangkat senjatanya dan mengeluarkannya sesekali sambil menembak orang-orang yang mengejar mereka.


Dengan cepat Rael menembak tangan para pengejar yang memegang pistol dan membidik semua roda kendaraan mereka. Dalam waktu kurang dari 1 menit ia berhasil melumpuhkan mereka yang jumlahnya mencapai puluhan itu.


Setelah memastikan tidak ada yang mengejar mereka lagi, Rael kembali masuk dan duduk di tempatnya.


"Kamu seorang penembak handal ya, anak baru" Kata pria di depan Rael.


"Kemampuan saya belum seberapa" Balas Rael.


Sopir menambah kecepatan mobil mereka mengikuti mobil yang membawa Gubernur dan istrinya.


"Bagaimana dengan pasukan yang tertinggal di mobil tadi?" Rael penasaran apa yang akan terjadi dengan mereka yang menumpangi mobil yang tertembak tadi.


"Tenang saja. Penduduk disini tidak akan menyerang para tentara sembarangan. Target mereka adalah pak Gubernur. Mereka akan kembali bersama pasukan lainnya siang nanti"


"Namamu Rael, ya? Aku mengerti kenapa kamu bisa mendapat rekomendasi dari Jenderal. Tapi sebaiknya kamu berhati-hati. Karena kamu masih sangat muda jadi aku akan memberitahumu. Situasi di lapangan sangat berbeda dengan saat kamu berlatih. Fokuslah pada misimu. Karena hal sepele pun bisa membahayakan seluruh pasukan di timmu"


"Baik. Saya akan mengingatnya"


...✓✓✓✓✓...


Krieett.... Rael membuka pintu ruangan Fendy. Ia memberi hormat dan salam kepada Fendy.


"Rael... Rael" Fendy meletakkan buku yang dipegangnya ke rak buku.


"Saya tidak mengerti kenapa Jenderal Hassan sangat melindungimu. Padahal kamu hanya prajurit yang ceroboh"


"Kamu tau apa kesalahanmu?"


"Siap, kapten. Tidak tahu"


Plakk!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Rael.


"Ini situasi perang!! Bagaimana kalau bocah itu memiliki bom peledak di tubuhnya apa kau bisa mengatasinya hah?!! Dan kau malah membawanya ke kerumunan!!"


Selama 1 jam Rael mendengarkan celotehan Fendy di ruangannya. Dan selama itu pula Rael hanya diam saja yang justru semakin membuat Fendy geram. Bahkan celotehnya itu semakin lama menjadi seperti amukan orang tua pada anaknya.


"Dengar bocah. Hanya karena Jenderal berada di belakangmu bukan berarti aku tidak akan berbuat apa-apa padamu. Aku atasanmu disini. Aku akan menunda penilaian untuk tes mu. Keluar" Rael memberi hormat padanya dan keluar dari ruangan.


Setelah melangkah jauh dari ruangan Fendy, Rael menguap dengan lebar. Langit yang bersinar terang tidak dapat menghilangkan rasa kantuk yang ia tahan selama di ruangan Fendy. Rael meregangkan otot-ototnya yang kaku.


Untuk sementara Rael ditempat tinggalkan di asrama tentara sambil menunggu keputusan selanjutnya untuknya.


Rael pergi ke belakang asrama. Ada tanah rerumputan luas disana. Ia duduk bersender pada salah satu pohon rindang disana. Angin sejuk yang berhembus meniup lembut anak rambutnya dan membuatnya semakin mengantuk. Di tengah kesadarannya itu tiba-tiba sebuah gelas kertas muncul di hadapannya.


"Hai, capek ya?" Rael mendongak. Dilihatnya Dafa berdiri memegang 2 gelas minuman yang mengeluarkan uap.


"Nggak juga" Rael menggeser tubuhnya mempersilahkan Dafa untuk duduk.


"Kopi atau teh?" Tanya Dafa.


"Kopi" Ia menyodorkan segelas kopi panas pada Rael.


"Tadi diomongin apa sama Fendy?"


"Ya, begitulah. Ngomel-ngomel"


"Hahaha... Jangan dibawa hati"


"Mhm" Mereka menikmati minuman masing-masing sambil menatap rerumputan hijau di depan.


"Dulu dia bukan orang yang begitu"


"Maksudnya?"


"Si kapten itu"


...✓✓✓✓✓...