Reborn

Reborn
PART VII



"Rael. Setelah makan kita lakukan pemeriksaan tubuhmu lagi, ya" Kata Hiro.


"Iya" Rael balas mengangguk.


Suasana di rumah makan sangat hening. Semua orang sibuk menikmati makanan masing-masing tanpa bersuara. Hanya sesekali terdengar dentingan piring dan sendok yang beradu.


"Semangat" Kata Rael dengan wajah datar. Ia meletakkan piring kotornya di depan Shira yang sedang mencuci piring.


"Ughh! Rael meledekku" Gerutunya kesal.


Rael mendatangi Hiro yang sedang membuka kunci pintu ruangannya. Ruang kerja Hiro tidak bisa dimasuki sembarang orang karena selalu dikunci olehnya. Karena eksperimennya yang berbahaya, dinding ruang kerjanya dibuat dari besi baja untuk meminimalisir kecelakaan seperti saat Rael meledakkan komputer miliknya.


"Profesor" Panggil Rael.


"Oh, iya. Ayo, masuk Rael" Hiro mengunci kembali pintunya dari dalam.


"Ini akan jadi pemeriksaan terakhir kalau


kondisimu sudah stabil. Coba berbaring" Rael mengikuti arahan Hiro dan berbaring di ranjang.


Hiro memasangkan kabel-kabel di lengan dan kepalanya lagi. Ada sedikit sengatan yang dirasakan Rael saat kabel itu terhubung dengan komputer.


"Kamu sudah melatih kemampuan matamu, ya? Coba aktifkan deteksi jarak jauh" Rael mengikuti arahan Hiro. Pendeteksi jarak jauh membuatnya mampu melihat langkah kaki semut dari ketinggian 1000 meter.


"Bagus, Rael. Kondisi jantungmu juga sudah stabil. Kakimu juga sepertinya baik-baik saja mengingat hentakanmu kemarin yang sampai menjebol tangga" Rael menutup wajahnya malu.


"Maaf"


"Hahaha tidak apa-apa. Aku punya banyak cadangan kayu"


"Hmm... Ini lebih cepat dari perkiraanku. Tubuhmu sudah bisa saling menyesuaikan satu sama lain. Antara tubuh manusiamu dan organ barumu. Kamu sudah merasakannya kan? Ada beberapa atau bahkan banyak yang berubah dari tubuhmu. Tidak perlu khawatir, itu tidak akan membahayakanmu. Aku sudah membatasinya agar tidak menimbulkan resiko apapun" Jelas Hiro.


"Iya. Aku mengerti"


"Begini, Rael. Apa kamu sudah tau tujuan Hassan dan Linda tetap disini?" Hiro mengalihkan pandangannya dari layar komputer.


"Kurang lebih aku tau"


"Semua keputusan ada di tanganmu, Rael. Kamu bisa memilih ikut mereka atau tidak. Mereka bukan orang jahat, aku yakin mereka akan memperlakukanmu dengan baik"


"Mhm, biar aku pertimbangkan lagi"


"Oke. Kamu boleh pergi. Kamu bisa ikut mereka kapan saja kalau keputusanmu sudah bulat"


"Terimakasih, Profesor" Rael melepas kabel-kabel di tubuhnya dan berjalan keluar ruangan.


Ia langsung menuju kamarnya tanpa menoleh ke sekitarnya sekalipun. Ia merebahkan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa ngantuk, seperti ada obat tidur di makanannya.


Suara petir yang menggelegar di atas rumah terasa jauh berkat fungsi pendengarannya yang ia turunkan hingga 30%. Tak butuh waktu lama, Rael pun tertidur.


...✓✓✓✓✓...


"Anak-anak, ayo cepat. Kita harus segera pergi sebelum langit berubah terang" Raenar merapihkan barang-barang anaknya di ruang tamu.


"Papa, apa ini boleh dibawa?" Arnel menunjukkan sebuah headphone berwarna biru miliknya.


"Boleh, tapi jangan dinyalakan. Nanti saja tunggu kita sampai. Abel, Richelle, barang-barang kalian sudah siap?"


"Sudah, papa"


"Oke, ayo kita berangkat"


Raenar mengeluarkan koper besar miliknya ke teras rumah. Abel dan Richelle juga ikut membantu membawa 2 buah koper kecil dan tas ransel mereka. Arnel yang berusia 9 tahun membantu membawa paperbag milik papanya.


"Papa, Richelle belum bangunin Rael" Kata Richelle.


"Tidak apa-apa. Nanti dia bangun sendiri" Jawab Raenar sambil mengunci pintu.


"Memangnya Rael gak ikut?"


Raenar berjongkok di depan Richelle dan memegang sebelah bahunya.


"Richelle, Rael itu sedang sakit. Dia tidak akan sanggup bepergian bersama kita"


"Tapi, pa—"


"Sudah. Ayo kita pergi" Raenar menuntun anak-anaknya berjalan menjauhi rumah mereka.


Richelle adalah yang terakhir pergi. Ia terus memandang ke arah jendela kamar Rael dengan wajah sendu hingga ke ujung jalan.


Tak disangka Rael terbangun dari tidurnya dan memperhatikan mereka sejak tadi. Ia menatap kepergian ayah dan kakaknya dari balik tirai jendela.


...✓✓✓✓✓...


"Rael. Kamu baik-baik saja?"


Suara Linda membangunkan Rael dari tidurnya. Dilihatnya jam di samping kasur menunjukkan pukul 10.10.


Rael memikirkan kembali perkataan Hiro tadi. Saat ini tidak ada orang yang ia kenal selain yang ada di rumah Hiro saat ini. Keluarganya juga tidak tahu dimana keberadaannya, apa mereka selamat atau tidak.


Bahkan jika mereka selamat pun Rael ragu untuk kembali menerima hinaan dan perlakuan buruk dari mereka. Meski belum tentu juga melihat keadaan Rael yang kini sudah jauh membaik, namun luka dan trauma itu masih ada.


Berbeda dengan orang-orang disini, terutama Hassan yang sudah menyelamatkannya. Mereka pasti sudah tau rupa Rael sebelumnya namun mereka tetap memperlakukannya dengan baik.


"Raelllll?”


"Iyaaaaaa" Rael bangkit dari kasur dan membuka kunci pintu kamarnya.


"Kamu mau buah, Ra—" Ceklek.


"Aku ikut" Kata Rael.


...✓✓✓✓✓...


"Ini chip khusus yang aku buat untukmu. Selama ini hanya kamu satu-satunya yang menerima transplantasi kulit dariku. Tidak sepertiku dan Shira, wajahmu akan lebih mudah menyesuaikan perubahan wujud dari chip ini." Hiro memasangkan sebuah pin di daun telinga Rael.


"Awww!!" Rael meringis saat benda bulat kecil itu mengeluarkan jarum yang menusuk telinganya.


"Karena kondisi negara kita yang masih kacau, kamu tidak bisa pergi keluar begitu saja dengan wajahmu yang mencolok. Chip itu akan merubah bentuk wajahmu secara instan menyerupai pola wajah Linda agar terlihat seperti kamu anak kandungnya. Supaya lebih meyakinkan kamu bisa menggelapkan kulitmu, kan?"


"Iya"


"Bagus. Chip itu tidak akan bekerja permanen. Kalau kau melepaskannya efeknya juga akan hilang"


"Baik. Terimakasih profesor"


"Sama-sama"


"Profesor, aku sungguh-sungguh berterimakasih padamu. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini. Kalau kau butuh sesuatu hubungi kami kapan saja" Linda menggenggam erat tangan Hiro. Matanya berkaca-kaca karena bahagia.


"Sama-sama, Linda. Sudah sewajarnya aku membantu kalian"


Bugh!! Hassan memukul lengan Hiro.


"Ughh!! Yang benar saja, bodoh!!!!" Bentak Hiro.


"Thankyou, bro. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi" Hassan memeluk Hiro dengan erat. Yang dipeluk hanya menunjukkan wajah sinis dan tidak peduli.


"Terserah, cepat pulang. Kamu harus mengganti lemariku yang kamu rusak tadi malam, payah"


"Tenang saja. Aku akan menggantinya secepatnya" Balas Hassan dengan semangat.


"Huhuuu... Rael. Kamu harus sering-sering kemari. Jangan biarkan aku berduaan dengan si bodoh ini huhuuu..." Shira terisak sambil memeluk Rael. Rael balas mengusap punggungnya dengan sebelah tangan.


"Hey, siapa yang kamu panggil bodoh?" Saut Daren.


"Kita masih satu kota, cengeng" Kata Rael.


Shira melepas pelukannya dan mengusap air matanya.


"Rael. Aku buatkan kamu coklat tadi malam. Dimakan, ya" Shira menyodorkan sekotak coklat truffle berbagai warna pada Rael.


"Terimakasih" Rael tersenyum tipis.


Brakk!! Hassan menutup bagasi mobil.


"Sudah semua" Katanya.


"Rael. Ayo kita pulang" Ajak Linda. Rael menoleh.


"Iya. Terimakasih profesor. Sampai jumpa Shira, Daren" Rael berbalik menuju mobil sambil memegang coklat pemberian Shira.


"Sampai jumpa, semuanyaaaa" Linda melambaikan tangan ke arah Shira dan yang lainnya.


Rael tak memperdulikan mereka. Ia membuka kotak coklat miliknya dan memasukkan satu ke mulutnya.


"Raelllll!!!! Yang paling enak yang warna putih biruuuu!!!!" Teriak Shira.


Rael menoleh ke belakang mobil melihat Shira. Ia mengeluarkan tangannya ke jendela dan menunjukkan tanda 'OK' dengan jarinya.


Shira melambangkan tangannya sambil tersenyum lebar hingga mobil yang ditumpangi Rael menghilang di ujung jalan.


...✓✓✓✓✓...