Reborn

Reborn
Chapter 1 : Anak Baru



"Beep..Beep..Beep.."


sudah lebih dari 10menit alarmku terus berusaha membangunkanku, batinku terus berkata "ayo bangun", tapi tubuhku dan kedua mataku tidak mau berkompromi dengannya. Hanya ada satu cara yang bisa membuat mereka bersatu.


"ALDIANSYAH TEGUH DEWANTA!!!" teriak mama keras dari bilik pintu kamar.


iya itu dia, hanya teriakan maut dari mama yang bisa membangunkanku tanpa titik dan koma.


"Cepat bangun Al, kalau dalam waktu 10menit kamu belum siap, mama akan bilang ke papa tinggalin kamu, biar kamu naik gojek aja!" ancam mama sambil melempariku dengan handuk.


"iya Al udah bangun, liat nih" balasku lalu berlari pergi menuju kamar mandi, meninggalkan mama yang masih mengomel.


Padahal bagiku 10 menit sudah lebih dari cukup, karena bagiku 5 menit saja sudah cukup untuk seorang Aldianysah Teguh Dewanta untuk tetap terlihat Tampan.


"Morning yang mulia" sapaku sambil hormat ala kerajaan ke Mama dan Papa.


"Morning" balas Papaku dengan ramah.


"Udah nggak usah banyak gaya ya Al, cepetan abisin makananmu nanti papamu bisa telat." sahut mama.


"udah nggakpapa, makan pelan-pelan aja Al nanti bisa tersedak bahaya." Bela papa.


aku menggeleng heran melihat betapa jauhnya kepribadian yang dimiliki oleh mama dan papa.


bagaimana bisa papaku yang kalem dan ramah dan bahkan tidak pernah marah bisa menikahi mama yang hobinya marah dan mengomeliku.


"misteri" gumamku pelan.


"kamu ngomong apa barusan?" tanya mama


"nggak.. Al cuman mikirin ternyata emang benar cinta itu buta"


"kenapa tiba-tiba bisa mikir gitu?" tanya mama penasaran.


"melihat mama dan papa, fix Al yakin 100% papa buta karena cinta."


bukannya marah, aku bisa melihat wajah mama yang kini berubah merah merona, memang barusan itu aku muji ya?


"emang kamu baru tau ya? papa kamu itu cinta banget sama mama"


ew, kata itu terlintas begitu saja dibenakku. Bahkan sekujur tubuh ikut merinding mendengarnya.


"pah, papa yakin nih nggak dipelet sama ma-?"


"Awwww! sakit mah" rengekku kesakitan, belum sempat aku bertanya, botol kecap yang hanya tersisa sedikit sudah mendarat tepat dikepalku.


"lagian jadi anak kenapa doyan banget sih jahilin mamanya" protes mama tidak terima.


"haha kalian ini ya, pagi-pagi udah berantem aja mulu." papa hanya tertawa geli melihat tingkah lakuku dan mama yang setiap pagi memang selalu seperti ini.


"udah yuk Al kita berangkat" ajak papa.


senyuman kemenangan kini terlukis diwajahku, Hah! pagi ini yang menang adalah aku.


aku tersenyum jahil ke mama yang saat ini tetlihat kesal.


***


"Hoaaaaaaam" aku terus menguap lebar disepanjang lorong sekolah, jiwa dan ragaku masih tertinggal diranjangku tercinta.


"Begadang lagi?" suara seorang gadis yang kukenal sedikit menyadarkanku.


"Dio ngajak gue mabar semalam, eh tau-tau udah jam 4 aja" keluhku pada Andin teman sekelasku.


"kita udah kelas 12 Al, kurang-kurangin gamenya, perbanyakin belajarnya." tegur Andin.


"udah deh, lo jangan sok jadi nyokap kedua gue" keluhku dengan nada memelas.


Andi hanya menggeleng pelan mendengar keluhanku barusan.


"haaaah... akhirnya" aku menghela nafas lega begitu sampai dimejaku, akhirnya aku bisa kembali tidur walaupun meja ini tidak seempuk rangjang tercintaku.


dan kini daguku sudah menempel rapat dimejaku, jaket yang sengaja kubawa dari rumah juga sudah siap untuk menutupiku.


"Eh gila, baru datang udah nyosor tidur aja nih anak" kata Baim teman sebangku dan sekaligus salah satu sahabatku.


"Gue abis begadang sama Dio, lo jangan macam-macam ganggu gue" ancamku tanpa melihat wajahnya dan terus memeramkan kedua mata.


"Jadi Dio bolos nih? Gue soalnya nggak ada nampak batang idungnya tuh anak dari tadi." tanya Baim, dan aku hanya menggerangkan kedua pundakku tidak tau.


"******! ada bu Wati, Al bangun lo"


Jika mama adalah satu-satunya orang yang mampu membuat tubuhku terbangun secara otomatis, maka bu Wati lah orang kedua yang tidak segan-segan menjewerku jika tubuhku tidak bisa berkompromi untuk tetap sigap selama mata pelajarannya.


"Bukannya hari ini kita nggak ada sejarah ya" bisikku pada Baim, begitu melihat Bu Wati kini sudah ada didepan kelas.


"Dari raut wajah kalian semua ibu sudah bisa menebak apa yang saat ini sedang kalian pikirkan, dan benar hari ini memang tidak ada jadwal ibu untuk memberikan materi pada kalian-"


"kalau wali kelasnya lagi ngomong didepan kelas tolong didengarin sampai selesai."


Bu Wati menatap tajam satu persatu mata kami, menjadi wali kelas kami sepertinya tidak mudah untuknya, apalagi kelas kami sudah terkernal sebagai kelas pengacau.


"Ibu hari ini masuk hanya untuk memperkenalkan teman baru kalian, tenang aja." sambung bu Wati.


kami kembali bernafas lega.


"Ayo sini masuk" panggil bu Wati pada seseorang yang sepertinya semenjak tadi memperhatikan kami dari luar.


Kata pertama yang keluar dari mulut teman-teman sekelas begitu anak baru itu berjalan masuk kedalam kelas adalah WOW.


semua terkagum-kagum pada kecantikan si anak baru, wajahnya sedikit bule,bulu matanya lentik, dan anehnya kulitnya sangat putih. Apa memang semua bule seputih itu ya?


"Perkenalkan diri kamu ke teman-teman kamu ya" Bu Wati mempersilahkan dengan ramah.


"Perkenalkan nama Veronica Ballantine, kalian bisa memanggilku Roni, saya-" ucapan Roni terhenti saat kedua bola matanya yang bulat melihatku.


"Roni, itu saja?" tanya bu Wati.


Roni hanya mengangguk pelan dan matanya masih tetap tertuju padaku.


"Al" panggil bu Wati.


"ya bu?"


"itu bangku dibekalang kamu kosong tempat siapa?"


"Dio bu" balasku


"Dio duduk sendiri?"


aku mengangguk "iya"


"Baim, mulai hari ini kamu duduk sama dia Dio dibelakang, dan Roni kamu bisa duduk disamping Al ya." Kata bu Wati tanpa bertanya terlebih dahulu apakah aku dan Baim setuju.


"loh bu-"


"JANGAN PROTES!" sahut bu Wati memotong keluhan Baim.


dan Roni dengan wajah datar berjalan mendekat kearah kami.


"minggir, aku mau duduk" Kata Roni dengan nada memerintah.


Baim yang semenjak tadi bersikeras tidak ingin pindah, tiba-tiba saja bangkit dari kursi dan langsung melemparkan tasnya tepat dimeja belakang.


"silahkan nona cantik" kata Baim mempersilahkan.


"ck,ck" aku hanya berdecak heran melihat Baim kalah telak didepan kelemahan terbesarnya, yaitu Wanita Cantik.


Roni berdengus tidak perduli dan langsung duduk tanpa menyapaku terlebih dahulu.


eh, tapi bukankah tadi dia menatapku ya?


"Hi" sapaku mencoba ramah.


Roni menoleh kearahku, mata bulatnya itu kembali menatapku lekat.


"Jangan pernah ajak aku bicara dan jauhi aku sebisamu"


"Hah?" mulutku terbuka lebar saat mendengar apa yang baru saja dikatakan olehnya.


Untuk pertama kalinya, ada seorang wanita yang berani menolakku secara terang-terangan seperti ini.


Bagaimana bisa seorang Aldiansyah Teguh Dewanta diperlakukan seperti ini?


disaat wanita-wanita lain berusaha sangat keras untuk mendapatkan perhatianku, dia justru memintaku untuk menjauhinya.


Menarik..


"Lo asalnya dari mana?" tanyaku dengan senyuman maut yang pastinya akan melelehkan dinding es yang telah dibangun olehnya.


Roni menoleh dan menatapku dengan raut wajah kesal, kedua bola mata itu seolah berbicara padaku bahwa dia merasa sangat sangat terganggu.


Senyum yang tadinya melingkar lebar diwajahku pun memudar, "Dengar ya, gue cuman mencoba untuk bersikap baik sama lo, nggak ada maksud lain" jelasku padanya.


"Oke" Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya, dia lalu mengeluarkan Airpods disakunya dan memakainya.


"Oke? oke apaan?" tanyaku lagi, namun Roni tidak menjawab dan asik mendengarkan lagu di playlist hpnya.


Aku benar-benar dicuekin!


Oke baiklah, karena kamu yang memulai memasang diding es. Jangan harap aku akan bersikap baik lagi padamu, dasar es batu.