Reborn

Reborn
PART X



"Pa. Kenapa Rael ga daftar kayak orang biasanya gitu?"


"Mendaftar jadi tentara itu gak gampang Rael. Ada banyak ujian yang harus dilalui. Belum lagi Rael gak punya ijazah sekolah. Ingat ini ya, nak. Jangan tunjukkan wajahmu pada siapapun disana nanti. Kecuali teman papa tadi. Para tentara itu juga banyak yang gak bisa menerima orang-orang blasteran di sekitar mereka"


"Baik, papa"


"Rael jaga diri baik-baik ya disana" Linda meletakkan panci makanan di meja makan.


"Iya, mama"


"Ayo, makan. Wih sayur santan. Ini enak Rael" Kata Hassan.


"Pasti nanti bakal jarang deh Rael makan beginian"


"Makanya ayo makan yang banyak" Kata Linda.


Mereka menikmati makan malam bersama sambil bercengkrama.


...✓✓✓✓✓...


6 bulan kemudian.....


"Kowad bukan sebagai wanita penghias lingkungan kerja tetapi merupakan Prajurit Wanita yang berhati bersih, jujur, mandiri, bertanggung jawab dan menjunjung tinggi kodrat kewanitaanya serta penuh pengabdian kepada Bangsa dan Negara Indonesia" Ucap Kolonel Maryam dalam pidatonya.


Hari ini adalah hari pelantikan dan pengambilan sumpah ratusan Prajurit Tantama remaja. Rael adalah salah satunya. Selama 5 bulan terakhir ia menjalani pendidikan di asrama pusdikkowad.


Rael tersenyum senang. Ia telah melewati tahap pertama pendidikannya dengan sangat baik. Pukul 10.15 akhirnya upacara selesai.


Rael menerima lambang prajurit dua miliknya dan menghampiri papa dan mamanya di luar lapangan. Ia langsung memeluk mereka karena perasaan rindu yang tertahan berbulan-bulan.


"Raelllll!! Mama kangenn..." Linda memeluk erat putrinya.


"Rael apa kabar?"


"Baik, ma. Mama papa apa kabar?"


"Baik, Rael. Rael makin tinggi aja. Mama udah kelewat jauh tuh" Kata Hassan. Linda mengusap air matanya.


"Ayo, pulang. Kita makan enak hari ini menyambut kedatangan Rael" Ajak Hassan.


"Ayokkkkk!!!" Rael bersemangat menuju mobilnya.


...✓✓✓✓✓...


Kolonel memberikan aba-aba untuk bersiap menembak. Rael berlari dengan terburu-buru menuju barisannya. Ia baru saja dipanggil oleh Mayor Jenderal di ruangannya.


Dengan cepat Rael memasukkan peluru ke dalam senapannya. Peluit berbunyi tepat setelah Rael selesai memasukkan pelurunya, dan tanpa aba-aba... Dorr!! Tembakannya tepat sasaran.


Kolonel Maryam menatapnya. Sejak awal pendidikan, ia sudah memperhatikan Rael. Ia penasaran kenapa Rael diistimewakan oleh para perwira. Awalnya ia mengira Rael mendaftar melalui jalur belakang. Namun faktanya kemampuan yang dimiliki Rael sangatlah bagus. Baik dari segi akademik maupun non akademik.


Seperti sekarang. Rael melaksanakan semua kegiatan pelatihan dengan sangat lancar seperti ia sudah terlatih. Berapa banyak pun hanbatan yang ia berikan sama sekali tidak mengganggunya.


Maryam termenung di ruangannya. Di satu sisi ia sedikit kesal dengan kehadiran Rael yang dibedakan dengan prajurit lainnya. Namun ia juga merasa sangat disayangkan kalau Rael menjalani pendidikan seperti ini karena kemampuannya sangat bagus.


Rael memiliki loyalitas dan kesetiaan kepada bangsa dan negara. Ia juga disiplin dan selalu fokus dalam melaksanakan tugasnya.


Tok... Tok.. Tok..


Suara ketukan terdengar di sela goresan pulpen dan kertas yang beradu. Dian mengangkat kepalanya melihat ke arah pintu.


"Masuk" Maryam masuk dan memberi hormat padanya.


"Ada apa, Maryam?" Dian melanjutkan pekerjaannya.


"Saya ingin mengajukan prajurit Rael untuk naik pangkat ke Perwira Pertama" Jelasnya.


Dian terkejut mendengar penuturan bawahnya itu. Ia meletakkan pulpennya dan menyingkirkan berkas-berkasnya.


"Oh, ya? Silahkan duduk, Maryam"


"Baik" Maryam mengambil tempat di kursi di depan meja kerja Dian.


"Jadi, apa yang membuamu bertindak demikian?"


...✓✓✓✓✓...


Kicauan burung di ranting pohon membangunkan Rael dari tidurnya. Ini hari pertamanya menikmati tidur panjang yang nyaman di kamarnya lagi. 5 bulan di asrama adalah waktu yang sulit dilaluinya. Terlebih setiap malam ia harus pergi diam-diam untuk mengistirahatkan wajahnya.


Rael membuka jendela kamarnya menikmati udara pagi yang segar. Ia beruntung tetangga di sekitar rumahnya bukan orang yang mengusik penduduk blasteran.


"Mamaaaa..."


"Iya, Rael" Rael mendatangi Linda di dapur.


"Hmmmm... baunya enak banget" Kata Hassan.


"Pagi ini kita sarapan roti aja ya. Nanti kan mau jalan-jalan biar gak kekenyangan perutnya" Kata Linda.


"Rael disana makan apa?" Tanya Linda.


"Eummm.. gak nentu sih ma. Kadang katering, kadang indomi, kadang cuma dikasi telur dadar" Kata Rael.


"Oh, ya? Wah, papa harus suruh ganti menunya itu" Kata Hassan.


"Tapi Rael kok makin gemuk disana? Ya kan, pa"


"Iya, loh"


"Gemuk, ma. Nelan omelan terus tiap hari" Balas Rael. Linda dan Hassan tertawa mendengarnya.


"Sudah, ayo habiskan sarapannya baru kita berangkat"


...✓✓✓✓✓...


"Yah, sayangnya bioskop baru buka jam 10" Keluh Rael.


"Rael, ih. Kok sukanya nonton yang hantu-hantu begitu sih?" Linda menyenggol lengan Rael.


"Kan seru, ma. Daripada nonton drama percintaan yang alay-alay iyuhhh..."


"Masa mau nonton hantu terus. Nanti kalo didatengin hantu betulan gimana? Kalo nonton film romance kan adem gitu Rael. Pikiran jadi tenang, santai, gak spot jantung mulu"


Rael dan Linda sibuk berdebat film mana yang terbaik. Hassan berjalan di belakang mengikuti mereka sambil melihat-lihat di sekitar taman. Sesekali ia memanggil burung dara yang terbang di sekitar taman dengan makanan yang digenggamnya.


Hari ini mereka sepakat menghabiskan waktu diluar atas permintaan Rael. Karena bioskop baru buka 1 jam lagi, mereka memutuskan untuk berkeliling di taman terlebih dahulu.


"Rael, ada bakpau. Rael mau gak?" Linda mengajak Rael mendatangi rombong bakpau di pinggir taman.


"Bakpau ayam 1 ya, pak. Rael apa?"


"Coklat" Linda mengeluarkan selembar uang kertas 20.000.


"Terimakasih" Kata penjual itu.


"Loh, kalian dari mana?" Hassan memperhatikan Rael dan Linda yang memegang bakpau.


"Punya papa mana?"


"Ituu..." Rael menunjuk penjual bakpau tadi dengan dagunya.


"Hmmmm...." Linda dan Rael tertawa melihatnya.


"Ini jajanan mama dari dulu, Rael" Mereka melanjutkan berkeliling sambil menikmati bakpaunya.


"Mama lahir tahun berapa sih?"


"Hmm.. Tahun 1998" Jawab Linda.


"Berarti sekarang umur mama 42 dong"


"Hush! Mama gak setua itu, Rael. Muka mama aja masi awet muda kok" Linda memasang wajah kesalnya.


"Yaelah. Namanya umur ya umur, ma. Manabisa diganti"


"Kalau Rael nih, generasi covid ini" Rael menaikkan sebelah alisnya.


"Ya karena Rael lahir pas jaman ramenya covid"


"Tapi Rael gak pernah kena covid loh, ma" Kata Rael.


"Oh, ya?"


"Iya. Jangankan sentuhan sama covid, sentuhan sama orang aja gak pernah"


"Loh kok bisa?!"


"Iya, Rael dari dulu gak pernah keluar rumah"


"Yaampun. Yasudah ayo kita jalan-jalan" Linda menarik tangan Rael untuk berjalan lebih cepat.


Rael terkejut dengan tarikan Linda yang tiba-tiba. Ia buru-buru melempar kertas bakpaunya yang sudah habis ke tempat sampah.


...✓✓✓✓✓...