Reborn

Reborn
PART VI



"Selamat pagi, Rael. Ayo sarapan" Sapa Linda dengan senyum lebarnya.


Ia menggandeng lengan Rael dan menuntunnya ke salah satu kursi kosong. Linda menarikkan kursinya dan meminta Rael duduk disana.


"Tunggu, ya. Makanannya sebentar lagi matang" Kata Linda. Linda kembali melanjutkan masaknya. Senyumnya mengembang lebar karena kehadiran Rael.


"Rael, mau apel ga?" Tanya Shira.


"Boleh"


"Oke. Aku potongkan ya..."


...✓✓✓✓✓...


"Oke. Kalian bersiap di posisi masing-masing. Aku jurinya. Yang kalah...." Daren menyeringai sambil memainkan bola kecil berisi tepung.


"Aaahhhhhhhhhhhh!!!! Bisa diganti yang lain aja gak?" Kata Shira.


"No. Aku jurinya. Jadi terserah aku mau apa"


"Ugh!"


"Ayo, bersiap! Rael! Jangan mau kalah! Meskipun kamu masih newbie tapi potensimu lebih besar!!" Daren menyemangati Rael.


"Tetap aja aku gak akan mengalah, ya" Kata Shira.


2 bulan berlalu semenjak Rael terbangun dari koma. Ia mulai sering bermain bersama Daren dan Shira. Sesekali mereka menemani Daren berlatih panah di hutan. Meski demikian, Rael masih bersikap dingin dan berbicara seperlunya.


"Rael. Geser ke kanan 5 langkah. Kamu juga, Shira. Geser ke kiri 5 langkah"


"Oke. Ayok mulai" Shira dan Rael bersiap dengan ketapel masing-masing. Daren mengarahkan teropongnya ke langit.


"Targetnyaa... Lihat ke atas. Arah jam 2. Ada burung elang disana. Hitungan ketiga!" Rael dan Shira mulai menarik ketapel masing-masing.


"Satu... Dua... Tiga!!!"


Cttak!! Dalam waktu kurang dari satu detik, elang itu terjatuh.


"Wohoooo... kena!!" Daren segera berlari ke arah hutan mencari elang itu.


"Ayo, Rael!!" Mereka menyusul Daren ke hutan.


Srakk!


Rael menyingkirkan rumput-rumput tinggi yang menghalangi jalannya. Ia bersama Shira mencari-cari letak jatuhnya elang itu namun tak kunjung mereka temukan.


"Disini gak ada!!" Teriak Shira. Rael mendatanginya.


"Disana gak ada juga" Katanya.


"Hufttt... Daren kemana sih?!"


"Ayok, Rael. Kita kesana—"


Byurrr!!!


Tiba-tiba seember air menyirami kepala Rael. Disusul dengan banyaknya tepung yang ditaburkan di tubuhnya yang basah. Shira terkejut melihatnya.


Rael mengusap wajahnya yang kotor. Ia mendongak melihat ke atas pohon. Daren dengan raut wajah gembiranya mengayunkan elang yang kakinya terikat.


"Aaaaaaaaaaaaahhhh!!!!!!!"


Prangg!!!!


"Ya, Tuhan. Suara apa itu?" Linda tidak sengaja menjatuhkan gelas yang dipegangnya.


"Kamu tidak apa-apa, sayang?" Tanya Hassan.


"Ya, aku baik-baik saja"


"Hahaha... Sabar ya, Rael" Shira mencoba menenangkan Rael.


Rael begitu kesal dan melampiaskan amarahnya pada rumput di sekitarnya. Ia menghentakkan kakinya dengan keras hingga rerumputan itu tumbang.


"Hey, hey, coba bayangkan. Gimana kalau kita panggang burung ini nanti? Rasanya pasti enak sekali!!" Daren tak memperdulikan wajah kesal Rael.


"Atau bikin rendang ya. Ah tapi kurang cocok. Kita panggang saja!! Biar aku yang bersihkan nanti— Aduh!!" Shira melemparkan batu ke kepala Daren.


"Kamu ini cerewet banget, sih!"


"Awww... Sakit tau" Keluh Daren. Lemparan Shira menimbulkan goresan luka kecil di dahinya.


"Kamu gak liat Rael kesal!! Tadi kan kamu bilang cuma tepung aja!!! Kenapa pake air coba, kan jorok!!! Jadi kayak lumpur!!!" Amuk Shira.


"Ngg... Ya kan, biar seru aja. Maaf ya, Rael" Ucap Daren sambil mengusap luka di dahinya.


"Sudahlah!!! Ayo, Rael. Aku bantu kamu bersihkan" Shira mempercepat langkahnya mengejar Rael.


...✓✓✓✓✓...


Brakk!! Rael membanting pintu rumah.


"Astaga!! Rael? Kamu kenapa?!" Linda terkejut melihat Rael berlumuran lumpur berwarna putih di sekujur tubuhnya.


Ia bergegas menghampiri Rael, namun tak diacuhkan olehnya. Rael melewati Linda begitu saja dan langsung menuju kamarnya. Brakk!!! Ia membanting pintu kamarnya dengan keras.


"Rael kenapa?" Tanya Linda.


"Ngg... Itu salah Daren, tante. Tadi cuma main-main aja, sih. Cuma emang Daren kelewatan main kotornya" Ucap Daren sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.


"Ya, ampun. Yasudah, kalian juga bersihkan badan sana. Sebentar lagi kita makan siang"


"Iya, Tante" Jawab Daren dan Shira bersamaan.


...✓✓✓✓✓...


"Ganti"


"Baik, Tuan Putri" Daren mengganti siaran televisi.


"Lebih seru nonton film horor, Rael" Saran Shira.


"Oke. Hey! Carikan film horor!"


"Baik" Daren segera mengambil remot mencari tayangan yang diminta Rael.


Hari sudah gelap. Makan malam pun sudah terlewati. Daren, Rael dan Shira sedang berkumpul di ruang tengah.


Karena kekesalan Rael tadi siang, Daren mendapat hukuman dengan menuruti perintah Rael malam ini. Seperti sekarang. Ia duduk di lantai sambil mengecat kuku kaki Rael dengan hati-hati.


Rael di sofa menikmati jus jeruk miliknya sambil melihat tayangan TV. Shira sebagai penasihat di samping Rael yang menyarankan siaran televisi yang bagus untuknya.


"Anak-anak, tante bawakan kue untuk kalian. Dimakan yaa"


"Bawakan kesini" Daren bangkit dari duduknya mengambil nampan kue dari Linda.


"Terimakasih, tante"


"Hahahaha.. sama-sama Daren. Semangat yaa" Linda berbalik meninggalkan mereka.


"Ini, Tuan Putri" Daren menyerahkan sepotong kue coklat pada Rael.


"Aku?"


"Ambil lah sendiri!! Ini cuma buat Rael!!"


"Ambilkan" Perintah Rael.


"Ugh. Baik Tuan Putri"


Daren mengambilkan sepotong kue lagi untuk Shira. Shira balas mengejeknya dengan menunjukkan wajah jeleknya. Daren menghela nafas kasar. Ia melanjutkan kembali tugasnya mengecat kuku kaki Rael.


"Sudah selesai, Tuan Putri" Rael mengecek kuku kakinya yang sudah di cat Daren.


"Pintu kamarku hampir lepas. Cepat perbaiki!"


"Ah, tapi ini sudah malam—"


"Se - ka - rang" Potong Rael.


"Baik" Daren tersenyum kikuk. Ia menatap potongan kue coklat miliknya dan meneguk ludahnya.


"Cepat perbaiki!"


"Baik" Darel pergi keluar ruangan.


Rael meluruskan kakinya ke atas meja sambil menunggu cat kukunya kering.


"Hahahaha.. Bagus banget, Rael. Oh, iya. Daren bisa melakukan apa aja selain masak. Jadi kamu pergunakanlah dia sebaik mungkin malam ini" Kata Shira.


"Tidak. Aku sudah mengantuk. Setelah pintu kamarku selesai nanti aku akan langsung tidur"


"Oh, begitu. Sayang sekali, Rael. Oh iya, besok pagi kita panggang elang tadi untuk sarapan"


"Iya"


...✓✓✓✓✓...


"Nah, Rael. Mau coba oleskan bumbunya?" Rael mengambil kuas dari tangan Linda. Burung kemarin sudah setengah matang di atas panggangan.


Pagi ini langit berawan dan sedikit mendung. Linda dan Rael sedang menanggang seekor burung dan 2 ekor ayam di halaman. Shira menimba air untuk menyirami tanamannya. Hassan, Hiro, dan Daren sedang memetik buah murbei sambil bercengkrama.


Tidak sampai setengah jam daging panggangnya sudah matang. Linda memanggil semua orang untuk sarapan di dalam rumah karena langit yang semakin gelap.


"Tante, aku mau bagian paha" Kata Daren.


"Aku sayap" Kata Shira.


"Rael mau yang mana?" Tanya Linda.


"Sembarang aja" Linda memotong burung yang sudah dipanggang dan menaruhnya di piring mereka.


"Nih, bagian dada untuk Rael" Linda meletakkan sepotong dada elang di piring makan Rael.


"Selamat makaaan..!!" Ucap semua orang, kecuali Rael. Ia hanya tersenyum menikmati elang panggang untuk pertama kalinya.


...✓✓✓✓✓...