Reborn

Reborn
Chapter 4 : Mencari Jawaban



-Al


"Aargghhh" Aku mengacak rambutku frustasi.


Semenjak tadi otakku berkerja sangat keras untuk menemukan identitas Roni yang sebenarnya.


Vampir


Jin


Makhluk Goib


Penyihir


Dracula


Aku mencatat 5 Kemungkinan ini dibuku catatanku.


"Eh tunggu, Vampir dan Dracula sama bukansih?" aku lantas mencoret Dracula dari list yang telah kubuat, kini tersisa 4 kemungkinan.


Baiklah mari kita seleksi, yang pertama adalah Vampir.


Awalnya aku sangat yakin jika Roni adalah Vampir, tapi begitu otakku kembali memikirkan kemungkinan yang ada, bayangan ataupun pikiran mengenai Roni sebagai seorang Vampir sedikit sirna.


Jika Roni adalah seorang Vampir atau Dracula, bagaimana mungkin dia bisa tahan dengan sinar matahari?


Selain itu aku pernah melihatnya memakan makanan normal layaknya manusia biasa.


Namun jika aku memikirkan kembali kejadian tadi saat dia menghisapku dan kedua bola matanya yang berubah warna, kemungkinan bahwa Roni adalah Vampir kembali ada.


Tapi... melihat dan mendengar betapa santainya Roni menjawabku tadi, kemungkinan itu kembali sedikit Sirna.


Ughh, Aku bisa kembali merasakan pipiku memamas saat mengingat kejadian tadi. Jika memang benar dia bukanlah seorang Vampir, itu tadi akan menjadi pengalaman pertamaku.


Tidakkkkk!


Kesucianku yang telah kujaga untuk Cinta Sejatiku sedikit ternoda. Maafkan aku Cinta Sejati karena tidak bisa menghentikan si Es Batu.


Plakk


Aku menampar kedua pipiku keras, guna menyadarkanku dari pemikiranku yang mulai tidak jelas.


Baiklah, Selanjutnya Jin.


"hmmmmmmmmmmm.." aku berdehem cukup panjang sambil memutar pulpen ditanganku.


"Coret" Aku mencoret Jin dari list yang kubuat.


Tidak perduli sekeras apapun aku memikirkannya, Kemungkinan jika Roni adalah Jin sangat tipis.


Dia tidak gendut, Tidak Biru dan Tidak berasal dari Teko.


"aakh" Secara tidak sadar aku menulis semua yang aku pikirkan tadi.


Begitu melihatnya aku merasa sangat malu pada diriku sendiri. Kenapa aku harus memikirkan hal konyol seperti ini?


"Aarrghhhh" Aku kembali mengacak rambutku frustasi.


Tenang, Aku harus tenang.


"Huuuuuu...Haaaaa" aku menarik nafas panjang lalu mengeluarkan secara perlahan.


Begitu kekesalanku mereda aku langsung memikirkan kedua kemungkinan yang masih tersisa.


Makhluk Goib.


Zrrrttt....


Benar sekali, tidak butuh waktu yang panjang bagiku untuk mengeleminasinya.


Roni Punya Kaki, Tubuhnya Tidak Melayang, Dia Bahkan Bisa Sekolah!


Cukup jelas bukan.


Lalu yang terakhir adalah, Penyihir.


Jujur saja, pada kemungkinan terakhir ini aku sedikit bersemangat. Semua itu karena aku adalah penggemar berat Harry Potter.


Betapa kerennya jika dia memang seorang Penyihir, aku pasti akan sangat-sangat memujanya.


"Al, Kunci mobil papa kamu simpan dimana?"


"Aaah" aku tersentak kaget begitu melihat Papa sudah berdiri disampingku.


"Papa kenapa nggak ketok dulu sih?" Keluhku sambil mengelus pelan dadaku.


"Papa udah ketuk berulang kali, tapi kamunya asik banget mikirin sesuatu, Hayooo... pasti mikirin Cewek ya?" Tebak Papa dengan nada mengejek.


Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat.


"Bukan yee, Papa sok tau nih" Belaku.


Papa terkekeh sambil mengelus rambutku pelan.


Aku suka sekali saat Papa melakukannya, rasanya aku sangat disayang olehnya.


"Becanda... Ohiya kunci mobil dimana Al? Papa sama mama mau kepergi kerumah Om Ari"


"Nih" Kataku, seraya menyerahkannya.


"Nanti Papa belikan Roti Bakar kesukaan kamu, terus nanti Papa sekalian kebengkel buat tanyain kondisi mobil kamu, mau nggak?" Tawar Papa.


Aku mengangguk cepat dan tersenyum Lebar, dia adalah Papa Terbaik sepanjang masa.


Seluruh Otak dan Pikiranku yang semenjak tadi terus memikirkan Roni perlahan memudar, begitu membayangkan Roti Bakar kesukaanku.


****


Pagi ini seperti biasa, suasana dikelas bagaikan suasana ditanah abang. Semua kubu asik sedang kegiatan masing-masing.


Barisan cewek-cewek paling depan sibuk berteriak histeris melihat sebuah Music Video Kpop.


Barisan tengah sibuk bercerita hal-hal konyol, dan Barisan belakang kiri sibuk bernyanyi diiringi alunan Gitar.


Sedangkan Barisan belakang kanan, yang terdiri dari Aku, Roni, Dio dan Baim tengah asik Mabar. Kecuali Roni yang pada saat ini masih belum datang.


"Eh Im, lo bawa mobil nggak?" tanyaku pada Baim, tapi kedua bola mataku masih tertuju pada layar Hpku, begitu pula dengan Baim dan Dio.


"Bawa, kenapa emang? lo mau nebeng?"


"Antarin gue ke bengkel tempat Jojo di operasi ya" Jelasku.


Jojo adalah nama mobilku, semalam Papa mengatakan padaku kalau Jojo sudah sehat kembali. Jadi aku berencana untuk membawanya pulang, Lagi pula Papa juga sudah membayar biayanya semalam.


"Oke" Balas Baim.


Kami bertiga kembali terhanyut dalam permainan, sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Roni.


Roni mengeluarkan AirPods dari sakunya dan memakainya.


Suara keras dari lagu yang sedang didengarkan olehnya menyadarkanku akan kehadirannya.


Aku secara otomatis sedikit menjauhkan diri darinya, ada rasa takut jika kejadian yang sama di UKS kemarin bisa terulang kembali.


Roni,Gadis Es Batu itu bahkan tidak melihatku, menegur atau menayapaku sama sekali.


Matanya pada saat ini tengah tertuju pada buku dihadapannya.


Sepertinya kejadian kemarin memang tidak berarti apa-apa baginya. Buktinya saja dia bisa setenang ini.


Tetapi aku harus tetap berusaha mengkonfirmasinya, Jika nanti kesempatanku untuk berbicara empat dengannya ada, aku akan langsung menanyakan semuanya.


Tentang bagaimana bisa matanya berubah warna, Dan bagaimana bisa dia menghilang secara sekejap seperti kemarin.


Aku penasaran jawaban apa yang akan diberikan oleh Roni?


"Eh, nona Roni yang cantik sudah datang" Baim juga ikut menyadari kedatangan Roni, diikuti Dio setelahnya.


"Roni, Gue boleh minta nomor Whatsapp lo nggak?" Tanya Dio sambil menyisir rambutnya dengan tangan.


Roni tidak menjawab, Fokusnya hanya tertuju pada Buku yang sedang dibacanya.


Aku menggeleng heran melihat usaha Baim dan Dio mendekati Roni, kedua sahabatku ini sepertinya tidak bosan dikacangi oleh Es Batu.


"Selamat Pagi semuanya" Sapaan dari bu Siti, dari depan pintu menggemparkan suasana kelas yang tadinya ricuh.


Semuanya sibuk merapikan diri, bangku dan meja yang tadinya berhamburan. Termaksud aku, Baim dan Dio yang juga sibuk menyembunyikan Hp kami agar tidak disita.


"Ck..Ck.. kalian itu sudah kelas 12 tapi kenapa masih seperi anak smp sih?" Keluh Bu Situ seraya berjalan masuk kedalam kelas.


"PR minggu lalu sebentar akan kita periksa sama-sama ya, nanti PRnya dituker sama teman sebangku kalian" Jelas Bu Siti menerangkan.


Ah, Sial.


Karena kemarin Otak dan Pikiranku dipenuhi oleh Roni aku sampai melupakan PRku.


Bisa tamat riwayatku jika Bu Siti mengatakan pada Bu Wati kalau aku lagi-lagi tidak mengerjakan PR.


Karena semua laporan yang telah sampai kepada Bu Wati akan sampai juga pada Mama.


Aaah, Mama pasti bakalan hukum aku habis-habisan.


tuk..


Sebuah buku tulis bersampul warna Ungu menyentuh sikukku.


Aku menoleh keasal buku tulis tersebut, dibuku tulis tersebut tertulis nama Veronica Ballaintine, Mapel Matematika.


"Cepat salin, aku nggak akan aduin kamu" Kata Roni, namun matanya tidak menatapku sama sekali.


Dan tanpa berpikir panjang ataupun berusaha menolak, tentu saja aku dengan senang hati menyalinnya.


Namun dibenakku secara perlahan mulai muncul sebuah pertanyaan, kenapa dia mendadak baik padaku?


Begitu aku selesai menyalin, aku langsung mengembalikan buku PR milik Roni.


"Thanks." kataku berterima kasih, dan Roni hanya mengangguk pelan.


Aku memandangi wajahnya dengan lekat dan pada saat itu juga terlintas dibenakku, "Mungkin dia tidak sedingin ataupun seburuk yang aku kira."


Mungkin.