Reborn

Reborn
PART XI



Drrt... Drrrt.... Drrrt....


Handphone Hassan bergetar terus menerus di meja makan.


"Angkat aja dulu, pa. Kayaknya penting" Kata Linda. Hassan keluar rumah membawa handphonenya.


"Papa bakal keluar kota lagi nih kayaknya" Tebak Rael.


"Bisa jadi. Cepat habiskan makanannya, Rael"


"Iya"


Rael meletakkan piring kotornya di wastafel. Beberapa saat kemudian Hassan datang.


"Kenapa, pa?" Tanya Rael sambil membuka kotak susunya.


"Ehem" Hassan mendudukkan dirinya di kursi. Linda saling bertatapan dengan Rael yang kebingungan.


"Rael. Besok gak usah kemana-mana, ya. Besok Istirahat di rumah aja. Besok malam papa antar ke bandara. Rael dapat tugas pengawalan dari pusat"


Uhuk.. Uhuk.. Rael tersedak susu yang ia minum. Linda bergegas mengambil susu kotak dari tangan Rael dan menepuk-nepuk pelan punggungnya.


"Kok tiba-tiba, pa? Harusnya Rael belum bisa dapat tugas pengawalan begitu, kan? Terlebih Rael juga perempuan" Tanya Linda.


"Memang seharusnya begitu. Tapi Rael sudah lolos kualifikasi untuk naik ke tingkat perwira. Rael, papa mau tanya. Rael pernah ikut ujian atau seleksi sendiri gak? Yang cuma Rael aja pesertanya"


"Eummm... apa ya... Rael gak ingat juga"


"Yasudah. Besok istirahat di rumah aja. Ini masih tes aja Rael. Tapi ingat, harus fokus. Semua orang disana nanti lebih tua dari Rael. Pasti bakal ada yang gak suka dan gak bisa menerima kehadiran Rael. Jadi jangan lengah"


"Iya, papa"


...✓✓✓✓✓...


"Okey. Rael pergi dulu"


"Iya. Hati-hati yaa sayang"


"Jaga diri disana. Ingat pesan papa, ya"


"Iya. Bye bye" Rael menutup pintu mobil dan melambaikan tangannya sampai kedua orang tuanya pergi.


Bandara pada malam hari berbeda dengan siang hari. Orang-orang yang berdatangan tidak sebanyak di pagi hari. Toko yang buka juga hanya beberapa saja.


Rael melangkahkan kakinya menuju pintu masuk bandara. Ia tiba setengah jam lebih awal dibandingkan jadwalnya bertugas. Tim-nya kali ini berjumlah 34 orang dan 1 orang kapten. 10 orang diantaranya sudah lebih dulu sampai di luar kota untuk memastikan situasi aman.


Misi Rael malam ini adalah mengawal seorang Gubernur Kalimantan Timur untuk menjemput istrinya yang dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga di Depok.


Beliau adalah salah seorang pemimpin negeri yang menentang pengusiran bangsa asing terutama keturunannya yang berdarah campuran dengan alasan bahwa mereka juga bagian dari NKRI.


Setelah 20 menit menunggu akhirnya Rael bertemu dengan salah seorang anggota tim-nya yang baru saja tiba. Mereka dan 2 orang lainnya bertugas mengamankan situasi di bandara selagi menunggu anggota lainnya menjemput Gubernur di kediamannya.


Rael menghembuskan nafas lega. Ia lelah terus menerus ditatap orang-orang karena memakai seragam tentara miliknya. Ia gugup karena ini pertama kali baginya.


"Halo. Jadi kamu yang namanya Rael?" Rael memberi hormat kepadanya.


"Sama aku santai aja, Rael"


"Aku Dafa. Sudah berapa lama kamu disini?" Dafa mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya.


"Sekitar 20 menit" Jawab Rael.


"Oh. Santai aja dulu. Mereka datang kira-kira setengah jam lagi. 2 orang temanku sudah berkeliling mengecek situasi di dalam"


"Oh, begitu"


Rael mendudukkan dirinya di troli kosong di dekatnya saat melihat Dafa merokok dengan santai di kursi tunggu. Iseng-iseng ia menyalakan handphone-nya di saku. Ini pertama kalinya orang tuanya memberinya handphone untuk mempermudah Rael mengakses teknologi di dunia luar.


"Rael. Bersiap" Dafa menepuk pundak Rael dan membuatnya terkejut.


Rael segera menyimpan kembali handphone-nya dan menyiapkan senapannya. Begitupun dengan Dafa. Tak lama kemudian terlihat 4 buah mobil berwarna hitam beriringan memasukinya bandara.


Bersamaan dengan itu pula 2 orang teman Dafa mendatangi pintu masuk bandara. Mereka berempat bersiap di depan pintu masuk menyambut kedatangan Gubernur.


Setelah memastikan Gubernur telah masuk bandara dengan aman, mobil itu pun pergi. Hanya 5 orang dari mereka yang ikut masuk ke dalam bandara.


Rael bersama Dafa mengikuti rombongan Gubernur masuk ke dalam bandara. Penerbangan mereka menuju Bandara Soekarno-Hatta menggunakan pesawat pribadi milik Gubernur.


Kapten pasukan ini bernama Fendy. Di dalam pesawat ia memberi arahan pada Rael secara pribadi tentang misi pertamanya. Ternyata dalam grup itu ada 2 orang perempuan lainnya selain Rael. Fendy memberinya sebuah intercom berbentuk headset untuk berkomunikasi.


Rael terus bersiaga selama di perjalanan. Lewat koneksinya ia mengecek sistem teknologi di sekitar mereka berjaga-jaga jika ada alat penyadap atau semacamnya.


Selama 1 jam penerbangan Rael tidak merasakan intimidasi dari anggota lainnya. Karena itu, ia bisa sedikit mengurangi perasaan gugupnya.


Pesawat tiba di bandara Soekarno-Hatta pukul 23.00 Waktu Indonesia Barat. Regu 2 sudah menunggu rombongan mereka di bandara. Setelah sampai disana mereka langsung menuju ke Rumah Sakit Mitra Keluarga di Depok.


Anggota tim yang berada disini sudah menunggu mereka di pintu keluar. Rael terkejut saat melintasi jalanan kota. Beberapa rumah hancur dan terbengkalai yang merupakan sisa-sisa pembantaian 5 tahun yang lalu.


Wilayah Jabodetabek yang dulu ramai kini terlihat suram dan mencekam di malam hari. Banyak anak-anak muda bahkan orang dewasa juga yang keluyuran sambil membawa sebotol miras.


Tapi itu tidak separah di bandara tadi. Para penduduk lokal seolah menutup pintu masuk ke wilayah mereka. Mereka mengawasi setiap orang yang datang termasuk Rael dan yang lainnya. Untungnya tidak ada seorangpun yang melakukan perlawanan secara terang-terangan.


Hanya seorang pria yang terlihat lusuh dengan perutnya yang maju melemparkan sebuah batu ke arah Gubernur. Untungnya batu itu berhasil ditepis Rael dan tidak mengenai siapapun.


Perjalanan menuju ke Rumah Sakit memakan waktu 2 jam tanpa hambatan. Jalanan yang lenggang juga mempercepat pergerakan mereka.


"Regu 1 tetap di sini" Perintah Fendy.


Rael dan 7 orang lainnya menetap di parkiran Rumah Sakit sambil memantau situasi. Sisanya ikut masuk ke dalam gedung rumah sakit.


Rael *******-***** jarinya karena merasakan angin malam menembus kulitnya. Ia melirik anggota lainnya, mereka sepertinya sudah terbiasa. Rael menurunkan suhu di permukaan kulitnya menyesuaikan dengan suhu malam yang dingin.


Dari jauh Rael melihat seorang anak kecil yang tertatih berjalan membawa sesuatu di punggungnya. Ia tidak bisa melihat wajahnya karena ditutupi kain yang membalut wajahnya.


Rael menengok di sekitarnya tidak ada siapapun. Anggota lainnya berada jauh darinya. Rael memperhatikan anak itu. Tubuhnya lemas dan beberapa kali hampir terjatuh tapi ia menahannya. Dibanding itu, ia sangat memperhatikan gendongan di belakangnya. Rael memindai isi gendongan itu, dilihatnya seorang balita dengan wajah pucat disana.


Rael terkejut. Satu sisi ia tidak tega melihatnya. Tapi ia juga tidak bisa melarikan diri dari tanggung jawabnya. Rael menatap Dafa yang merupakan ketua regu dari kejauhan. Dafa seolah mengerti maksud Rael, ia pun mengangguk.


Rael tersenyum. Ia menyimpan senapannya dan berlari ke arah anak itu. Beruntung Rael bergerak cepat, ia berhasil menangkap anak itu tepat setelah ia jatuh pingsan.


...✓✓✓✓✓...