
"Woy!" Panggilku, berusaha menyadarkan Roni yang pada saat ini tengah diam terpaku memandang awan.
Saat ini aku diberikan tugas oleh Ibu Wati untuk mengajak gadis Es batu keliling sekolah.
"kalau tiap 10menit lo berhenti, kapan selesainya tugas gue ngajak lo keliling gini!" Protesku padanya yang hanya dibalas tatapan dingin olehnya.
"Cepat!" Perintahku.
Roni mendekat dengan wajah datarnya lalu berbicara . "Cukup beritahu aku dimana tempat yang nggak akan pernah didatangi oleh siapapun disekolah ini, lalu sebagai gantinya aku akan menyampaikan pada bu Wati, kalau kamu sudah menjalankan tugasmu dengan baik."
mataku berkedip berulang-ulang kali mendengar apa yang baru saja dikatakan olehnya.
"dimana?" tanya Roni lagi datar.
"ehmm, mungkin ruang musik lama yang ada dilantai 3"
"Oke." Kata Roni, setelah itu dia berjalan pergi meninggalkanku yang masih diam mematung memikirkan apa urusannya dengan tempat tidak berpenghuni.
"Eh, tunggu woy!" Panggilku pada Roni yang masih berjalan mengabaikanku.
"Woy aku bilang tunggu" Kataku pada Roni yang saat ini sudah berhasil kukejar.
"Lapor dulu ke Ibu Wa-"
"Pergi" belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Roni sudah memotongnya dan memerintahkanku untuk pergi.
"HAH?!" Hanya kata itu yang keluar dari mulutku.
"kamu nggak ngerti bahasa indonesia ya?" tanyanya.
Ck, baru pertama kali aku bertemu seorang Cewek yang tidak ada sopan santunnya seperti dia.
"Terserah lo deh, gue pergi kalau gitu. BYE!"
Dasar Es Batu, mulai hari ini dan detik ini juga lo akan masuk kedalam daftar hitam gue.
*****
Sudah 1 minggu lebih semenjak aku menetapkan Roni masuk kedalam Daftar Hitamku, dan sudah 1 minggu juga semenjak dia menjadi teman sebangku-ku.
Jujur saja rasanya sangat canggung, karena ini adalah kali pertama bagiku duduk dengan seorang perempuan, terlebih lagi dia sedingin es batu.
Roni tidak akan berbicara padaku sama sekali jika aku tidak mengajaknya berbicara duluan, Dia bahkan memerintahkanku untuk tidak mengajaknya berbicara jika yang dibicarakan bukan suatu hal yang penting.
Bukan hanya padaku, semua teman-teman sekelas lainnya pun yang secara terang-terangan yang ingin berteman dengannya ditolak mentah-mentah.
"aku nggak butuh teman, leave me alone."
Ughhhh, mengingat kembali kecanggungan yang diciptakan olehnya saat menolak teman-teman untuk berteman membuat bulu kudukku berdiri.
"Gimana rasanya duduk disamping Cewek tercantik disekolah Al?" tanya Dio, yang tiba-tiba saja muncul dihadapanku.
"Biasa aja" balasku seadanya.
"kok biasa ajasih? lo nggak berusaha untuk mendekat gitu?" sahut Baim.
"Dih.. malas banget, Cewek sedingin es batu gitu mana bisa didekatin. Yang ada nanti Beku gue!" kataku mantap.
"lo tuh ya, jadi orang nggak ada bersyukurnya, udah dikasih muka ganteng sama yang diatas harusnya lo manfaatin sebaik-baiknya,terus dapat rejeki nomplok duduk sama anak baru yang super cantik eh, malah lo sia-siain! nggak berkah hidup lo!!" Kata Baim mencibirku tapi entah kenapa ditelingaku lebih terdengar seperti sedang memuji dari pada mencibir.
"Coba tuh muka bisa dituker sama muka gue, udah gue pepet si Roni" sambung Dio
"terserah kalian, yang jelas gue nggak mau berurusan sama si es batu" jawabku.
Dio dan Baim hanya menggeleng mendengar perkataanku, bahkan jika seisi kantin bisa mendengar percakapan kami aku yakin 90% akan setuju dengan mereka berdua.
"Ohiya.. gue lupa kasih tau lo Al, tadi bu Wati bilang ke gue untuk bilang ke lo kalau beliau mau lo datang ke ruang guru secepatnya" Kata Dio sambil menyantap Cireng pesanannya.
"Kapan bu Wati bilang ke lo?"
"Tadi pagi"
Plakkk...
"Awww" Ringis Dio kesakitan saaat jitakan kecilku berhasil mendarat dikelapanya.
"Kenapa lo baru bilang bambang!" Protesku lalu berjalan pergi meninggalkan kantin yang saat ini sudah dipenuhi dengan jiwa-jiwa muda yang sedang kelaparan.
******
Ibu Wati menoleh saat mendengar suaraku.
"Kenapa baru sekarang nongolnya Al?"
bukannya menjawab aku justru menyengir seakan tidak memiliki dosa.
"Malah nyengir, ck..ck.." bu Wati menggeleng heran. "Ohiya Al, hari ini kamu bawa mobil nggak kesekolah?" sambungnya.
aku mengangguk, berhubung hari ini ayah libur jadi aku membawa mobilnya.
"Bawa bu, Kenapa ya?"
"Ibu mau minta tolong sama kamu, bisa antarkan Roni pulang? dari tadi pagi dia istirahat di UKS, tadi ibu cek mukanya pucat sekali, ibu juga udah usaha menghubungi pihak keluarganya tapi tidak terhubung, kasihan dia." Jelas bu Wati.
hmm, kalau kupikir kembali benar juga, sudah sejak pagi tadi aku tidak melihat batang hidung gadis es batu itu.
"bagaimana Al? kamu bisakan mengantar Roni pulang?"
"Kenapa nggak dipesankan taxionline bu? terus dibawa kerumah sakit?"
"Ibu tadi maunya juga begitu, tapi dia menolak"
duh, nyusahin banget si es batu.
"Tolong ya Al, ibu nggak bisa mempercayakan orang sakit naik taxionline, bahaya" ungkap bu Wati sejujurnya.
"Tapi kenapa harus saya bu?" tanyaku sambil cemberut, merasa tidak adil.
"kan kamu teman sebangkunya.. gimanasih Al, terus ibu juga nggak bisa terlalu percaya sama teman-teman kamu yang lain"
Ughh, merepotkan.
"Tolong ya, jam terakhir kan juga jamnya ibu, jadi aman izinnya, lagian juga kamu bisa langsung pulang kan"
"iya deh bu,iya"
Akhirnya aku mengalah, anggap saja saat ini aku sedang beramal baik, toh tidak ada ruginya juga buatku, aku juga bisa pulang lebih cepat dan terhindar dari kebosanan dikelas.
*****
Saat Baim dan Dio tau apa yang sudah diperintahkan oleh ibu Wati padaku, keduanya langsung protes tak terima.
satu hal yang bisa aku katakan pada mereka adalah "silahkan protes pada Ibu"
aku justru jauh lebih senang jika salah satu diantara mereka bisa menggantikanku.
jujur saja ketika membayangkan diriku semobil dengan Roni atmosfir kecanggugan akan muncul.
"Roni!" Panggilku yang tanpa permisi dan langsung masuk kedalam UKS.
aku melihat Roni tertidur begitu pulas, dia bahkan sepertinya tidak menyadari kehadiranku.
"Woy bangun!" Kataku sambil menendang-nendang kaki kasur UKS, namun tidak ada respon atau pergerakan sedikitpun darinya.
"Woy bangun lo-" Tanpa sadar tanganku reflek menyentuh pundaknya.
DINGIN.
tubuhnya sangat dingin, aku tidak pernah menyentuh tubuh manusia sedingin ini.
"Roni bangun, ayo kita kerumah sakit!!" kataku penuh dengan kepanikan, lalu tanpa menunggu persetujuan darinya, aku meletakkan kedua tanganku kesisi kanan dan kiri pinggangnya agar memudahkanku untuk menggendong.
Namun tiba-tiba saja mata Roni terbuka dan anehnya kedua bola matanya berubah warna menjadi merah.
Belum sempat otak berpikir mengenai kedua bola matanya, aku sudah terlebih dahulu ditarik olehnya dan pada akhirnya menimpa tubuhnya yang dingin, lalu dia-
Hamppp...Hampps...
"aakhh!" Ringisku kesakitan saat merasakan sesuatu hal yang tajam telah tertancap dileher kananku.
Hampss..Hampps..
aku terus berusaha bangkit dan melepaskan diri darinya, namun aku tidak bisa, apa kekuatan seorang gadis normal memang sekuat ini? mustahil,
dan yang jauh lebih aneh dari pada semua itu adalah..
kenapa saat ini aku merasa sedang dihisap olehnya?!!