Reborn

Reborn
PART VIII



"Sudah, biar aku saja yang turunkan barangnya" Kata Hassan. Linda segera mencari-cari kunci rumah di dalam tasnya.


"Sudah ketemu" Ceklek.


"Nah, Rael. Selamat datang. Ayo, masuk" Linda menggandeng lengan Rael masuk dan menuntunnya ke sofa ruang tamu.


"Rael mau mandi dulu? Atau ganti baju aja?" Tanya Linda sambil mondar mandir menyalakan lampu.


"Mandi aja, deh. Gerah banget"


"Oke. Ayo, Rael. Kita ke kamar kamu dulu" Linda mengajak Rael naik ke lantai 2. Sedangkan Hassan sibuk memindahkan barang-barang ke dalam rumahnya.


Ceklek.


"Nah, Rael. Kamar kamu disini, ya" Linda membuka kunci kamar kosong di atas.


"Ruangan ini lama tidak dipakai karena tidak ada siapa-siapa disini selain kami berdua. Tapi sudah aku bersihkan, kok"


"Iya, terimakasih" Rael melihat-lihat ke dalam kamarnya.


Ukurannya hampir sama dengan kamar di rumah profesor, meski masih lebih kecil dari kamar di rumahnya dulu.


Kamarnya itu didominasi warna biru langit dan ada sedikit warna putih. Ada sebuah lemari, kasur dan ranjangnya, lemari pajangan, meja tulis, kursi, dan AC.


"Rael" Linda memanggil Rael sambil melipat sebelah tangannya dan bersender di pintu.


"Kalau butuh apa-apa, Rael bilang ya. Dan... mulai sekarang Rael bisa panggil kami mama papa" Rael menatap Linda datar. Linda jadi semakin gugup karena tatapan Rael.


"Gakpapa kalau belum terbiasa, Rael"


"Iya, baik"


"Ada pintu di seberang kasur itu kamar mandi. Di lemari cuma ada 2 pasang baju tidur. Besok mama belikan baju untuk Rael"


"Iya"


"Yasudah, mandi dulu. Nanti kalau sudah jam makan, mama panggil turun"


"Iya" Linda keluar dan menutup pintu kamar Rael.


Rael merebahkan diri di kasur. Ia mengingat-ingat kembali rasa coklat yang ia makan tadi. Memang benar kata Shira, yang paling enak warna putih biru.


Rael bangkit dari kasur dan mengambil kotak coklat yang ia letakkan di meja. Hanya tersisa 10 dari 40 butir coklat. 3 diantara yang berwarna putih biru. Rael berfikir sejenak, sepertinya coklat akan menjadi makanan favoritnya.


...✓✓✓✓✓...


Tiga tahun kemudian...


Dorr!!


Dorr!! Dorr!!


Rael menyimpan kembali pistolnya. Jam dinding menunjukkan pukul 12.05. Perutnya sudah berbunyi karena melewatkan waktu makanan ringan hari ini.


Ceklek. Ia mengunci pintu ruang bawah tanah dan naik ke atas. Saat ini hanya ada Rael dan Linda di rumah karena Hassan sedang bertugas di luar kota.


"Rael! Tomatnya kenapa diambil?" Linda terkejut melihat Rael tiba-tiba datang dan mengambil tomat yang hendak ia masak.


"Mama masaknya lama banget, dah" Keluh Rael sambil menikmati tomatnya.


"Sudah lapar, ya? Tunggu ya, sebentar lagi matang" Kata Linda.


Rael memperhatikan Linda memasak. Sejujurnya selama ini ia tidak pernah ikut membantu Linda memasak. Linda juga selalu memintanya duduk di meja makan sambil menunggunya selesai.


"Nah, sudah selesai" Linda mematikan kompor lalu memindahkan pancinya ke meja makan. Rael mengaduk-aduk isi panci karena penasaran dengan isinya.


"Ini apa, ma?"


"Itu soto betawi. Rael belum pernah makan soto betawi, ya?"


"Belom"


"Yaudah, ayok makan"


Rael mengambil sepiring nasi untuknya dan menyendok soto itu ke piringnya.


"Nih. Soto betawi itu enak dimakan sama emping" Linda meletakkan 2 buah emping ke piring Rael.


"Oh, Rael tau ini"


"Enak, kan?" Rael menganggukkan kepalanya. Mereka pun menikmati makanan masing-masing dalam keheningan.


"Kemana? Gak mau. Memang kenapa sih, ma. Penduduk asing kayak dibenci banget disini. Lagian Rael kan dari lahir disini, cuma mukanya aja kayak orang luar"


"Hmm... Kenapa ya? Mama juga kurang paham. Tapi mungkin ini pengaruh dari pemerintahan negara di tahun 20an, Rael. Di masa itu pemerintah membebaskan penduduk asing keluar masuk negeri. Itu kan ada dampak positif negatifnya, Rael. Positifnya kayak kehidupan ekonomi warga membaik berkat kedatangan penduduk asing yang menyewa dengan harga tinggi disini—"


"Terus negatifnya?" Potong Rael.


"Kalau dari yang mama dengar, karena kebebasan itu perlahan-lahan negara kita jadi mudah dikuasai penduduk asing. Sebenarnya itu juga kesalahan penduduk lokal karna malah menggantungkan ekonomi mereka pada penduduk asing. Perbedaan budaya juga salah satu pengaruhnya, dan banyak lagi. Tapi, Rael harus tau kalau gak semua orang begitu. Tetap ada orang-orang yang gak merasa terancam dengan kehadiran penduduk asing terlebih seperti Rael. Meski Rael memiliki fisik seperti Bangsa Luar tapi Rael tetap bagian dari Bangsa Indonesia" Jelas Linda.


Kraukk.. Kraukk... Rael mengunyah emping sambil memperhatikan Linda.


"Rael mau tidur siang gak?"


"Nggak. Rael belum nonton update-nya one piece kemaren"


"Ya Tuhan, anak ini. Yasudah mama tidur dulu"


"Bye bye"


...✓✓✓✓✓...


Ting.... Tong....


"Siapa itu nak? Coba buka pintunya" Rael bangkit dari sofa. Linda melanjutkan filmnya sambil menikmati kentang goreng.


Rael mengintip dari jendela, siapa orang yang datang pagi-pagi begini. 'papa?', Gumamnya.


Ceklek.


"Kejutannn!!!!" Hassan merentangkan tangannya. Rael menunjukkan ekspresi bingung di depan pintu.


"Rael gak kaget?"


"Nggak. Saran ya, pa. Harusnya papa sembunyi dulu tadi biar gak bisa diintip dari jendela"


"Hmm.. berarti gagal rencana papa"


"Nggak kok. Mama gak tau soalnya"


Hassan mengangguk mengiyakan perkataan Rael. Sepertinya sudah jelas istrinya itu tidak tau. Linda menonton film dengan suara yang nyaring sampai terdengar di teras luar. Jadi, ia pasti tidak akan mendengar obrolan Rael dan Hassan tadi.


"Rael sudah makan, nak?" Rael menutup kembali pintu setelah Hassan masuk.


"Sudah. Tadi mama bakarkan roti"


"Oh, begitu"


"Sudah sana papa datangi mama aja dulu" Hassan pergi mendatangi Linda. Sedangkan Rael pergi ke dapur membuat minuman dingin.


Rael mengambil sirup jeruk dari kulkas dan 3 gelas kaca yang ia letakkan di atas nampan. Ia menuangkan sirup ke dalam masing-masing gelas sama rata lalu mengembalikan botol sirup itu ke kulkas.


"Huaaaa!!!" Rael tidak sengaja menumpahkan air karena terkejut mendengar suara Linda.


"Ugh!" Ekspresi wajahnya berubah kesal. Dengan malas ia mengambil kain lap dan membersihkan tumpahannya.


Rael membawa nampan berisi 3 gelas es jeruk ke ruang tengah. Dilihatnya mama dan papanya sedang berpelukan mesra disana. Rael terdiam melihat mereka dari depan pintu.


"Oh, Rael. Hahaha... kemari nak" Panggil Hassan. Mereka melepas pelukannya.


Rael meletakkan nampannya di meja dan duduk di samping Hassan.


"Pa, ajarin rael beladiri dong" Pinta Rael.


"Hmm? Rael mau belajar beladiri?"


"Iya"


"Kok tiba-tiba, nak?" Tanya Linda.


"Gak papa. Rael pengen aja" Jawabnya. Ia kembali fokus menyaksikan film-nya.


"Iya, nanti papa ajarin. Mulai besok, ya" Kata Hassan. Rael mengangguk ragu.


"Kenapa, Rael?" Tanya Linda. Ia menatap Hassan bingung.


"Kalau ada yang Rael mau, Rael bisa bilang sama mama sama papa" Kata Hassan. Rael diam.


"Rael......, mau jadi tentara"


...✓✓✓✓✓...