
Tujuh tahun telah berlalu sejak Sophia diasingkan ke kastil Utara. Meskipun awalnya dipenuhi dengan keputusasaan dan rasa kehilangan, gadis itu menemukan cara untuk bertahan dan bahkan berkembang di tengah ketidakadilan yang dia hadapi.
Sophia tumbuh menjadi seorang gadis yang memukau tegas dan baik hati. Kesederhanaannya bersinar melalui kecantikan yang tidak dibuat-buat, Mata biru Sophia melambangkan tekad yang tak tergoyahkan. Senyumnya, seperti sinar matahari yang muncul setelah hujan, memikat hati setiap orang yang beruntung melihatnya.Sophia selalu mengatur setiap helai rambutnya dengan cantik. Meskipun diasingkan dari gemerlap istana dan kemewahan, ia sangat terlihat anggun dan memiliki aura seorang Ratu.
Di dalam kamar yang penuh dengan buku-buku tua dan lampu yang redup, Sophia duduk dengan punggung tegak, menatap keluar jendela yang memperlihatkan pemandangan Kastil Velen di Utara. Di dalam keheningan itu, Sophia merenung tentang perjalanan hidupnya.
"Aku tidak menyangka telah berjalan sejauh ini," Gumamnya pelan.
Di usia 17 tahun, Sophia telah menjalani kehidupan yang berbeda dari yang dia bayangkan saat masih di istana. Di kastil Utara, dia mendapat kesempatan untuk memperdalam pengetahuannya. Selama tahun-tahun itu, Sophia memperdalam pengetahuannya tentang politik dan strategi. Meskipun diasingkan, dia tidak pernah melupakan kerajaannya. Dalam kesendirian kastil Utara, dia sudah berencana untuk merestorasi haknya dan mengungkap kebenaran di balik fitnah yang melekat padanya.
Ketangguhan dan ketekunan Sophia mengejutkan banyak orang di sekitarnya. Dia bukan lagi putri yang terasing, melainkan seorang wanita muda yang penuh tekad dan kebijaksanaan. Tidak ada lagi jejak kelemahan di matanya sekarang, matanya dipenuhi dengan tekad dan tekad untuk memperbaiki nasibnya.
Jauh di dalam hati Sophia, ada keinginan yang tetap membara, keinginan untuk bertemu kembali dengan ayahnya, dan membuktikan bahwa dia tidak bersalah.
Tidak hanya itu selama disini juga Sophia menemukan ketertarikan yang mendalam pada herbal penyembuhan. Di bawah bimbingan seorang tabib terkenal yang tinggal di kastil, dia memperdalam pengetahuannya tentang tanaman obat dan ramuan penyembuhan.
Setiap pagi, Sophia berkeliling kastil dan sekitarnya, mempelajari sifat-sifat penyembuhan tanaman-tanaman liar. Dia memahami bagaimana meracik ramuan-ramuan untuk mengobati berbagai penyakit dan merawat luka.
Dokter Richard, seorang ahli ramuan di kastil utara, dengan senang hati berbagi pengetahuannya pada Sophia.
Sophia menyerap setiap informasi yang diberikan oleh Dokter Richard dengan penuh semangat,Ia belajar meracik ramuan-ramuan penyembuh.
Sophia duduk di ruang studinya, dikelilingi oleh buku-buku kuno dan botol-botol berisi ramuan. Dokter Richard, datang dengan senyuman hangat diwajahnya.
"Tuan Putri bagaimana perkembanganmu?" tanyanya dengan penuh semangat.
Sophia tersenyum dan mengangguk. "Aku sudah banyak memahami tentang ramuan dok."
Dokter Richard duduk di seberang Sophia, menatap buku-buku yang sedang Sophia baca. "Saya senang melihat Tuan Putri sangat tekun dalam belajar. Baiklah sekarang, mari kita bahas ramuan yang lebih kompleks. Ini dapat membantumu dalam pengobatan penyakit yang lebih sulit."
Mereka menghabiskan berjam-jam untuk membahas ramuan-ramuan yang jarang ditemui. Setelah sesi pelajaran selesai, Dokter Richard berdiri. "Oke, sekarang saatnya kita praktikkan ilmu yang sudah kamu pelajari. Kita akan pergi ke hutan untuk mencari bahan-bahan."
Sophia berdiri dengan semangat. Mereka meninggalkan kastil dan masuk ke dalam hutan yang lebat, mencari tumbuhan-tumbuhan yang memiliki kekuatan menyembuhkan. Sophia merasa beruntung memiliki seorang mentor seperti Dokter Richard.
Ketika malam tiba, Sophia sering duduk di dekat perapian, bercerita dengan Lady Marie tentang masa lalu dan harapan untuk masa depan.
Lady Marie juga memberikan dukungan moral dan nasihat bijak kepada Sophia. Dia menjadi telinga yang selalu siap mendengarkan dan bahu yang dapat dipercaya untuk bersandar.
Lady Marie sering kali melihat dalam wajah Sophia kilas balik dari masa lalu, bayangan Ratu Alice, ibu Sophia yang baik hati dan bijaksana. Dalam setiap senyuman Sophia atau bahkan ekspresi matanya yang serius, Lady Marie merasakan kehadiran Ratu Alice yang masih hidup dalam diri Sophia.
"Dalam matamu, Tuan Putri, aku melihat kebijaksanaan dan kebaikan hati yang sama seperti Ratu Alice," ujar Lady Marie sambil tersenyum penuh kehangatan. "Setiap kali kamu tersenyum, itu mengingatkan saya pada Ratu."Lanjutnya.
"Putri Sophia, Ratu Alice adalah sosok yang penuh kasih sayang . Ia juga mengasihi rakyat dengan penuh kepedulian. Setiap tindakannya selalu dipenuhi dengan niat baik untuk kebaikan semua orang."
Sophia mendengarkan dengan seksama mata gadis itu berkilau saat mendengar kisah-kisah tentang ibunya. Lady Marie melanjutkan, "Dia selalu mencari cara untuk membantu orang-orang di sekitarnya, dia adalah lambang kerajaan Fullmoon."
Sambil merenung, Sophia mulai memahami betapa berharga warisan moral yang ditinggalkan oleh ibuny dan diturunkan pada dirinya.Setiap cerita yang dibagikan oleh Lady Marie membantu mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pengasingannya.
"Aku tidak akan mengecewakan Ibuku, Lady Marie."Tekad Sophia."Aku akan kembali lagi ke Istana Suatu hari nanti."
Sudah Tujuh Tahun Sophia tidak bertemu dengan ayahnya, bahkan ayahnya tidak menjenguknya sekalipun. di dalam hatinya terdapat kekosongan yang hanya bisa diisi oleh sosok yang selama ini jarang dia temui—ayahnya, Raja Erick.
Sophia bertanya-tanya, mengapa ayahnya tak pernah menjenguknya. Apakah takdir yang memang memisahkan mereka? Ataukah ada seseorang yang mencegah pertemuan mereka?
"Ayah, mengapa kau tak pernah datang menjenguk? Apakah aku memang telah dilupakan?" Jeritnya dalam hati.
Namun, di balik rasa sakit yang tersimpan di hatinya, Sophia menyimpan harapan kecil. Harapan bahwa suatu hari, ayahnya akan menyusuri kastil ini dan menemukannya.
Sejujurnya ia merasa terluka tidak bisa disamping ayahnya, setelah kelahiran Philip ia mendengar berita bahwa ayahnya mulai sakit, dan penyakitnya berangsur-angsur sampai sekarang. Namun dirinya tidak bisa melakukan apa apa. Walaupun Sang Raja menggambil keputusan untuk mengasingkan dirinya, Sophia sekalipun tidak pernah membenci Ayahnya, ia tahu bahwa semua ini pengaruh dari sang Ibu tiri.
Waktu itu kabar sakitnya Raja Erick menyebar seperti angin di seluruh Kerajaan Fullmoon, kekhawatiran dan keprihatinan terdengar di setiap sudut kerajaan.Meskipun terpisah oleh jarak dan waktu, Sophia sebagai anak yang berbakti tak pernah berhenti untuk berdoa cintanya yang tulus menjadi penghubung yang tak terlihat, Ia berharap ayahnya sehat kembali dan panjang umur, ia berharap ayahnya bisa terbuka mata hatinya dan mengambil keputusan dengan bijak untuk bisa mengembalikan dirinya ke istana.
.
.