PRINCESS SOPHIA

PRINCESS SOPHIA
Surat undangan



Matahari bersinar cerah, kicauan burung, angin yang berdesir, pohon pohon yang seolah bergoyang, ketenangan yang disuguhkan alam. Seminggu berlalu sejak pemakaman Raja Erick, dan kehidupan di istana Fullmoon berlanjut dalam suasana yang berbeda. Kabar tentang penobatan Philip, putra Ratu Evelyn, sebagai raja yang baru telah di umumkan.


Pintu kamar Sophia berderit saat terbuka, memperlihatkan seorang pengawal istana yang berdiri tegap di ambang pintu. Dalam tangannya, ia memegang sesuatu yang berkilauan yang tidak lain adalah selembar undangan istana yang disertai dengan segel kerajaan.


"Tuan Putri, ini adalah undangan dari istana. Mereka meminta kehadiranmu pada upacara penobatan pangeran Philip." Kata pengawal dengan hormat.


Sophia menatap undangan itu sejenak seolah dunia berhenti berputar. Dia merasakan getaran batin yang rumit, perasaan campur aduk yang sulit untuk diungkapkan.


Sophia menerima undangan dengan suara berat."Terima kasih. Beritahu mereka bahwa saya akan hadir."


Pengawal itu memberi hormat dan meninggalkan Sophia.


Sophia duduk di tepi ranjangnya,pergelangan tangannya terasa gemetar saat ia menyentuh kertas yang indah itu. Ada perasaan campur aduk yang melonjak-lonjak di dalam dirinya.


"Mereka benar-benar berpikir aku akan kembali begitu saja?"Gumamnya.


Ia menarik napas panjang dan mengatur pikirannya. Sophia tahu bahwa langkah yang akan diambilnya akan membuka luka-luka lama dan membawa tantangan baru.


Lady Marie dan Sophia bersiap-siap untuk perjalanan mereka yang akan membawa mereka kembali ke istana setelah tujuh tahun lamanya, suasana hati mereka penuh kecemasan hingga rasa penasaran dan semangat.


Lady Marie memilihkan gaun istimewa untuk Sophia, gaun yang mencerminkan keanggunan dan keindahan, Mata biru gadis itu memancarkan ketegasan dan tekad.


Di luar, kereta kuda telah disiapkan untuk membawa mereka ke istana. Kuda-kuda gagah itu menunggu dengan sabar, siap membawa tuan putri dan pengasuhnya melalui perjalanan panjang menuju istana Fullmoon. Mereka menaiki kereta kuda dengan hati-hati, Sophia merenung, menatap pemandangan yang melintas di luar jendela, sementara Lady Marie duduk di sisinya, memberikan kehangatan dan dukungan dengan menggenggam tangan Sophia.


"Tujuh tahun yang lalu, aku meninggalkan istana dengan hati yang hancur. Kini, aku kembali dengan hati yang telah mengeras, siap menghadapi apapun disana!" Tekadnya dalam hati.


Perjalanan mereka memakan waktu satu hari penuh. Seiring matahari terbenam dan langit berubah warna, Sophia bisa melihat siluet istana yang menjulang tinggi di kejauhan. Hatinya berdebar-debar.


Kereta kuda berhenti di gerbang istana, mengisyaratkan kedatangan mereka. Sophia menarik napas dalam-dalam, Dengan langkah yang mantap, ia keluar dari kereta, diikuti oleh Lady Marie.


Sophia memasuki ruang istana yang telah lama tak ia pijak. Seiring langkahnya yang pasti, pandangan setiap mata yang menyaksikan terasa terpaku pada kehadirannya. Orang-orang di sekitarnya terpukau oleh kecantikan dan keanggunannya yang seolah mencerminkan sosok Ratu Alice, ibunya yang sudah lama tiada.


"Lihatlah, Tuan Putri Sophia telah kembali." Bisik orang disana.


Sophia melanjutkan langkahnya dengan penuh martabat,mata-mata yang terpaku dan bisik-bisik di ruangan itu menyiratkan kekaguman dan keterkejutan. Sophia tumbuh menjadi wanita yang menakjubkan. Aura kehadiran Sophia merambat di seluruh ruangan,tanpa disuruh, semua orang di ruangan itu tunduk memberikan hormat pada Sophia. Langkahnya yang mantap dan tatapannya yang penuh tekad membuat bahkan orang yang paling skeptis pun tak bisa mengabaikan kehadirannya.


Gaun indah yang dikenakannya melambangkan keanggunan dan kecantikan yang tak terbantahkan, meskipun Sophia sudah dihapus dari pewaris tahta, sepertinya tak ada yang bisa merampas wibawa dan hakikat seorang pemimpin yang tertanam dalam dirinya.


Sophia menghentikan langkahnya sejenak, memberikan penghormatan singkat pada Evelyn. Meskipun itu adalah gestur sopan, dalam tatapannya terdapat tekad yang tak terbantahkan. Evelyn, yang kini mengenakan mahkota sebagai ratu, merespon dengan tatapan meremehkan yang mencerminkan kebanggaan dirinya yang mempunyai status seorang Ratu.


Setelah itu Sophia melangkah melewati Evelyn tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya tetap tajam, menyiratkan bahwa meskipun kehilangan takhtanya, Sophia tak akan tunduk pada sikap Evelyn yang penuh keangkuhan.


Evelyn, merasa terhina oleh sikap Sophia, amarahnya memuncak."Lady Sophia, kau tidak menghormati ratu yang sekarang berdiri di depanmu!" ucapnya tajam.


Mendengar itu langkah Sophia terhenti, dan dia memutar tubuhnya untuk menatap Evelyn dengan penuh ketegasan.


"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai ibuku, atau bahkan sebagai seorang ratu yang layak dihormati."Balasnya dengan suara yang dingin dan tajam.


Evelyn, mendengus sinis menghadapi jawaban Sophia. Baginya, keberanian Sophia adalah bentuk penghinaan pada dirinya.


"Berani beraninya kau mengatakan itu!" Ia menggertakan gigi menahan amarahnya.


Tanpa berlama-lama Sophia melanjutkan langkahnya, meninggalkan sang Ratu yang kini syok dengan perlawanannya. kini ia menuju makam orang tuanya,


Sophia merenung sejenak di depan makam itu, dia merasa seakan-akan dapat mendengar suara ayahnya dan ingin memberikan penghormatan terakhir untuk pertama kalinya.


"Ayah, maafkan aku. Aku tidak pernah bisa mengucapkan selamat tinggal yang layak padamu. Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, namun takdir berkata lain." Gumamnya pelan."Dan ibu, meskipun aku tak pernah melihat wajahmu, aku merindukanmu. Semoga kalian berdua tenang di sini." lanjutnya, matanya terasa perih namun ia tidak ingin merasa lemah hari ini.


Sophia menutup matanya sejenak, dalam kesenyapan itu Sophia melepaskan beban hatinya yang telah ia simpan begitu lama ia melapalkan doa doa untuk orang tuanya.


...****************...


Sementara itu Evelyn tersenyum pahit, ia melangkah tergesa gesa menuju ballroom istana, ia berpikir pilihan untuk mengasingkan Sophia dulu adalah pilihan tepat, bahkan sekarang walaupun gadis itu telah kehilangan statusnya, berani beraninya Sophia bersikap kurang ajar padanya.


Sebenarnya selama masa sakitnya, Raja Erick menjadi boneka dalam rencana Evelyn. Dalam setengah kesadaran, Evelyn memanfaatkan situasi tersebut untuk memanipulasi Raja Erick agar menandatangani surat yang menjadikan Philip sebagai pewaris sah, sementara secara resmi menghapus Sophia dari pewaris tahta. Raja Erick, yang sakit akhirnya meminta Edward, orang kepercayaannya, untuk mengurus segala hal.


Di tengah penandatanganan surat-surat yang memutuskan sang pewaris, Evelyn dengan mata yang bersinar penuh kepuasaan merasa rencananya berhasil. Terutama menempatkan dirinya di posisi yang kuat sebagai statusnya resmi sebagai ratu.


Dan kini putranya akan secara resmi dinobatkan sebagai raja, ini menambah posisinya semakin kuat. Baginya, segalanya telah berjalan sesuai rencana, dan dia tidak akan membiarkan siapapun, termasuk Sophia, merusak citra dan kekuasaannya yang baru.


.