PRINCESS SOPHIA

PRINCESS SOPHIA
Death



Raja Erick terbaring tak berdaya di ranjangnya yang megah, wajahnya semakin pucat serta keringat dingin membasahi dahinya, pernapasannya tersengal sengal menunjukkan dirinya semakin dalam keadaan kritis.


Sejumlah orang penting berkumpul di sekitar ranjangnya, termasuk sang istri Ratu Evelyn yang tampak menunjukkan wajah terluka seolah tak sanggup melihat suaminya. Orang orang yang hadir juga, menunjukkan raut wajah yang penuh keprihatinan dan kesedihan.


Bahkan dalam ketidaksadarannya Raja Erick hanya melapalkan satu nama,dalam ruang batinnya sepertinya hanya itu yang tersimpan.


"Sophia.. Sophia... Sophia"Lirihnya pelan.


Mulutnya terus bergumam seperti itu, Mungkin karena ada rasa bersalah yang dalam tersimpan dalam hatinya. Dan pada akhirnya nafasnya tersendat lalu berhenti, Raja fullmoon menghembuskan nafas terakhirnya.


"Suamiku, tolong bangunlah!" Isak Evelyn, tangisannya menjadi saat melihat Raja meninggal."Tidak, Yang Mulia jangan tinggalkan aku.!"


Suasana berkabung merebak. mata semua orang berkaca-kaca, dan hati para pengikut Raja Erick terasa berat untuk mengikhlaskan pemimpin mereka pergi.


Edward orang terdekat Raja terlihat tegar menghadapi ini."Raja Erick telah berpulang. Kita harus segera mengumumkan kematian beliau." Ucapnya pada seorang pengawal.


Berita kematian Raja Erick dengan cepat menyebar di seluruh kerajaan Fullmoon. Suasana berkabung menyelimuti istana dan kota, Mendengar berita tersebut, keheningan melanda kerumunan. Tak ada suara kecuali derap langkah dan suara tangisan yang tertahan.


"Warga kerajaan Fullmoon, dengan berat hati kami mengumumkan bahwa Raja Erick telah berpulang ke sisi Tuhan, Pemakaman yang dihormati ini akan dilakukan besok, dan seluruh rakyat diundang untuk memberikan penghormatan terakhir pada sang pemimpin" Salah satu pengawal membacakan pengumuman di berbagai lokasi.


Di halaman istana, bendera berkibar setengah tiang sebagai tanda penghormatan terakhir. Kerumunan yang berduka berkumpul.


Di hadapan mata publik yang berkabung, Evelyn berakting dengan pandai sebagai orang yang sangat berputus asa atas meninggalnya Raja, Wajahnya yang sebelumnya keras dan dingin, kini diselimuti ekspresi duka yang mendalam. Raungan tangisnya menggema di koridor istana, menciptakan suasana yang dipenuhi oleh kepedihan.


"Raja Erick... suamiku tercinta, telah pergi meninggalkanku. Kenapa takdir begitu kejam?" Keluhnya dengan suara serak dan terputus.


Rambutnya yang terurai berantakan menambah dramatisasi adegan duka ini. Para pelayan dan anggota kerajaan yang menyaksikan tidak dapat menahan air mata mereka, terbawa kedalam drama yang mainkan oleh sang Ratu ini.


...****************...


Di kastil Velen di Utara, saat senja melintasi cakrawala, Sophia tengah terpaku pada jendela kamarnya. Cahaya senja yang biasa begitu indah dan hangat kini terasa dingin, perasaanya tak tenang,wajahnya yang pucat, seolah ada sesuatu yang mengganjalnya. Dalam keheningan, terdengar langkah kaki yang mendekat, dan pintu kamarnya terbuka perlahan.


"Sophia.."Panggil seseorang.


Peter memasuki kamar dengan ekspresi wajah yang serius. Mendengar itu Sophia langsung menoleh.


"Peter kamu disini? Apa yang terjadi?" Tanya gadis ini kebingungan, karena biasanya Peter tak langsung kembali ke Kastil dalam tiga hari.


Dia melangkah mendekati Sophia, dan dengan suara yang rendah, Peter menyampaikan berita yang mengguncangkan dunia Sophia.


"Raja Erick... Ayahmu telah meninggal dunia."


Kata-kata itu terasa seperti petir yang menyambar, menciptakan keheningan yang menakutkan. Sophia merasa kakinya ambruk, kekuatannya hilang seketika. Matanya terbelalak, mencari kepastian di mata Peter seolah-olah berharap bahwa ini hanyalah mimpi buruk.


Peter dengan sigap langsung menahan Sophia yang akan terjatuh, namun gadis ini langsung menepis dan berusaha berdiri tegap kembali.


"Tidak, ini tidak mungkin..." ucapnya dengan suara gemetar.


Sophia memegang dada, mencoba menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk hatinya. Ia merasa dunia berputar, kehilangan pijakan yang selama ini dipegangnya.


"Tidak, Peter, Ayah tidak boleh meninggal.." Sahutnya lagi dengan tegas.


Namun kenyataan yang pahit menabraknya seperti ombak yang tak terduga. Dan akhirnya tangisannya pecah saat itu juga."Ayah..kenapa? Kenapa kau terus meninggalkanku?"lirihnya.


Peter memeluk gadis itu dengan erat, merasakan kepedihan Sophia, ia merasa menyesal bahkan tidak bisa memberikan apa yang Sophia titipkan terakhir kali untuk Raja erick.


Sophia detik itu juga menghilangkan tangisannya, ia berjalan cepat keluar dari kamarnya, seakan tak percaya dengan berita yang ia dengar.


"Sophia kau mau kemana?" Tanya Peter mengejar Sophia yang menghiraukannya.


Sophia merasa sekarang ia harus pergi ke istana untuk melihat ayahnya, untuk membuktikan apa yang diucapkan Peter, Matanya dipenuhi dengan berbagai emosi. Saat membuka pintu depan pengawal-pengawal yang sudah siaga menyongsongnya.


"Tuan Putri, mohon maaf, Anda tidak dapat pergi." Cegah si pengawal.


Mendengar itu mata Sophia melotot, emosinya semakin memuncak."Apa yang kau katakan? Beraninya kau melarangku!" Ucapnya dengan nada tinggi.


Ia menghiraukannya dan terus melangkah namun lengannya ditahan.


"Lepaskan aku!" Titahnya.


Sophia merasa seakan terperangkap dalam sebuah mimpi buruk. Ia mencoba meronta, mencoba membebaskan diri dari genggaman keras pengawal. Tapi, kenyataan keras tak dapat dihindari: ayahnya telah meninggalkannya, dan ia terkurung dalam tembok ini.


Sophia, dalam kebingungan dan amarahnya, meluapkan ketidaksetujuannya dengan keras. Matanya berkobar dengan penuh emosi.


"Maaf, Tuan Putri. Kami hanya menjalankan perintah."


Mereka menunjukkan surat resmi yang diberikan oleh Ratu Evelyn, dengan segel kerajaan yang mencirikan sang raja yang telah tiada. Sophia membaca Surat itu dengan mata yang penuh kebencian dan kekecewaan. Matanya membulat dan ia kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya Peter dari belakang menangkapnya.


"Ini... ini tidak mungkin! Ayah tak akan melakukan ini padaku.." Ucapnya dengan suara gemetar, dadanya terasa panas, nafasnya terasa sesak.


Surat itu jelas menyatakan bahwa Sophia sudah dihapus dari daftar pewaris tahta. Dalam hatinya, kesedihan dan kehilangan mencampur aduk dengan keputusasaan. Pintu yang telah terbuka lebar bagi masa depannya, kini ditutup rapat.


"Peter, katakan padaku ini bohong!" Pinta Sophia sembari mencengkram kerah Peter.


Peter hanya menatapnya dengan prihatin lalu menggendong gadis itu dalam pangkuannya lantas membawa Sophia kembali ke dalam.


Sophia merasa tubuhnya lemas, dan ia terpaksa menyerah pada kenyataan yang tak terhindarkan. Perintah Evelyn dan surat resmi itu mematahkan semangatnya, menggiringnya ke jurang keheningan yang dalam.


Untuk beberapa saat ia masih terguncang dengan dua kabar ini, dan masih mencernanya, namun dalam dirinya ia yakin seratus persen ayahnya tidak akan melakukan ini.


Dalam keheningan kamar yang terisi ketidakpastian, Sophia merasa emosinya berkobar semakin tinggi. Ini tidak adil, pikirnya, sementara api ketidaksetujuannya masih menyala dalam dirinya. Dia tidak bisa duduk diam, terjebak dalam alur keputusan yang dia anggap salah.


Ia kembali berdiri, berjalan bolak-balik langkah langkahnya tak teratur.


"Aku tak bisa tinggal diam! Aku harus pergi ke istana!" Sahutnya.


Lady Marie, yang duduk di sudut kamar dengan ekspresi prihatin yang mendalam, segera mencoba merangkul Sophia untuk menenangkannya.


"Tuan Putri, tolong berpikir dengan kepala dingin. Ini bukan saat yang tepat, Kau diawasi sekarang!" Kata lady Marie dengan lembut.


Namun, Sophia menarik diri dari rangkulan itu dengan mata penuh tekad."Tidak, tidak ada yang bisa menghentikanku! Aku harus melihat ayah untuk terakhir kalinya! Dan menghentikan kejahatan Evelyn!"


Peter, yang mencoba mencari jalan tengah, berbicara dengan nada yang tenang."Sophia, kau tidak dapat melawan aturan ini dengan paksa. Ratu Evelyn memiliki kekuatan penuh sekarang."


Namun, Sophia tetap bersikeras merinci rencananya dengan mata yang memancarkan ketegasan."Ada jalan pintas yang tidak diketahui pengawal, aku pernah melewati lorong rahasia itu."


Lady Marie menatapnya dengan kebingungan, mencoba memahami maksud Sophia."Tapi itu berbahaya, Tuan Putri. Aku tidak bisa membiarkanmu berada dalam...." Cegah Lady Marie.


Sophia memotong kata-kata Lady Marie dengan tatapan tajam."Aku harus melihat ayahku, Lady Marie. Jika ada jalan yang dapat membawaku ke istana, aku harus mencobanya."


Lady Marie merasa ia harus menahan gadis itu, ia memang tahu betapa pedihnya perasaan Sophia namun ia tidak ingin Sophia berada dalam bahaya, jika gadis itu pergi diam-diam maka ia akan menjadi buronan dan dikejar oleh pengawal, dan dianggap menentang sang Ratu, ini bisa gawat.


Ia bersujud sebagai tanda kesetiaan dan ketulusan dan memohon pada Sophia untuk tidak pergi."Tuan Putri, aku memohon padamu, pikirkanlah dengan bijak. Ini bukan hanya tentangmu, tapi juga tentang keselamatanmu.aku tidak ingin kehilanganmu." Katanya tulus.


Sophia merasakan pusaran emosi dalam dirinya. Di satu sisi, ada tekad yang kuat untuk menentang Evelyn dan melihat Ayahnya untuk terakhir kalinya. Di sisi lain, ia merasakan kekhawatiran yang mendalam dari Lady Marie yang seperti seorang ibu baginya.


"Lady Marie, berdirilah."Titah Sophia sembari menghembuskan nafas berat.


Lady Marie, dengan hati berat, mengangkat dirinya dari posisi bersujudnya. Sophia melihat ke dalam mata wanita itu, dan di sana ia menemukan ketulusan yang melekat pada setiap kata dan gerakannya.


"Aku tak akan pergi.."


Sophia menarik Lady Marie ke dalam sebuah pelukan hangat,Sophia tahu bahwa ini adalah pilihan yang sulit, tetapi mungkin juga yang terbaik untuk saat ini.


"Terima kasih Tuan Putri."


Tetapi, di tengah-tengah kesedihan itu, ada lapisan emosi lain yang menyusup dalam dirinya. Keputusan untuk menghapusnya dari daftar pewaris dan melarangnya menginjakkan kaki di istana menyulut api kemarahan yang berkobar dalam dirinya. Betapa tidak adilnya segalanya. Betapa ia merasa dicabut haknya sebagai anak raja.


Mengapa aku harus kehilangan segalanya? Mengapa aku dihukum begitu berat? Apa kesalahan ku? Pikir Sophia.


Keesokan harinya, langit yang sebelumnya cerah dan biru, kini menjadi latar belakang yang pucat dan suram. Upacara pemakaman Raja Erick, sosok yang dicintai oleh rakyat Fullmoon, diadakan di halaman luas istana. Bendera hitam berkibar setengah tiang, menggambarkan kepergian seorang pemimpin.


Prosesi pemakaman diatur dengan penuh kehormatan. Jasad Raja Erick dihias dengan mahkota dan pakaian kerajaan.


Istana yang dulu dipenuhi tawa dan keceriaan kini terasa sepi, seolah meratap dalam kesedihan. Barisan prajurit dan pengawal istana berdiri dengan sikap tegas, menunjukkan penghormatan terakhir mereka pada sang raja yang telah berpulang.


Suara doa dan nyanyian merasuki udara, menciptakan suasana hening yang hanya terputus oleh suara derap langkah prajurit yang membawa peti mati menuju makam keluarga kerajaan.


Evelyn, yang tampaknya berduka, mengenakan pakaian berkabung dengan ekspresi yang terkendali.


.


.