
Kegelapan malam menghiasi istana Fullmoon, terdengar langkah lembut Ratu Evelyn yang bergema di lorong-lorong yang sepi. Dalam genggaman tangannya, ia membawa secangkir teh favorit Raja Erick yang dibuat olehnya. Akhirnya ia sampai di kamar sang Raja dengan wajah lembut dan senyuman manis.
Kamar raja diisi dengan aroma harum teh yang menggoda. Raja Erick terbaring di atas ranjangnya, sorotan matanya yang penuh kelelahan mencerminkan keadaannya yang tak berdaya. Ratu Evelyn memasuki kamar dengan langkah elegan.
"Yang Mulia aku membawa teh favoritmu. Semoga ini dapat mengembalikan kekuatanmu." Ucapnya lembut lalu duduk disisi ranjang Raja.
Raja Erick, yang terbaring dengan tubuh yang lemah, mencoba memberikan senyum kecil sebagai tanda terima kasih. Namun, matanya mengisyaratkan bahwa beban yang dipikulnya jauh lebih besar daripada yang terlihat.
"Terima kasih sayang. Kau selalu hadir dalam saat-saat sulitku." Balas Raja dengan suara serak.
Evelyn tersenyum sambil membenarkan kembali selimut di sekitar tubuh Raja Erick, dirinya terlihat seperti istri yang sangat berbakti. Namun, di balik senyumnya yang manis, tergambar rahasia yang ia sembunyikan.
"Sayang,aku ingin memberitahumu bahwa tak seorang pun boleh masuk ke sini tanpa izinku. Aku khawatir kesehatanmu akan semakin buruk jika terganggu." ujarnya dengan cemas.
Raja Erick mengangguk, seolah-olah menerima pembatasan tersebut. Tetapi, di balik tatapannya yang melekat pada Evelyn, ada rasa ketidakpastian yang muncul.
"Aku mempercayaimu sepenuhnya, Sayang. Apa pun yang kau lakukan, aku yakin itu untuk kebaikan kerajaan." Jawab Raja sambil menggenggam tangan Evelyn.
Evelyn balas menggenggam, seakan-akan memastikan bahwa segala sesuatu berjalan sesuai rencananya. Namun, dalam ruang hatinya, api keinginan untuk memiliki kendali semakin berkobar.
"Semua akan menjadi milikku. Raja Erick sudah sangat mempercayai ku, dan aku akan mengendalikan kekuatan tahtanya. Pikirnya dalam hati."
Raja Erick mencicipi tehnya, tanpa menyadari bahwa secangkir kecil itu mungkin membawa dampak besar pada takdir kerajaan. Evelyn, dengan senyum yang masih terpahat di wajahnya, merasa puas Raja selalu meminum teh buatannya sampai habis.
Setelah menemui suaminya, Evelyn meninggalkan ruangan ditemani oleh kesunyian malam. Langkahnya ringan, tetapi hatinya penuh dengan rencana yang semakin merumit. Sekarang ia masuk kesebuah ruangan yang dihiasi dengan mainan anak-anak.
Di atas ranjang kecil, seorang anak laki-laki yang tampan berusia tujuh tahun, Philip, tengah asyik bermain dengan mainan-mainannya. Sang ibu mendekatinya dengan senyuman yang semakin berkilau ketika matanya bertemu dengan mata kecil Philip.
"Philip, sayangku, bagaimana harimu?" Panggilnya dengan lembut.
Philip mengangkat kepala, mata hijaunya yang cerah menerawang di balik rambut pirangnya yang lembut. Senyuman mungilnya mengembang ketika melihat ibunya.
"Hari ini sangat menyenangkan, Mama. Aku bermain dengan prajurit-prajurit di istana." Jawab anak itu dengan riang.
Evelyn mengelus lembut rambut pirang Philip, memberikan sentuhan sayang sebagai seorang ibu yang peduli."Philip nak, dengarkan Mama!"
Philip menatap ibunya dengan penuh keingintahuan, menyadari bahwa obrolan ini mungkin lebih serius daripada yang biasa.
"Kau tahu, sayang, bahwa suatu hari nanti kau akan memimpin kerajaan ini?" Tanyanya halus.
Philip mengangguk, seakan-akan sudah mengerti konsep tersebut. Dirinya sadar bahwa ia bukan anak anak biasa, banyak tanggung jawab yang dipikulnya.
"Apa yang harus aku lakukan, Mama?"
Evelyn tersenyum, berusaha menyusun kata-kata dengan hati-hati agar Philip mengerti untuk bisa merancang masa depannya.
"Kau harus belajar banyak, Sayang. Menjadi seperti ayahmu, Raja Erick. Kau akan menjadi penerusnya dan menjaga kerajaan ini dengan kekuatanmu sendiri." Jelasnya.
Philip mendengarkan dengan seksama, mencerna setiap kata ibunya. Keingintahuannya semakin berkembang, dan di matanya ada sebuah ambisi yang diturunkan sang ibu.
Philip menatap ibunya lekat lekat."Aku akan melakukannya, Mama. Aku akan menjadi raja yang hebat!" Tekad anak itu.
Evelyn tersenyum penuh kepuasan, seakan-akan melihat refleksi dirinya sendiri dalam mata kecil putranya."Itu yang Mama harapkan, sayang, kita akan menguasai takhta ini."
Philip, tanpa menyadari, telah dihadapkan pada takdirnya yang sudah diatur sejak lahir, dan Evelyn sang ibu adalah dalang dari segala rencana tersebut kini tengah membimbing putranya menuju puncak kekuasaan yang diinginkannya.
Saat Evelyn tengah bercengkrama dengan putranya ketukan lembut terdengar di pintu kamarnya. Peter, dengan penuh rasa hormat, meminta izin untuk menemui Raja Erick. Meskipun sesuai etiket kerajaan seharusnya dia diizinkan, namun kehadiran Peter tampaknya menyita perhatian Evelyn.
"Permisi, Yang Mulia. Saya ingin meminta izin untuk bertemu dengan Raja Erick. Saya membawa ramuan dari Putri Sophia untuk kesembuhan beliau." Kata Peter dengan sopan.
Evelyn merasa terganggu pandangan matanya menusuk ke arah Peter, dan ekspresinya berubah menjadi dingin apalagi mendengar kata Sophia.
"Raja Erick tidak dapat diganggu! Aku tak mengizinkanmu!" Ucap Evelyn dengan tajam.
"Saya hanya ingin membantu, Yang Mulia. Ramuan ini mungkin membantu Raja Erick agar segera sembuh." Peter masih terus berusaha dengan rendah hati.
Namun Evelyn, dengan sigap mengambil botol ramuan dari tangan Peter dan dengan kasar melemparkannya ke lantai. Isi botol itu tumpah, pecah berserakan.
"Tak seorang pun, termasukmu, diizinkan mengganggu Raja Erick. Kau berani melanggar perintahku?" Bentaknya.
Peter, walaupun merasa kecewa, tetap menjaga sikap tenangnya. Hatinya menggebu-gebu penuh dengan amarah."Saya hanya ingin membantu, Yang Mulia, Putri Sophia sangat prihatin dengan kesehatan Raja Erick."
"Tidak perlu prihatin. Raja Erick berada di bawah perawatanku. Dan aku yakin, dia tak memerlukan campur tangan dari seseorang sepertinya." Jawab Evelyn sinis.
Peter mencoba menahan kekecewaannya, tetapi matanya menyiratkan tekad yang semakin kuat."Tuan Putri peduli pada raja, begitu juga saya. Jika Ratu tidak mengizinkan saya melihatnya, mungkin tuan Putri akan merasa sedih."
Lady Evelyn, tanpa ragu, menolak tawaran Peter dengan nada tinggi."Pergi! Aku tak mau mendengar ocehanmu!" Ucapnya tajam.
Peter akhirnya mengangguk dan keluar dari ruangan. Evelyn, kembali fokus pada rencananya, ia harus membuat semua orang menyadari bahwa mereka yang ada di kerajaan ini harus tunduk pada kehendaknya.
Sementara itu, di luar pintu, Peter memikirkan langkah-langkah selanjutnya yang akan diambil untuk menjalankan niat baiknya, yang kini semakin dihambat oleh bayangan ambisi yang tumbuh dalam diri sang Ratu.
Evelyn terus berlalu-lalang di koridor yang sepi. Wajahnya yang sebelumnya tersenyum manis kini menjadi serius, penuh dengan pemikiran yang dalam. Ambisinya yang tumbuh tak terkendali berkecamuk dalam pikirannya, ada banyak langkah yang perlu diambil untuk menjaga kekuasaannya.
Sophia harus dihilangkan. Meskipun ia jauh dari istana, bayangan dirinya masih menjadi ancaman. Aku harus memastikan bahwa tidak seorangpun mengganggu rencanaku. Tekadnya dalam hati.
Dalam kekhawatirannya, langkah Evelyn menjadi tergesa-gesa, seolah-olah bayangan Sophia telah mengejarnya. Dia menyusun skenario-skenario yang penuh drama untuk menyingkirkan Sophia secara permanen, agar tak ada lagi yang bisa menggoyahkan tahtanya.
Apakah aku harus melibatkan Raja Erick dalam ini? Pokoknya Sophia tak boleh kembali.
Di tengah ketidakpastian dan kekhawatirannya, ia merasa bahwa keberhasilan bergantung pada bagaimana ia bisa menutupi setiap celah yang mungkin mengancam posisinya. Meskipun Sophia berada di kastil Utara yang jauh, ketakutan akan kebangkitannya masih membayangi pikirannya seperti badai yang mendekat.
Aku tak boleh lengah. Semua harus berjalan sesuai rencana. Sophia tak boleh menjadi hambatan lagi. Gumamnya lagi.
.
.