
Bulan purnama menampakkan sinarnya malam ini, setidaknya ada secerah harapan, namun gelap sel penjara menyelimuti dua orang yang tidak bersalah yang akan menghadapi takdirnya.
Sophia merenung, merasakan setiap denyut nadi yang membuatnya hidup."Marie," gadis itu akhirnya membuka mulutnya, suaranya penuh dengan keheningan yang merayap di antara dinding dingin sel. "Aku tidak pernah membayangkan akhir hidupku akan begini."
"Maafkan aku, Tuan Putri. Aku mencoba yang terbaik untuk bisa menyelamatkan mu, namun tampaknya takdir memilih jalan yang sulit untuk kita." Marie memeluk Sophia dengan penuh kehangatan, mengusap rambutnya pelan.
Sophia menggeleng pelan."Ini bukan kesalahanmu Lady Marie, aku yang seharusnya minta maaf, kamu harus terlibat dengan semua ini."
Lady Marie tersenyum tipis, mencoba menahan air matanya. "Kita harus tetap kuat, Putri Sophia. Mungkin ada harapan di balik pintu yang tampak tertutup ini. Kita tak boleh menyerah." Ucapnya penuh tekad.
Keduanya tak berhenti terus memanjatkan doa doa di dalam sel yang kotor, dingin dan gelap ini. Karena di dalam doa mereka seperti menemukan cahaya yang tak pernah padam.
Keadaan tak terduga ini membawa mereka pada suatu pengalaman hidup yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Dimana mereka bisa tahu kapan nyawa akan diambil, kapan terakhir mereka hidup, dan seperti apa cara mereka berakhir. Ini semua menciptakan gelombang perasaan yang bergejolak. Takut, pasrah, cemas dan berbagai perasaan negatif lainnya.
Dari kejauhan, terdengar langkah-langkah kaki mendekat, merobek keheningan penjara. Lalu penjaga yang berdiri di depan sel mereka tiba tiba tumbang dengan cepat. Sebuah siluet muncul dari kegelapan tak lama ia membuka topengnya untuk memperlihatkan siapa identitasnya. Ternyata, itu adalah Peter, yang berhasil menyusup ke dalam penjara dengan menyamar sebagai penjaga. Dengan cepat, Peter bergegas mendekati Sophia dan Marie.
"Peter!"Panggil Sophia dengan excited, rasanya secerah harapan muncul dengan kedatangan lelaki ini. Wajahnya yang tadinya suram seketika berbinar menyambut kehadiran Peter
"Ssst... aku di sini untuk menyelamatkan kalian."Bisik Peter. Matanya memancarkan tekad yang kuat, "Maaf, namun aku harus membawa kalian satu persatu, situasinya tidak memungkinkan untuk membawa dua orang." Jelas Peter dengan menyesal.
Mendengar itu mata mereka kembali redup, Sophia menatap Lady Marie ragu ragu.
"Putri Sophia, kau harus pergi lebih dulu. Aku akan baik-baik saja disini!" Titahnya penuh tekad.
Sophia menggeleng dengan cepat."Tidak, aku tidak bisa meninggalkanmu di sini."
Marie tersenyum tulus lalu menggenggam tangan dingin gadis itu."Aku akan baik-baik saja. Pergilah, Tuan Putri, kau sangat berharga untuk kerajaan ini, suatu saat kau harus bisa mengembalikan kedamaian kerajaan ini.!"
Mata Sophia berkaca kaca, hatinya masih ragu, ia tidak ingin meninggalkan orang yang sudah mengurusnya selama ini disini ditempat gelap ini dengan takdir yang sudah ditentukan besok.
"Lady Marie aku.."
Marie langsung menyelanya."Tuan putri tidak ada waktu untuk bersedih, kau harus bisa menyelamatkan dirimu!"
"Sophia, tidak waktu lagi kita harus cepat.."Timpal Peter."Lady Marie, aku juga akan kembali lagi untuk menyelamatkanmu..!" Sambung Peter penuh tekad.
"Kita akan bertemu lagi, Lady Marie. Berjanjilah! Aku sama sekali tidak akan melupakanmu!"
Wanita itu memeluk Sophia dengan erat."Aku senang bisa membesarkanmu Sophia."Bisik Lady Marie tulus.
Peter memberikan seragam penjaga pada Sophia untuk dipakainya agar mengelabui penjaga, dan dengan hati-hati mereka melintasi beberapa penjaga yang tidak menyadari keberadaan mereka. Menuju ke lorong yang gelap mengantarkan mereka ke kebebasan, Peter dan Sophia bergerak cepat dengan hati-hati agar tidak terdeteksi.
Lorong itu seolah menjadi labirin kebebasan. Dinding dingin penjara dan suara langkah kaki yang samar-samar menambah ketegangan dalam suasana. Sophia bisa merasakan detak jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, bercampur antara kekhawatiran dan harapan.
Sophia hampir terpeleset, tetapi Peter dengan cepat menangkapnya. Mereka berdua berhenti sejenak, melihat sekeliling untuk memastikan aman. Tangan Peter dengan erat memegang Sophia, memberikan kestabilan pada langkah-langkah mereka yang berusaha menembus kegelapan.
"Hati-hati, Sophia. Kita harus terus bergerak."Bisik Peter.
Sophia mengangguk, dan mereka melanjutkan perjalanan.Tak lama akhirnya mereka berhasil sampai pada tepi lorong, dibelakang istana. Sophia merasa akhirnya bisa menghirup kebebasannya.
Disana Lily, kuda Sophia sudah menunggu, Peter menyentuh pundak Sophia menguatkannya. Matanya menatap gadis itu lekat lekat.
"Dengar Sophia, kau dan Lily akan pergi ke perbatasan istana, nanti aku akan menemuimu disana. Sekarang aku akan kembali untuk menyelamatkan Lady Marie!" Jelas Peter.
Sophia mengangguk, ia memeluk Peter dengan erat."Terima kasih Peter, Berjanjilah kau akan kembali bersama Lady Marie dengan selamat."
Hatinya sudah mengeras untuk menghadapi orang orang yang sudah menyakitinya, Namun Sophia masih belum siap untuk dipisahkan dengan orang orang yang selama ini sudah menyayanginya, mendukungnya dan selalu ada untuknya.
Peter membalas pelukan Sophia."Aku berjanji Tuan Putri! Aku akan selalu bersamamu!"
Peter dengan lembut mencoba menghapus air mata yang mengalir di pipi gadis itu."Jangan khawatir, Sophia. Kita akan berkumpul kembali dan mengakhiri semua ini. Aku di sini untukmu." Ucapnya tulus dan lembut.
Sophia melompat ke atas Lyly, sementara Peter memberikan dorongan ringan untuk membantunya naik.
Peter tersenyum, mencoba menyembunyikan kekhawatirannya."Hati Hati Sophia!"
Sophia melambaikan tangan perpisahan, dan dengan langkah ringan, Lyly mulai melaju menuju perbatasan istana. Ketika Sophia menghilang ke dalam kegelapan, Peter berbalik menuju istana, tekadnya kuat menghadapi tantangan yang menanti, sekarang misinya untuk menyelamatkan Lady Marie.
Angin menerbangkan rambut Sophia, dinginnya malam yang menusuk kulit sama sekali tak dihiraukannya,gemerisik dedaunan dan suara-suara di kejauhan menciptakan suasana mencekam. Namun mata Sophia mencerminkan tekad yang kuat.
"Lily, Kita hampir sampai."Bisik Sophia.
Siluet istana tampak di belakang menandakan perjalanannya semakin jauh, Sophia terdiam sejenak, melirik ke belakang, rasanya banyak beban dihatinya, ia tidak merasa bebas, meninggalkan kerajaannya seperti ini. Seperti ia sudah menyerah padahal dirinya ingin semuanya kembali normal.
Lily berhenti di perbatasan, dan Sophia mengamati langit malam. Pemandangan yang diterangi cahaya bulan melambangkan kebebasan dan ketidakpastian. Dirinya mengambil nafas dalam-dalam mencoba melepaskan beban yang dipangkunya.
Di perbatasan yang gelap, Sophia menanti dengan hati yang gelisah. Waktu berlalu dengan cepat, dan cahaya bulan menerangi langit malam. Sophia, yang semakin lelah, terus menatap kegelapan, mengharapkan kedatangan Peter dan Lady Marie yang belum kunjung terlihat. Kelelahan akhirnya merayap ke tubuhnya, dan tanpa disadari, matanya yang penuh kekhawatiran perlahan terpejam.
"Peter..Lady Marie.."Lirihnya.
.
.