
Lady Marie berlari secepat kilat melintasi koridor istana yang sedang kacau. Hatinya penuh kekhawatiran dan tekad untuk membela Sophia dari tuduhan yang tak adil. Langkahnya yang tergesa-gesa membawanya menuju area istana yang lebih tenang, di mana Peter sedang bertugas.
Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Wanita ini tak menyadari gadis itu akan menghadapi takdir yang lebih kejam, bahkan saat ayahnya meninggal ia tidak diizinkan ke istana, namun saat penobatan pangeran Philip, Sophia malah mendapat undangan khusus, seharusnya ia lebih curiga, lebih jeli dan waspada bahwa mungkin akan ada jebakan untuk gadis itu.
Saat menemukannya, Lady Marie langsung menggandeng lengan Peter dengan tatapan mata penuh kepanikan "Peter, kamu harus membantuku membebaskan Sophia. Dia tak bersalah, dan aku tidak tahan melihatnya terjerat dalam ketidakadilan ini," pintanya dengan nada serius.
Peter terkejut mendengar kabar bahwa Sophia ditahan, dan kebingungan tergambar jelas di wajahnya. "Lady Marie, kenapa Sophia ditahan? Apa yang terjadi?" tanyanya dengan nada kebingungan dan khawatir.
Lady Marie dengan napas terengah-engah menjelaskan situasi tersebut. "Mereka menuduh Sophia meracuni Philip. Kita harus membuktikan bahwa ini semua adalah fitnah!"
Mata Peter membulat mendengar itu."Ini sudah keterlaluan!"dengusnya."Aku akan cari cara untuk membuktikan kebenaran ini dan membebaskan Sophia dari tuduhan yang tak berdasar."tekad Peter.
Peter menghampiri ayahnya, Jenderal Liam, dan dengan cepat menjelaskan situasi yang menimpa Sophia. Jenderal Liam mendengarkan dengan serius, wajahnya mencerminkan campuran antara kekhawatiran sebagai ayah dan profesionalisme sebagai seorang jenderal.
"Ayah, kita harus segera bertindak. Sophia tidak bersalah, Aku yakin!" ujar Peter dengan nada tegas.
Jenderal Liam mengangguk, "Aku mengerti perasaanmu, Peter. Namun, keputusan akhir ada pada sidang. Kita harus menunggu dan mempercayai sistem keadilan kerajaan ini. Aku yakin Sophia akan dibebaskan jika tidak ada bukti yang mendukung tuduhan ini."
Peter merasa campur aduk antara keputusan ayahnya dan rasa ingin melindungi Sophia. "Tapi aku tidak bisa duduk diam ayah! Apa yang bisa kita lakukan selama menunggu sidang?" tanyanya.
Jenderal Liam menatap putranya lekat lekat, "Kita harus kumpulkan bukti-bukti dan saksi-saksi yang dapat membuktikan bahwa Sophia tidak bersalah." Liam berjalan mondar mandir sambil berpikir keras.
"Namun sidang disini dilakukan secepat mungkin, apalagi ini pasal yang berat tentang percobaan pembunuhan Raja, akan sulit untuk menemukan bukti dalam waktu singkat. Jadi kita akan mempercayakan pada hakim karena Sophia tak terbukti sama sekali." Liam merasa Ratu hanya diperbudak amarah saat itu, jadi ia hanya memberikan tuduhan palsu.
Jendral Liam memegang kedua bahu Peter berusaha menenangkannya."Persiapkan dirimu untuk sidang, dan kita akan bersiap untuk membela Sophia dengan sekuat tenaga kita." Ucap ayahnya penuh ketegasan.
Mereka sadar bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, namun keadilan adalah tujuan yang patut diperjuangkan.
...****************...
Sementara di dalam sel yang gelap, Sophia duduk bersila, merenung dan berdoa. Pikirannya terus berputar, mencari jalan keluar dari situasi yang semakin rumit ini. Ia menyadari bahwa jika dinyatakan bersalah, konsekuensinya bisa sangat fatal.
Ketika malam tiba, Sophia masih terjaga, memikirkan langkah-langkah berikutnya. "Aku harus kuat, tidak hanya untuk diriku sendiri, tetapi juga untuk mereka yang percaya padaku," gumam Sophia sambil menatap ke langit-langit sel yang suram.
Ia merenung tentang bukti-bukti yang dapat dia kumpulkan untuk membela diri. Setiap detik dalam selnya dihabiskan dengan mencari solusi dan merencanakan strategi. Sophia percaya bahwa kebenaran akan muncul di akhirnya.
Keesokan harinya, dalam keheningan pagi, Sophia akhirnya dibawa keluar dari selnya menuju ruang sidang. Edward, yang merupakan sosok dekat dengan ayahnya dulu, mendampinginya. Sophia yang gusar terus berkata, memohon agar kebenaran segera terungkap.
"Aku tidak bersalah, Edward. Aku tidak melakukan apa-apa yang mereka tuduhkan padaku, Aku akan di bebaskan kan? Kau bisa membantuku kan?" ucap Sophia dengan mata penuh tekad.
Sophia meresapi kata-kata itu sebagai sumber semangat di tengah kegelisahan hatinya." Terima kasih Edward." Ia menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca-kaca.
Sejujurnya walaupun ia berusaha terlihat tegar, di dalam hatinya ia merasakan takut, ia tidak pernah berpikir ini akan terjadi, apalagi sekarang orang orang memandangnya sebelah mata. Sebagai putri yang iri hati dengan otak kejam. Dari perspektif orang ia mencoba membunuh anak kecil.
Perjalanan menuju ruang sidang terasa seperti waktu yang berjalan lambat. Sampai di ruang sidang, Sophia merasakan beratnya tanggung jawab yang harus dihadapinya. Di depan hakim dan publik, ia akan menghadapi tuduhan yang mengancam hidupnya.
"Demi keadilan," gumam Sophia pelan, sambil memasuki ruang sidang dengan langkah tegar.
Ruang sidang dipenuhi dengan atmosfer ketegangan. Sophia, duduk di bangku terdakwa, berusaha menahan kecemasan yang melanda. Evelyn, duduk di seberang sebagai pihak penggugat, tersenyum puas.
Tak disangka semua tuduhan memberatkan Sophia. Bukti-bukti yang dikumpulkan oleh Evelyn tampaknya tak terbantahkan. Dokter Richard di datangkan dari kastil Velen untuk menjadi saksi, menyatakan bahwa Sophia mempelajari seni meracik ramuan selama di kastil, menunjukkan bahwa ini mungkin sudah direncanakan jauh hari.
Lalu pelayan istana memberikan kesaksian bahwa mereka melihat Sophia membawa ramuan di hari penobatan, sementara seorang tabib memberikan bukti bahwa Philip diracuni.
"Saya bersumpah demi Tuhan, saya tidak meracuni Philip. Ini tidak benar!" Sanggah Sophia dengan nada tegas.
"Diam. Biarkan bukti yang berbicara." Bentak hakim dengan dingin.
Pertarungan Sophia melawan dakwaan tak adil ini menjadi semakin berat. Ruang sidang menjadi tempat di mana kebenaran dan manipulasi bertemu. Dalam kebisuan yang hening, Sophia tetap berdiri tegak, siap menghadapi keputusan takdir yang akan ditentukan oleh hakim.
Ia pikir semua ini hanya tuduhan sementara, namun ternyata Orang yang ada dihadapannya sekarang, Ibu tirinya, tidak bermain-main, semuanya sudah diatur dengan jelas, ketika Evelyn pertama kali menginjakkan kaki ke istana, Evelyn sudah mengatur nasib Sophia kedepannya.
Kedatangan Sophia ke istana kali ini adalah untuk menjadi pemeran dalam drama besar ini, dengan Sophia yang menjadi Villain Dimata semua orang.
Pikiran Sophia melayang, ke masa lalu dimana istana ini masih hangat, mata mata itu tidak menatapnya dengan dingin dan tajam, ketika ayahnya menyayanginya., ketika ia bermain di taman, namun semua itu hanya masa lalu.
Suasana di ruang sidang berubah menjadi hening ketika hakim dengan tegas mengumumkan putusannya: Sophia bersalah atas tuduhan pemberontakan dan percobaan pembunuhan kepada Raja dan akan dihukum mati. Keputusan itu seperti palu yang menghantam keras, meruntuhkan harapan Sophia dan membuatnya terdiam.
Jantungnya berhenti sedetik, berusaha mencerna keputusan hakim.
"Tidak mungkin.."
.
.