PRINCESS SOPHIA

PRINCESS SOPHIA
Lady Marie



Dalam keheningan pagi yang sejuk, kicauan burung-burung yang menyambut mentari membangunkannya, matanya perlahan terbuka, saat itu juga ia langsung terperanjat, melihat sekeliling dan hanya mendapati Lily disampingnya.


Pagi yang seharusnya menenangkan kini berubah menjadi penuh kecemasan, Sophia sadar bahwa Peter dan juga Marie tak pernah datang.


Firasatnya penuh dengan rasa buruk, hatinya berdebar kencang, ia merutuki dirinya sendiri kenapa ia bisa tertidur dalam situasi seperti ini. Rasa takut menghantui setiap inci pikirannya.


"Tidak, Tidak, Aku harus kembali kesana!"Ucapnya penuh tekad.


Dengan cemas, Sophia bersiap-siap untuk kembali kesana, membawa beban rasa ketidakpastian yang membuat langkahnya terasa berat.


Sophia kembali memacu kudanya, sepanjang perjalanan angin bertiup lembut menyisir rambutnya yang terurai, namun di dalam dadanya, kekhawatiran dan kegelisahan menari seperti bayangan yang tak pernah berhenti.


"Ayo Lily,lebih cepat." Teriak Sophia, seakan mengerti, si kuda membalas gadis itu dengan meringik.


Tak butuh waktu lama untuk Sophia sampai di kota, ia turun dan sementara menyimpan Lily di suatu tempat. Dirinya diselimuti jubah supaya menutupi identitasnya. Perlahan berjalan di jalanan kota, memperhatikan pagi yang seharusnya ramai namun kali ini hening dan sepi.


Dalam setiap langkah, hati Sophia semakin berat, dan detak jantungnya berdentum lebih keras di tengah keheningan yang mencekam, matanya menangkap kerumunan di tengah kota,


"Sedang apa mereka?" Tanyanya dalam hati.


Ia berjalan kesana untuk mengetahui apa yang terjadi, namun diatas panggung, ia melihat seorang wanita yang sudah seperti ibu baginya sedang diikat.Matanya membulat.


Deg


Jantungnya serasa berhenti sejenak, ia tidak pernah menyangka Eksekusi akan dilakukan secepat ini, dirinya berlari melalui celah celah kerumunan, tangannya berusah meraih panggung yang jauh itu, mulutnya menjadi bisu, dan langkahnya terhenti.


Ketika sebuah pedang dengan sekali tebas mengambil nyawa Lady Marie, nafanya tercekat, keseimbangannya hilang dan ambruk seketika. Pandangannya buram oleh air mata yang tak terbendung, ia menutup mulutnya berusaha mengunci isakannya.


Dadanya terasa sakit, namun ia perlahan berdiri dengan langkah terseok-seok keluar dari kerumunan, dan menyelinap di balik bangunan yang gelap. Dan disitulah ia menumpahkan tangisannya.


"Lady Marie....."Lirihnya.


Tangisannya meluap tak terbendung seiring dengan dadanya yang tersa berat."Tidakkkk..."


Kilatan pedang yang terpantul dalam pikirannya, serta ekspresi terakhir Lady Marie, menjadi pemandangan yang tak terlupakan. Dunianya runtuh seketika, tidak ada tempat hangat untuk dirinya kini ia hanya diselimuti kegelapan.


Raungan isakannya tak berhenti, ia sangat merasa bersalah Lady Marie harus meregang nyawa dengan tragis karena dirinya, ia berjanji akan membalaskan ketidakadilan ini.


Namun disela sela tangisannya, terdengar lonceng bergema di seluruh kota, yang mengumumkan bahwa Sophia melarikan diri dari eksekusi, berita mengenai dirinya tersebar diseluruh kota.


Kabar tentang pelariannya menjadi bahan pembicaraan di setiap sudut kota, Sophia merasakan sejuta mata memandangnya, tidak lagi dengan mata penuh kasih dan kehangatan, melainkan dengan curiga. Sophia berjalan dengan langkah cepat di antara keramaian jalanan kota yang dipenuhi dengan bising dan sibuknya aktivitas sehari-hari.


Walau ia berusaha menyamarkan diri di balik jubahnya, seorang pengawal dengan naluri tajamnya segera mencurigai gerak-gerik Sophia. Mata pengawal itu menyelidiki Sophia, memperhatikan langkahnya yang cepat dan tatapan cemas di wajahnya. Sophia merasa nafasnya berhenti sejenak ketika mata mereka bertemu. Tanpa ragu, pengawal itu mulai mengejar, menggerakkan tubuhnya dengan kecepatan yang menakutkan.


Dalam sekejap, Sophia melihat bahaya mendekat, dan tanpa berpikir panjang ia berlari secepat kilat menuju tempat persembunyian dimana Lily sudah menunggunya.


Sophia bisa merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang, ketegangan yang menyelimuti dirinya seperti kabut tebal. Dia tahu bahwa di setiap sudut kota ini, pengawal-pengawal lain mungkin sudah diarahkan untuk menangkapnya. Syukurlah ia sampai di tempat Lily, tanpa pikir panjang dirinya meraih tali kekang Lily dan memacunya menjauh dari keramaian kota.


Tak disangka dibelakang sudah terdengar teriakan bergema di seluruh kota, suara teriakan keras para pengawal yang memanggilnya.


"Sophia! Sophia! Kau tidak bisa lari selamanya!" Teriak Prajurit di depan.


"Kita harus menangkapnya! Jangan sampai dia lolos!" Timpal yang disampingnya.


"Jangan biarkan dia melarikan diri! Terus Ikuti dia!"


Sejumlah prajurit berkuda mengikuti dengan tekad memburu. Gemuruh langkah kaki kuda menambah ketegangan adegan ini.


"Lily kita harus cepat! Mereka semakin dekat!" Sahut Sophia dengan cemas dan terengah-engah.


Sophia sadar, bahwa sekarang ia hanya dapat mengandalkan dirinya sendiri, jika dirinya tidak selamat maka ia tidak bisa mengembalikan Fullmoon menjadi sejahtera, dan kematian Lady Marie hanya kesia sian serta Peter yang kini tak ada kabar.


Ia tak bisa membiarkan semua itu berlalu begitu saja! Mau tidak mau, ia akan mempertahankan nyawanya.


Di dorong oleh keputusasaan dan juga tekad untuk ingin terus hidup, Sophia memacu Lily dengan cepat memasuki hutan yang lebat. Seolah olah dedaunan berbisik dan melambai agar gadis itu masuk. Sebab di belakang ancaman terus mendekat tak ada pilihan lain untuk dirinya terus maju dengan tekad tak tergoyahkan.


Tanpa diketahui oleh pengejar-pengejarnya, langkah Sophia membawanya lebih dalam ke jantung hutan. Udara kental dengan aroma lumut dan tanah yang lembab. Membuat dirinya sejenak takut dan ragu.


"Dimana ini?"Gumamnya.


Namun teriakan dibelakang seakan tak mengizinkan dirinya untuk berhenti sejenak, dan kini dirinya harus melebihi batas daya tahan fisiknya.


Namun, takdir berkata lain. saat ia tengah fokus melarikan diri,Sophia dan Lily malah tersandung dan masuk ke dalam jurang, tubuhnya terhempas ke dalam kegelapan jurang tersembunyi. Suara kejaran memudar menjadi jauh saat dia terjerembab kesana.


Ditengah situasi itu ia merasa hidupnya akan berakhir disini, Fullmoon sudah tidak ada lagi dalam dekapannya, kedua orang tuanya sudah pergi, Lady Marie juga, Peter juga. Mungkin sekarang saatnya dirinya menyusul mereka.


Dunia Sophia berputar-putar saat dia jatuh, indera-inderanya sesaat hilang ke dalam kehampaan. Kegelapan melingkupinya, dan untuk sejenak, segalanya menjadi hening.