
Malam itu Marie, menyaksikan kepergian Sophia bersama Peter dengan senyuman namun ketika bayangan mereka mulai hilang ditelan lorong itu. Pergolakan batinnya tercermin di mata yang memancarkan rona kecemasan, pandangannya sayu, merenungi kenyataan bahwa mungkin malam ini menjadi malam terakhirnya bersama gadis yang telah diasuhnya selama 17 tahun.
Senyum pahit melintas di bibir Marie. Keputusan untuk membiarkan Sophia pergi merupakan pilihan sulit yang terasa seperti kehilangan sebagian dari dirinya sendiri. Namun, Marie memahami bahwa tindakan itu mungkin merupakan pengorbanan terbesar yang pernah ia lakukan.
Akhirnya air mata yang ditahannya meluap, sejujurnya dirinya tak ingin berpisah dengan gadis itu, yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.
"Tuan Putri, semoga langkahmu malam ini membawamu ke kehidupan yang lebih baik."Isaknya dalam doa.
Dia siap melakukan apa saja untuk melindungi Sophia, bahkan jika itu berarti harus memberikan nyawanya. Pikirannya melayang pada saat Marie pertama kali mendengar tangisan lembut Sophia, itu adalah hal berharga yang tak terlupakan. Suara kecil yang memenuhi ruangan itu seolah menggetarkan hati Marie, membangkitkan naluri pelindungnya. Tanpa ragu, ia berlari mendekati ranjang kecil tempat bayi itu berada, dirinya merasa bahwa suara itu membawanya pada sesuatu yang tidak pernah capai. Untuk mempunyai seorang anak.
Melihat bayi Sophia untuk pertama kalinya, senyum tak terkira merekah di wajah Marie. Mata gadis kecil itu memancarkan kecerdasan dan kepolosan yang menggugah hatinya.
Tiap langkah pertumbuhan Sophia adalah kebahagiaan bagi Marie. Ketika Sophia pertama kali belajar berjalan, senyuman bangga Marie tak bisa disembunyikan. Melihat gadis itu menjelajahi dunianya dengan mata yang penuh rasa ingin tahu, Marie yakin bahwa masa depan Sophia akan bersinar secerah matahari.
"Bagus, Tuan Putri. Oh kau peri kecilku." Marie menggendong Sophia penuh kasi sayang.
Namun, takdir bermain dengan perasaan dan harapan Marie. Masa depan yang terlihat cerah kini dipenuhi dengan kegelapan, tidak pernah terbersit dalam pikirannya sekalipun Sophia akan memiliki takdir yang pahit. Ia mencintai gadis itu seperti anak kandungnya sendiri,
Meskipun rintangan dan takdir yang tak terduga menghampiri, cinta dan pengabdian Marie terhadap Sophia tetap menjadi cahaya dalam kegelapan, Marie bersumpah untuk melindungi Sophia sepanjang hidupnya, meskipun jalannya harus dilalui dengan kepahitan dan air mata yang tak terhitung banyaknya.
Ketika Marie merenung dalam kekhawatirannya, tiba-tiba Peter muncul di depan selnya. Mata Marie berbinar senang melihatnya.
"Peter, kau datang untuk menyelamatkanku..."Ucapnya bersemangat.
"Lady Marie.."
Namun, sebelum kebahagiaan itu benar-benar merasuki hati Marie, sebuah kejadian tak terduga mengubahnya menjadi mimpi buruk.
Hanya dalam sekejap, sosok misterius tiba-tiba muncul di lorong penjara dan dengan kasar memukul Peter hingga ia tak sadarkan diri.
"Peter! Tolong! Tidak, Peter bangun!"Jeritnya panik.
Detik itu penuh dengan ketidakpastian dan kepanikan. Marie, terkunci dalam jeruji besi, hanya bisa menatap kejadian itu dengan perasaan takut dan tidak berdaya.
Pukulan yang merampas kesadaran Peter membuat hati Marie berdegup lebih cepat. Seseorang yang tidak dikenal menyeret tubuh tak berdaya Peter menjauh, meninggalkan Marie dalam kegelapan yang semakin dalam.
Marie terpaku di tempatnya, matanya memancarkan keputusasaan. Semua harapannya hancur dalam sekejap. Ia kembali merasakan kehilangan, Marie tidak tahu apa yang telah terjadi pada Peter, dan pertemuan dengan Sophia yang begitu diimpikannya seakan melayang begitu saja.
Selang beberapa jam dirinya di introgasi atas hilangnya Sophia, Marie menemukan dirinya terikat pada kursi dingin, ruangan yang redup, dan udara terasa tegang ketika Evelyn, dengan matanya yang menyala-nyala oleh kemarahan, berjalan mondar-mandir.
"Marie. Katakan padaku di mana Sophia!"Teriaknya.
Marie tetap diam, matanya memandang lurus ke depan, tanpa mengungkapkan ketakutan.
"Aku tidak tahu di mana Sophia."Jawab Marie tanpa ragu.
Evelyn melemparkan marie ke lantai, dan segera beberapa pengawal mendekat, siap untuk melanjutkan interogasi dengan kekerasan. Ia memandang marie dengan amarah yang tak terbendung."Kau akan menyesal tak membuka mulut!" Sahutnya penuh amarah.
Kesabaran Evelyn semakin menipis, dan ia memberi isyarat kepada para penjaga untuk memberikan siksaan lebih. Ruangan itu bergema dengan suara menyakitkan dari jeritan wanita tua itu.
"Kau pikir bisa menentangku? Kau pikir bisa melindunginya selamanya?" Oceh Evelyn tak berhenti.
Meskipun merasakan rasa sakit, Marie tetap teguh, bibirnya terkatup. Ia tidak akan membocorkan apapun mengenai Sophia, walaupun malam ini dirinya harus meregang nyawa. Iblis yang ada didepannya harus dihancurkan. Marie berharap Sophia bisa bisa kembali membawa kejayaan kerajaan Full moon.
Dirinya akhirnya dilemparkan kembali ke selnya yang dingin dan lembab. Penuh memar dan babak belur, ia meraih-aih jeruji besi, semangatnya tetap utuh.
"Kalian semua akan menyesal, aku bersumpah jika kalian menyakiti Sophia, meskipun aku mati nanti, aku akan kembali untuk membalas dendam!" Rintihannya ditengah rasa sakit.
Tak butuh waktu lama pagi yang kelam tiba, dan Lady Marie merasakan udara dingin menyusup ke dalam seluruh tubuhnya. Doa diucapkannya tak henti hentinya dengan getaran yang dalam, seakan berharap bahwa keajaiban akan turun dan menyelamatkannya dari nasib yang mengancam. Kakinya bergetar hebat setiap langkah yang ia ambil menuju tangga eksekusi.
Tangga yang terasa semakin panjang, seperti jalur menuju keabadian atau kehancuran. Rasa takut mencengkeram hatinya, tetapi di tengah-tengah kegugupan itu, ia memastikan dirinya bahwa ini adalah pilihan yang benar. Baginya, mati dengan membela kebenaran lebih baik daripada hidup dalam dalam kecurangan dan ketidakadilan.
Sesampainya di tempat eksekusi, kerumunan orang sudah berkumpul, menghakiminya sebagai penjahat, Marie bisa merasakan mata mereka yang tajam menunggu nyawanya segera diambil. Algojo dengan alat sebuah pedang yang ada ditangannya sudah bersiap di sampingnya. Pikirannya sudah tak karuan saat itu.
Evelyn, dengan keangkuhannya, mengumumkan.
"Rakyat ku yang kucintai lihatlah bahwa ini adalah hukuman bagi siapa pun yang berani mencoba membunuh raja."
Sorakan dibawah menandakan mereka tidak sabar, menunggu eksekusinya.
"Hidup Raja! Matilah Penghianat!" Disana sorakan terdengar.
Namun pendengaran Marie seolah tertutup, ia memenuhi dirinya dengan doa, ia tahu ketidakadilan cepat atau lambat akan musnah. Semua kebenaran akan segera terungkap.
Pada saat eksekusi dimulai, bayangan terakhir Marie adalah gambaran Sophia yang masih bayi, memegang jarinya dengan lembut. Di tengah kepedihan dan kegelapan, ia mencoba menemukan ketenangan di ingatannya yang penuh cinta.
Algojo bergerak, mengakhiri hidup Lady Marie dengan satu tebasan. Penglihatannya yang terakhir adalah wajah Sophia di kerumunan, tetapi hilangnya kesadaran membuat dirinya tidak mampu lagi memahami apapun yang terjadi di sekitarnya.
Gelap. Semuanya gelap.
.
.