
"Putri Sophia, tunggu sebentar!" seru Peter dengan nada cemas.
Peter melangkah dengan cepat mendekati Sophia yang sudah hampir naik ke kereta kuda menuju kastil Utara. Napasnya terengah-engah, terlihat bahwa ia baru saja menempuh jarak yang cukup jauh untuk mengejar Sophia.
Sophia meminta kusir untuk berhenti sejenak lalu ia menoleh mendengar seseorang memanggilnya wajahnya mencerminkan antara kekhawatiran dan keputusasaan. "Peter, kenapa kamu di sini? Aku harus pergi."
Peter mencoba menenangkan diri sejenak sebelum menyemburkan berbagai pertanyaan. "Apa yang terjadi? Kemana kamu mau pergi? Sophia tolong jelaskan padaku!"
Karena panik dirinya tak menyadari sudah menyebut Sophia dengan akrab, jantungnya berdegup kencang.
Sophia tersenyum tipis sejenak."Akhirnya kamu memanggilku dengan nama langsung."ia menatap Peter dengan mata penuh kebimbangan. "Aku diasingkan ke kastil Utara, Peter, aku juga tidak tahu kenapa, namun Ayah memerintahkan aku untuk pergi." Jelas Sophia.
Peter tercengang mendengar kabar itu. "Apa? Mengapa? Ini tidak adil!"
Sophia mengangguk, mencoba menahan air mata yang ingin meleleh. "Aku tidak tahu. Tapi aku harus pergi."
Peter meraih tangan Sophia dengan erat. "Aku akan mencari tahu kebenarannya, Sophia. Jangan khawatir, aku akan selalu ada untukmu."
Sophia tersenyum lemah, merasakan kehangatan dukungan dari sahabatnya. "Terima kasih, Peter. Aku percaya padamu."
Mereka berdua saling menatap dengan hangat dan penuh arti, lalu Sophia kembali melangkah menuju kereta.
Dari sini Peter sadar bahwa gadis ini sudah diperlukan sangat tidak adil, ini pasti karena Ratu baru, tapi dirinya tidak menyangka Raja akan mengambil keputusan seperti ini.
Beberapa bulan terakhir ini dirinya tidak tinggal di istana jadi secara otomatis ia tidak di sisi sang putri, ia bergelut belajar dengan Ayahnya yang seorang Jendral pertahanan Kerajaan Fullmoon. Hari ini ketika kembali ia sangat terkejut mendengar Sophia pergi.
Setelah kepergian Sophia,Peter tanpa ragu ia bergegas menuju kediaman Jenderal Liam, ayahnya, berharap menemukan jawaban yang memenuhi hatinya yang bergejolak.
Di ruang komando yang keras dan penuh peta strategis, Jenderal Liam sedang sibuk dengan perencanaan militer. Peter memasuki ruangan itu dengan langkah yang cepat.
"Apa yang kau cari, Peter?" Tanya sang Jenderal dengan tegas.
"Putri Sophia pergi, Ayah. Dia diasingkan ke Kastil Velen di Utara. Kita harus melakukan sesuatu Ayah! Aku harus menolongnya." Kata Peter menggebu gebu.
Jenderal Liam mengangkat alisnya, ia sadar keputusan yang telah diambil Raja Erick adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun, dia juga menyadari bahwa Peter, yang sudah bersama dengan Sophia sejak kecil,harus melalui masa yang sulit.
"Ini adalah keputusan Raja, Peter. Kita tidak bisa ikut campur. Fokuslah pada tugas dan tanggung jawabmu." Jelas sang Jenderal berusaha acuh tak acuh dan berfokus kembali pada kesibukannya.
Namun, Peter, yang merasa ketidakadilan merayapi keputusan itu, tidak bisa membiarkan temannya sendiri menghadapi nasib yang tidak adil.
"Ini tidak adil, Ayah,Sophia tidak pantas diasingkan seperti penjahat. Kita harus berbuat sesuatu." Ucap Peter lagi.
Ia menatap Putranya lekat lekat."Peter, ini adalah urusan istana. Kita tidak bisa melanggar hukum dan aturan yang telah berlaku. Ada saatnya untuk bertarung dan ada saatnya untuk menunggu." Katanya dengan Hati hati.
Peter tahu bahwa kata-kata sang Ayah benar, mereka tidak bisa apa apa sementara. Hati dan pikirannya terus membayangkan Sophia di Kastil Utara.apakah dirinya akan menentang aturan istana yang kuat, ataukah dia akan bersabar menunggu waktu yang tepat? Berbagai keputusan berkecamuk dalam hatinya.
Jenderal Liam, pria yang selalu teguh dan berpegang pada disiplin militer, sejujurnya merasakan perubahan yang mencemaskan sejak kehadiran Lady Evelyn di istana. Ketenangan yang dulu menguasai setiap sudut koridor dan kamar istana kini digantikan oleh gesekan yang tak terlihat oleh mata awam.
Di dalam ruang komando, tempat di mana perencanaan strategi perang dijalankan dengan ketat, Jenderal Liam merenung. Wajahnya yang keras menunjukkan pemikiran yang dalam, dan matanya mencerminkan kekhawatiran yang tidak diucapkan. Seiring dengan kehadiran Lady Evelyn, sejumlah peraturan dan tradisi yang dipegang teguh di istana mulai terkikis.
"Ketika Lady Evelyn datang, perlahan tapi pasti, keadaan di istana ini mulai bergeser. Peraturan-peraturan yang selama ini menjadi landasan, berubah seiring berjalannya waktu." dengusnya dalam hati.
Pada awalnya, mungkin ada yang tak menganggap serius. Namun, dengan cepat, dampak dari pergolakan kecil yang Lady Evelyn ciptakan mulai terasa dalam setiap aspek kehidupan di istana. Bagian dari peraturan militer dan protokol diubah atau dilemahkan, menciptakan kekacauan dan kebingungan di antara para prajurit dan pejabat istana.
Dalam keheningan malam yang menyelimuti, Jenderal Liam mempertanyakan masa depan kerajaan ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan perubahan-perubahan yang terjadi dan bagaimana itu akan memengaruhi stabilitas yang telah dibangun dengan susah payah?
...----------------...
Pintu Kastil Velen terbuka berat, menghasilkan derap yang menciptakan gema di ruang keheningan malam. Sophia melangkah masuk, langkahnya terdengar di lantai batu yang dingin dan kuno. Hati Sophia berdebar, bukan hanya karena keangkeran kastil ini, tetapi juga karena ini adalah pertama kalinya ia memasuki dunia luar istana yang pernah menjadi rumahnya.
Sophia melihat bangunan-bangunan kuno yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Langkahnya terdengar di koridor yang gelap, sementara langit malam menyinari tembok batu abu-abu Kastil Velen. Pohon-pohon tua di taman tampak seperti penjaga bisu yang menyambutnya.
"Jangan khawatir, Putri Sophia. Raja sendiri yang memerintahkanmu ke sini. Aku yakin kau akan diperlakukan dengan baik." Kata Edward dengan lembut.
Sophia menatap Edward, mencari kepastian dalam mata lelaki itu. "Kenapa Ayah melakukan ini?"Tanyanya, karena Sophia belum menerima jawaban yang pasti, bahkan saat kepergiannya ia tidak bertemu dengan Ayahnya dulu.
"Raja yakin bahwa ini adalah keputusan yang terbaik untuk keselamatan semua orang. Percayalah, Putri Sophia. Kau tidak sendiri." Jawab Edward meyakinkan.
Dalam keheningan yang hanya terpotong oleh desiran angin, Sophia merasa dunianya sekarang berbeda. Istana yang begitu akrab dengannya telah menjadi kenangan, dan Kastil Velen sekarang menjadi dunianya yang baru, dunia yang dipenuhi dengan rahasia dan kegelapan yang belum dijelajahi.
Dalam lentera sederhana yang dia bawa, Sophia menjelajahi ruangan-ruangan yang penuh dengan bayang-bayang masa lalu. Lukisan-lukisan kuno dan perabotan yang usang membentuk cerita di dinding yang bisu. Tidak ada suara selain langkah-langkahnya yang terus bergerak maju, menantang takdir yang baru.
"Ayo Sophia, Kamu pasti bisa." ia terus menerus meyakinkan dirinya sendiri.
.
.
.