PRINCESS SOPHIA

PRINCESS SOPHIA
Tak terungkap



Hari yang cerah menyinari Kastil Velen di Utara, dan Sophia merasa kehangatan sinar matahari menyapu kerinduannya yang terpendam. Selama tujuh tahun terakhir, di tengah kesunyian kastil, Peter, tak pernah absen untuk mengunjunginya, ia telah menjadi penyemangat dalam hidup Sophia Kedekatan mereka memberikan Sophia alasan untuk tersenyum, bahkan di saat-saat sulit.


Pintu kamar Sophia terbuka perlahan, dan Peter muncul dengan senyuman yang ramah. Kini Peter tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan gagah. Dia adalah seseorang yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan kebaikan. Wajahnya yang penuh semangat mencerminkan tekadnya untuk menjadi seorang ksatria yang luar biasa.


"Sophia! Bagaimana kalau hari ini kita keluar sebentar? Aku akan membawa mu ke pasar!" Ajak peter bersemangat.


Peter juga sekarang bersikap menjadi seorang teman, tanpa sebutan Formal, itu juga membuat Sophia lebih nyaman tanpa memandangnya sebagai Anak dari seorang Raja.


Sophia tersenyum melihat antusiasme Peter. Meskipun terpisah dari gemerlap istana dan kemewahan, saat-saat seperti ini membawa kebahagiaan yang tak ternilai.


"Tentu, Peter! Aku rindu suasana di luar kastil." Balas Sophia dengan gembira.


Dengan gaun sederhana yang dipilihkan oleh Lady Marie, dan juga sebuah jubah yang menutupi identitas sang putri, Sophia bersiap untuk pergi, sebenarnya dirinya tak selalu mendapat izin untuk bepergian keluar.


Setelah itu mereka berjalan bersama keluar dari kamar menuju ke halaman kastil yang indah. Cahaya matahari memeluk wajah Sophia, membuatnya merasa hidup kembali. Di sampingnya, Peter adalah sosok yang selalu ada, seperti pilar kekuatan di tengah kesendirian.


Pasar di kota kecil itu ramai dengan aktivitas. Suara pedagang yang berteriak, warna-warni kain yang menjuntai di toko-toko. Sophia menelan ludah melihat berbagai hidangan yang menggoda di kios makanan. Lalu mereka berdua mencoba makanan khas setempat, semua itu membuat Sophia merasakan kehidupan yang telah lama terlupakan.


"Bagaimana, apa kau senang?" Tanya Peter yang melihat gadis itu memakan sebuah roti.


Sophia mengangguk mantap, mulutnya masih penuh dengan makanan, bagi Peter ini sudah cukup melihat sang Putri merasakan perasaan bahagia.


Mereka berdua menyusuri lorong-lorong pasar, menikmati setiap momen kebersamaan


"Terima kasih, Peter. Aku benar-benar senang bisa berbaur dengan rakyat." Sahut Sophia dengan sukacita.


Peter tersenyum dan merangkul bahunya."Aku selalu di sini untukmu, Sophia. Aku akan membuat mu merasakan dunia luar yang penuh warna ini." Balasnya dengan bangga.


Mereka tertawa bersama, melupakan sejenak kekhawatiran. Namun tak sengaja, pandangan mereka tertuju pada seorang nenek tua yang duduk di pinggir jalan. Nenek itu kelihatan lemah dan kurang gizi, melihat itu membuat hati Sophia tersayat. Dengan pakaian yang compang-camping dan rambut putih yang kusut, dia tampak seperti sosok yang telah melalui banyak penderitaan.


Tanpa ragu, Sophia dan Peter menghampiri nenek itu. Dengan ramah, Sophia berkata, "Nenek, ada yang bisa kami bantu?"


Nenek itu, dengan mata sayu, menatap keduanya dan memberikan senyuman pahit. "Terima kasih, anak muda, saya sudah lama tidak merasakan kebaikan dari orang lain."


Mendengar itu Sophia merasa getir."Kami akan membantu Anda mendapatkan makanan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari," tawar Sophia dengan ramah.Peter mengangguk setuju,


Tak butuh waktu lama akhirnya mereka bersama-sama membawa nenek itu keliling pasar. Di setiap kios, mereka memilih makanan bergizi dan barang-barang yang diperlukan oleh nenek itu. Nenek itu menceritakan tentang kehidupannya yang sulit, bagaimana ia harus berjuang untuk bertahan hidup setiap hari. Sophia dan Peter mendengarkan dengan hati yang penuh empati, meresapi setiap kata yang keluar dari bibir nenek itu.


"Terima kasih, anak muda. Semoga Tuhan memberkati kedua hati baik kalian." Kata sang nenek dengan senang.


Setelah membantunya mereka berdua berpisah dari nenek itu dengan perasaan campur aduk, tetapi dalam sekejap, suasana riang di pasar berubah menjadi kericuhan ketika seorang anak laki-laki berlari dengan cepat melewati Sophia dan Peter. Detik berikutnya, terdengar suara tubuh yang menabrak benda-benda di sekitarnya. Sophia terkejut saat melihat seorang anak laki-laki kecil terjatuh di depannya, wajahnya penuh dengan ketakutan.


"Kau baik-baik saja, nak?" Tanya Sophia khawatir menghampiri bocah itu.


Anak laki-laki itu, dengan nafas terengah-engah, mengangguk pelan. Sophia dan Peter segera menyadari bahwa anak itu sedang dalam situasi darurat. Dari belakang terdengar kerumunan orang yang berteriak dari kejauhan, menyadari bahwa anak itu mungkin telah melakukan sesuatu yang salah.


Peter membantu anak itu berdiri."Ada apa? kenapa kau berlari seperti itu?"


Anak itu memandang Sophia dan Peter dengan mata penuh ketakutan. Dia menggigit bibirnya, seolah-olah mencoba menahan rahasia yang terkunci rapat di dalam hatinya.


"Saya... saya mencuri roti,karena keluarga saya tidak punya makanan." Jawab anak itu dengan suara gemetar.


Mendengar pengakuan anak itu, Sophia dan Peter merasa tersentak. Mereka melihat di sekitar dan menyadari bahwa orang-orang yang mengejar anak itu merupakan pedagang dari pasar.


Sophia dan Peter menenangkan kerumunan pedagang yang marah. Dengan hati-hati, Sophia mencoba menjelaskan situasi anak laki-laki itu.


"Maaf sebelumnya, saya harap kalian memaklumi anak itu, ia mencuri roti karena keluarganya kelaparan. Jadi ayo kita temukan cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah ini." Ujar Sophia dengan lembut.


Beberapa pedagang bersikeras untuk memberikan hukuman pada anak itu, namun Sophia dengan tekun berusaha membujuk agar mereka memahami situasi yang sulit yang dihadapi anak itu.


"Ini semua karena Kerajaan yang tidak becus mengurusi rakyatnya!"Sahut salah satu pedagang dengan berapi api.


Mendengar itu membuat Sophia semakin sadar bahwa rakyat sekarang menderita, ekonomi berjalan buruk, ia harus segera menyelesaikan permasalahan ini.


"Bagaimana kalau kita membayar roti yang dicurinya dan mencari cara agar dia bisa mendapatkan makanan dengan cara yang lebih baik?" Saran Peter.


Beberapa pedagang yang awalnya marah mulai melihat sisi empati yang ditunjukkan oleh Sophia dan Peter. Akhirnya, mereka setuju untuk memaafkan anak itu asalkan membayar kembali roti yang dicurinya.


Akhirnya, dengan kepala tertunduk, anak itu berterima kasih kepada Sophia dan Peter. Meskipun masih penuh dengan ketakutan.


Hari itu, setelah pengalaman mengharukan di pasar, Sophia dan Peter memutuskan untuk bermain di padang rumput dekat hutan. Mereka berdua berjalan melalui jalan berbatu yang memimpin ke tempat yang indah itu. Hijau dan subur, padang rumput ini dikelilingi oleh pepohonan yang tinggi dan lebat dari hutan yang terletak tidak jauh dari sana.


Sinar matahari menyinari langit dengan hangat, menciptakan atmosfer yang nyaman dan damai. Sophia dan Peter berbicara tentang segala hal di bawah langit biru itu. Tapi, kendati suasana damai itu mengitarinya, kecemasan masih menyelinap dalam benak Sophia.


Sophia memutuskan untuk berbaring sejenak di bawah pohon rindang, merasakan sinar matahari yang menyentuh wajahnya. Pohon-pohon besar menari-nari karena angin sepoi-sepoi yang melintas, menciptakan perpaduan suara alam yang menenangkan.


Sophia memandangi langit yang biru, berpikir keras tentang apa yang bisa dia lakukan untuk membantu rakyatnya lebih banyak lagi. "Peter, apakah yang kita lakukan sudah benar?"


Peter, yang duduk di sebelahnya, memberikan senyum penuh semangat. "Kita sudah melakukan yang terbaik, Sophia, kau tahu, kita mungkin tak bisa mengubah semua sekaligus. Tapi setiap tindakan kecil yang kita lakukan, pasti membawa dampak besar bagi mereka yang menerimanya," kata Peter dengan bijak.


Sophia mengangguk, mendengar ucapan sahabatnya itu. "Kau benar, Peter. Aku hanya ingin melihat rakyatku hidup bahagia dan sejahtera."


Dirinya sadar kondisi masyarakat semakin memperihatinkan ia harus berbuat lebih banyak, dulu sebelum Evelyn menjadi ratu, ia mendengar rakyat sejahtera, di dalam hati Sophia, ia bertekad untuk membawa perubahan nyata di kerajaannya semakin menggelora agar kerajaannya menjadi tempat yang penuh harapan dan kebahagiaan bagi semua rakyatnya.


Dalam senyap yang alami di tengah padang rumput, Peter duduk disamping Sophia yang terbaring. Pemuda itu tersenyum hangat. Namun, di balik senyumnya, Sophia merasakan sesuatu yang lebih, sesuatu yang melebihi batas pertemanan biasa. Perasaan itu melintas dalam pikirannya seperti tiba tiba itu semua membingungkannya.


Kenapa perasaanku seperti ini? Tanyanya dalam hati.


Tiba-tiba, suasana di antara mereka berubah. Peter menatap Sophia dengan intensitas yang lebih, dan Sophia merasa ada sesuatu yang terpendam di mata pemuda itu. Penuh tekad, Peter mulai mendekatkan wajahnya pada Sophia, ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin telah lama terpendam di hatinya.


"Sophia, aku..." Ucap Peter terbata.


Namun, sebelum Peter bisa melanjutkan kata-katanya, Sophia merasakan ketidaknyamanan. Untuk sekarang ia tidak ingin perasaan seperti ini menghinggapi dirinya,Sophia menghindari ciuman Peter Nafasnya agak berat sekarang karena perasaan canggung yang muncul.


"Peter, aku...Maaf" ia menghindar sejengkal.


Sophia merasa ingin fokus pada rakyatnya dan juga tekadnya.


Peter, meskipun terkejut, mengangguk penuh pengertian." Aku yang seharusnya minta maaf." ia merutuki dirinya sendiri, kenapa ia bisa kurang ajar seperti ini!


Suasana di antara mereka menjadi seakan-akan lebih berat. Meskipun ada perasaan yang tidak terungkap, keduanya memilih untuk mengekangnya.


.


.