
Ketika keputusan hakim mengumumkan bahwa Sophia bersalah dan dihukum mati, hening merambah seluruh ruang sidang. Kekecewaan dan keputusasaan tergambar jelas di wajah Lady Marie dan Peter. Mereka yang berharap persidangan akan membawa keadilan dan membebaskan Sophia, kini harus merasakan pukulan telak dari keputusan yang tak adil.
Lady Marie hampir ambruk, dan Peter, yang seolah kehilangan pegangan, mencoba menenangkan diri di tengah kekecewaan yang melanda. Begitu banyak harapan dan doa yang mereka tanamkan, hancur berkeping-keping oleh palu keputusan yang tak bersahabat ini.
Sophia merasa seakan terhempas ke jurang keputusan yang tak terduga, diumumkan bahwa takdirnya adalah hukuman mati besok pagi. Detak jantungnya berdenyut tak beraturan, dan dunia di sekitarnya tampak berputar.
"Tidak! Ini tidak adil, aku tidak bersalah!"Lirihnya. Nafasnya terasa berat, hidupnya kini sudah diambang batas, Walaupun keputusan itu menyengat keberadaannya, tetapi Sophia tak ingin menyerah pada gelombang putus asa yang menerpanya.
Namun sesuatu yang tidak terduga terjadi, Lady Marie, di tengah keputusan sidang yang tidak adil dengan mantap melangkah maju. Wajahnya pucat, tetapi matanya menyala dengan keberanian. Sebuah keputusan berani yang akan mengubah alur takdir.
"Yang Mulia Hakim dengan segenap hati, saya harus mengakuinya bahwa saya yang sebenarnya telah meracuni Raja," ujar Lady Marie, suaranya merayap dalam keheningan dan keputusan yang diungkapkan wanita itu membuat banyak orang terkejut.
Hakim memandangnya dengan serius, mencari kebenaran di balik kata-katanya. Sophia, yang mendengar pengakuan ini, melihat ke arah Lady Marie dengan wajah syok, dirinya tahu bahwa Lady Marie tak melakukan itu dan berusaha menyelamatkan dirinya.
Lady Marie melanjutkan pengakuannya dengan rinci, menjelaskan alasan di balik perbuatannya. Ia ingin melindungi Sophia dari hukuman yang tak adil, dan perjuangan melawan keadilan yang menyakitkan ini memunculkan keberanian yang tersembunyi dalam dirinya.
"Tuhan sebagai saksi, Putri Sophia tidak terlibat dalam ini. Izinkanlah keadilan ditegakkan," lanjut Lady Marie, suaranya lembut tetapi penuh keyakinan. Hakim, walaupun terkejut, menyadari bahwa keputusan berat ini memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
"Tidak, Lady Marie jangan lakukan ini! Kau tidak bersalah."Sahut Sophia sambil berjalan ke arah wanita itu.
Sementara itu Evelyn yang terkejut mendengar pengakuan itu segera bangkit dari tempat duduknya."Apa yang kau katakan, Lady Marie?! Kau bagian dari rencana ini! Mereka berdua berkomplot untuk membunuh putraku!" Teriak Evelyn histeris.
"Dia mengakui merancuni Raja, harus dihukum mati!" Sambungnya lagi dengan berapi-api.
Hakim berusaha mengendalikan keadaan, meminta ketertiban di ruang sidang yang semakin riuh. Tapi pernyataan yang dilontarkan Evelyn telah menciptakan jurang lebih dalam antara kedua pihak yang saling berseteru.
"Kami perlu ketenangan di ruang sidang ini!"Seru Hakim angkat bicara.
Disisi lain Sophia yang terkejut dan hampir tidak percaya, ia mencoba menyingkirkan Lady Marie dari keputusan penuh bahaya ini. "Tidak, Lady Marie! Ini urusanku, Jangan libatkan dirimu disini!" serunya, tetapi Lady Marie hanya tersenyum lembut.
"Putri Sophia ini kebenarannya, saya mohon maaf membiarkan dirimu berada dalam tuduhan ini," ucap Lady Marie dengan tekad yang tak tergoyahkan.
Walaupun hati Sophia memahami alasan di balik tindakan Lady Marie, tetapi ketakutannya untuk kehilangan orang yang ia anggap ibu membuatnya tak karuan, keputusan yang diambil oleh Lady Marie mengantarkan nyawanya sendiri ke dalam pusaran ini.
Saat Sophia melihat Lady Marie dijaga oleh petugas pengadilan, rasa bersalah mulai menyelinap dalam benaknya. Ia menyadari bahwa tindakan Lady Marie untuk menyelamatkan dirinya seberapa mulia pun itu, mungkin membawa konsekuensi yang tak terduga. Bagaimana mereka berdua akan menghadapi masa depan yang kini semakin tak pasti?
Sidang dihentikan sementara untuk memberikan waktu bagi semua pihak untuk mencerna dampak dari pengakuan mengejutkan ini.
Setelah beberapa saat atas kekacauan dan penundaan, hakim akhirnya kembali ke kursinya, memberikan keputusan yang ditunggu-tunggu. Hakim memandang kedua wanita itu dengan serius, wajahnya menyiratkan beratnya keputusan yang harus diambil. Suasana di ruang sidang semakin tegang, dan Sophia bisa merasakan denyut nadi kehidupannya yang semakin tak pasti.
Sophia menelan ludah, mencoba menahan gelombang perasaan yang melanda. Keputusan itu, seperti pukulan keras, mengguncang keyakinannya. Sedangkan Lady Marie, meskipun sadar risiko yang dihadapinya langsung ambruk ketika mendengar itu, pengakuannya sia-sia dan tidak membebaskan Sophia namun malah makin menjeratnya.
Hakim melanjutkan, "Karena keberatan yang diajukan dan keadaan yang tak terduga, hukuman yang akan segera dijatuhkan, Sophia, anda dihukum mati besok pagi. Lady Marie, anda juga dihukum atas peran anda dalam konspirasi ini."
Sophia dan Lady Marie, kini dianggap sebagai penjahat. Pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban memenuhi benak Sophia. Apakah ada keadilan di kerajaan ini? Apakah mereka benar-benar akan dihukum karena sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
"Yang Mulia, saya bersumpah atas hidup saya sendiri bahwa saya yang harus bertanggung jawab atas semua ini. Sophia tidak terlibat dalam rencana ini. Tolong, hukumlah saya, bukan dia."Pinta wanita itu dengan tegas.
Lady Marie bersikeras di hadapan hakim, berusaha membebaskan Sophia dari hukuman mati. Namun walaupun Hakim melihat ekspresi putus asa di wajah Lady Marie, mereka tetap dengan sikap tegasnya.
"Bukti telah diperhitungkan dengan seksama. Keputusan sudah diambil, Lady Marie. Putusan tidak dapat diganggu gugat!" Jawabnya dingin.
Lady Marie merasa kecewa dan terpukul, ia menundukkan kepala sambil mencoba menahan tangisnya. Sophia, meskipun tengah dalam keputusasaan ia tetap tegar dan berusaha menenangkan Lady Marie.
"Lady Marie, aku bersumpah akan mencari cara untuk mengubah nasib ini." Bisiknya seraya memeluk wanita itu.
"Saya... saya telah merusak segalanya tuan Putri " Isak lady marie.
Sophia dan Lady Marie dipaksa kembali ke dalam dinginnya sel penjara, Suara deru besi yang tertutup menjadi saksi bisu keputusan yang tidak adil itu. Besok adalah hari yang mungkin menjadi perjalanan tragis akhir hidup mereka.
...****************...
Evelyn memasuki kamar Philip dengan langkah anggun, senyum liciknya menyelinap di wajahnya seperti bayangan kejahatan yang tersembunyi. Ruangan itu terasa hening, hanya terdengar gemericik api kecil di perapian dan deru napas lemah sang Raja yang kini terbaring tak berdaya.
Dengan penuh keangkuhan, Evelyn menghampiri tempat tidur putranya. Ia menggenggam tangan Philip,
"Maafkan mama, nak," ucapnya dengan suara lembut, namun kebusukan terselip di setiap kata. "Ini untuk kebaikan kerajaan. Tak ada pilihan lain. Kamu sudah diangkat sebagai penguasa, dan semua ini demi keamanan kita."
Philip yang masih setengah sadar hanya mampu menatap ibunya dengan mata yang redup. Ia tidak menyadari bahwa di balik senyum ibunya terdapat keinginan gelap untuk menjaga kekuasaannya dan memadamkan segala potensi ancaman.
Evelyn melanjutkan senyumnya yang penuh kepalsuan,Sebuah tragedi akan terjadi besok,yang akan mengubah takdir kerajaan menjadi kegelapan yang semakin mendalam.
.
.