
...Enggak semua yang buat nyaman dikirim Tuhan buat jadi milik kamu seorang, mereka juga punya perannya sendiri....
"Kandungannya baik-baik saja ya bu, pak. Berkembang sebagaimana mestinya. Penting untuk tetap memperhatikan kesehatan ibu hamil pada bulan ini karena risiko keguguran masih cukup tinggi pada bulan ini karena sekitar 15 persen kehamilan mengalami keguguran pada trimester pertama." Layar didepan mereka memperlihatkan janin yang belum berbentuk sempurna, Yudha tidak bisa mengetahui dengan pasti apa yang ia lihat namun melihat Dira tersenyum tipis membuat hatinya hangat. Ia bahagia melihat calon keponakannya baik-baik saja.
"Kita belum tau jenis kelaminnya ya dok?" Tanya Yudha spontan, sejujurnya ia penasaran dan ingin mempersiapkan hadiah dari sekarang.
"Alat genital janin baru dapat dilihat dengan jelas di usia kehamilan 16 minggu, sehingga waktu yang disarankan untuk memeriksakan jenis kelaminnya adalah di usia kehamilan 18-20 minggu atau sekitar 4-5 bulan." Yudha mengangguk kecewa, ia melihat Dira menatapnya aneh.
"Oh iya, hindari Berhubungan Intim saat Hamil Muda karena Melakukan hubungan seksual ketika kandungan baru memasuki trimester pertama sebetulnya tidak dianjurkan karena ****** mengandung senyawa prostaglandin yang dapat memicu kontraksi dini yang dapat menyebabkan keguguran." Yudha terdiam, ia kebingungan saat ini.
"Tidak hanya pada trimester pertama, ibu juga sebaiknya menghindari berhubungan intim empat minggu menjelang persalinan. Pasalnya, berhubungan intim pada usia kehamilan tersebut dapat memicu terjadinya persalinan prematur." Dira mengangguk pelan, ia tidak ingin menatap Yudha saat ini. Telinganya bahkan sudah mulai memerah.
"Posisi wanita di atas merupakan posisi hubungan **** yang paling aman dilakukan sepanjang masa kehamilan. Alasannya, karena tidak ada kemungkinan perut ibu hamil akan tertekan atau tergencet. Posisi ini juga bisa dipastikan tidak akan memberi pengaruh apapun, baik terhadap kondisi ibu maupun janin." Yudha mengangguk cepat, wajahnya mulai merah.
"Baik dok, terimakasih penjelasannya."
"Sama-sama. Saya memberikan informasi karena banyak pasangan yang baru menikah masih minim informasi, jadi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan lebih baik saya jelaskan secara langsung."
"Ibu Dira, kita ketemu lagi bulan depan ya. Nanti saya informasikan jadwal selanjutnya. Jika tidak ada yang ditanyakan lagi, ibu dan bapak sudah boleh pulang." Keduanya berpamitan, Yudha membawakan tas Dira lalu menuntunnya sampai dilorong rumah sakit.
"Saya nggak apa-apa, Barra."
"Mbak nggak dengar, ini masa-masa rentan. Kalau kenapa-kenapa aku yang disalahkan."
"Ya, tapi saya nggak akan kenapa-kenapa kalau cuma jalan kayak gini. Jadi jangan berlebihan ya." Dira menjauhkan dirinya, mengambil tasnya dari Yudha.
"Dira!" Suara yang familiar, Dira mencari sumber suara dan mendapati ibu mertuanya sedang berjalan kearahnya dengan senyum lebar.
"Ibu." Sapa Dira lalu menyalaminya dengan hangat.
"Katanya ibu nggak bisa temani mbak, tapi disini." Yudha berkata ketus sambil mengernyitkan dahinya.
"Mbak mu lagi konsultasi tentang kehamilannya."
"Mbak Bella hamil?"
"Belum, tapi kita sedang cari solusi terbaik. Doakan saja semoga mas mu bisa memiliki keturunan dan bisa menjadi pria yang lebih lembut lagi." Ibu menepuk bahu Yudha.
"Gimana usg nya, lancar?" Dira mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Sekarang kalian mau kemana? Langsung pulang?"
"Dira mau mampir ke supermarket dulu."
"Kalau gitu ibu ikut ya, Bella mau dijemput sama Nando jadi ibu punya waktu luang sekarang." Ibu menggandeng Dira semangat, meninggalkan Yudha dibelakang.
"Ah, ini topi pemberian Siska ya?" Baru sepuluh menit ibu duduk di kursi belakang, ia sudah mendapati topi berwarna pink di jok belakang mobil Yudha. Menyentil kembali perasaan yang Yudha jaga baik-baik agar tak lagi tergores.
"Iya, nanti Yudha buang." Ucap Yudha masih fokus melihat kedepan, menghiraukan tatapan Dira disampingnya.
"Harusnya kamu buang dari dulu, jangan bilang kamu masih belum lupain perempuan itu."
"Bu ...."
"Lagipula yang diinginkan mata belum tentu diaminkan hati, jangan terlalu dalam mengharapkan manusia. Kamu sendiri yang sakit hati."
Satu hal yang Yudha tak suka dari ibu adalah terlalu terang-terangan membicarakan hal yang selalu Yudha hindari, ia tak ingin mengingat kembali luka yang masih belum sepenuhnya sembuh. Ia masih belum bisa berdamai dengan sakitnya.
"Tapi dulu ibu suka kan sama Siska?" Yudha berucap sinis.
"Iya, tapi semenjak kalian putus ibu nggak suka. Dia menyakiti hati kamu, ibu mana yang suka?" Yudha tak berkutik.
"Kamu sampai pilih berlayar, nggak pulang lama supaya nggak ketemu dia kan? Padahal masih ada ibu sama bapak dirumah."
"Bu, aku nggak mau ibu bahas hal ini lagi." Ucap Yudha dingin.
"Kenapa? Ibu cuma mau kamu sadar Yudh."
"Aku sudah sadar bu, aku nggak teler. Jadi ibu bisa berhenti bahas hal yang sudah lalu, aku mohon."
"Nggak bisa gitu Yudh, kamu-"
"Bu, kita sudah mau sampai. Jangan lupa tas ibu ya." Dira menengahi keduanya, sebenarnya ia hanya tidak ingin Yudha tertekan dengan semua perkataan ibu mertuanya. Dira melihat dengan jelas Yudha menahan emosinya.
...🦋 🦋 🦋...
Dira sesekali memperhatikan Yudha dibelakangnya, ibu menggandengnya erat seakan tak membiarkan Dira berjalan bersama Yudha.
Trolli mereka sudah penuh dengan belanjaan yang kebanyakan dipilih ibu, sudah satu jam lebih hingga akhirnya ibu bilang cukup dan mereka mengantri dikasir. Ibu pamit sebentar ketoilet, menyisakan Dira disamping Yudha yang membisu.
"Pakai kartu saya saja ya." Ucap Dira sambil mengeluarkan kartunya namun tanpa berkata sedikitpun Yudha menyerahkan kartunya dikasir, membuat Dira terdiam, tak berkutik.
From: Ibu Mertua
Ibu dijemput mas Nando, kalian bisa pulang duluan. Mbak Bella mau belanja ditemani ibu.
"Ibu bilang dijemput mas Nando, jadi kita bisa langsung pulang." Yudha mengangguk tanpa menatapnya, namun rintik hujan berjatuhan begitu saja. Rintik yang deras.
"Ah, sial." Gumam Yudha, terdengar jelas.
"Kita berteduh saja dulu, mau?" Yudha memandang mobilnya yang terparkir cukup jauh, ia kemudian memandang Dira disampingnya yang tak memakai pakaian tebal juga belanjaan yang banyak membuatnya mengangguk. Memilih untuk duduk dikursi panjang yang tersedia, atapnya cukup menaungi mereka agar tak kebasahan. Sore yang dingin nan lllllgelap.
"Mau?" Dira menyodorkan es krim cone cokelat dihadapan Yudha, membuat Yudha keheranan.
"Es krim? Hujan begini?"
"Iya, kenapa? Kamu nggak suka es krim?" Dira bertanya polos.
"Bukan, tapi kan cuacanya dingin."
"Ya sudah, saya makan ini juga." Dengan cepat Yudha mengambil es krim cokelat dipegangan Dira.
"Kamu suka strawberry nggak?" Tawar Dira, menyodorkan es krim ditangannya.
"Nggak, aku cokelat saja." Dira mengangguk pelan, mulai menjilati es krimnya.
Meski menurut Yudha tak wajar, ia mulai mengikuti Dira membuka es krim ditangannya.
"Ucapan ibu, jangan terlalu di dengar ya. Mungkin ibu ingin kasih kamu semangat supaya nggak terpuruk tapi katanya nggak mengenakkan, saya yakin kamu sudah menyembuhkan luka lebih dulu tanpa perlu omongan orang lain." Ucap Dira, memandang lurus kedepan.
"Yang mengalami kamu, yang merasakan kamu juga. Saya nggak tau gimana ceritanya, tapi saya yakin kamu bisa menyembuhkan luka kamu dengan cara kamu sendiri. Semangat!"
Dira memandangnya, tersenyum yang meneduhkan. "Semua orang punya lukanya sendiri, dan tugas kita adalah harus sembuh."
"dan saya dengar, makanan manis bisa bikin mood kita bagus lagi. Saya harap keadaan hati kamu sekarang perlahan membaik ya, setelah di bombardir sama perkataan ibu."
"Mbak, tau nggak? Aku itu suka hujan tapi gak bersahabat dengan hujan." ujar Yudha.
"Saya juga penikmat kopi yang nggak tahan dengan kafein." Keduanya terkekeh, suaranya teredam rintik hujan namun tawanya terlihat jelas.
Kadang kita memang harus pergi bukan karena ego, tapi untuk harga diri—Barrata
Tidak apa-apa tidak selalu dalam keadaan baik terus menerus—Indira