PERFECT STRANGERS

PERFECT STRANGERS
X



...Batas berhenti mencintai bukan pergi, melainkan berhenti peduli....


Sore ini Yudha sepakat menemani Angga yang bersemangat lari disore hari, langit senja tak Angga permasalahkan yang mengganggu pria itu hanya Noah disebelahnyaa yang masih terus merokok. Menyesakkan.


"Gua ngajak lo lari biar sehat ya, No. Ini bukan agenda sehat, ini agenda nyusahin diri sendiri namanya." Sarkas Angga lengkap dengan gesture mengibaskan tangannya agar kepulan asap rokok Noah menghilang dari wajahnya.


"Yah memang menyusahkan, ngapain sih kita capek-capek lari begini? Kalau mau sehat itu ke Gym, nggak mampu lo?"


Yudha menggeleng pelan, ia tidak menyangka bisa berteman lama dengan dua orang yang berbeda pemikirannya. Sungguh menakjubkan.


"Lo lagi ada pikiran apa, Ngga?" Tanya Yudha pelan. Ia mengerti jika teman-temannya tidak terlalu suka berolahraga apalagi Angga yang sudah disibukkan oleh banyaknya pekerjaan yang Yudha berikan sebagai asisten pribadinya.


"Gua lagi mencoba move on aja, Yudh." Jawabnya sembari mulai berlari kecil, mengambil satu langkah didepan Yudha. Meninggalkan Noah dibarisan paling belakang.


"Ada apa sama Vanny?"


"Dia sudah mau menikah, nggak seharusnya gua masih mendekati dia kan?"


"Yaelah bro, baru juga mau nikah bukan udah nikah. Pepet terus aja! Masa cinta pertama dari SMA sampe sekarang sudah bangkotan begini nggak bisa didapatin sih? Effort lo kan nggak kecil-kecilan." Noah menyambar bak petir disiang bolong, tiba-tiba pria itu sudah menyusul mereka.


"Kalau memang dia menghargai gua dan effort gua bisa meluluhkan hatinya, mana mungkin sekarang dia pilih untuk nikah sama cowok lain?"


"Iya juga sih ...." Yudha memukul kepala Noah dari belakang dengan pelan namun gemas juga, sahabatnya sedang sedih ia malah mengatakan hal yang tidak berguna. Greget.


"Apa nggak ada lagi kelanjutan yang kalian bicarakan? Pertemuan terakhir kalian gimana?" Yudha mencoba membuyarkan lamunan Angga.


"Nggak ada obrolan penting. Dia bilang gua sudah cukup untuk berhenti sekarang dan dia harap gua datang diacara nikahannya minggu depan, undangannya ada ditempat sampah rumah gua."


"Woah, cool banget tuh cewek. Pantes lo kejar-kejar dia nggak gubris, mungkin dia bukan tipe cewek yang suka dikejar tapi mengejar. Ya kan?"


"No ...." Yudha menatapnya jengah.


"Okay,i shut my mouth."


"Padahal lo yang menemani dia pas dia kesulitan menghadapi dosen pembimbing yang sulit banget waktu itu, lo yang suka ada disamping dia ketika dia bermasalah sama kating sampai nggak ada yang mau nemenin dia waktu itu. Apalagi ya? Oh iya, lo juga kan yang masukin dia ke group musik universitas sampai dia ketemu sama pria pilihannya sekarang?" Yudha sudah mengulum bibirnya tak bisa berkata-kata. Tak menyangka Noah masih saja membeberkan kenyataan menyakitkan dalam kehidupan Angga.


"Iya, gua temani dia, gua usahakan membuat jalan untuk apapun yang dia inginkan meski gua tahu tujuan akhirnya bukan gua." Angga menghentikan larinya.


"Makasih sudah mengingatkan betapa bodohnya gua, No." Lanjut Angga membuat Noah mengangguk, menepuk pundak Angga seakan mengucapkan sama-sama.


"Gue ...." Noah tersungkur, terjatuh tepat setelah seseorang menabraknya dari belakang.


"Maaf ya mas, mas nggak apa-apa?" Tanya perempuan muda dengan muka khawatir, ia mengulurkan tangannya berniat membantu Noah berdiri namun sebelum Noah menggapai tangannya seseorang menepis tangan perempuan itu lalu mulai mengoceh.


"Kamu tuh nggak usah lari dari masalah deh, kita bisa omongin semua baik-baik." Laki-laki berusia duapuluh tahunan mulai mengoceh tak menyadari bahwa Angga, Yudha dan Noah masih berada di posisi masing-masing.


"Apa lagi yang harus kita bicarain kalau memang kenyataannya kamu selingkuh? Kamu menduakan aku berarti kita putus."


"Nggak bisa gitu dong!" Laki-laki itu masih tak terima.


"Terus kamu mau apa? Sudah jelas kita putus saja!"


"Terserah!" Laki-laki itu pergi, berlari cepat meninggalkan perempuan muda yang masih kebingungan ditempatnya. Seperkian detik kemudian perempuan itu berlari kencang menyusul laki-laki calon mantan pacarnya melupakan Noah yang masih terduduk diposisi terakhir ia terjatuh.


"Cowok jaman sekarang kalau ceweknya ngambek dia ikutan ngambek. Aneh." Ucap Noah sambil berdiri sendiri.


"Ya sudah, kita pulang saja. Langsung kerumah gua kan?"


"Kerumah gua dulu gak apa-apa? Gue sekalian mau bahas berkas yang kemarin lo kasih, ada beberapa point yang gua revisi sekalian kita bahas di apartemen lo." Jelas Yudha, Angga mengangguk setuju sedangkan Noah hanya mengikuti karena ia sudah cukup letih.


...🦋 🦋 🦋...


"Mbak lo, ada dirumah?" Tanya Noah ketika mereka sedang di dalam lift menuju lantai apartemen Yudha.


"Nggak ada, mbak bilang dia ada acara makan-makan sama guru-guru lain sampai malam. Nanti dia kabarin gua kalau mau pulang, makanya gua mau bahas kerjaan kemarin itu sekarang biar nggak bentrok kalau gua harus jemput." Jelas Yudha.


Pintu lift terbuka, Noah mengambil sebatang rokok lalu menyalakan pemantik menikmati setiap tarikan nafasnya. Mereka bertiga belum berganti pakaian, masih dengan baju olahraga tanpa lengan juga celana pendek olahraga yang bau keringat.


Yudha membuka pintu apartemennya namun ia membeku sejenak ketika yang ia dapati didepannya cukup mengejutkan.


"Mbak?" Dira yang merasa terpanggil menyahuti panggilan Yudha padanya disertai ekspresi kaget juga canggung.


Dibelakang Yudha Noah dan Angga mengintip dari kedua sisi, rasa keingintahuan mereka meningkat.


"Ayo masuk." Dira menghampirinya, menarik lengannya pelan sambil tersenyum kikuk. Dibelakang dua sahabatnya masuk dengan pelan, mereka tak biasa mendapati banyak tamu di apartement Yudha.


"Hallo ...." Yudha tak mengenal perempuan didepannya namun rasanya mereka pernah bertemu.


"Saya Nanda, ibunya Anya." Ah, Yudha mengingatnya sekarang.


"Iya bu Nanda." Yudha tersenyum menyapa.


"Saya Yuri teman bu Dira disekolah." Perempuan dengan kacamata tebal dan penampilan yang nyentrik menyalaminya dengan semangat 45 tak lupa ia melebarkan senyum menyapa Angga dan Noah dibelakang.


"Katanya acaranya masih lama mbak?" Yudha bertanya pelan, sedikit berbisik namun masih cukup terdengar.


"Iya, tadi saya ...."


"Bu Dira tadi mengalami kram perut tapi tadi kita sudah periksakan ke dokter, untungnya tidak apa-apa dan tidak berpengaruh pada janin. Saya membantu membawa bu Dira dari sekolah ke rumah sakit jadi sekalian saya mengantar sampai rumah." Jelas Yura.


"Saya berniat kasih makanan buatan saya sebagai tanda terimakasih karena sudah menolong Anya." Nanda menunjukkan beberapa kotak makanan yang masih tersusun rapi di meja, alasannya kini berada di apartemen Yudha.


Yudha mengangguk mengerti, Dira masih memegang lengannya.


"Mbak, beneran nggak apa-apakan? Biar kita check lagi ke dokter gimana?" Yudha nampak khawatir mendengar penjelasan Yura namun Dira menenangkannya, mengelus tangannya pelan.


"Nggak apa-apa mas." Dira menekan kata mas-nya, menyadarkan Yudha bahwa sedari tadi ia pasti terlihat aneh didepan Yura juga Nanda.


Yudha tersenyum lebar, berusaha serileks mungkin.


"Untung kamu nggak kenapa-kenapa, anak kita juga. Aku khawatir banget. Kamu juga belum kabarin aku, pas pulang dengar kamu alami kejadian tadi bikin aku shock." Yudha semakin hari semakin pandai ber-akting.


Dira berbisik. "Maafin saya ya, Yudh."


Anggaplah semua baik-baik saja sampai pada akhirnya kamu temukan aku dalam perasaan yang berbeda—Rangga


Pada akhirnya selalu ada batas untuk setiap perjalanan, selalu ada kata usai untuk sesuatu yang dimulai—Noah


Menghargai tidak akan kehilangan harga diri—Barrata