PERFECT STRANGERS

PERFECT STRANGERS
XI



...Jika waktu dapat diulang, aku akan kembali ke masa dimana semuanya belum serumit ini....


Yudha menatap sepasang anak sekolah, dari seragamnya terlihat jika mereka masih sekolah menengah atas. Melihat mereka yang bercengkrama dengan senyum lebar dan terkadang terlihat malu-malu mengingatkan Yudha pada masa-masa ia dimabuk asmara. Senyum tiba-tiba terukir diwajahnya begitu saja tanpa kesadaran, ia tak memungkiri bahwa masa itu adalah masa terindah yang ia miliki namun bersamaan dengan masa bahagia ia juga merasakan pula sakit hati. Jatuh dan cinta sepaket.


Yudha tahu ia bukan lelaki yang menarik, ia hanya beruntung mempunyai hidung yang mancung juga badan tegap nan tinggi. Ia tidak berkulit putih bak aktor korea dengan fitur wajah yang tegas dan sorot mata yang tajam, ia hanya memiliki kulit yang sedikit cokelat namun tak terlalu hitam tapi perempuan yang ia kenal di masa sekolah atas itu selalu tersenyum ramah kepadanya.


Fransiska, perempuan yang perlahan menerobos masuk kedalam hidupnya dan mengisi hari-hari bersama Yudha. Cinta pertama.


Banyak orang bilang cinta pertama itu sulit bahkan mustahil dilupakan, memang benar adanya. Karena sampai pada saat ini Fransiska masih menjadi nomor satu dihatinya dan satu-satunya. Beberapa wanita memang singgah namun tak pernah sungguh.


"Kita putus." Singkat, padat dan bangsat.


Fransiska juga yang pertama kali menyakiti perasaannya, masih tersemat dengan jelas ketika Yudha memohon untuk sebuah kejelasan yang sebetulnya ia sudah tahu dengan baik apa yang sedang terjadi. Namun Yudha masih membohongi diri sendiri dan mengingikan penjelasan langsung dari Fransiska, Yudha secara tidak langsung membiarkan Fransiska membohonginya hanya agar hatinya tenang.


Kamu pernah bersumpah untuk tidak bertingkah, tapi sumpahmu sebatas mulut, tingkahmu berlarut-larut.


"Hayoh, lagi ngapain lo? Mikir jorok ya?" Noah menyenggol lengannya dengan smirk diwajahnya, Yudha rasa ekspresi Noah saat ini lebih tepat disebut jorok.


"Apa sih njing ...." Yudha merasa risih, ia menggeser tempat duduknya agar tak berdekatan dengan Noah yang kini masih menggodanya.


"Lo ke ingat Siska ya?" Ucap Noah memukul ulu hatinya secara telak.


"kalian kan ketemu pas masa-masa SMA terus jadian pas kuliah, pantesan lo ngelihatin anak SMA segitunya. Gagal move on ternyata." Noah memang juara satu dalam hal mengungkapkan kebenaran para sahabatnya.


"Memang nggak mudah menyembuhkan hati, hanya Tuhan yang bisa menyembuhkan perihal apapun yang dipatahkan dunia." Yudha mengernyit jijik.


"Kenapa dah lu?" Yudha menyadari jika Noah sudah menghabiskan satu bungkus rokok seharian ini.


"Pesan gua cuma di read sama Zia." Noah menjawab lirih sambil memeriksa ponselnya.


"Pesan lu bukan di read doang, tapi memang nggak sengaja ke read. Sad." Angga datang membawa beberapa makanan yang mereka pesan.


Mereka sedang berkumpul disalah satu cafe terkenal yang Yudha ketahui pemiliknya berteman baik dengan Angga.


"Yudh, apa lo nggak berpikir bakal mencintai orang lain selain Siska?" Pertanyaan tiba-tiba itu datang dari Angga.


"Kenapa?"


"Iya, gue rasa kita semua termasuk lo harus move on. Kita semua punya kisah klasik yang sama, mencintai orang yang nggak mencintai kita. Kita selalu bilang harus move on, kita kasih semangat satu sama lain tapi kita semua juga tahu kan kalau sebenarnya kita nggak pernah benar-benar move on?" Yudha dan Noah bertatapan, keadaan menjadi hening.


"Yudh, gimana kalau akhirnya lo suka sama mbak Dira?"


Yudha mengernyitkan kening dalam lalu seperkian detik ia menyentil dahi Noah sekuat tenaga.


"Gila lo!" Serunya.


"Lah apa salahnya?" Noah mengusap keningnya, berkaca memastikan asetnya yang berharga tidak rusak.


"Pacarnya mas Oscar tapi istri lu kan?"


"Apaan sih?"


"Ya gak ada salahnya Noah tanya itu, lo sadar nggak sekarang lu jadi anter jemput mbak Dira? Tanya dia dimana? pulang jam berapa? Lu sedeket itu sekarang sama mbak Dira." Jelas Angga, mengunyah permen karetnya.


"Iya gua tanya hal basic, kandungan mbak Dira lagi sensitif dan gua bertanggung jawab penuh makanya gua sekarang agak protektif. Kalau mas Oscar ada, yang lakuin hal itu pasti bukan gua, nyet!" Seru Yudha.


"Secara mbak Dira juga cantik kok, untuk ukuran ibu hamil juga mbak Dira lucu menggemaskan. Rambutnya panjang tapi suka diikat menandakan dia nggak mau ribet tapi pas di gerai beuh cantiknya, mukanya memang jutek tapi dia baik kan?" Yudha melempar tisu ke wajah Noah, lagi-lagi Noah merengut sebal karena Yudha mengancam asetnya. Wajah tampannya.


Yudha mengingat kejadian seminggu lalu saat ia mendapati Nanda dan Yuri di apartemennya, Dira memainkan perannya sangat baik sampai Yudha lupa bahwa semua hanya pura-pura.


Dira tersenyum hangat padanya, memegang tangannya setiap ada kesempatan, tak ada nada datar yang biasanya ia dengar jika berkomunikasi dengan Dira. Intonasi bicaranya sangat nyaman, beberapa kali elusan lembut tangannya menenangkan.


"Jujur saja, kalau mbak Dira bersikap manis terus menerus gua jamin lu bakalan suka. Jadi mending lu cari cewek lain sekarang biar lu nggak lakuin hal fatal atau lu batasi interaksi kalian." Saran Angga, sebenarnya tidak perlu. Saran yang justru menggoyahkan perasaannya.


"Iya betul, karena kejadian kemarin di apartemen lu gue nggak bisa bedain apa itu akting. Mbak Dira benar-benar terlihat seperti istri idaman dan gua khawatir hati lu gak siap lama kelamaan." Noah membuat hatinya semakin goyah.


"Enggak lah, nggak akan terjadi apa-apa antara gua dan mbak Dira. Gua nggak akan jatuh cinta sama mbak Dira dan gua yakin mbak Dira pun bakal setia sama mas Oscar." Yudha yakin hatinya tak akan goyah meski dua orang terdekatnya berusaha mengombang-ambing perasaannya.


"Kalau gitu mau gua kenalin sama temen cewek gua? Dia tipe lu banget deh, coba saja dulu kalau memang nggak cocok lu nggak usah maksain untuk lanjut dekat. Gimana? Biar lu nggak ngenes banget lah." Noah memang menguji kesabaran Yudha.


"Lah? Lu berdua juga memangnya sudah move on? Belum kan?"


"Iya kita berdua pelan-pelan lupain perasaan kita, tapi lu kan duluan jomblo harusnya lu duluan yang move on. Jadi sudah ikutin saja kata gua ya, ceweknya oke, sayang banget kalau dilepas nanti malah dapat cowok brengsek."


"Kenapa nggak lu saja kalau gitu?" Yudha menatap Noah datar.


"Gua masih belum bisa, takut jatuhnya malah nyakitin orang lain. Luka gua masih basah, hati gua masih berantakan."


Ponsel Yudha bergetar, ada pesan masuk.


From: Mbak Dira


Malam ini saya nggak pulang.


Kadang kamu kayak ice cream, lembut dan manis.


Kadang kayak es batu, keras dan dingin—Barrata


Hati-hati melangkah, ada serpihanku dimana-mana—Noah


Menghargai tidak akan kehilangan harga diri—Rangga