PERFECT STRANGERS

PERFECT STRANGERS
I



...Tidak apa-apa. Memang sudah seharusnya begini. Berhenti menyalahkan diri sendiri. Menangislah diam-diam, semua akan baik-baik saja....


Satu bulan tigapuluh hari empat minggu. Katanya waktu sebulan itu singkat namun tidak bagi Dira kali ini. Ia terus menggenggam lembut tangan pria yang tak sadarkan diri dibangsal tempat tidurnya. Elektrokardiogramnya terlihat normal namun itu tidak cukup. Dira menginginkan pria dihadapannya membuka mata atau setidaknya menggerakkan jarinya pelan sebagai penanda bahwa ia siuman.


Dokter bilang ia koma, ada benturan dikepala yang juga bisa menimbulkan hilang ingatan atau bahkan kabar buruknya adalah kelumpuhan. Dira mengernyit ketakutan setiap kali lintasan kejadian sebelumnya terbesit begitu saja.


Malam itu dengan senyum lebarnya Dira melambai tangan ketika ia sudah melihat jelas mobil merah yang dikendarai kekasihnya sudah hampir dekat. Dira menunggu dipinggir jalan karena ia yakin mobil itu akan menepi, namun siapa sangka hanya dalam hitungan detik sebuah mobil sport dari arah berlawanan melaju dengan kecepatan tinggi sampai Dira tidak mengira bahwa itu terakhir kalinya ia melihat senyum lebar kekasihnya. Satu bulan lamanya Dira menunggu dengan sabar. Ia terus berharap agar semua kenyataan ini mimpi, meski ia tahu harapan itu hanya membuatnya tetap bisa melanjutkan hidup meski sudah tak ingin.


Pintu kamar rumah sakit terbuka, menampilkan sosok pria lain. Tersenyum canggung. Suasana yang tidak nyaman.


"Tante Lyla mau jenguk katanya, jadi aku buru-buru kesini. Maaf ya.." Dira mengangguk, ia paham. Mengambil cincin dari tempatnya lalu memasangnya dijari manis tangan kanannya. Cincin dengan ukiran yang indah, sesuai dengan apa yang ia mau. Rasanya baru kemarin ia memilih cincin bersama pria yang kini terbaring dihadapannya. Dira menahan tangisnya.


Tepat setelah cincin itu terpasang, dua orang paruhbaya menyusul masuk. Dira segera berdiri dari duduknya, menyalami satu persatu dengan memasang muka ramah.


"Ah, maaf ya tante baru bisa jenguk sekarang. Om kalian baru sembuh sakitnya.." ucap tante Lyla penuh penyesalan.


"Yang kuat ya kalian. Mas mu pasti bakalan sembuh.." tante Lyla memeluk pria disamping Dira lama, seperti sedang memberi kekuatan.


"Kamu juga jaga kesehatan, jangan sampai kenapa-kenapa ya." Lanjut tante Lyla kali ini tertuju pada Dira.


"Maaf ya om sekeluarga nggak bisa datang dipernikahan kalian.." kini om Haris berujar memandang kedua anak muda didepannya dengan raut sedih.


"Nggak apa-apa om, kami juga minta maaf karena pernikahan kami digelar di Bali. Jadi banyak saudara yang nggak bisa datang." Pria disampingnya menjawab dengan ramah.


"Udah gak apa-apa, toh yang penting acaranya khidmat dan kalian menikmatinya. Sekarang tinggal tunggu anak kalian lahir dengan sehat selamat, ibunya juga." Dira tersenyum lalu menunduk, perasaannya kini bercampur aduk. Ia ingin lenyap.


Ok, i'll just enjoy my own hell then.


Setelah berbincang cukup lama akhirnya tante Lyla bersama suaminya pamit pulang kehotel, acara besok mengunjungi rumah sakit kembali namun dengan kedua mertua Dira yang kebetulan hari ini masih diluar kota.


Setelah energi habis, kini Dira merasa bisa bernafas lega. Ia melepas topeng pura-pura.


Ia melirik kembali cincin ditangannya kemudian melirik cincin dijari manis pria yang kini duduk lemas disofa. Energi pria itupun habis.


"Akhir-akhir ini rasanya kayak gampang banget sedih, kebanyakan overthinking hati jadi ngerasa pedih terus rasanya kayak capek saja sama semua hal. Mbak juga gitu nggak sih?" Tanya pria dibelakangnya, Dira memilih untuk diam.


"Iya sedih dan overthinking setiap hari bikin saya capek." Jawab Dira tanpa menoleh, pandangannya masih tertuju pada pujaan hatinya yang tertidur entah kapan terbangun. Bahkan dokter tak bisa memprediksinya.


"Mbak mau bagaimana kedepannya?"


"Saya nggak tahu akhirnya akan kayak gimana, tapi kalau ditanya apa mau saya untuk saat ini dan seterusnya.. maka jawaban saya adalah saya mau berjodoh dengannya." Ucapnya sambil memegang tangan kekasihnya erat.


...🦋 🦋 🦋...


Tetiba pukul 01.30 Dira menoleh kebelakang seiring dengan pintu yang dibuka pelan, nampak perempuan paruhbaya tersenyum lembut sambil mengisyaratkan agar Dira tak berisik menyambutnya juga tak membangunkan pria yang tertidur pulas di sofa rumah sakit.


"Ibu.." panggil Dira lalu menyalaminya.


Yang dipanggil Ibu memeluk Dira erat, mencium pipinya tanpa luntur senyumannya.


"Maaf ya ibu lama banget perginya, kamu sama baby baik-baik saja kan?"


"Iya, kami baik-baik saja."


"Syukurlah.." lalu matanya menangkap putranya yang masih terbaring lemah tak sadarkan diri.


"Tidurlah, sayang. Begadang tidak akan membuat lukamu sembuh." Ucapnya pada Dira. Perempuan itu terlihat lelah, kantung matanya sudah hitam seperti panda namun ia tetap setia mendampingi lelaki yang tak tahu kapan membuka matanya.


"Bu.. pikiran kita yang rumit atau memang hidup yang sulit?"


Keduanya terdiam sejenak.


"Ibu hanya mau bilang terimakasih karena kamu memilih tinggal disini meski tidak sesuai dengan harapanmu bahkan jauh dari rencana, dan mau meminta maaf karena menempatkan kamu disituasi ini." Ibu memeluk Dira penuh kehangatan. Pelukan dari seorang ibu yang tak pernah Dira dapatkan selama 29 tahun hidupnya.


Dira tenggelam dalam pelukan wanita yang akrab ia panggil ibu, ia menahan tangis agar tak terlihat menyedihkan. Ia harus terlihat kuat, ia harus terlihat baik-baik saja menghadapi permasalahan hidupnya dan tentu ia harus menjadi orang yang bahagia meski berpura-pura.


"Bagaimana baby? Belum gerak kah?"


Dira tersenyum. "Belum bu, kan belum 3 bulan kehamilan. Nanti pokoknya Dira kabarin ibu kalau baby sudah bergerak ya.."


Ibu tersenyum lebar, terlihat senang. Dira menghangat, bagaimana bisa ia membenci wanita berumur 65 tahun padahal ia diperlakukan sebaik ini.


Ibu tidak mencelanya ketika tahu Dira mengandung cucunya meski belum menikah dengan putranya, ibu justru ikut senang ketika Dira ketakutan setengah mati juga merasa malu seperti ditelanjangi namun ibu malah memeluknya sambil menangis haru. Ibu bilang sekarang mereka keluarga.


"Dira, pasti tidak mudah bagi kamu menerima keadaan ini. Maafkan kami semua ya syang.." ibu tahu jika keadaan sekarang yang sedang mereka jalani sangat menyakitkan bagi Dira tapi tak ada pilihan lain, menikahkan Dira dengan putranya adalah jalan terbaik bagi semua meski rasanya terluka.


Dira benar-benar sudah tak kuasa menahan tangisnya, satu bulir airmata jatuh begitu saja tak tertahankan. Kini ia menatap pria yang tertidur disofa, pria itu suaminya dan pria yang terbaring diranjang rumah sakit adalah kekasihnya, ayah dari bayi yang kini ia kandung. Sakit.


I wanted someone to tell me it was okay—Indira