
...Dalam ribuan hari manusia, ada beberapa hal yang harus dipelajari sepanjang masa....
Dira baru saja selesai mengajar, ia pulang lebih dulu sebelum teman-temannya melakukan aksi tidak wajar seperti tadi pagi namun pesan singkat diponselnya membuat Dira bernafas lega.
From : Barrata
Mbak aku nggak bisa jemput, mendadak aku harus ikut meeting.
Pesan yang menenangkan harinya.
"Suaminya mana bu Dira? Tadi bilangnya mau jemput kan?" Dira menutup mata kaget. Bu Yuri dengan ciri khas kacamata tebal dan lipstik merah menyalanya tiba-tiba berada disamping kanannya sambil memandang parkiran yang luas.
"Nggak bu, mendadak suami saya ada urusan."
"Yah .... nggak seru bu. Saya kan mau lihat suaminya, sekalian mau minta nomor ...."
"Nomor apa?"
"Nomor togel."
"Loh bu Yuri main togel?" Dira kaget.
"Ya nomor temannya yang single, siapa tau jodoh saya."
Dira terdiam, membuat Yuri menatapnya heran. "Kenapa bu?"
"Suami saya dibawah 30 tahun deh bu ...."
"Iya tau, kan bu Dira juga belum 30 tahun."
"Teman-temannya kebanyakan sebaya umurnya."
"Iya, itu yang saya cari."
"Ibu Yuri bulan ini ulang tahun ke 33 kan?" Tanya Dira hati-hati.
Bu Yuri mengangguk dengan senyum lebar. "Iya, saya memang sengaja cari berondong biar lebih mengerti saya dan berondongkan tingkah lakunya menggemaskan."
Dira tersenyum kaku, responnya tidak bisa dipaksakan untuk tersenyum lebar. Terlihat jelas.
"Bareng saya saja bu, kita kan searah." Tawar bu Yuri sembari menggandeng Dira ke parkiran.
"Nggak usah bu, saya pesan taxi saja."
"Ah lama, ibu hamil itu nggak boleh lama-lama berdiri. Sudah ikut saya saja, nggak akan minta ongkos bensin kok." Dira mengangguk pasrah, tidak bisa mengelak lagi.
Bu Yuri menyapa guru-guru lain yang juga sudah selesai mengajar, basa-basi berpamitan.
"Hati-hati ya bu ibu, sekarang lagi musim operasi zebra. Buat kalian yang mukanya putih lehernya hitam, awas kena razia." Dira menutupi mukanya malu, masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
Bu Yuri menyalakan musik, ia tidak suka keheningan. Berbanding terbalik dengan Dira yang justru tak nyaman.
"Bu Dira tau kan pak Bastian?" Dira mengangguk.
"Sebenarnya beberapa bulan terakhir kami intens kirim pesan hampir setiap hari, tapi akhir-akhir ini saya ngerasa pak Sebastian menjauh. Kami sudah nggak berkabar, padahal saya kangen banget."
"Kenapa nggak bu Yuri hubungi duluan? Sekedar tanya kabar." Saran Dira.
"Gengsi dong bu, masa iya saya yang kirim pesan duluan." Dira menelan ludah.
"Mention terlalu berbahaya, taruh di story nggak peka. Padahal saya rasa kita berdua sudah cocok."
"Kenapa hubungan asmara saya selalu tidak bisa baik-baik saja?" Bu Yuri meletakan kepalanya di kemudi, terlihat cukup frustasi namun beberapa detik kemudian menegakkan kembali badannya.
"Cukup hati saja yang ambyar, yang penting keuangan stabil. Nggak bisa kalau nggak ada uang." Dira mengangguk setuju.
Ponselnya berdering, dengan semangat bu Yuri memeriksa notifikasi namun sedetik kemudian wajahnya lesu.
"Bodo amatlah. Dikabarin syukur, nggak dikabarin sedih juga sih ...."
Sepanjang perjalanan Dira hanya menjadi pendengar yang baik dengan segala keluh kesah bu Yuri yang merasa tertekan dengan keinginan keluarganya agar ia segera menikah, diumur 33 tahun masih single dan tidak pernah berbuat macam-macam Dira merasa malu. Pasalnya ia malah melakukan hal yang berdosa sebelum menikah dan hamil, sedangkan yang sudah matang masih memilih-milih calon hidup.
"Sampai ...." bu Yuri memberhentikan mobilnya, nama Apartemen didepannya terlihat sangat megah.
"Makasih ya bu, maaf kalau saya merepotkan."
"Ya nggak lah bu, tapi saya titip ya pesanan tadi."
Dira kebingungan. "Memang ibu pesan apa?"
"Minta nomor teman suami ibu yang single." Ah, Dira mengangguk pelan sambil tersenyum. Ia pamit dengan sopan, memperhatikan baik-baik mobil bu Yuri yang melaju semakin menjauh.
Ah, lega. Pasalnya Dira memang tidak punya teman dekat di sekolah jadi ia masih merasa canggung dengan guru-guru lain. Ia hanya beraktivitas monoton, berangkat kerja lalu mengajar setelahnya pulang terburu-buru karena menghindari acara arisan guru atau perbincangan gosip terbaru disekolah yang diadakan dikantin. Melihatnya sehari-hari sudah melelahkan bagi Dira, apalagi jika harus turut serta. Energi Dira untuk menjalani hari-hari sederhananya pun sudah cukup terkuras banyak.
Dira melepas heels tiga centimenter dari kedua kakinya, mengganti dengan flat shoes berwarna biru muda yang terasa nyaman di kakinya lalu menekan tombol lift menuju lantai 14, suasana hening yang sangat Dira sukai hingga pintu lift terbuka.
Dira berjalan, diujung lorong pintu kamar Yudha sudah terlihat jelas namun fokusnya teralihkan pada anak kecil yang tiba-tiba menabraknya dari belakang.
"Maaf tante ...." ucapnya sambil menahan tangis, Dira menahannya sebentar sebelum anak kecil berkepang dua itu kehilangan keseimbangan.
"Its okay, nggak apa-apa cantik." Dira tersenyum.
Dira melihat kebelakang, seorang pria parubaya sekitar 40 tahun menyusul dengan senyum kikuk.
"Maafin anak saya ya bu." Ujarnya dari kejauhan.
Dira mengangguk, namun anak kecil disampingnya memegang tangannya erat sambil bersembunyi dibelakangnya.
"Tante, Aku takut. Om itu mau bawa aku padahal aku sudah bilang aku nggak mau ikut." Dira berjongkok, menatap anak kecil yang sudah mulai menangis.
"Om itu bukan papa kamu?" Anak kecil itu menggeleng pelan, ia mulai terisak.
"Maaf ya mbak, sini nak." Pria berjenggot tipis itu menghampirinya, penampilan serba hitam juga topi hitam terlihat mencurigakan bagi Dira.
"Ayok ...." pria itu memaksa membawa anak kecil yang mulai menangis histeris, membuat Dira semakin curiga.
"Pak, ini benar anak bapak?" Tanya Dira hati-hati.
"Kalau boleh tau, siapa namanya?" Selidik Dira.
"Untuk apa kamu tau? Kita nggak akan ketemu lagi." Kali ini Dira memegang tangan pria itu, mencegahnya lebih jauh.
"Kalau memang anak bapak, seharusnya dia nggak menangis dan bilang takut. Seharusnya bapak juga bisa memberikan saya jawaban atas pertanyaan saya yang basic, bukannya situasi sekarang mewajarkan saya untuk mencurigai bapak?"
"Saya nggak ada urusan sama kamu!" Pria itu menggendong anak kecil dengan berlari cepat, membuat Dira mengejarnya sambil berteriak.
"Penculik!!!" Teriak Dira, ia berlari sepanjang lorong lalu mendapatkan ujung jaket pria tua didepannya.
"Lepas!" Pria itu berusaha melepaskan cengkraman Dira namun tak berhasil.
Dira mengeluarkan sesuatu dari tasnya, bubuk cabai yang diarahkan ke mata pria tua itu berhasil membuat anak kecil digendongannya terlepas meski dihempaskan. Pria itu menjerit kesakitan.
Dira memeluk anak kecil didepannya yang menangis, membawanya menjauh hingga ia melihat dua security datang menghampiri lalu menangkap pria tua yang kini matanya berair.
Dira memandang anak cantik dipelukannya dengan senyum menenangkan meski nafasnya tak beraturan. "Kamu aman, kamu sama tante dulu ya."
...🦋 🦋 🦋...
Yudha baru saja selesai meeting, ia sedang dalam perjalanan mengambil mobilnya yang terparkir namun telepon dari lobby apartemen menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" Tanya Angga disampingnya yang penasaran.
"Gue pulang duluan!" Yudha berlari kencang, meninggalkan Angga ditempat.
Pasalnya telepon yang ia terima memberikan kabat buruk, peristiwa yang tidak di duga-duga. Yudha melajukan mobilnya kencang dan ugal-ugalan. Tujuannya hanya satu, segera sampai di apartemennya dan memastikan Dira baik-baik saja.
Yudha berlarian seperti mengikuti marathon dan bertekad memenangkan medali emas, ia melihat banyak petugas keamanan berkumpul di lobby. Dibalik kerumunan petugas ia bisa mengenali seseorang yang sedang duduk memeluk anak kecil dipangkuannya.
"Mbak." Panggilnya, Yudha mendekat melihat sekeliling memastikan Dira dengan baik.
"Barra ...."
"Mas suaminya?" Salah seorang petugas bertanya, mendekati Yudha.
"Iya, saya suaminya."
"Ibu Dira membantu adik Anya dari penculikan, untungnya tidak ada yang terluka."
Yudha mengangguk meski masih tidak memahami seratus persen situasi yang terjadi.
"Terimakasih ibu Dira atas kerjasamanya dan terimakasih telah menolong Anya." Dira mengangguk, tersenyum lembut sambil menenangkan.
"Biar kami yang membawa Anya ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut, bu Dira bisa segera beristirahat." Semua petugas pamit, bubar secara serempak menyisakan Dira dan Yudha yang masih saling diam.
"Aku nggak sangka mbak berjiwa heroik." Ujar Yudha sembari berjalan lurus didepan Dira.
"Saya refleks karena Anya menangis ketakutan, tangisan histerisnya membuat saya berpikir pendek. Yang harus segera saya lakukan hanya menyelamatkan dan membawanya ketempat aman, menjauh dari pria tua menyeramkan."
Yudha tersenyum, ia memandang Dira sebentar.
"Kenapa?"
"Baru kali ini mbak bicara panjang lebar sama aku." Dira terdiam, keningnya mengerut.
Pintu unit apartemen terbuka, Yudha mempersilahkan Dira masuk terlebih dahulu.
Dira terdiam sejenak saat kulkas yang ia buka terisi penuh dengan buah-buahan.
"Kapan kamu belanja?"
"Tadi sesudah dari sekolah, aku mampir ke supermarket lalu pulang dulu sebelum jemput mbak tapi Angga lebih dulu telepon karena meeting kali ini aku harus ikut. Jadi belum aku beresin semua."
Dira memperhatikan berbagai jenis buah-buahan yang tersimpan acak-acakan dikulkas.
"Kamu sesuka itu sama buah-buahan ya? Sebelumnya saya nggak pernah lihat kamu belanja buah sebanyak ini."
"Itu semua buat mbak."
"Kenapa saya?"
"Itu semua baik buat ibu hamil."
"Hah?"
"Pisang itu bisa mencegah anemia buat ibu hamil."
"Semangka juga?" Tanya Dira.
"Semangka itu Anti mual-mual club kalau morning sickness dipagi hari buat ibu hamil di trimester awal ...."
"Ada juga alpukat, supaya dede bayinya pintar alias membantu perkembangan otak dan syaraf bayi ...."
"Mangga juga sebagai antioksidan yang baik buat bundanya ...."
"Jeruk bisa mencegah cacat bayi pas lahir." Speechless. Dira berhenti berkedip.
"Ini too much nggak sih?"
"Untuk kebaikan bersama jangan ditolak mbak."
"Kebaikan bersama?"
"Kalau mbak baik-baik saja keponakan aku juga baik-baik saja, mas Oscar juga bakalan senang kalau tau kalian baik-baik saja. Keluarga aku juga senang dan aku bakalan baik-baik saja nggak ada masalah apapun dengan ibu bapak dan mas Nando." Yudha tersenyum kecil disertai kedua alisnya yang diangkat naik turun.
"Terimakasih ya ...."
Yudha berlalu begitu saja kedalam kamar mandi, meninggalkan Dira yang tersenyum sambil mengelus perutnya.
"Syukurlah kita di kelilingi orang-orang baik."
Terlukai oleh harapan sendiri—Yurika
Semesta terkadang lucu. Menjatuhkan perasaan kita berkali-kali lalu menuntut kita untuk bangkit berkali-kali—Indira