
...Orang baik banyak wujudnya, nggak selalu harus santun bertutur kata halus. Bisa jadi temanmu yang tak berakhlak baik itu adalah orang paling baik yang kamu kenal....
Yudha menghisap rokok ditangannya sampai habis, sudah dua minggu ia menghabiskan waktu berkumpul bersama dua sahabatnya. Kini rumahnya tak terasa menyenangkan.
"Pulang gih, lo mau sampai kapan disini terus?!" Pria dengan rambut ikal pendek itu bertanya dengan nada datar. Ia bahkan tidak menatap Yudha yang memandangnya sinis.
"Iya, kasihan mbak lo." Sahut Noah, pria berhidung mancung berkulit putih juga wajahnya yang tampan. Dibelakang lehernya ada tato ular berukuran kecil yang hanya bisa dilihat dari jarak dekat.
"Males pulang gue." Jawab Yudha mengambil kembali satu batang rokok untuk dihisap.
"Rencananya kapan lo cerai Yudh?" Kali ini Angga menatap Yudha menunjukkan bahwa ucapannya sekarang serius.
"Nggak tau, gue cuma mau semuanya dipercepat. Mas Oscar siuman dan pernikahan mereka berlangsung sesuai rencana." Yudha memperhatikan jalanan dibawahnya, kegiatan malam hari yang sedikit menenangkan hatinya.
"Lalu kehidupan lo setelahnya?" Kali ini pertanyaan Noah terdengar penasaran.
"Gue akan kembali berlayar, menjauh dari semua yang buat gue sakit lebih baik daripada memaksakan diri gue untuk menerima semuanya."
"Iya, kembali berlayar dengan status hidup yang baru. Duda." Angga mengatakannya dengan sinis namun Yudha tak merasa kesal atau marah. Ia tahu bahwa perhatian Angga memang berbeda.
"Lagian, kenapa nggak mas Nando aja yang menikahi mbak Dira sih, Yudh?" Setelah dua bulan mereka tak mengobrol intens seperti ini, akhirnya Noah bisa mengutarakan semua pertanyaan dalam benaknya.
"Karena mbak Bella nggak mau dipoligami meski tahu semua hanya untuk menutupi aib mas Oscar, gue pilihan terbaik. Kalau mas Oscar siuman semua berjalan sesuai rencana yang tertunda ini."
"Lagipula mas Nando terlalu keras untuk mbak Dira menurut orang tua gue." Lanjut Yudha. Rokok ditangannya sudah habis setengah.
"Memangnya lo nggak apa-apa dengan semua yang terjadi?" Yudha memandang Noah sekilas lalu kembali memandang jendela yang memperlihatkan keheningan malam jakarta.
"Memangnya kalau gue bilang gue nggak baik-baik saja, apa yang akan berubah?" Hening.
Kedua sahabatnya tahu jika Yudha memang tidak menyukai keluarganya sejak dulu namun tak bisa berbuat banyak hal. Bahkan hanya untuk mengatakan tidak pada sesuatu yang ia tidak sukaipun ia tak didengarkan, semua harus sesuai dengan keinginan keluarganya. Maka bekerja sebagai pelayar adalah angin segar untuk hidupnya yang menyesakkan.
Bagi Yudha di dunia ini ia tak punya tempat pulang. Hidupnya terlalu ironis.
"Siska sekarang pulang ke Indonesia, lo tau?" Angga dengan cepat menyumpal mulut Noah namun Yudha mendengar dengan jelas apa yang Noah ucapkan lalu ia menghela nafas dalam.
Ia masih mengingat perempuan itu dengan jelas, bahkan aromanya. Yang paling membekas adalah pertemuan terakhir mereka dimalam yang dingin.
Siska, perempuan dengan bola mata berwarna cokelat yang selalu mampu menghipnotisnya agar terjatuh terus menerus kedalamnya. Rambut panjangnya yang lebat juga harum, sensasi yang menyenangkan berada didekat perempuannya dulu.
Perempuan itu kini telah pergi jauh lepas dari genggamannya, melangkah atas kemauannya sendiri yang tak bisa Yudha paksakan agar tetap disisinya. Perempuan itu memilih hati lain untuk mencapai mimpinya menjadi model terkenal di majalah kalangan atas. Meninggalkan Yudha seorang diri yang tak tahu harus bertumpu pada siapa, menghapus semua rencana yang Yudha rancang untuk kisah cinta mereka. Menghancurkan satu-satunya kenangan indah dihidup Yudha juga membuat luka yang teramat dalam dihatinya. Perempuan itu berhasil membuat Yudha membenci hidupnya.
Siska selalu menenangkannya dengan kalimat "tenang, perjalanan masih panjang.."
"Tenang, kita harus berharap yang terbaik dalam hidup.."
"Tenang.." tapi dia tidak menemani Yudha sampai akhir.
"Nggak salah kita punya group chat SADBOY, kisah kita memang memprihatinkan semua. Yudha diselingkuhi Siska, Angga ditolak sama cinta pertamanya dari tujuh tahun lalu sampai sekarang. Sedih.." decakan Noah terdengar menyebalkan.
"Lo kejebak friendzone dari orok, apa nggak lebih sad?"
"Lo memikirkan dia beribu kali dalam sehari, sedangkan dia jangankan memikirkan lo.. hati saja dia nggak punya." Noah ingin sekali memukul mulut Angga sekeras mungkin namun Angga menangkisnya dengan cepat.
"Lagian, kenapa lo cupu banget nggak kasih tau Zea kalau lo suka sejak ospek mahasiswa baru?" Lanjut Angga yang terdengar semakin mengejek Noah dan perasaannya.
"Ini hidup gue, kok lo yang jadi sutradaranya?" Sewot Noah.
"Gue greget aja sama tingkah lo."
Noah mengambil bungkus rokok Yudha yang masih penuh lalu mengambil satu batang tanpa ijin, didepan mata Yudha. Lalu dengan tanpa rasa tak enak hati Noah menyalakan pemantik api membakar ujung rokok lalu asapnya mulai menyelimuti Noah.
"Kadangkala memutuskan untuk menjauh bukan karena kita benci, tapi karena kita melindungi diri dari luka." Yudha menatap hampa keluar, Angga mulai mengambil ponselnya. Tak ada yang menyahuti perkataan Noah yang menyentil lubuk hati keduanya.
"Hp taruh dulu, diangkat terus. Derajat keluarga tuh yang diangkat." Angga masih tak menggubris Noah. Angga paling mahir membuat sahabatnya kesal.
"Ngga.." panggil Noah.
"Apaan?" Angga mulai sibuk kembali dengan ponselnya.
"Berenang kek biar tinggi." Noah berucap datar, menghasilkan senyum tipis Yudha.
Angga berdecak kesal. "Orang-orang pada bacot nyuruh berenang biar tinggi, ubur-ubur berenang setiap hari tinggi enggak malah lembek!" Tawa Noah dan Yudha pecah begitu saja ditambah Angga yang memandang mereka penuh kebencian. Hal yang menyenangkan
Yudha memperhatikan kedua sahabatnya, selain tak suka bersama Dira alasan ia menumpang dirumah Angga seharian karena ia bisa melupakan sejenak masalahnya meski tak bisa benar-benar lupa. Bersama Noah dan Angga, ia bisa tertawa atau bahkan mengasihani kesedihan mereka bersama.
Yang Yudha tahu ternyata mencintai sendirian itu menyakitkan. Banyak orang yang berpura-pura sembuh padahal lukanya masih utuh.
Takdir begitu lucu, manusia dipertemukan dengan kisah tragis yang hampir sama. Entah harus bersyukur karena kita tidak menderita sendirian atau terpuruk karena mengalami nasib sial yang sama.
Tidak boleh terlalu sayang, tidak boleh terlalu percaya nanti sakitnya juga terlalu—Anonym
Aku tidak membencimu, kamu punya hak untuk tidak mencintaiku.
Alasan aku menjauh adalah agar aku terbiasa menjalani hari tanpamu—Rangga
Cinta itu butuh pengakuan—Noah
Aku selalu senang mendengarmu bercerita, meski bukan aku pemerannya—Noah
Asing dan usang. Itulah kita sekarang—Barrata
Hubungan kita langgeng ya, temenan terus nggak jadian—Noah