
...Beberapa orang memang pandai menyembunyikan rasa sedih meski hatinya benar-benar perih....
Indira Prameswari, ia lebih suka dipanggil Dira. Panggilan orang-orang terdekatnya yang terdengar hangat.
Dira memandangi tubuhnya didepan cermin besar yang menampilkan seluruh badannya dari ujung kepala sampai ujung kaki, kamar bernuansa abu-abu yang ia tempati terasa sangat asing meski ia sudah tidur dikamar itu selama beberapa minggu lamanya.
Dira memperhatikan perutnya yang mulai terlihat buncit, ia tersenyum kecil. Malaikat kecilnya sedang tumbuh perlahan didalam perutnya, ia hanya perlu menunggu enam bulan lagi agar ia bisa hidup berdua dengan bayi mungilnya dan menunggu Oscar sadar dari komanya. Ia tidak perlu berpura-pura menjadi istri Barrata, ia akan menjadi dirinya sendiri. Milik Oscar.
Dira beranjak keluar kamar, melihat Barra tertidur disofa ruang tengah dengan selimut yang menutupinya sampai kepala. Sebenarnya Dira sama sekali tak ingin tidur dikamar, ia cukup tahu diri jika Barra lebih berhak untuk tidur dikamarnya sendiri namun adik iparnya itu lebih memaksa agar Dira tidur dikamar. Ia merasa gentleman jika Dira yang tidur dikasur dan ia disofa, begitu ucapnya.
Bagi Dira, Barra memang calon adik ipar yang lumayan baik, meski awalnya terlihat sangat acuh lama kelamaan ia merubah diri menjadi lebih baik menurut Dira. Ia memilih pulang sekalipun dini hari, memaksa Dira tidur dikamarnya. Hal kecil seperti itu saja sangat membuat Dira nyaman karena sejujurnya ia tak suka sendirian dan badannya selalu sakit saat membuka mata jika tidur disofa.
Jadi sekarang Dira memasak untuk sarapan pagi, akhir-akhir ini menjadi kegiatan yang ia lakukan sebelum berangkat kerja. Perutnya terasa mual, ia berlari kekamar mandi. Cairan bening terus keluar membuat tubuhnya lemas dan pusing, ia terduduk disamping closet. Ia melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, ia sudah setengah jam berada dikamar mandi. Dira lemas namun perutnya terus mual memuntahkan cairan bening, ia tak bisa berhenti. Rambutnya yang diikat asal sudah lepas tak beraturan, ia berantakan.
"Mbak ...." Dira menutup closet dengan cepat, ia berusaha berdiri namun kedua kakinya lemas hingga membuatnya terjatuh. Pandangannya kabur.
Dira melihat Barra berlari menghampirinya, Barra memanggil namanya namun ia tak bisa menjawab. Lidahnya terasa kelu dan pandangannya gelap.
Yang ia ingat, wajah Barra yang khawatir didepannya.
...🦋 🦋 🦋...
"Gimana dok?" Yudha menatap dokter didepannya dengan raut wajah penasaran, wajahnya jelas menampakkan kecemasan.
"Muntah-muntah dipagi hari diawal kehamilan memang normal, pak. Itu namanya morning sickness. Ibu hanya perlu banyak istirahat juga makan makanan bergizi yg sehat secara teratur, jangan biarkan ibu stress karena bisa mempengaruhi tumbuh kembang janin." Yudha mengangguk paham.
"Dimasa-masa ini peran bapak sangat dibutuhkan untuk setiap saat berada disamping ibu hamil, memanjakannya dan siap siaga karena perlahan akan banyak perubahan yang terasa apalagi mood ibu hamil akan cepat naik turun." Yudha terdiam.
"Tapi dok, apa nggak parah kalau morning sicknessnya sampai bisa pingsan seperti ini?"
"Saya kira ibu banyak aktivitas juga makannya tidak teratur, banyak bergadang juga tidak baik bagi ibu hamil. Tolong bapak lebih menjaga ibu disaat-saat seperti ini ya ...." Yudha mengangguk, paham sekali perkataan dokter.
Yudha memperhatikan Dira yang tertidur, infus terpasang ditangannya. Wanita didepannya terlihat berantakan luar dalam.
"Mbak ...." panggil Yudha ketika Dira membuka mata.
"Barra ...."
"Mbak ada yang sakit?" Dira menggeleng, ia memegang pelipisnya sebentar lalu menatap Yudha.
"Kamu nggak kerja?"
"Nggak, Angga sudah gantiin aku buat meeting hari ini."
Dira mengangguk, ia berusaha melepas infus ditangannya namun Yudha mencegahnya.
"Mbak mau ngapain?"
"Lanjut masak terus saya mau berangkat kerja." Yudha menatap jam dinding dikamarnya, pukul sembilan pagi.
"Mbak, memangnya nggak bisa libur ya?"
"Barra, saya ada kelas hari ini. Minggu besok murid saya ulangan, jadi mereka harus dapat semua materinya."
Ah, Yudha baru mengingat bahwa Dira bekerja sebagai guru disebuah sekolah menengah atas swasta di jakarta.
"Lebih baik mbak nggak kerja dulu."
"Saya cuma perlu mengajar satu kelas hari ini, cuma dua jam." Dira beranjak, melepaskan infus ditangannya meski perih.
"Ya sudah, aku antar ya kesekolah. Aku hari ini nggak ada jadwal penting jadi bisa antar mbak."
"Jangan tolak ya mbak, aku nggak mau keponakan aku kenapa-kenapa ...." pelan Dira mengangguk, ia sedang tak ingin berdebat hal tidak penting. Baginya saat ini mengiyakan setiap ucapan Yudha mengurangi bebannya.
...🦋 🦋 🦋...
Yudha memberhentikan mobilnya di depan sekolah tempat Dira mengajar, Dira baru saja membuka pintu mobil setelah mengucapkan terimakasih namun seruan ibu-ibu diluar mengejutkan Yudha.
Kini mobil pajero sport hitamnya dikerubungi banyak perempuan yang tersenyum kearahnya, disisi lain melihat Dira memijat pelipisnya. Sangat tertekan.
"Hallo mas, suami bu Dira ya?" Ucap seorang perempuan dengan lipstik merah menyala, Yudha tersenyum kikuk.
"Sini loh, keluar dulu. Kenalan kita ...." perempuan agak berisi itu mengetuk kaca mobil Yudha yang tertutup, mengejutkan.
Yudha menatap Dira meminta persetujuan namun Dira tak melihatnya sama sekali, ia berusaha memboyong teman-teman kerjanya menjauh namun mereka masih mengerubungi mobil Yudha seperti massa yang sedang berdemo.
Seruan menggoda terdengar saling bersahutan ketika Yudha memilih turun dari mobilnya lalu menyapa mereka dengan senyum lebar yang dipaksakan.
"Ini suaminya lucu banget, dengar-dengar lebih muda ya? Ih mau dong sama berondong."
"Punya temen yang masih single? Boleh kenalin nggak?"
"Siapa namanya mas ganteng?"
"Wah kaya ya, ganteng, wangi lagi. Paket komplit! Aku mau dimadu lho dek ...." Yudha ingin keluar dari situasi saat ini.
"Papa muda keren banget sih ...." masih banyak ocehan lain.
"Bu ibu, ayo kita masuk saja ya. Jam pelajaran kan lagi berlangsung, nggak enak kita bikin kegaduhan disini." Dira menengahi, ia memaksa masuk kedalam lingkaran masa mengambil posisi disamping Yudha.
"Aw, serasi banget ...."
"Ya sudah ayo masuk, kita bisa dimarahi kepala sekolah." Dira mengingatkan kembali, kini Dira mengarahkan mereka untuk pergi menjauh. Memberi Yudha keleluasaan bernafas setelah dikerubungi.
"Nggak pamit kamu, bu?" Ibu-ibu dengan kacamata tebal menghentikan langkahnya, menatap Dira intens.
"Ah?"
"Kamu tadi belum salam sama suami, kita harus hormat sama suami, meminta restunya agar kerjaan kita berkah." Yudha mendengar jelas, ia bersiap masuk kedalam mobil namun seruan ibu-ibu menghentikan langkahnya.
"Tunggu sebentar mas, belum salim ini bu Dira!"
Yudha membalikkan badan, melihat Dira berjalan mendekatinya. Keduanya meringis pelan. Dira menggerakkan mulutnya mengatakan maaf tanpa suara dan Yudha tersenyum lebar menghadap ibu-ibu yang memperhatikan penuh senyum.
Dira mengambil tangannya lalu mencium punggung tangannya, Dira menutup mata menahan malu didepan Yudha.
"Yah, kok nggak di sun keningnya ya?" Celetuk seorang dikerumunan, membuat Dira menggeleng namun detik kemudian Dira membeku.
Yudha mencium keningnya.
"Nanti aku jemput lagi ya ...." ucapnya sembari mengelus kepalanya pelan, membuat sorak sorai penonton menjadi-jadi.
"Maaf ya mbak, ini supaya mbak nggak tertekan." Bisik Yudha lalu masuk kedalam mobil. Memperhatikan Dira dan rombongannya berjalan masuk kedalam sekolah tanpa kegaduhan seperti sebelumnya.
Ia menyelamatkan Dira, membunuh harga dirinya sendiri.
Yang Yudha tahu, ia akan meminta maaf saat situasinya tepat.
I think im okay, but just i think—Indira
Berat ya harus sendirian dimasa -masa sulit—Barrata