
...Rasanya berat, sesuatu yang dulu sangat membahagiakan kini harus kita lupakan dengan penuh usaha....
Yudha terdiam, layar ponselnya masih menyala menampilkan berita tentang salah satu model terkenal di Indonesia yang baru saja pulang ke negaranya.
Ternyata Yudha masih merindukannya. Fransiska, wanitanya dulu.
Seseorang duduk disampingnya, mulai menyendokkan beberapa makanan kedalam mulutnya tanpa mengatakan sepatah katapun.
Dira baru pulang pagi tadi, semalaman ia tidak pulang menemani Oscar dan membiarkan Susternya beristirahat dan kini ia sudah duduk disampingnya.
"Kenapa?" Dira menatapnya datar, alis kanannya naik sebelah.
"Kaget."
"Oh ...." Dira kembali menyendokkan makanannya, namun Yudha justru merasa canggung. Ia bukan tipe orang yang betah dengan keheningan, berbanding terbalik dengan Dira yang justru terlihat risih jika seseorang terlalu banyak bicara.
"Gimana mas Oscar, mbak?"
"masih seperti sebelumnya, tapi kata dokter sudah ada beberapa alat yang bisa dilepas. Belum ada kemajuan yang signifikan tapi kita nggak boleh lepas berdoa dan berusaha, doa kan supaya Oscar bisa sembuh kembali ya." kali ini Dira menatapnya tulus, sorot matanya berbicara bahwa ia memohon.
"Tanpa mbak minta, aku dan yang lainnya sudah melakukan semua hal untuk bisa membantu kesembuhan mas Oscar. Doa dan usaha tentu saja itu hal penting." Dira mengangguk kecil.
"Barra ...." panggil Dira.
"iya?"
"Kalau nanti Yuri kesini bilang saja saya nggak ada dirumah, atau dirumah ibu ya. Pokoknya jangan biarin dia masuk lagi kesini." Dari ekspresi wajahnya terlihat jelas Dira merasa tertekan, kedatangan Yuri juga Nanda beberapa hari lalu sangat tidak terduga juga tidak menguntungkan bagi Dira. Ia harus extra berpura-pura membangun rumah tangga yang harmonis juga romantis.
"Memangnya kenapa, mbak?"
"Mereka bikin saya kewalahan, point utamanya keberadaan Yuri." Dira menghela nafas dalam, jika bisa memilih waktu itu ia lebih baik menginap dirumah sakit dibandingkan harus diantar pulang oleh Yuri.
Pasalnya Yuri terus menerus melemparkan berbagai pertanyaan ketika berada di apartemen Yudha. Seperti kenapa mereka tidak memajang foto pernikahan seperti pasangan pada umumnya, kenapa nuansa apartemennya sangat gelap tidak mencerminkan keharmonisan keluarga. Kenapa tidak ada foto liburan berdua yang dipajang difigura kecil, kenapa barang di apartemen lebih banyak kepunyaan Yudha dibanding Dira dan masih banyak lagi hal-hal yang Yuri pertanyakan.
Dira yang tak terbiasa berbohong mulai melakukannya untuk menutupi semua kecurigaan Yuri, ditambah Nanda yang berada disampingnya juga menyadari kejanggalan disetiap sudut apartemen.
"Apa kita harus pajang foto pernikahan diruang tengah sekarang juga?" tanya Yudha.
Dira menggeleng tak setuju. "Enggak perlu."
"Tapi itu untuk antisipasi kedatangan tamu tak diundang kan?"
"Maka dari itu, mari kita nggak bawa tamu luar kesini."
Yudha mengangguk setuju, tak ada yang bisa ia bantah.
"Mbak lain kali tolong langsung hubungi aku kalau ada apa-apa kalau gitu, mbak tanggung jawab aku sekarang." Yudha menatapnya dalam, membuat getaran aneh bagi Dira. Dengan cepat Dira mengalihkan pandangannya, fokus pada makanan didepannya.
Ia menatap kedepan, jendela yang luas mempermudah ia merasakan kehangatan matahari dipagi hari. Akan lebih menyenangkan jika Oscar disampingnya, merangkul pundaknya lalu menciumi keningnya seperti biasa. Ah, ia merindukan lelaki dengan rambut tebal itu, juga tangannya yang lembut juga jemari yang selalu melengkapi ruas jemari Dira. Menautkan jemari mereka seakan tak terpisahkan.
"Mbak, tau orang ini?" Yudha menunjukkan profil Fransiska, membuyarkan lamunan Dira.
"Dia model yang terkenal." Lanjut Yudha.
"Itu bukannya pacar kamu?" Tanya Dira, terlihat tidak tertarik.
"Waktu pertama kali saya dijemput Oscar, kamu dan dia juga duduk dibelakang karena kalian sudah kemalaman dan kita berempat naik mobil dikemudikan Oscar kan?"
"Mbak masih ingat ternyata." Lirih Yudha.
"Saya nggak selupa itu. Saya kira kalian masih berhubungan, kalian putus karena dia lebih pilih karir dan meninggalkan kamu disini?" Dira terlalu to the point.
"Aku nggak ditinggalkan, perpisahan kami memang kesepakatan berdua." Bantah Yudha, ia terkejut dengan Dira yang terlalu blak-blakkan meski nada bicaranya datar.
"Kamu belum bisa move on ya?"
"Aku sudah move on kok, walaupun masih proses."
"Iya saya percaya masih proses, soalnya kalau sudah move on kamu nggak akan kayak orang patah hati saat lihat beritanya di media sosial kan?"
"Mbak ...." Yudha sudah tak bisa berkata-kata.
"Hubungan itu terasa membebani ketika satunya terlalu mengedepankan ego, kamu nggak kalah dan kamu nggak kehilangan. Dia yang kalah karena terlalu mengikuti egonya dan dia yang kehilangan karena meninggalkan orang yang tulus mencintainya ...."
"Sabar itu seluas lautan, hanya saja kadang manusia bisa lelah berenang dan tenggelam."
Pandangan Yudha menerawang ke satu tahun lalu, ia mendapati Siska berpelukan dengan pria yang Yudha kenal baik disaat Yudha tersenyum lebar sembari membawa sebuket mawar merah kesukaannya untuk merayakan hari jadi ke dua tahun mereka.
Tebak apa yang aku temukan? Kamu dan dia ternyata ada hubungan.
"Mbak, kenapa pilih mas Oscar untuk jadi teman seumur hidup?"
"Karena seegois apapun saya, saya masih takut kehilangan dia. Dan dia pun begitu." Jawab Dira.
"Aku pikir memaafkannya untuk kesalahan kecil yang sering ia lakukan cukup membuktikan bahwa aku layak untuk diperjuangkan seperti aku memperjuangkan dia, tapi ternyata justru aku kehilangan dia juga diriku sendiri."
"Pada akhirnya, kehilangan dia sudah seharusnya diiringi dengan tawa dan tepuk tangan. Kamu mungkin tersiksa karena kamu kehilangan semangat, tapi kamu nggak dilukai lagi." Dira menepuk pundaknya.
Dira menggenggam tangannya, memberi kekuatan juga semangat agar adik iparnya bisa perlahan sembuh. Dira tersenyum lembut, mengatakan bahwa ia tidak patut berlarut-larut dalam kesedihan untuk seseorang yang tak menghargai perasaannya.
Senyum Dira menghangat kan hatinya, Yudha menatap Dira dengan senyum kecilnya.
"Mbak ...." panggil Yudha.
"Kenapa?" Yudha mendekatkan wajahnya, badannya dicondongkan perlahan kearah Dira membuat Dira sedikit mundur. Tangan kanan Yudha menyentuh kepala belakangnya, jarak mereka dekat membuat Dira menahan nafas ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Yudha namun beberapa detik Yudha kembali ke posisi semula.
"Kok bisa ada nasi sampai ke rambut? Mbak makanannya tembus kebelakang?" Dira menutup matanya, mengatur nafas lalu menatap tajam Yudha yang kini tersenyum mengejek didepannya.
"Saya sudah makannya, mau tidur." Ucap Dira sambil beranjak pergi.
"Terus yang cuci piring kotor ini siapa?"
"Kamu saja, saya nggak mood cuci piring. Bayi saya bilang mau tidur." Lalu pintu kamar tertutup rapat, Yudha menggaruh belakang kepalanya.
Kenapa tiba-tiba ?
Its okay to be sad, because ur human too—Indira
Pada akhirnya yang dapat dipelajari dari hidup adalah bagaimana menjadi kuat sendirian—Barrata