
...Sakitnya luar biasa. Ditahan semakin sakit, diungkapkan terasa pahit....
Bagi Barrata Yudha Oktavian tidak mudah menjadi anak bungsu di keluarga Oktavian, pria paruhbaya yang mendidiknya keras sejak kecil. Ia dan kedua kakaknya harus menurut pada bapak, tidak boleh membantah dan harus membantu ibu jadi ketika ia mendapat kabar bahwa kakak keduanya, Oscar kecelakaan yang mengakibatkan koma tanpa pikir panjang Yudha mengajukan cuti untuk pulang ke Indonesia meski saat itu ia sedang berlayar.
Yudha terpukul pastinya, ia mau melakukan apa saja agar kakaknya bangun. Ia menangis dalam diam, jenis tangisan yang terasa sadis. Air matanya tak berhenti mengalir, ia tidak bisa tidur dengan tenang. Matanya terus memperhatikan Oscar yang tidak bergerak sama sekali diranjang rumah sakit, ia merasakan sakit yang teramat karena bagi Yudha, Oscar bukan hanya kakak namun mengganti peran orangtua yang tidak ia dapatkan dari bapak dan ibu. Oscar yang selalu memeluknya, Oscar orang pertama yang selalu menunggunya dibandara atau mengucapkan selamat datang paling meriah diantara keluarganya yang lain.
Dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk kakak tersayang adalah menyelamatkan orang yang Oscar sayangi, Dira dan bayi dikandungannya.
Dua minggu setelah menemani Oscar dirumah sakit tanpa henti, ia dipanggil untuk pulang katanya ada pembicaraan penting menyangkut Oscar dan keluarga besar. Yudha sudah mengira jika rencana pernikahan Oscar akan dimundurkan mengikuti perkembangan Oscar namun ternyata kenyataan yang ia dapati lebih buruk.
"Kamu harus menggantikan Oscar menikahi Dira." Ucapan bapak sebulan lalu masih terngiang jelas. Ia mendapati dirinya terbentur kenyataan cukup keras.
Yudha melihat sekeliling, ibu bapak juga mas Nando tak lupa Dira yang menunduk menghilangkan mukanya.
Yudha mencoba mengelak, berusaha mencarikan jalan keluar lain namun suaranya tak didengar. Pendapatnya hanya angin lalu bagi keluarganya. Yudha tahu tak ada yang mau mendengarkan perkataan anak kecil yang berusia 27 tahun tapi bukankah seharusnya ibu dan bapak berbicara empat mata terlebih dahulu? Ia merasa dipojokkan agar tak bisa kemana-mana dan tak bisa mengatakan bahwa ia tak setuju.
Pernikahan tetap sesuai rencana, tamu undangan yang kebanyakan keluarga besar Oktavian. Tak ada sahabat-sahabat yang Yudha undang, tak ada foto bersama yang menyenangkan, suasana pernikahan yang menyedihkan.
Ia melihat Dira disampingnya yang terus menerus diam tanpa sepatah kata, tanpa senyuman dan tak meliriknya sedikitpun.
Bapak ibu yang berbaur dengan keluarga penuh senyuman, mas Nando terlihat menyapa semua keluarga yang hadir seperti ingin memperlihatkan bahwa keluarga mereka baik-baik saja. Penuh kepalsuan.
Yudha kesal, marah pada diri sendiri. Ia membenci hidupnya, membenci pula wanita disampingnya. Yudha merasa Dira menghancurkan hidup Oscar dan hidupnya. Yudha membenci wanita disebelahnya yang merasa paling tersakiti didunia padahal ia menyeret Yudha menjadi korban berikutnya. Menutupi kenyataan, menciptakan kebohongan yang akan terus berlanjut entah sampai kapan dan tak pasti ujungnya.
Yudha merasa sesak, rasanya ada tangan yang mencekiknya sangat kuat. Ia tak bisa berkata saat ia terluka, ia tak boleh menangis karena bapak akan memarahinya. Ia tak boleh cengeng atau Nando akan mengejeknya. Ia harus menurut jadi anak baik dimata ibu. Begitu berat dipaksa kuat.
Kini ia harus hidup berdua dengan wanita dingin tak berperasaan? Sungguh Yudha ingin mati saja rasanya. Suasana dingin, hening dan canggung. Yudha tak betah dirumah sendiri. Ia bingung dan tak tahu harus bagaimana secara tiba-tiba.
"Saya pergi dulu ya mbak." Ucap Yudha pada akhirnya, ia sungguh tidak tahan dengan suasana yang membuatnya terlihat seperti orang bodoh.
Ia mengambil kunci mobil yang tergeletak dimeja, memakai jaket yang terbaring sembarangan dilantai. Ia tak peduli jika masih memakai sendal rumah yang ia pikirkan ia harus segera keluar untuk menenangkan pikirannya. Ia harus tetap waras meski mentalnya dikuras terus-menerus.
Tanpa menunggu jawaban Dira, Yudha melangkah pergi.
...🦋 🦋 🦋...
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00, tempat parkir apartemennya terlihat sibuk dengan keluar masuk mobil para tetangganya namun disinilah Yudha masih ditempat yang sama. Sejak siang tadi ia memang tidak kemana-mana, Yudha tidak punya tempat tujuan dan ia tidak ingin bertemu orang lain untuk membuka obrolan. Ia ingin sendirian.
Ponselnya berbunyi, notifikasi singkat jika baterainya sudah 15% itu artinya sebentar lagi ponsel Yudha akan mati jika ia tidak mencharge. Sialnya charger ponselnya ia tinggal di apartemen.
Ah.
Langkahnya berat, ia memasuki apartemen dengan lesu. Tujuannya ia hanya ingin cepat merebahkan diri dikasur empuknya mengabaikan Dira dirumahnya. Iya, dia yakin bisa bersikap seperti itu namun ketika lampunya di nyalakan ia melihat Dira sedang tertidur disofa. Ia menutup wajahnya dengan jaket berwarna hitam polos. Dira tertidur pikir Yudha.
Suara rintihan terdengar samar-samar, suaranya sangat pelan sampai Yudha tak bisa mengabaikannya begitu saja. Yudha mendekat perlahan namun kunci mobilnya terjatuh mengagetkan Dira yang langsung terbangun dari tidurnya bertatapan dengan Yudha yang sama terkejutnya.
Yudha mendekat, secara spontan ia memeriksa dahi Dira yang ternyata sangat panas. Wanita itu demam. Itu yang Yudha tahu.
"Mbak sakit?"
"Ah, iya kah?" Dira memeriksa dahinya sendiri.
"Nggak kok, saya nggak merasa panas."
"Berarti iya mbak sakit."
"Hah?"
"Mbak sudah makan?" Dira menggelengkan kepala pelan.
"Kenapa?" Yudha bergegas kedapur, mengecek kulkas yang ternyata terisi penuh dengan air putih dingin.
"Kenapa nggak cari makanan keluar?" Kesal Yudha. Ia bisa dimarahi lagi kalau sampai Dira sakit.
"Atau mbak kan bisa pesen makanan online." Lanjut Yudha. Ia benar-benar tidak mengerti keinginan wanita didepannya.
"Saya nggak tau alamat apartemen ini, saya juga nggak tau kode apartemen kamu." Benar, perkataan Dira meruntuhkan semua kekesalan Yudha. Kini ia mengutuki betapa bodohnya dia dimata Dira.
"Mbak kan bisa tanya aku." Yudha masih mencoba membela diri.
"Saya nggak punya nomor kamu." Skakmat. Mereka memang tidak pernah saling menghubungi.
"Memangnya bapak sama ibu nggak kasih nomor aku ke mbak?"
"Mereka bilang biar kita ada usaha buat mengenal, jadi harusnya kita punya. Saya takut dimarah bapak kalau bilang nggak punya nomor kamu. Mas Nando juga bisa ngaduin perkara ini kalau saya minta sama mas mu." Ah benar juga, Mas Nando memang sangat menyebalkan.
"Ya sudah, aku pesenin makanan ya. Mbak gak boleh kelaparan nanti aku dimarah bapak." Dira mengangguk.
"Untuk alamat nanti aku kirim ke mbak, kode pintunya 0202."
Yudha masuk kamar setelah memesankan Dira makanan juga menyiadakan obat untuk penurun demam. Ia harus mengabaikan kehadiran Dira lain kali, situasi kali ini kesalahannya karena meninggalkan Dira begitu saja dengan kondisi wanita itu tidak mengetahui apapun tentang apartemennya.
Sebelum menutup pintu kamar, ia memperhatikan Dira sebentar. Wanita dengan rambut diikat asal itu termenung menantap jendela yang memperlihatkan suasana malam kota jakarta, pandangan matanya kosong seperti hanya raganya yang terdiam namun pikirannya menghilang entah kemana menyentuh sedikit rasa iba Yudha. Sepertinya bukan ia saja yang susah atas pernikahan mereka, Dira pula merasakan yang sama.
Mengungkapkan isi hati dan kepala terasa percuma, akhirnya dihakimi dan dipaksa untuk sadar diri—Barrata
Menghakimi tanpa tau apa yang terjadi, dasar manusia—anonym
Semoga Tuhan selalu memberikan kekuatan untuk orang-orang yang berjuang mengikhlaskan—Indira