PERFECT STRANGERS

PERFECT STRANGERS
V



...Satu hal yang paling tidak masuk akal dalam pertemanan. Adanya rasa cemburu....


Iya, memang benar adanya. Yudha menyesap rokoknya sambil memandangi wajah Noah yang berantakan. Terjebak pertemanan namun punya perasaan yang tak bisa diungkapkan memang menyakitkan. Ah, menyedihkan.


"Lo sebenarnya kenapa deh? Katanya sudah ikhlas.." Yudha lama-kelamaan jengah juga, pasalnya ia sudah menyia-nyiakan waktu berharganya hanya untuk menatapi sahabatnya yang sudah berjam-jam hilang kesadaran karena minuman keras.


"Merelakan sih iya, tapi kangen itu kan diluar kendali.." racaunya, tak henti sambil menatap foto dengan bingkai sederhana warna cokelat ditangannya. Itu satu-satunya foto berdua dengan teman perempuan yang ia sukai selama bertahun-tahun namun perasaannya harus kandas sebelum isi hatinya terucap.


Noah masih setengah sadar, buktinya ia masih merasakan sakit di dada ketika Zea—teman dekatnya bilang sudah menemukan tambatan hati.


Kembali memberi jarak, kembali menjadi orang asing melupakan kebersamaan serta rasa nyaman yang singgah. Kata-kata itu terngiang terus menerus dikepalanya.


Masih terekam jelas di dalam ingatannya, perempuan cantik itu tersenyum sangat manis. Matanya berbinar dengan bahagia memeluknya sambil berkata bahwa ia sudah menerima seorang pria menjadi kekasihnya dan ia yakin dengan pria kali ini. Noah memeluknya erat, sangat erat namun ia tidak turut berbahagia melainkan menangisi dirinya sendiri karena sangat pengecut.


"Sial." Yudha menggerutu.


"Kenapa?"


"Angga nggak angkat telepon gue, sok sibuk banget."


"Dia kan kerja, nyet."


"Tapi gue kan bosnya."


"Iya, dia babu lo makanya dia yang sibuk lo yang santai ...." Meski Noah sudah menghabiskan satu botol penuh alkohol, ia masih bisa sarkas. Hebat.


"Iya, nyet." Meski kesal perkataan Noah—yang sedang mabuk itu benar.


"Yudh.." panggil Noah, hanya sahutan malas yang ia dengar.


"Selain people come and go, duit juga ya?"


"Kenapa lagi lo?"


"Kok ada notif bank kalau duit gue tinggal sedikit lagi. Kenapa ya?" Ia menyodorkan ponselnya pada Yudha di menit kemudian pelipisnya terasa nyeri namun masih beruntung karena tidak berdarah.


"Anjing!" Serunya kembali setengah sadar.


"Ngapain lo transfer Gue 200 juta? Pesannya buat BO lagi njing! Lo mau gue di coret kartu keluarga?!" Kekesalan Yudha meluap seketika mengetahui tingkah laku aneh sahabatnya. Ia tidak membutuhkan dana apalagi pesan yang tertulis nyentrik dengan kegiatan kotor. Ia secepat kilat mengembalikan dana jahanam ke rekening Noah. Tak sudi.


"Loh? Iya kah? Hehe .. sorry ya kebiasaan." Noah tidak lagi emosi meski pelipisnya terasa sangat nyeri, ia malah merasa terhibur.


"Yudh.." racaunya lagi. Kali ini Yudha sudah membopongnya ke kamar tidur, Yudha benar-benar ingin pulang.


"Macem-macem lagi tingkah lo, gue cubit ginjal lo biar gagal ginjal ya njing."


"Gue sebenarnya nggak benci Zea, gue cuma nggak nyaman dengan situasi sekarang yang berbeda."


"Gue tau gue bakal kehilangan Zea kalau gue nggak kasih tau dia perasaan gue, tapi saat gue lihat Zea sangat bahagia sama cowok itu gue sadar diri. Zea nggak sebahagia itu saat sama gue." Akhirnya Noah hilang kesadaran.


"Padahal nggak ada salahnya buat lo bilang perasaan lo, No. Its okay to say i love you sama Zea ...." ucap Yudha pelan, beranjak meninggalkan Noah yang tertidur dikamarnya.


Yudha mengambil sebatang rokok, mulai menghidupkan pemantik api lalu membakar ujung rokoknya. Asapnya seakan menenangkan, Yudha tahu merokok membuatnya terserang penyakit namun untuk saat ini tidak ada yang bisa menenangkannya lebih baik dari gulungan panjang mungil yang tersemat diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.


Telah terjadi kecelakaan, dua hati bertemu dari arah berlawanan lalu bertabrakan. Hancur tak karuan—Barrata


Kita hanya dekat tapi tak terikat. Kita hanya saling sayang tanpa ada yang mulai duluan—Noah


...🦋 🦋 🦋...


Dira baru saja pulang dari rumah sakit menjenguk Oscar seharian, Dira tersenyum lebar sepanjang hari meski harus sembunyi dari bapak dan Ibu. Bekerja sama dengan suster susi ternyata mudah meski awalnya suster Susi sangat patuh atas perintah bapak namun dengan menjelaskan keadaan Dira akhirnya suster Susi membiarkan Dira mengurusi Oscar seharian dan Dira pun membiarkan suster Susi keluar seharian. Menguntungkan bagi keduanya.


Ponselnya berdering, nama suster Susi terpampang.


"Hallo sus ...."


"Mbak, kayaknya mbak harus cari suami mbak." Suster Susi berbicara pelan.


"Kenapa mbak? Oscar memangnya kemana?" Dira masih tak paham.


"Bukan, bukan mas Oscar. Mas Yudha."


"Hah? Memangnya kenapa sus?"


"Tadi mas Nando kesini marah-marah. Katanya mbak sama Mas Yudha nggak ada dirumah, untungnya mbak udah nggak di rumah sakit. Sekarang mas Nando mau kerumah teman mas Yudha, karena pasti disana mas Yudha ada dan pasti minum-minum katanya."


"Oke sus, makasih ya informasinya. Saya tutup ya teleponnya." Dira dengan cepat menghubungi Yudha namun panggilannya tak dijawab, 10 kali panggilan tak berhasil. Ia hanya tau alamat rumah Noah, alamat terdekat dari apartemen mereka.


Dengan terburu-buru Dira memasuki lift apartemen Noah, Dira yakin Yudha ada bersama Noah karena hanya rumah Noah yang selalu Yudha bicarakan ketika Dira tanya habis darimana ia jika keluar.


Pintu lift terbuka, menampilkan sosok yang Dira kenal.


"Rangga ya?"


"Iya, mbak Dira ada apa kesini ya?"


"Ah, syukurlah saya ketemu kamu. Kamu temannya Barrata kan?"


Angga mengangguk. "Kenapa ya mbak?"


"Ini gawat, mas Nando bakal marahin Barra kalau tau dia main sama kalian. Jadi saya harus ketemu Barra sekarang juga, waktu saya nggak banyak."


Angga masih belum mengerti maksud Dira, ia tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.


"Pokoknya kita ke rumah Noah."


Dira sedikit mengetahui teman dekat Yudha. Angga dan Noah yang seringkali berpapasan dengan Dira di parkiran apartemen ketika menunggu Yudha turun kebawah. Yudha juga yang memberikan alamat Noah jika ia tidak bisa dihubungi pada Dira.


Jika tidak pulang kerumah Yudha mengabari jika ia dirumah Noah. Tidak sulit mencarinya.


Lift naik secara pelan, Dira menatap kesegala arah. Dibalik pintu lift yang terbuat dari kaca ia dengan jelas bisa melihat mas Nando yang baru saja memasuki lobby apartemen, entah kenapa jantung Dira berdetak semakin cepat. Ia sungguh tidak menginginkan perselisihan antara Nando juga Yudha. Ia harus sampai secepatnya.


Angga turun dilantai 16 diikuti Dira dibelakangnya, dengan tergesa Angga membuka pintu apartemen menampilkan ruangan dengan nuansa gelap juga lampu dengan cahaya minim. Didekat jendela dengan jelas Dira melihat Yudha membelakanginya, asap rokok membuatnya batuk dan juga minuman keras ditangannya baru habis seperempat botol.


"Darimana nyet?" Yudha berbalik, ia terdiam sejenak.


"Mbak?" Sudah pasti ia terkejut karena ada Dira dihadapannya.


"Urgent katanya, Yudh." Seru Angga. Berlari masuk kekamar Noah meninggalkan Dira diambang pintu.


Keduanya masih terdiam sampai Dira dengan jelas mendengar bunyi pintu lift terbuka. Mas Nando.


Dira berlari masuk, mematikan puntung rokok yang masih menyala juga mengambil botol minuman keras dari tangan Yudha beralih ditangannya.


"Mbak ngapain?" Yudha masih tidak mengerti namun satu hal yang berada didepannya kini menambah kebingungan Yudha.


"Mas?"


"Kan .... mas sudah duga kamu disini. Sama cewek pula." Nando menyalakan lampu utama, ruangan menjadi terang dan jelas. Penampakan didepannya lebih membuat Nando terkejut.


"Dira?"


Dira tersenyum simpul. "Mas ...." Dira menyapa.


"Kamu kok disini? Mas cari kerumah nggak ada kalian."


"Saya temenin Barra main disini ...."


"Nggak salah kamu? Temannya Yudha kan laki-laki semua. Kamu perempuan sendiri, betah?"


"Nggak apa-apa kok mas, Noah sama Rangga baik sama saya. Kita juga suntuk dirumah terus dan mas juga nggak ngizinin mereka main kerumah Barra jadi kita yang main kesini. Ngobrol-ngobrol. Iya kan Barra?" Dira menatap Yudha meminta persetujuan, meski bingung Yudha mengangguk.


"Kamu nggak kerumah sakit hari ini? Mas lihat kamu tadi. Jangan bilang kamu kerumah sakit diam-diam nggak minta izin sama ibu bapak?" Nando mulai menginterogasi Dira.


'"Mas bisa tanya suster." Jawab Dira. "Lagian seharian ini saya sama Barra."


"Memang kalian dekat sampai menghabiskan waktu bersama?" Mas Nando masih tidak percaya.


"Kan kalian yang suruh kita saling mengenal supaya pernikahan pura-pura ini nggak dicurigai sama keluarga lain, kok jadi mas nggak setuju kita dekat?" Yudha menjawab Nando dengan sinis.


"Mas tau Dira gimana dan kamu gimana, makanya mas tanya."


"Mas nggak kenal kita 24 jam, jadi kalau mas bilang mas tau mengenai kita itu belum seratus persen."


"Terus Dira seharian disini selain ngobrol ngapain? Merokok dan minum-minum?" Nando menatap tajam Dira yang memegang botol vodka.


"Ah, saya cuma pengen tau aromanya aja. Makanya saya minta Barra buka dan tadi sudah diminum Noah sedikit."


"Bener kalian nggak minum-minum?"


"Mas datang kesini apa tujuannya? Buat marahin aku? Salahin aku dan bilang aku anak nakal sama ibu bapak?"


Nando terdiam.


"Kalau mas nggak ada kepetingan mas bisa pulang, istirahat. Temenin mbak Bella. Aku sama mbak Dira sudah menikah, kita juga bukan anak kecil yang mas harus awasi."


"Oke kalau memang kamu nggak mabok-mabokan lagi, kali ini mas percaya karena ada Dira."


"Ya, karena ada orang lain. Kalau nggak ada orang lain mas pasti sudah mukulin aku dan aduin aku."


"Kamu ...."


"Itu sudah jadi kebiasaan mas, mencari kesalahan aku."


"Yudha!" Bentak Nando, tak terima perkataan Yudha.


"Mas, kalian lelah jadi emosi kalian nggak stabil. Saya antar kebawah mau?" Dira menengahi percakapan Yudha dan Nando yang memanas.


"Nggak usah, saya pergi sendiri. Baik-baik ya." Nando melangkah pergi sambil menutup pintu dwngan kencang, membuat Noah keluar dari kamarnya.


"Ish, Nando anj ...." ucapan Noah terhenti.


Ia menatap Dira, ia belum sadar sepenuhnya. Dira tersenyum kikuk.


"Permisi kak .... manis banget senyumnya. Nggak kasian sama jantung saya?" Angga memukul kepalanya dari belakang.


"Sadar!!"


Kini Yudha menatap Dira, merebut botol ditangan perempuan itu.


"Mbak ngapain?"


"Tadi saya baru pulang jenguk Oscar dan dapat kabar kalau mas Nando marah-marah setelah ke apartemen kita nggak ada dan tambah marah saat melihat seseorang yang mirip saya dirumah sakit. Makanya saya buru-buru kesini biar kamu nggak kena marah." Yudha terdiam.


"Kan bukan salah mbak, kalaupun saya dimarahin sama mas Nando itu bukan hal baru."


"Kenapa harus dimarahin kalau kamu main sama teman-temanmu? Kenapa harus marah kalau saya menemui Oscar? Kenapa nggak apa-apa kalau mas Nando marah padahal harusnya nggak marah?" Cecar Dira.


"Kamu nggak salah Barra, saya juga nggak salah. Teman-teman kamu nggak salah sama mas Nando, jadi kenapa harus terima kalau kena marah?"


"Mulai sekarang jangan biarin mas Nando marah-marah untuk hal yang nggak seharusnya diributkan. Kita harus melawan sebisa mungkin."


Yudha terdiam.


"Kalau gitu saya pulang ya." Dira pamit, melangkah menuju pintu namun dengan cepat Yudha mengejarnya.


"Bareng aku saja mbak."


"Nggak usah, saya bisa pulang sendiri."


"Aku memang mau pulang kok, jadi sekalian kita bareng." Dira mengangguk tanda setuju.


"Gue pamit!" Seru Yudha tanpa memandang kedua sahabatnya yang masih terdiam tanpa kata-kata.


"Anjir, cantik juga ya mbak Dira." Noah lagi-lagi mendapat pukulan dibagian kepala belakang.


"Masih teler saja lo!"


"Hehe ...." Noah hanya tertawa tanpa sebab.


"Gila, baru kali ini gue ketemu cewek yang berani belain kita dari mas Nando." Ucap Angga masih memandangi pintu yang terbuka.