
...Jadi kuatlah sekarang, semua akan baik-baik saja....
From: Ibu
Yudh, mbak mu hari ini ada jadwal USG tolong temani ya. Ibu lagi urusi mbak Bella.
Yudha menarik nafas, ia bahkan belum tidur sampai pagi karena banyak laporan yang harus ia periksa. Baru saja ia akan membalas pesan ibu untuk menolak, Dira sudah keluar dari kamar memakai dress kuning pucat dengan motif bunga-bunga. Outfit yang baru pertama kali Yudha lihat.
"Saya pergi dulu ya, saya belum sempat bikin sarapan kamu bisa pesan online. Bahan makanan juga sudah habis, jadi nanti pulangnya saya ke supermarket belanja kebutuhan rumah." Dira melenggang begitu saja, tak menunggu Yudha berbicara sepatah katapun.
"Mbak, tunggu!" Teriak Yudha, bergegas ia memakai jaket lalu menyambar kunci mobilnya. Menutup laptopnya keras, mengambil langkah secepat mungkin.
Di ujung lorong ia melihat Dira berbincang dengan seorang wanita juga anak kecil disampingnya, Yudha mencoba mengingat sambil mendekat.
Ah, anak kecil penculikan.
"Mbak ...." Yudha mengambil posisi disamping Dira, tersenyum ramah.
"Barra, ini bu Nanda ibunya Anya." Wanita dengan rambut lurus pendek sebahu itu menjabat lengan Yudha, senyumnya teduh namun terlihat jelas bahwa ia lelah.
"Mas, terimakasih juga ya sudah menyelamatkan Anya. Saya nggak tau bagaimana kalau Anya benar-benar diculik dan hilang menjauh dari saya."
"Nggak kok bu, Anya anak pintar dan berani. Anya dengan cepat minta tolong saat dalam bahaya, cerdas." Dira tersenyum, mengelus pipi Anya yang terlihat tembam. Menggemaskan.
"Saya pamit duluan ya .. Lain kali kita mengobrol lebih lama ya mbak, saya ada urusan pagi ini."
Dira mengangguk, memperhatikan ibu dan anak itu masuk ke lift lantai atas sedangkan Dira menunggu lift untuk turun.
"Kok kamu kesini? Ada yang mau dititip?" Dira baru menyadari Yudha masih setia disampingnya.
"Aku temani mbak USG hari ini." Kening Dira mengerut.
"Ibu yang suruh ya?" Yudha mengangguk pelan.
Suara lift berhenti mengalihkan keduanya, lantai basement tujuan mereka. Keduanya terdiam, keheningan yang memang seharusnya terjadi.
"Bulan ini berarti berapa bulan mbak?"
"Ini minggu kedua setelah 3 bulan, harusnya minggu kemarin tapi jadwal saya mengajar full." Yudha mengangguk, ia memperhatikan perut Dira yang belum membesar.
"Mbak pagi ini nggak mual?" Tanyanya.
Dira menatapnya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak separah sebelumnya, buah-buahan yang kamu beli benar-benar bagus untuk ibu hamil. Terimakasih ya, Barra."
Ah, menggemaskan.
Yudha menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia harus segera sadar akan apa yang baru saja diucapkan pikirannya.
"Kenapa?" Dira menatapnya penasaran.
Yudha tersenyum kaku, ia menggaruk kepala belakangnya yang tak terasa gatal. "Ah, enggak. Bukan apa-apa kok mbak."
Pintu lift terbuka, Dira berjalan lebih dulu dibelakangnya Yudha masih memperhatikan Dira.
"Kerjaan kamu lancar?" Pertanyaan Dira yang tiba-tiba sedikit mengejutkan Yudha, ia terhenti beberapa detik saat memakai sabuk pengaman.
"Lancar mbak."
"Syukurlah ...."
"Ibu nggak tau kamu punya bisnis ya, Barra?" Yudha terdiam.
"Jadi ibu berpikir kamu itu pengangguran." lanjut Dira.
"Nggak ada yang salah, aku memang pengangguran."
Dira menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak Barra, kamu itu pebisnis."
Yudha menoleh sesaat. "Mbak tau?"
"Barra, kita serumah selama kurang lebih dua bulan. Hal yang wajar saya tau sedikit tentang kamu yang suka bahas bisnis sama Angga, saya sedikit mengerti kok. Makanya saya aneh, kenapa kamu bilang kepada keluarga bahwa kamu pengangguran yang nggak ada pemasukan?"
"Oke, saya tutup mulut." Yudha terkekeh.
"Kenapa?"
"Memangnya kalau mbak bilang, itu bakal jadi bencana besar ya?"
"Loh? Nanti kamu nggak kebagian warisan karena kamu sudah kaya, terus nanti anak saya bakal repotin kamu buat dibeliin terus mainan karena omnya banyak uang. Nggak takut kamu?"
"Aku nggak keberatan sebenarnya." Dira tersenyum, Yudha bisa melihatnya dengan ujung matanya.
"Mbak ...."
"Kenapa?"
"Aku hari ini belum tidur."
"Kamu mau gantian? Saya bisa kok supirin, cuma nanti parkir saya bangunin ya. Saya nggak bisa." Yudha menggeleng, ia tertawa kecil.
"Bukan, maksud aku kita banyak ngobrol ya. Biar aku nggak ngantuk."
"Barra, padahal kamu nggak usah antar saya. Saya jadi nggak enak."
"Memangnya mbak mau dikira janda kalau USG nggak sama suami?"
"Barra ...."
"Ya?"
"Sanksi sosial itu lebih menakutkan dibanding kebenaran, pada dasarnya nggak semua orang bisa menerima sanksi sosial. Jika ada, mereka benar-benar hebat dan saya, terlalu lemah sehingga saya harus menutupi kenyataan."
"Mbak ...."
"Padahal bisa saja saya menunggu Oscar bangun tanpa harus berpura-pura menikah dengan kamu, nggak apa-apa sedikit terlambat yang penting nggak ada yang dirugikan oleh saya ...."
"Makanya sekali lagi saya mau bilang terimakasih ya, maaf juga karena saya hidup kamu nggak seperti dulu."
Yudha tersenyum kecil. "Mbak, aku nggak apa-apa. Awalnya memang terasa berat dan aneh, situasi yang serba mendadak bikin aku kebingungan dan marah tapi pelan-pelan aku bisa terima semuanya. Mungkin hal ini yang bisa buat aku berbakti sama mas Oscar ...."
"Lagipula sedari awal hidupku nggak menyenangkan, jadi mbak nggak usah merasa nggak enak lagi." Diakhir kalimatnya ia tersenyum menatap Dira, meyakinkan bahwa Dira tidak sepenuhnya bersalah akan jalan hidup Yudha yang berubah juga ia yang mulai terbiasa dengan status barunya.
Dira memandangi layar ponselnya, wallpaper yang menampilkan ia dan Oscar yang sedang tersenyum bahagia di hari jadi mereka yang ke dua tahun.
Yudha menyadari apa yang membuat Dira terdiam lama. Perempuan disampingnya pasti sangat merindukan kakak laki-lakinya yang masih terbaring tak sadarkan diri diranjang rumah sakit.
"Nanti setelah check up, kita bisa kunjungi mas Oscar. Mbak pasti kangen kan?"
"Barra ...."
"Ya?"
"Kamu nggak akan tau sakitnya membenci dan merindu dalam satu waktu. Saya membencinya karena membiarkan saya melewati semua ini sendirian, tapi saya sangat merindukannya dan saya tau sekarang dia sedang berjuang sendirian."
"Mbak .... if you need me, im here. Sounds like simple but means a lot."
"jangan galau ya mbak, biar makan terus. Soalnya kalau galau kan suka nggak nafsu makan, ibu hamil itu harus banyak makan buat adik bayi juga."
"nggak nafsu makan bagi tubuh saya itu hanyalah mitos, saya kalau lagi galau malah tambah banyak makannya."
"wah jadi bingung, jadi mbak bagusnya galau saja ya?" Yudha terkekeh, berusaha mencairkan suasana yang kelam beberapa saat lalu.
Dira tersenyum kecil, mengerti bahwa Yudha berusaha menghiburnya. Ia merasa Yudha mau menemaninya menunggu Oscar sadar.
Mereka berdua berada disatu jalan yang sama, dengan harapan yang sama pula.
Jangan takut aku hilang. Jangan hilang, aku takut—Indira
Kesenangan memang nggak bisa terjadi setiap hari, tapi selalu ada cara untuk baik sama diri sendiri—Barrata