PERFECT STRANGERS

PERFECT STRANGERS
XIII



...Banyak orang memaksa kita untuk bisa, tapi sedikit yang memastikan bahwa kita baik-baik saja....


"Gimana Yudh, lo jadi ketemu Juliet kan? Gua sudah atur jadwal kalian ketemu." Noah bersemangat ketika pertama kali Yudha membukakan pintu apartemennya, ia bahkan tak mengucapkan salam dan tak menghiraukan Angga yang sudah menampilkan ekspresi sebal dibelakangnya.


Yudha menendang tulang keringnya, menciptakan kegaduhan kecil dimana Noah meraung kesakitan namun berhenti dalam sekejap ketika ia melihat Dira sedang duduk dimeja makan mengetahui kedatangan dua sahabat Yudha di senin pagi yang cerah.


Noah menutup mulutnya terkejut juga menahan rasa perih karena Angga mencubit kecil perutnya.


"Mbak ...." sapa Angga meninggalkan Noah didepan pintu, suasana sedikit kaku. Mereka pikir Dira tak ada di apartemen karena biasanya senin pagi wanita berusia 29 tahun itu selalu ke sekolah mengikuti upacara senin pagi secara rutin.


"Mbak nggak kerja?" Lagi-lagi Noah berhasil membuat Yudha pusing, pertanyaannya terasa tidak tepat.


"Lagi libur, tadi subuh saya ngerasa nggak enak perut makanya izin nggak masuk kerja. Kenapa?" Ditanya balik seperti itu membuat Noah kebingungan.


"Nggak apa-apa mbak, basa-basi hehe ...." Noah cengengesan.


"Kenapa pada nggak kasih kabar kalau mau kesini?" Bisik Yudha pada Angga disebelahnya.


"Kita pikir nggak ada mbak lu!" Seru Angga tak kalah pelan namun ada penekanan diakhir kalimatnya.


"Nggak apa-apa, saya bisa keluar kalau kalian nggak nyaman." Dira bersiap berdiri dari duduknya namun Yudha mencegahnya.


"Nggak kok mbak, nggak usah keluar. Lagian mau kemana? Kita cuma ngobrol-ngobrol sebentar habis itu keluar kok, iya kan?" Yudha memberikan kode dengan sangat jelas namun yang cepat tanggap hanya Angga, Noah masih memproses perkataan Yudha.


Dira mengangguk, ia terlihat tak terlalu peduli. Matanya sibuk pada ponselnya, tak menghiraukan keberadaan tiga sekawan di dekatnya.


"Juliet minta nomor lo, gua kasih ya?" Noah melanjutkan perbincangan jasa biro jodohnya.


"Jangan dulu, kalau gua nggak suka gimana?" Yudha tak terlalu suka dengan Noah yang terlalu terburu-buru, jikapun ia merasa cocok nantinya Yudha ingin semua berjalan pelan namun pasti mengikuti kata hatinya tidak ada dorongan dari siapapun.


"Tapi gua bingung, mau kenalin Juliet sama lo atau Angga." Mendengar namanya disebut Angga mengernyitkan dahinya bingung.


"Kenapa gua?"


"Lo butuh partner buat nikahan Vanny minggu depan kan?"


"Iya, terus?"


"Ya masa lo ke nikahan Vanny datang sendiri? Lo mau dibilang belum move on? Mau kelihatan terpuruk sendirian? Mau lo terlihat sangat jelas menyedihkan? First love lo nikah sama cowok lain, brooo!" Seru Noah menggebu-gebu.


"Kenyataannya gua memang masih belum move on, gua nggak peduli pandangan orang lain juga. Jadi apa masalahnya?" Tanggapan Angga sangat santai, berbeda dengan Noah yang berapi-api.


"Nggak bisa gitu dong, Ngga. Lo harus menggandeng seseorang ke undangan Vanny biar dia bisa lihat kalau lo bisa bersama dengan orang lain dan bukan dia satu-satunya wanita dihati lo."


"Gua nggak perlu, thanks." Tolak Angga.


"Gila memang." Noah patah semangat.


"Lo yang gila sih kata gua." Yudha menyahut, mulai mengunyah permen karet dimulutnya.


"Ya sudah kalau gitu Juliet gua deketin sama Yudha, fiks no debat ya ...."


"Iya kan memang awalnya lo kenalin dia buat Yudha bukan buat gua, jadi nggak ada masalah."


"Masalahnya gua juga nggak terlalu tertarik sih." Yudha menimpali.


"Heran gua kalian tuh nanti mau move onnya jalur apa kalau bukan sama cewek? Mau sama pisang lagi memangnya?" Keluh Noah.


"Kamu kerjanya biro jodoh?" Tanya Dira, kini semua mata tertuju pada Dira yang sedang mengupas apel. Dira menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian ketiga laki-laki diruangan ini namun ia tak peduli.


"Obrolan kalian masih bisa saya dengar." Jawab Dira santai.


"Mbak, nggak apa-apa kan?" Yudha melotot tak percaya, ia ingin sekali menyumpal mulut Noah agar tak banyak bicara namun Angga masih menengahi keduanya.


"Kalau Barra punya pacar? Bagus dong, jadi dia punya teman hatinya dan itu artinya dia sudah lepas dari cerita masa lalu." Noah tersenyum, mengusap dadanya terlihat lega.


"Kamu butuh partner nikahan ya, Ngga? Sama Yuri saja. Dia weekend ini free, jadi kalian bisa kesana. Saya kabarin Yuri hari ini supaya kalian bisa ke undangan first love kamu itu ya?" Dira tersenyum kepada Angga membuat laki-laki berusia 27 tahun itu kebingungan dan hanya terdiam menatap Dira juga Yudha secara bergantian.


"Mmm .... nggak usah mbak, biar aku sendiri–"


"Eh, nggak apa-apa. Yuri juga nggak ada jadwal apa-apa, dia ngeluh sama saya nggak ada kegiatan jadi biar nggak jenuh saya tawarin buat jalan sama kamu weekend ini ya ...." Angga merasa banyak paksaan dari Dira namun ia tak bisa membantahnya.


"Nggak usah mbak, aku–"


"Saya keluar dulu ya, mau ke supermarket beli cemilan lain. Kalian disini saja." Dira beranjak dari duduknya, meninggalkan ketiganya yang masih terdiam dalam kebingungan.


"Maksudnya apa sih, Yudh?"


"Maksudnya lo bakal dideketin sama mbak Yuri, temennya mbak Dira yang waktu itu main ke apartemen gue." Jelas Yudha.


"Yang mana?" Tanya Noah penasaran.


"Yang kacamata tebal."


"Yang lipstiknya merah menyala itu?" Noah mulai mengingat. Yudha mengangguk, disampingnya Angga memejamkan mata. Menyesal kenapa tak membantah perkataan Dira.


Seketika Noah tertawa kencang. "Kalau gitu mending Juliet!" Katanya.


Angga melempar kotak tisu tepat kearah wajah Noah, sayangnya meleset.


"Bisa nggak kalau gua nolak, Yudh?" Kini ekspresi Angga memelas, berharap Yudha membantunya bicara pada Dira membatalkan jadwalnya bersama Yuri.


"Nanti gua bicara lagi sama mbak Dira." Angga tersenyum lebar, ia merasa lega sesaat sebelumnya terasa sesak.


"Tapi mbak Dira nggak melarang lo pacaran meskipun lo suaminya, respect gua. Mbak Dira tau harus bagaimana dan nggak egois, iya nggak?" Noah kini mulai memindahkan chanel televisi menjadi berita olahraga.


"Kan sudah gua bilang, gua sama mbak Dira itu sama-sama tau batasan. Kita nggak akan melebihi batasan yang ada."


"Kita nggak pernah tau kedepannya." Celetuk Noah, tanpa memandang Yudha.


Yudha mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya yang tergeletak dimeja, ia lalu berjalan membuka jendela sebesar mungkin lalu mulai menyalakan pemantiknya. Ia menghisap dalam-dalam sampai kepulan asap memenuhi ruangan.


"Lah, gua kira lo lagi nggak mood ngerokok." Angga menatapnya.


"Gua nggak boleh merokok dekat mbak Dira, nanti keponakan gua kenapa-kenapa." Jelas Yudha. Ia memperhatikan jalanan dibawahnya, ia bisa melihat dengan mata telanjang wanita yang kini sedang berjalan santai lalu memilih duduk dikursi taman dengan es krim ditangannya. Yudha tahu pasti es krim cokelat itu adalah favorite Dira yang selalu tersimpan rapi di pendingin apartemennya.


Cukup lama mereka hidup bersama, banyak hal yang perlahan Yudha ketahui tentang Dira. Perempuan itu meski terlihat dingin dan tak peduli tapi sangat pengertian meski tak menunjukkannya secara terang-terangan namun Yudha bisa merasakannya.


Satu hal yang tak pernah Yudha pikirkan sebelumnya, mengenal Dira membuatnya mengerti kenapa Oscar memilih perempuan yang luarnya terasa sangat dingin itu.


Akan tiba waktunya engkau tak lagi kusukai—Rangga


Sebenarnya dari kisah kita tak ada yang salah soal perasaan, hanya saja aku yang jatuh cinta sendirian—Noah


Jangan lupa, aku bisa meninggalkanmu kapan saja—Barrata


Perasaan saya jadi serumit ini secara tiba-tiba, sepertinya akan menyenangkan jika kamu ada—Indira