
...Kadang kita merasa bertemu orang yang tepat diwaktu yang tepat tapi belum tentu tepat menurut dia....
"Dasar kurang ajar!" Dira terperangah saat suara dari sambungan telepon terdengar sangat jelas, ibu bahkan menjauhkan ponselnya sebentar sebelum melanjutkan perbincangannya dengan seseorang yang emosi diseberang sana.
"Yasudah tunggu sebentar ya, Bapak sama Dira kesana. Ibu disini jagain adikmu. Ingat jangan ada kekerasan, walau begitu dia tetap adikmu." Tanpa ada jawaban sambungan pun terputus sebelah pihak, Dira menatap ibu bertanya-tanya.
"Mas Nando kesal karena tingkah Yudha yang bawa teman-temannya ke rumah, kalian sepertinya harus kesana." Ibu menjelaskan secara singkat.
"Dira ikut bu?" Dira kebingungan.
"Iya, sepertinya mas Nando juga setuju dengan apa yang kami pikirkan. Jadi kamu ikut saja ya.." ibu mengelus kepala Dira lembut membuat Dira tak bisa mengatakan tidak.
Diujung pintu pria paruhbaya yang ia panggil bapak sudah menunggu, ekspresi mukanya datar tapi tidak menyeramkan. Dengan berat hati Dira beranjak dari tempatnya, mengikuti bapak setelah berpamitan dengan ibu.
...🦋 🦋 🦋...
Perjalanan yang hening. Bapak menunjukkan alamat yang tidak Dira ketahui kepada supir taxi yang mengantar mereka, bapak tidak berbicara sedikitpun begitu pula Dira yang masih merasa segan jika memulai percakapan bersama bapak. Ia lebih suka keheningan yang memang tercipta begitu saja daripada percakapan yang ia paksakan.
Taxi mereka berhenti disebuah bangunan apartemen dengan halaman depan yang luas, Dira mendongak memperhatikan seberapa tinggi bangunan didepannya namun tak lama, sinar matahari menyuruhnya menunduk kembali.
"Ayo." Bapak mengembalikan kesadarannya, ia mengekor lagi pada Bapak yang sudah menuntunnya sejauh ini.
Suara dentingan Lift pertanda mereka berhenti di lantai 14, Dira berjalan pelan meski bapak berjalan tergesa-gesa. Dira memperhatikan dengan teliti nomor kamar yang ada, ia hanya suka melihat-lihat.
Bapak membuka pintu apartemen dengan kode yang Dira tak ketahui, Dira mengintip dibalik punggung bapak. Disana ia baru tahu bahwa kamar dengan nomor 1415 adalah kamar Yudha dan ia melihat jelas Mas Nando dengan muka merahnya terdiam memelototi Yudha yang menunduk dalam, bahkan Yudha tak melihat bapak yang baru saja tiba.
Dira perlahan masuk, ia lagi-lagi memperhatikan keadaan sekelilingnya. Kamar dengan warna identik abu-abu itu terlihat berantakan, bau alkohol yang berasal dari botol-botol minuman keras yang tergeletak berantakan. Ah, seperti kandang lebih tepatnya.
Dira memperhatikan Yudha yang terus menunduk. Pria itu 80% mempunyai kemiripan dengan Oscar. Tegap tubuhnya, tingginya juga hidungnya. Bagi Dira yang mengenal Oscar cukup baik, mudah membedakan mana Oscar dan Yudha namun bagi orang yang jarang berjumpa dengan Oscar bisa berpikir bahwa Yudha adalah orang yang sama. Perbedaan yang cukup mencolok bagi Dira, rambut Yudha memiliki potongan yang berantakan tidak rapi seperti Oscar. Kulitnya lebih cokelat dibanding Oscar yang kuning langsat, juga style pakaiannya lebih santai dengan kaos juga celana pendek berbalik dengan Oscar yang kebiasaannya memakai kemeja atau baju lengan panjang juga celana bahan yang terlihat selalu formal dan siap untuk segala acara.
Fokus Dira kembali pada bapak yang meminta semuanya duduk disofa kecuali Yudha yang berdiri disamping mas Nando, hukuman katanya.
"Sepertinya kalian memang harus saling ada satu sama lain." Bapak memulai pembicaraan yang sebenarnya Dira tidak mengerti.
"Bapak sama ibu sudah menyewa perawat yang akan mengurus Oscar sehari-hari, jika Dira mau mengunjungi Oscar bapak masih mempersilahkan namun jangan sampai memunculkan kecurigaan dari keluarga. Tante Lyla beberapa hari kemarin sudah mulai bertanya-tanya hubungan Oscar-Dira juga Yudha, jika Dira menunjukkan secara terang-terangan itu akan berbahaya juga. Kita akan ketahuan dan pernikahan kalian akan berdampak buruk bagi keluarga."
"Tapi pak.." Dira mencoba membuka suara.
"Tolong kamu mengerti ya, kami cuma mau yang terbaik untuk kamu dan Oscar. Kita sudah cukup mengalami masalah karena Oscar kecelakaan dan Bapak berharap kamu menurut." Dira melihat mas Nando menganggukan kepala tanda setuju.
"Bapak cuma minta supaya kamu sekarang fokus pada kesehatan kamu juga bayi yang kamu kandung, Oscar akan kami urus dengan baik. Bapak titip Yudha saat kami fokus pada Oscar." Dira terdiam, hatinya berteriak pikirannya memberontak namun logikanya masih sehat. Ia terdiam dengan segala rasa yang berkecamuk didada.
Ia dibungkam.
Bagaimana bisa ia dijauhkan begitu saja dari ayah anak kandungnya? Bagaimana bisa ia dipisahkan dari orang yang ia sayangi? Bagaimana bisa ia harus berjarak padahal ia harus tetap berada disamping prianya? Semua pertanyaan itu terngiang-ngiang dengan sendirinya, menakuti Dira yang memegangi perutnya erat. Rasanya ia benar-benar takut, dunia begitu kejam padanya. Dunia begitu kejam memisahkan bayi mungil diperutnya dari ayahnya. Dunia kejam yang memaksanya hidup sendirian dengan banyak masalah yang menghampiri.
"Baju dan semua keperluan kamu akan kami kirimkan kesini, jaga diri baik-baik dan kabari kalau mau mengunjungi Oscar." Bapak berdiri, menatap Dira namun Bapak tahu jika saat ini Dira tidak menyukainya lalu dengan berat hati tanpa berpamitan Bapak diikuti mas Nando melenggang pergi begitu saja meninggalkan keheningan dingin yang menusuk bagi Dira. Terlebih diruangan itu ia tidak sendiri, ada Yudha yang masih setia pada posisinya. Jujur, Yudha pun tak mengerti situasi yang sedang terjadi.
Satu bulan mereka menikah, Yudha tidak pernah tinggal bersama Dira. Mereka hanya bertemu dirumah sakit, basa-basi membahas kondisi Oscar lalu menjalankan peran suami-istri didepan keluarga. Mereka dinikahkan, secara paksa.
Kini Dira kebingungan, ia memandang Yudha yang menatap punggung bapak dengan mata merah. Dira mengerti jika Yudha marah dan juga kesal namun Dira juga tak bisa melakukan apa-apa. Membantah orang tua Oscar alias mertuanya bukan perbuatan terpuji.
"Barra ...." pertama kalinya Dira menyebut nama Yudha setelah menikah, rasanya kaku.
"Saya nggak bisa sama kamu disini, saya harus temani Oscar ...." suaranya sangat pelan, bulir airmata mulai berkumpul dipelupuk matanya. Tak ada yang lebih sakit dari hari ini.
Dira tak tahu kenapa Tuhan sangat membencinya, membuat alur hidup yang menyakitkan. Ia tak ingin menikah dengan Yudha apalagi tinggal bersama pria yang sudah ia anggap adik ipar, ia harusnya menikah dengan Oscar untuk menunggu kelahiran bayi mereka. Harusnya setiap malam Oscar memeluknya hangat, mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan mereka akan selalu bahagia.
Harusnya Tuhan menuliskan cerita hidup Dira dengan kebahagiaan yang sederhana seperti harapannya. Apa hidup yang ia inginkan terlalu berlebihan bagi Tuhan?
Untuk sekarang cobalah bertahan, semesta terlalu sibuk untuk mendengar keluhanmu—Anonym
Ingin menjadi kupu-kupu tapi tak ingin memulai sebagai ulat—Indira
Tak mengatakan bukan berarti tak merasakan—Barrata