
[Hae Soo P. O. V]
Tik... tok... tik... tok...
Detak jarum jam menggema di dalam kepalaku. Keheningan yang cukup panjang ini berhasil memaku tubuh agar tak beranjak dari tempatnya.
Di luar, tampak cahaya jingga kehitaman menghiasi langit pertanda malam akan tiba. Sementara di hadapanku, telah duduk sesosok lelaki yang menjadi alasan aku tak bisa pergi dari sana.
Aku tetap mempertahankan postur tubuh tegap anggun sempurna sambil menggerutu sekaligus menguatkan diri. "Ingat Hae Soo, ini tidak sesulit perjamuan teh kaisar di kehidupanmu dulu. "
Lelaki itu bernama Seolwa, ia duduk didepanku sambil terus memperhatikan. Sesekali ia tersenyum licik. Entah sudah berapa lama kami berdua saling terpaku dalam diam. Diruang kelas yang padahal sepi tiada siapapun.
"Seol...., uhmm.. memangnya harus aku jadi pacarmu? " Tanyaku takut.
Seol memainkan jari jemarinya di atas meja tanpa berkomentar apapun.
"Ugh, aku menyesal mengikuti permintaan lelaki ini tadi...." Gerutuku.
Sebelumnya
[Author P. O. V]
Bel pulang telah berbunyi. Tanpa basa-basi guru yang mengajar langsung mengakhiri dan keluar dari kelas. Semua murid, tak terkecuali Hae Soo buru-buru merapikan tas dan buku.
Saat gadis itu hendak bangkit, Seol mencengkram kuat tangannya. Dengan tatapan tajam, lelaki itu angkat bicara.
"Kita selesaikan masalah rebecca saat ini juga. "
Mendengar kata-kata itu, Hae Soo menghela nafas panjang. Kemudian ia menatap Yuna dan Re mi yang telah menunggu di pintu keluar.
Gadis itu memberi kode kepada dua temannya untuk pergi duluan. Tetapi Re mi berkeras untuk menunggunya. Dengan tatapan mantap, Hae Soo berusaha meyakinkan Re mi kalau masalah ini pasti bisa berakhir dengan mudah.
****
Tapi tidak semudah yang difikirkan gadis itu. Ia malah terjebak selama 2 jam bersama Seol tanpa ada jalan keluar.
"Pacaran itu mudah. Kenapa kamu tidak bilang yes, i do! Aku sudah menunggumu selama 2 jam untuk mengatakannya." Tiba-tiba Seol bangkit dan duduk di atas meja sambil menoleh ke arah Hae Soo.
"Anu..., bukan aku tidak mau jawab. Tapi Pacar itu...., apa? " Hae Soo mulai angkat bicara kembali.
Seol terdiam, perlahan ia mendekatkan wajahnya dan berbisik pada Hae Soo. "Pacar itu, orang spesial yang menghabiskan waktu bersama, melakukan banyak hal berdua, dan saling mencintai."
Hup!
Sebelum melanjutkan kata-kata nya, Seol berdiri sembari menyibak rambut badainya.
"Tapi kita tidak saling mencintai, yah... anggap saja ini seperti profesi sampingan. Kita akan berperan jadi sepasang kekasih saat aku membutuhkannya. " Ungkap Seol.
[Hae Soo P. O. V]
Satu kata yang dapat kuserap sejauh ini dari Seol adalah "kekasih". Dari sana aku bisa tahu yang di maksud " pacaran" itu sama hal nya seperti "hubungan cinta". Sepertinya Aku harus banyak membaca kosa kata baru yang ada di dunia ini agar tidak menyulitkanku dalam mengambil keputusan.
Aku terlalu takut untuk menjawab permintaan Seol karena aku tidak tahu apa itu artinya pacar dan pacaran. Kukira kedua kata itu erat kaitannya dengan budak atau perbudakan.
Ternyata....., hubungan cinta?
Cinta Pura-pura?
Apa yang difikirkan lelaki ini.
"Tunggu, kenapa kita harus pacaran? maksudku membuat hubungan palsu?" Tanyaku.
"Sebenarnya rebecca itu tidak terlalu penting dari pada alasanku pulang ke Korea. Aku berusaha untuk mencari cara supaya alasan itu gagal dan aku bisa hidup dengan tenang. " Terang Seol.
"Tapi kebetulan kau menghancurkan rebecca dan aku kesal, kenapa aku tidak memanfaatkanmu saja? Mari kita bermain. Saat aku berhasil menghancurkan tujuan kepulanganku ke tempat ini, aku akan menganggap utangmu lunas. "
Seol memberikan tangannya padaku. Ini adalah pemandangan yang aneh. Sewaktu aku tinggal di lingkungan bangsawan ataupun istana, tidak pernah seorangpun mengulurkan tangannya.
"Deal? " tanya Seol.
"Memangnya alasan kamu pulang ke Korea apa?" Tanyaku.
"Nanti kau bakal tau. Intinya kita saling setuju aja deh." Seol menarik tanganku.
Woahhh, apa ini, wajahku memanas. Kaisar saja tidak pernah menyentuh telapak tanganku.
"Hei hei hei... kau belum pernah berjabat tangan dengan lelaki ya? " Goda Seol.
Aku segera menarik tanganku, dan mendengus kesal.
"Jadi yang tadi itu namanya jabat tangan? " Pikirku.
"Oke, aku pacarmu sekarang."
Seol kemudian mengambil tasnya dan pergi meninggalkanku.
***
Aku berjalan gontai, ternyata Re mi dan Yuna tetap setia menungguku di gerbang sekolah. Padahal hari sudah hampir malam. Aku malah kesal dengan Seol yang langsung pergi meninggalkanku sendiri, padahal kita kan sudah "pacaran", maksudku yah setidaknya dia ada sedikit niat untuk mengantarkanku pulang.
"Hae Soo! " Pekik Yuna.
Aku segera menghampiri mereka sambil tersenyum. Re mi sedikit risih dengan senyumanku, tentunya aku sudah bisa menebak jalan pikiran gadis itu.
"Gimana tadi sama seol? " Tanya Re mi. "Dia gak macam-macam kan? Aku ga peduli mau dia anak orang kaya, kalau dia menyakitimu aku pasti akan balas! " Ungkap Re mi sambil mengepal tangannya.
Seingatku, Re mi bukanlah gadis biasa. Dia seorang anak konglomerat di kota. Jadi wajar saja dia tetap santai menghadapi seolwa yang juga kaya raya sepertinya.
"Tidak apa-apa. Masalah sudah kelar kok." Pungakasku. Namun raut wajah gadis itu masih menyisakan ketidakpuasan, tetapi ia memilih untuk tetap diam.
****
[Author P. O. V]
Di sebuah kamar yang besar, lengkap dengan segala macam peralatan game terbaru dan ribuan action figure, tampak Seolwa yang asik berbaring sambil mendengarkan musik.
Tok... tok... tok...
Tiba-tiba saja seorang pelayan pria mengetuk pintu kamar Seol. Tetapi lelaki itu lebih memilih diam dan mengencangkan volume musik yang ia dengar dari handphonenya.
"Tuan muda... " Ujar pria itu sambil terus mengetuk pintu kamar.
Lantunan ketukan pintu yang mendayu-dayu kian lama kiat cepat hingga menghasilan gedoran.
Kali ini Seol bangkit dari tempat tidurnya. Ia pasti tau orang yang mengetuk pintu itu bukan lagi pelayan.
Benar saja, saat pintu di buka yang muncul di hadapan Seol adalah kakeknya yang ganas. Meskipun pria itu telah menginjak usia lebih dari 60 tahun, akan tetapi tubuhnya masih tegap lengkap dengan tatapan tajamnya.
Seol yang menahan nafas perlahan mulai menghembus nya. Lalu merubah posisi duduk bersila. Ia berusaha menutupi ketegangan yang tercipta di antara mereka.
"Hey yo! Kakek, sudah lama... "
Sebelum lelaki itu menyelesaikan sapaannya, pria tua itu memotongnya.
"Seol. Apa begini caranya kamu menyambutku? Datang ke Korea tapi tidak menemuiku di rumah induk. Sekarang malah ikut-ikutan Tae Jun masuk di sekolah rendahan." Pungkas kakek.
"Kakek tau sendiri kan, dari dulu aku ini orang yang seperti apa? " Seol berdiri, kemudian menghampiri kakeknya.
"Aku setuju saat kembali ke Korea akan mengikuti permainan yang kakek mulai. Jadi kakek juga harus mengikuti permainanku. Kurasa tidak masalah bagiku mau bersekolah di manapun. Aku tidak sedang mencoreng nama baik keluarga kita kan? " Seol berbicara santai di depan kakeknya.
Pria paruh baya itu tampak sedikit kesal. Tetapi ia bisa mengendalikan amarahnya dengan baik.
"Seol, aku menemuimu saat ini bukan untuk berdebat. Tapi kamu harus tau batasannya. Ingat baik-baik, kesepakatan yang akan kita lakukan ini juga ada kaitannya dengan ibumu.. " Ungakap pria itu.
"Jangan lupa minggu depan kamu harus bersikap baik saat malam pertemuan dengan calon istrimu." Tandas Kakek Seol, kemudian pria itu pergi.
Raut wajah Seol berubah. Seketika dahinya mengernyit, sorot matanya pun memerah. Tampak ia tengah menahan kekesalan, amarah, dan kesedihan di waktu yang sama.
"Argggggghhhgg!!"
Seol menghempas seluruh benda yang ada di hadapannya. Lelaki itu kemudian terduduk dan menangis. Tidak ada siapapun di sana, kalaupun ada mereka lebih memilih untuk diam sebagai penonton yang budiman.
Sesaat kemudian, lelaki itu bangkit dan tertawa. "Hahahahaha, kau fikir perjanjian itu akan berjalan lancar pak tua? Hahahahaha, apa kau ini benar-benar tidak mengenali cucumu sendiri?"
HAHAHAHAHAHA