Oh Mama!

Oh Mama!
Chapter 3 (Tae Jun Si Beban Asli asli!!)



[Hae Soo P.O.V]


Aku masih bertanya-tanya, sebenarnya dimana aku saat ini? Kenapa semua tampak asing bagiku. Tempat ini, dan orang-orang berpenampilan sangat aneh. Terlebih lagi, pakaian bodoh apa yang sudah kupakai ini?


Selagi menunggu kedatangan ibu asuh di tempat asing ini, tiba-tiba seorang lelaki menarik tangan dan memasukkanku ke dalam kereta tanpa kuda yang baru pertama kali kulihat.


"Hae Soo kita berdua dalam masalah, aku gak tahu harus gimana tapi yang jelas kita harus cepat-cepat menyelesaikannya!" Lelaki yang tak kukenali itu mengguncang-guncang tubuhku sambil terus mengoceh hal yang tak jelas.


Plak


"Singkirkan tanganmu dariku!" Perintahku. Kemudian aku sedikit bergeser agar tidak terlalu dekat dengannya.


"Masalah apa yang sedang kau bicarakan? Aku sama sekali tidak punya masalah denganmu, lagian kau ini siapa?!" Lanjutku dengan nada kesal.


"Hae Soo, aku tae Jun loh! teman satu kelasmu. Ingat tidak? minggu lalu kau memaksaku buat pinjamin motor. Tapi kau malah merusaknya." Rengek pria bernama Tae Jun itu semakin memekakan telinga.


"Padahal motor itu milik sepupuku. Aku benar-benar bakal mati kalau tau motor itu hancur." Lanjut Tae Jun.


Aku hanya diam sambil melihat ke arah luar. Semua tampak berbeda saat kereta aneh yang kunaiki ini berjalan. Ada banyak gedung-gedung tinggi yang kemegahanya melebihi istana kekaisaran Joseon. Untuk beberapa saat, aku tidak menghiraukan ocehan Tae Jun yang tak kumengerti.


"kau dengar aku tidak sih Hae Soo?!" Tegur Tae Jun.


"Ho'ohh... lancang sekali kau memanggil namaku!" Aku sedikit meninggikan nada bicara. Dengan posisi duduk tegap kulanjutkan kata-kataku. "Kau harus tau dengan siapa kau berbicara, orang asing!"


Tae Jun terpana, ia sedikit bingung dan mulai menghela nafas panjang. Aku bisa melihat raut wajah putus asa dari mukanya.


"Ngomong-ngomong, sebenarnya kau mau membawaku kemana? Dan kereta jenis apa yang kau punya ini. Aku ingin satu yang seperti ini untuk di bawa ke istana." Tanyaku.


"Hei..hei...hei..., ada apa denganmu sih?! ini namanya mobil, bukan kereta. Istana? Ya, kita memang ke istana buat bertemu sepupuku tau! Kau harus bertemu dengannya." Ujar Tae Jun.


"Wah, aku sepertinya belum siap ke istana dengan penampilan seperti ini. Apa di dalam benda yang kau sebut mobil ini ada hanbook sederhana?" Tanyaku.


"Hae Soo, kau semakin ngawur saja. Sudahlah. Sebentar lagi kita sampai."


****


Setiba di istana, semua tampak berbeda. Tidak ada prajurit yang bertugas dan terlalu banyak orang berpakaian aneh lalu lalang. Tempat ini tidak seperti yang aku tahu terakhir kalinya. Apa ini istana negeri lain?


Saat aku turun dari benda yang bernama mobil itu, mataku langsung tertuju pada seorang lelaki yang menggelar gerai kecil berisi macam-macam hanbook. Mataku berbinar-binar seakan tak percaya, di tempat asing ini aku bisa melihat hanbook lagi. Tak perlu waktu lama aku segera berlari menghampiri gerai.


"Hae Soo!" Tae Jun berusaha mengejarku dari belakang. Tapi tiba-tiba ia di hadang sekelompok orang berpakaian serba hitam. Aku sedikit bersyukur karena kalau boleh jujur, lelaki itu sangat cerewet.


"Nona, sewa hanbooknya?" Tawar pria pemilik gerai. Aku dengan mantap mengangguk dan segera memilih hanbook.


Dari sekian banyak warna yang ada, aku memilih hanbook berwarna maroon dengan sedikit hiasan bunga emas. Sambil tersenyum aku membayangkan kemurahan hati kaisar yang membiarkan aku hidup dan terlepas dari hukuman.


"Sejak awal aku yakin kaisar tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah." Gumamku.


Selepas mengganti pakaian, aku juga memilih hiasan kepala yang paling cocok dengan hanbook yang tengah kupakai. Saat keluar dari ruang ganti, sang pemilik toko tertegun.


"Wah, nona cantik sekali seperti seorang bangsawan. Ah, tapi tusuk konde itu? Apa nona muda sudah menikah?" Tanya pemilik gerai malu-malu, aku pun ikut tersipu.


"Iya." Jawabku.


"Oh ya, sebenarnya ini dimana?" Tanyaku kemudian.


"Seoul. Duh, nyonya masa tidak tau sih kota besar seperti ini." Goda lelaki pemilik gerai itu.


"Nah, sekarang bayar dulu sebelum dipakai." Lanjutnya.


Dengan sigap aku berlindung di balik tubuh Tae Jun dan mendorongnya perlahan, meminta ia membayarkan uang sewa hanbook yang kupakai.


Si pemilik gerai sewa hanbook segera menagih uang kepada Tae Jun. Lelaki itu menatap tajam ke arahku kemudian merogoh uang dari sakunya.


"Terima kasih, selamat bersenang-senang." Lelaki pemilih gerai tersenyum lebar ketika menerima uang dari Tae Jun.


"Kenapa pakai Hanbook segala sih?!" Tanya Tae Jun.


"Sejak di beri hukuman aku tidak pernah pakai hanbook secara wajar lagi. Setelah bebas rasanya sangar lega." Terangku.


"Dasar wanita aneh, dan lagi pula.... hiasan rambutmu kenapa seperti orang yang sudah nikah?" Tanya Tae Jun.


"Aku memang sudah menikah. Oh ya, tempat ini namanya Seoul kan? pantas saja berbeda dari tempat asalku. Mungkin kaisar menitipku sementara di tempat ini sebagai ganti hukuman mati." Terangku.


"Hae Soo, sumpah dari tadi aku gak ngerti kamu ngomongin apa. Yang jelas, masalah kita saat ini besar tau! Coba fokus sedikit." Pinta Tae Jun dengan nada sedikit marah.


"Aku malah yang tidak paham sebenarnya masalah yang kau ceritakan dari tadi itu apa." Aku balas memarahinya.


Tak berapa lama, kami tiba di tempat agak sepi. Kemudian sekelompok pria berpakaian serba hitam yang mencegat Tae Jun tadi mengelilingiku.


"Nona Hae Soo, apa yang akan kau lakukan setelah berhasil merusak motor tuan kami?! Kau tau tidak motor itu harganya mahal dan stoknya di korea hanya tiga!" Bentak salah satu dari mereka.


"Bahkan dengan mempertaruhkan nyawa pun kau tidak akan sanggup menebus rebecca kesayangan tuan kami!" Secara tiba-tiba mereka mengintimidasiku dengan kata-kata yang tak kupahami.


"Motor? Apa itu benda yang sangat berharga?! Aku tidak paham kenapa kalian menyalahkan aku soal motor yang aku pun tidak tau itu apa?!" Bentakku.


Gret!!!!!


"Jangan pura-pura lupa! Kau memaksa tuan Tae Jun untuk meminjamkan Rebecca. Sekarang motor itu sudah hancur! Kau harus bertanggung jawab!"


Salah seorang dari mereka menarik kerah hanbook yang kukenakan. Tatapan bengisnya mengingatkanku dengan hukuman yang kulalui selama di pengasingan dulu.


Kepalaku berputar-putar, tubuhku bergetar hebat. Ingin rasanya aku meneteskan air mata. Sementara Tae Jun, pria itu seolah tidak peduli.


Ada apa sebenarnya?


Aku benar-benar tidak mengerti.


Orang-orang asing itu semakin mendesakku. Sementara kepalaku semakin sakit dan pandangan mulai kabur.


"Lepaskan aku! Kalian semua menyingkir!!" Aku berusaha melepaskan cengkraman pria-pria berbaju hitam yang sejak tadi mengepung dan menekanku.


Saat berhasil lepas, aku segera berlari sejauh mungkin untuk menghindari mereka. Tapi tubuh ini terlalu lemah untuk bisa berlari lebih kencang lagi.


Saat kesadaranku mulai menurun, tiba-tiba di depanku berdiri seorang pria yang tak begitu asing. Ketika semakin dekat dengannya, aku yakin dia orang yang aku kenal baik.


BRAK!


Aku jatuh terjerembab, sementara pria yang tampak familiar itu segera menghampiri dan menangkapku dipelukannya. Dari dekat aku bisa melihat wajahnya, meski dengan penampilan aneh tapi aku yakin lelaki itu adalah dia...


"Adik ipar?"


Itulah kata-kata terakhir yang terucap dari bibirku sebelum aku jatuh pingsan di pelukannya.


Bersambung...