Oh Mama!

Oh Mama!
chapter 6 ( Kedatangan Seol ke sekolah)



[Author P. O. V]


Seluruh mata tertuju pada satu sosok anggun yang berjalan melewati koridor kelas. Pantulan sinar mentari pagi diiringi semilir angin lembut menerpa rambutnya yang tergerai indah dengan jepit peony putih mungil yang berkilauan.


Tak ada yang menyangka Hae Soo tiba ke sekolah tepat pada waktunya. Si ratu ngaret itu sukses membuat gempar Sma barat, atau biasa dikenal sebagai gedung B Yayasan Somdong.


"Lihat! Untuk pertama kalinya permaisuri balap liar sma barat datang pagi!" Celetuk salah satu siswa.


"Yang makin gila, sejak kapan dia berjalan dan bersikap seperti wanita!! " Timpal yang lainnya.


Banyak kata-kata tak percaya yang keluar dari siapa saja yang melihat Hae Soo berjalan menuju kelasnya. Meski begitu, Hae Soo berusaha tetap tenang seperti permaisuri di kehidupan sebelumnya.


"Duh, ini kali pertama bagiku berjalan sendirian tanpa pengawal. Membayangkannya saja membuat aku hampir mual. Untung ingatan Hae Soo masa depan tidak benar-benar hilang. " Gumam Hae Soo.


Setelah berjalan cukup lama, ia mendapati kelasnya yang sepi dan segera duduk di kursinya. Orang-orang yang tadi berpapasan dengannya saling mengintip dari balik pintu dan jendela kelas. Mereka terpaku dengan perubahan sikap Hae Soo yang mendadak ini.


Tak berapa lama Re mi dan Yuna tiba di kelas dan segera menghampiri Hae Soo yang masih duduk diam. Disusul oleh Tae Jun yang duduk didepan Hae Soo.


"Lihat! Sejak kapan anak ini datang lebih awal!! " Ledek Re mi. Sementara pandangan Yuna tertuju pada jepit Peony mungil milik gadis itu.


"Waaaaahh kiyuttttnyaa!!!!! Sejak kapan kamu punya benda indah seperti ini Hae Soo! Duh, aku suka tampilanmu berubah seperi gadis pada umumnya!!" Pekik Yuna bahagia. Gadis cantik itu mencubit-cubit pipi Hae Soo.


Tiba-tiba saja Hae Soo memukul meja di hadapannya, membuat Re mi, Yuna dan Tae Jun kaget.


"Tae Jun... " Ungkap Hae Soo dengan nada rendah. Aura "Hae Soo" yang lain keluar dengan sendirinya.


"Y... ya?!" Tanya Tae Jun takut-takut.


"Kenapa kau memalingkan wajah saat aku di kepung pria-pria berbaju hitam di istana waktu itu!!" Tanya Hae Soo.


Seketika Re mi mengernyitkan dari dan bersiap menyerang Tae Jun. Tetapi segera di hadang Hae Soo dengan memberi kode dengan tangannya.


"Itu.... itu, kau tau sendiri kan... ah, um.... "


Tae Jun terbata-bata.


"Haaaahhh~ yah, aku tau aku salah karena merusakkan siapa? Benda yang bernama Rebecca itu? Ah itu lah pokoknya... Tapi tindakanmu yang tidak peduli padaku di istana itu benar-benar menjijikan. " Omel Hae Soo.


"Maafkan aku. Aku benar-benar takut sampai tidak bisa berkutik pas pengawal sepupuku datang mengepungmu. " Terang Tae Jun dengan raut wajah menyesal.


"Hei Tae Jun. Aku masih kesal ya sama tindakanmu yang menculik Hae Soo tiba-tiba! Sekarang aku malah mendengar kau diam saja pas Hae Soo dalam kesulitan!!!" Re mi tidak dapat menahan emosi. Untung Yuna segera memeluk Re mi sebelum gadis itu ******* Tae Jun.


"Ah, aku jadi bertanya-tanya, kenapa kau tiba-tiba memasukanku ke dalam benda yang kau sebut mobil itu?! " Tanya Hae Soo.


Tae Jun pun mulai menjelaskan.


"Jadi, waktu itu pemilik Rebecca tiba-tiba datang ke rumah. Aku yang takut cepat-cepat mencari pengganti yang mirip Rebecca. Tapi matanya yang jeli tidak bisa tertipu. Kau tau kan, Seol? Dia itu pemilik Rebecca. Saat itu juga aku di habisi olehnya." Tae Jun memberi jeda, kemudian melanjutkan lagi penjelasannya.


"Aakggh... Aku sudah menghabiskan seluruh tabunganku untuk mencari yang mirip dengar Rebecca, Seol malah tidak terima dan menindasku dirumah sendiri. Belum lagi orangtuaku tidak ambil pusing dan menyerahkan segala keputusan di tangan Seol."


"Lalu?." Tanya Re mi penasaran.


"Saat mendengar kau sadar Hae Soo, aku segera menjemputmu supaya kau bisa bertemu dengan Seol dan menjelaskan. Jadi aku tidak sepenuhnya disalahkan. Kebetulan Seol ada di Istana karena ada pagelaran seni disana. Makanya aku.... " Sebelum Tae Jun selesai melanjutkan kata-kata, tampaknya Re mi makin hilang kendali saat mendengarkan penjelasan pemuda itu.


"Sumpah! Sumpah! Aku salah, aku khilaf. Pada waktu itu aku benar-benar bingung. Makanya aku cepat-cepat menemui Hae Soo di rumah sakit!! " Tae Jun memohon ampunan Re mi yang terus menyerangnya.


"Dasar lelaki tak berotak!!! Dimana pikiranmu, kau tau tidak! Hae Soo baru keluar dari rumah sakit, dan kau langsung menyeretnya dalam masalah!" Pekik Re mi.


Yuna yang tak lagi menghentikan Re mi ikut menimpali. "Dasar gila! kau ini teman apa tidak!!! Akalnya entah berada dimana, otak dan hatinya juga ga ada!!! dasar kejam!"


"Sudah-sudah. Aku tidak mau mendengar kekacauan lagi. Biar nanti urusan dengan Seol aku saja yang tangani." Ungkap Hae Soo.


"Bagaimana pun ini juga tidak sepenuhnya salah Tae Jun. " Lanjut gadis itu dengan bijaksana.


Re mi Terdiam. gadis itu kaget dengan sikap bijaksana Hae Soo. Bukannya ikut membalas Tae Jun, gadis itu memilih jalan yang jauh dari sifat sadis yang diketahui oleh temannya itu.


"Makasih banyakkk Hae Soo kamu baikkk sekaliiii" Tae Jun akan memeluk Hae Soo, tetapi berhasil di tepis olehnya.


"Oh ya, aku masih penasaran kenapa kamu pindah ke gedung B Tae Jun? " Tanya Yuna.


"Iya, kau kan orang kaya raya. kenapa masuk ke sini? " Re mi menimpali.


"Ahhh, itu... heheheh... " Tae Jun tersipu malu sambil mengarahkan pandangannya kepada sesosok gadis yang duduk di pojok belakang dekat jendela.


"Sulli." Ungkap lelaki itu sembari tersipu malu.


Hae Soo sedikit kaget saat mendengar nama yang persis seperti nama pelayan di kehidupannya yang dulu. Kemudian gadis itu mencari-cari keberadaan Sulli.


Benar saja, sesosok gadis mungil berambut hitam sebahu dengan bando merah muda yang duduk dekat jendela itu persis seperti Sulli-nya Hae Soo. Meski dengan tampilan yang berbeda, namun gadis itu sangat mirip dengan pelayan Hae Soo di masa lampau.


"Sulli... " Gumam Hae Soo. Tampak raut wajah sedih serta kerinduan menyelimuti wajah gadis cantik itu.


"Dikehidupan terdahulu, Sulli satu-satunya pelayan setia yang tetap mendukungku. Ia tidak menikah dan lebih memilih berbakti padaku. " Ungkap Hae Soo di dalam hati.


"Bahkan di akhir hidupnya yang menyediakan karena membelaku, dia tetap tersenyum tanpa rasa penyesalan telah menjadi pelayan ku. Sulli benar tulus menyayangiku. Semoga di kehidupan keduanya kali ini, kau bisa tenang dan bahagia. "


Hae Soo masih berjibaku dalam diamnya. Tak terasa air mata menetes dari kedua pelupuk matanya. Entah bagaimana akhirnya seseorang segera menyeka sambil tersenyum.


"Di hari pertama aku sekolah, rasanya tidak boleh ada air mata. " Ujar lelaki tersebut sambil tersenyum kepada Hae Soo.


Re mi, Yuna, dan Tae Jun terkejut bukan main. Mereka tiba-tiba kedatangan tamu tak diundang. Apalagi Hae Soo, gadis itu bahkan tidak dapat mengerjapkan matanya dengan baik.


"Perhatian semuanya, ayo duduk kita akan kedatangan... " Sebelum wali kelas melanjutkan kata-kata, pria tua itu terdiam saat melihat Seol sudah berada di kelas.


"Ah ya, mulai hari ini kita kedatangan murid baru... " Saat wali kelas akan melanjutkan kata-kata, Seol segera memotong dan mulai memperkenalkan diri.


"Hai semua, aku Seol. Mulai hari ini dan selanjutnya aku akan bergabung dan belajar bersama kalian. Mohon bantuannya. " Dengan sopan Seol memperkenalkan dirinya.


"Dan aku juga sudah memutuskan akan duduk di samping gadis ini. " Lanjut lelaki itu sembari menepun kedua pundak Hae Soo lembut dan tersenyum...


"Wahhh gila" Gumam Hae Soo dalam hati.


Bersambung.....