
[Author P. O. V]
Pagi itu Hae Soo cukup sibuk menyalin beberapa kosa kata baru yang ia dapat dari obrolan teman-temannya. Sampai akhirnya Seol tiba dan segera merampas catatan itu.
"Hmm.. mari kita lihat, wah apa-apaan ini?" Ledek Seol.
Hae Soo menghela nafas. "Berikan padaku!" Pintanya.
"Harus nya kamu masukin namaku juga sebagai pembuka. Kita kan... " Sebelum Seol melanjutkan kata-katanya, ia memelankan nada bicara.
"Pacaran." Imbuhnya sambil tersenyum.
Seketika daun telinga Hae Soo berubah kemerahan. Gadis itu buru-buru mendorong Seol.
"Apaan sih! Jaga sikap dong. " Ujar Hae Soo.
"Hei. Aku perhatikan kamu ini jauh dari rumor yang beredar. " Seol segera duduk di bangkunya.
"Memangnya apa yang beda?" Tanya Hae Soo yang buru-buru merapikan buku catatan kosa katanya.
"Banyak yang bilang kamu itu bar-bar. Gadis yang suka telat, jagoan, dan... yah macam-macam lah. Tapi apa yang kulihat sekarang? Hahaha, kamu itu kayak cewe pada umumnya." Terang Seol.
"Yah, aku hanya mencoba bertobat ke jalan yang benar. Aku rasa tindakanku selama ini benar-benar dikutuk dewa. " Terang Hae Soo.
"Wah wah... aku ga nyangka kamu percaya dewa! Kwkwkw, seperti orang yang hidup di jaman Joseon aja!! " Seol tertawa.
Hae Soo menggerutu di dalam hati. "Hei bocah, jaga omonganmu terhadap orang yang lebih tua ya! Begini-begini aku ini mantan permaisuri Joseon yang terhormat" Gumam Hae Soo dalam hati.
Pelajaran pun di mulai. Hae Soo mendengarkan dengan saksama apa yang di jelaskan oleh guru. Sementara Seol, lelaki itu hanya memperhatikan raut wajah Hae Soo yang serius.
Tidak ada yang berani mengomentari tindakan suka-suka Seol. Lelaki itu hanya duduk diam tak mengerjakan tugas ataupun menggubris penjelasan guru. Seperti kelas itu adalah miliknya.
"Hei. Aku terganggu tau. Dari mulai masuk sampai mau selesai, kerjaanmu lihatin aku doang. " Hae Soo mulai protes.
Tetapi tiba-tiba Seol menyibak beberapa helai rambut Hae Soo yang menutupi sebagian wajah cantik itu.
"Aku masih tidak percaya, fuckgirl kayak kamu jadi alim banget. Dari tadi sampai sekarang terus belajar tanpa henti." Seol tersenyum.
"Wah wah..... lebih baik kamu juga mulai belajar." Hae Soo mengeluarkan sebuah pena panda dan buku polos dari dalam tas nya.
"Mulai dulu dari menyalin. Nih, aku pinjamkan buku catatannya. " Lanjut gadis itu.
"Masih jaman ya nyalin buku? " Kemudian Seol mengeluarkan Handphonenya, lalu ia mulai memotret lembar demi lembar buku catatan yang di berikan Hae Soo.
"Beres." Ungkap lelaki itu, kemudian tersenyum.
"Ah ya. Lusa aku mau ajak kamu berkencan. Harus bisa ya. " Seol menandasakan ucapannya. Kemudian ia bangkit dan mengambil tas.
Semua orang yang berada di kelas kaget, tak terkecuali guru yang mengajar sebab Seol tiba-tiba keluar kelas.
"Lihat bagaimana uang mengerjakan tugasnya." Tiba-tiba Remi duduk di samping Hae Soo.
"Bahkan guru pun tidak bisa berkata apapun. Ckckckcck...., dasar. " Gerutu gadis itu kemudian.
"Bukannya kamu juga banyak uang? " Tanya Hae Soo dengan polosnya.
Tak!
Spontan Remi menjitak perlahan kepala Hae Soo.
"Jangan samakan aku dengan cecunguk manja itu! Huh! " Omel Remi.
****
Kediaman keluarga Seolwa tampak berbeda dari sebelumnya. Seluruh anggota keluarga hadir dalam perjamuan makan malam yang di pimpin oleh sang kakek.
Meski seluruh makanan lezat telah terhidang di atas meja makan, namun tidak ada satupun orang yang menyentuhnya. Tampak jelas sekali mereka sedang menunggu kehadiran seseorang.
"Wah wah, tampaknya bintang utama kita malam ini belum datang juga. Padahal tetanggan." Celetuk salah seorang wanita yang ada di sana. "Jangan begitu... " Suami yang duduk di sampingnya mengingatkan.
Kakek Seol tampak kesal sebab cucunya belum hadir juga di perjamuan malam itu. Sesekali ia memanggil pelayan dan membisikkan suatu perintah.
"Ah, tampaknya Seol akan sedikit terlambat, bagaimana kalau kita menikmati makanannya terlebih dahulu. Dan acara perjodohan ini akan segera kita bahasa setelahnya. " Akhirnya kakek Seol yang sejak tadi menahan diri, mulai memerintahkan seluruh anggota keluarga yang ada di sana untuk mulai menyantap makanan.
Keluarga gadis itu saling melempar tatapan. Kemudian sang ibu membuka suara, "Mungkin saja Seol grogi. Ini kan untuk pertama kalinya dia bertemu putri kami sejak pulang dari luar negeri. " Ungkapnya.
"Benar, ini hal yang lumrah di alami oleh orang yang akan hidup bersama nantinya. " Timpal sang ayah. Putri cantiknya hanya tersenyum sambil menggenggam sendok dan garpunya.
Tiba-tiba saja seorang pria masuk dan menyapa mereka semua. Tapi tatapan pria itu langsung tertuju pada gadis calon istri Seol. Mereka saling melempar pandangan satu sama lain.
"Ah, Jaesung kau pulang? " Kakek menyambut pria itu dengan hangat.
Kemudian pria bernama Jaesung itu memperhatikan situasi yang ada di sana. "Dimana Seol? " Tanya Jaesung.
"Dia kalau tidak membuat onar, ya membuat masalah. " Lagi-lagi wanita yang ada di meja makan itu membuka suara. Sementara suaminya berusaha mengingatkan istrinya dengan cara menggenggam tangannya.
"Tae Jun. " Celetuk Jaesung.
Tae Jun kaget saat pria itu menyebut namanya. "Ah... ya, kak Jaesung..."
"Bukannya kamu akrab dengan Seol. Ada di mana anak itu? " Tanya Jaesung.
"Ah itu... ehm, entahla. mungkin dia ketiduran." Jawab Tae Jun asal.
"Ah, kalau begitu aku istirahat dulu." Jaesung pamit.
"Kenapa tidak gabung makan saja?" Tawar kakek.
"Tidak terima kasih, tadi aku habis rapat agensi sekaligus makan malam kek. " Tolak Jaesung.
Saat pria itu naik ke kamarnya, gadis yang tampaknya kenal dengan Jaesung itu segera meletakkan pisau dan garpu, kemudian mengelap lembut bibirnya.
"Terimakasih atas hidangan yang yang anda berikan malam ini tuan Yi. " Ungkap Gadis itu.
"Saya harus ke toilet dulu. " Kemudian dia bangkit dan langsung pergi ke taman belakang.
Setibanya di taman belakang, gadis itu berusaha mengetik pesan singkat untuk dikirimkan kepada seseorang. Kemudian ia menunggu balasan dengan penuh pengharapan.
"Chae Ryung? " Saat nama gadis itu disebut, Jaesung telah berdiri di belakangnya.
"Jaesung... "
Gadis itu segera memeluk Jaesung dengan sangat erat. Ia menangis dalam dekapan pria itu.
Suitttt Suitttt.....
Seseorang melantunkan siulan ringan dari jauh. Dan tentunya siulan itu tidak sampai ke telinga Jaesung dan Chae Ryung.
"Wah wah.... jadi kamu bawa aku ke semak-semak gini buat lihatin orang yang lagi bermesraan? Ini ya yang namanya berkencan? " Gerutu Hae Soo.
Seol yang hanya mengenakan trening dan jaket hoodie tersenyum manis pada gadis itu.
"Lihat nih, badanku bentol semua kena gigit nyamuk. Dandananku juga jadi kacau balau gara-gara kita harus sembunyi di sini. " Omel gadis itu lagi.
Seol menarik tali penutup kepalanya hingga membentuk kerucut yang hampir membenamkan wajah tampannya.
"Menarik kan, melihat perselingkuhan calon istri dengan kakak sendiri. " Celetuk Seol, kemudian ia berbaring.
"Apa maksudmu?" Tanya Hae Soo.
"Kamu lihat gadis yang ada di sana? Nah, dia itu calon istriku. Tapi aku ga suka sama dia. Rencananya setelah tamat sekolah bakal langsung di nikahi. Gila kan, abad ke 20 ini masih ada perjodohan konyol. " Terang Seol.
"Dan sialnya cewe itu gak mau membatalkan pernikahan kita. Padahal kan dia suka kakakku. Sampai sekarang aku ga tau motivasi dia itu apa. Menyebalkan. " Lanjut lelaki itu.
"Terus, kalau ternyata kamu mau dinikahkan, kenapa ngajak aku pacaran? " Tanya Hae Soo.
"Nah, disini lah tugasmu sebagai ganti rugi Rebecca. Aku mau kita bekerja sama supaya aku gak jadi nikah sama cewe itu. Dan setelah semua selesai, kita pun selesai. Gampang kan? " Ungakap Seol.
"Ohh oke aku paham. "
"Nah yuk kita ke trip kencan berikutnya!! " Seol menarik tangan Hae Soo, kemudian mereka pergi dengan cara mengendap-endap.