
[Author P.O.V]
Suasana malam itu berbeda dari malam-malam sebelumnya. Semua orang sudah berkumpul hingga akhirnya pemeran utama datang sembari mengibaskan rambut panjangnya. Ya, Hae Soo muncul bersama Rebecca yang gagah berani menuju lap lintasan. Yong Jin juga telah siap untuk membalas kekalahannya tempo hari.
Trek lintasan malam itu cukup berbahaya. Medan yang harus mereka tempuh berupa jalan dekat tebing dengan hutan dan jurang. Tempat itu tidak pernah direkomendasikan, bahkan sekelas pembalap profesional sekalipun.
Saat tembakan kembang api meluncur ke udara, semua peserta segera memacu kuda besinya meninggalkan garis start. Tentu saja, Hae Soo berhasil mencuri start lebih dulu melewati semuanya, kemudian Yong Jin menyusul di belakangnya.
Persaingan di antara keduanya semakin sengit, bahkan tanpa jarak. Hingga putaran terakhir, hal tak terduga menimpa Hae Soo. Tepat dari arah semak-semak seekor rusa meloncat hingga membuyarkan pandangan gadis yang tengah memacu motornya dengan kekuatan penuh itu. Akhirnya Hae Soo menghantam pagar pembatas tebing dengan sangat kuat.
****
[Hae Soo P.O.V]
GLEK!
"GILA GILA GILA GILA GILA!!!! ternyata aku di masa depan benar-benar tidak beretika!!!!" Aku berteriak sesaat setelah kesadaranku terkumpul.
Seluruh ingatan Hae Soo dari masa depan benar-benar tergambar jelas dari awal hingga akhir. Sikap dan kehidupan gadis itu sangat bertolak belakang denganku. Bagaimana aku bisa menerima kenyataan yang menggelikan ini. Belum lagi ada masalah besar yang harus kulalui gara-gara tindakan bodoh yang dilakukannya.
Tak berapa lama Re Mi dan Yuna masuk menemuiku. Sekarang aku bisa mengingat mereka berdua sebagai "sahabat Hae Soo" dan mencoba untuk bersikap natural di hadapan mereka.
"Hai." Sapaku.
Yuna membalas sapaanku dengan pelukan, sementara Re mi sedikit heran dengan tingkahku.
"Hey yo!, biasanya itu kata pertama yang kau keluarkan. Sekarang kok jadi beda." Ungkap Re Mi, kemudian duduk di samping tempat tidurku.
Aku sempat gugup saat akan menjawab pertanyaan Re mi yang meragukanku sebagai "Hae Soo" yang ia kenal. Karena pada kenyataannya, "Hae Soo" yang dia kenal bukanlah orang yang sama lagi. Tapi untungnya Yuna segera mencairkan suasana canggung yang ada.
"Hae Soooo!!!! Aku kangen banget sama kamu!!!" Yuna menggenggam dan mencium tanganku. Sekilas, dia benar-benar mirip dengan pengasuh masa kecilku dulu. Hehehehe.
"Ngomong-ngomong, bukannya tadi aku berada di istana?" Tanyaku.
"Oh tuhan!!! Hampir lupa. Tau gak sih, tadi kamu di antar sama siapaaa!!!" Yuna berteriak histeris, kemudian Re mi membungkam mulut gadis itu.
"Berisik!!! Jangan heboh begitu dong Yuna!" Ungkap Re mi.
"Duh, kamu gak bisa lihat orang senang aja!" Yuna menepis tangan Re mi.
"Memangnya siapa?" Tanyaku.
"Seolwaaaaa!!!!" Yuna kembali berteriak histeris sembari mengguling-gulingkan tubuhnya di lantai.
Aku membelalakan kedua mataku. Kemudian menggelengkan kepala, mana mungkin Seolwa yang "itu" sama seperti Seolwa adik iparku dari masa lalu.Tapi.... Samar-samar wajahnya mirip dengan Yi Seolwa yang kukenal.
"Seol yang tampannn!!!, duhhh kamu kok beruntung banget sih Hae Soo, bisa di antar pulang sama cowok paling kece SMA Samdong selatan!!!"
Yuna semakin menggila, sementara Re mi hanya diam tak memberi komentar apapun. Tak berapa lama, ibu masuk sambil membawa camilan dan teh.
"Wah wah, sudah lama aku tidak melihat Hae Soo duduk tenang di kasurnya. Sekarang dia benar-benar tampak seperti putri." Ledek ibu.
" Ada dong sayang, ayo ikut bibi ke bawah. Duhh, andai saja Hae Soo bisa bersikap manis sepertimu Yuna, bibi pasti senang. Tapi sayangnya dia tidak bisa semanismu." ungakap ibu.
Aku hanya diam sambil menyeruput teh yang di sajikan olehnya dengan lembut. "Aku harus bisa merubah image Hae Soo yang kacau ini." Gumamku dalam hati.
"Tadi kau bertemu dengan malaikat mautmu loh!" Re mi kemudian membuka suara. Aku berhenti menyeruput teh kemudian menatapnya. "Maksudmu?"
"Seol, cowok itu adalah pemilik Rebecca motor yang kau hancurkan itu!!!" Terang Re mi.
"Bukan aku yang menghancurkan, tapi si Hae Soo sahabatmu itu yang menghancurkannya!!!" Teriakku dalam hati.
"Aku udah tau semua dari Tae Jun. Pas aku di telepon bibi karena kau mendadak hilang, aku buru-buru mencari Tae Jun. Pasti anak itu bakal mencarimu duluan setelah kau sadar. Dan ternyata benar, kau bersama Tae Jun dan Seol." Terang Re mi.
"Mereka melakukan hal yang buruk? Kenapa kau bisa pingsan di pelukan Seol?!" Tanya Re Mi.
"Mereka tidak macam-macam kok. Aku saja yang mendadak pingsan karena sakit kepala." Terangku asal.
"Baguslah. Aku marah-marah tadi pas lihat kamu pingsan di tangan Seol, dia cuma tertawa dan bilang gadis itu beruntung hari ini moodku baik jadi untuk hari ini kumaafkan dia. Gitu..." Ungkap Re Mi.
"Mood?" Aku sedikit memiringkan kepala.
"Hadeh, mood itu sama kayak suasana hati." Terang Re Mi sembari mengela nafas panjang.
"Oh, oke. Mood sama dengan suasana hati." Gumamku sembari menganggukkan kepala.
"Kalau moodnya bagus dan dia mau maafin kesalahan yang kulakukan (* teriakan dalam hati* tidakk aku tidak pernah melakukannya!!!) itu hal yang bagus dong, artinya masalah selesai." Aku memberikan kesimpulan sambil tersenyum, kemudian lanjut menyeruput teh.
"Nah malah itu yang jadi masalah!! Seol bukan orang yang mudah memaafkan orang lain. Dan hari ini dia tertawa? Duh aku sudah bisa membaca hal buruk apa yang akan dia lakukan padamu Hae Soo! Tadi dia juga tidak segan mengantarkanmu pulang dengan mobil dan para pengawalnya loh." Terang Re Mi sambil bergidik ngeri.
"Apalagi dia salah satu pemegang saham terbesar Yu Co Group. Pasti dia tidak akan melepaskanmu dengan mudah. Ini menyangkut Rebecca...." Lanjut Re Mi.
BRAK!!!
"Duhhh kalian membiarkanku makan kue kacang merah sendiriannn!!!! Aku jadi kesepiann." Yuna tiba-tiba masuk mengacaukan suasana serius antara aku dan Re Mi.
"Wah tampaknya kalian sedang asik ngobrol. Lagi bahas apaan sih?!" Yuna menghempaskan tubuhnya di dekat Re Mi duduk.
"Aku ingin punya baju baru." Terangku sambil sesekali melihat ke arah Re Mi. Gadis itu memberiku arahan untuk tidak banyak berbicara selagi kami bersama Yuna, karena gadis itu pasti akan sedih dan khawatir jika tau masalah apa yang telah kulalui.
"Ya, dari tadi kami lagi menyusun rencana buat beli baju dan perlengkapan baru Hae soo." Re Mi membenarkan perkataanku yang juga memberinya kode.
"Kalian berdua curang!! Nyusun rencana tapi gak ajak-ajak! Aku sebal!" Yuna mengerucutkan bibir sambil melipat kedua tangannya.
"Jangan gitu dong!!! Oke, sebagai gantinya aku bakal ikuti semua yang kamu mau soal baju dan barang yang akan kubeli pertama kali." Bujukku.
"Serius???!! Yeahhhh!!! Aku sayang Hae Soo!!" Yuna memeluk Hae Soo.
Aku menepuk-nepuk pundak Yuna dan menyadari satu hal. Sepertinya kamar "Hae Soo" benar-benar harus kurubah semua. Tempat ini mengerikan.....
Bersambung...