Oh Mama!

Oh Mama!
Chapter 9



[Hae Soo P. O. V]


Perasaan sebal yang menyelimutiku malam ini timbul akibat Seol. Aku tidak tahu siapa yang ia lihat, tapi jelas saja aku merasa tertipu.


"Kencan apaan... " Gerutuku dalam hati.


Seol,


Dengan santainya ia datang menjemput dan menyuruhku untuk berdandan. Ah, sialnya Yuna ada di rumah tadi sore. Akhirnya aku harus berdandan sesuai dengan selera gadis manis itu.


Ternyata di luar dugaan, dia malah mengajakku mengendap-endap masuk ke rumah orang dan bersembunyi di balik semak-semak, seperti maling saja.


"Seol, kenapa kita harus sembunyi? Memangnya ini dimana? " Tanyaku.


"Rumah kakekku. Aku malas masuk ke sana, nanti di terkam singa. " Terang Seol asal.


"Nah... nah... nah, sudah di mulai.... " Lanjut lelaki itu sembari menyibak semak.


Aku melihat apa yang terjadi di depan sana. Meski tak begitu jelas, yang kutahu ada sepasang kekasih tengah berpelukan tepat di belakang kolam ikan.


Nyuttt....


Perasaan apa ini? Kenapa begitu familiar sekali? Seperti pernah terjadi hal seperti ini dulu.


Ya, dulu sekali....


Aku mencengkram dada seraya menahan sakit yang entah bagaimana bisa tercipta. Padahal aku tidak tahu menahu siapa sosok yang sedang bersama itu. Sama sekali tak terlihat jelas olehku.


Tapi perasaan ini? Seperti mengulang cerita lama. Perih sekali.


"Jadi kita ke sini buat lihat orang yang lagi bermesraan?" Ungkapku sebal.


Respon Seol hanya tersenyum. Kemudian barulah ia menjelaskan tentang siapa wanita dan pria yang sedang kita intip ini.


Selepas berbicara panjang lebar, Seol bangkit perlahan dan menarik tanganku.


"Ayo kita pindah tempat untuk berkencan! " Tandas pria itu.


****


Aku dan Seol kembali mengendap-endap untuk bisa keluar dari sana. Sialnya, seseorang berhasil memergoki kami.


"Siapa di sana?! " Teriak pria yang tampaknya adalah petugas keamanan di rumah mewah itu.


Sontak Seol semakin menggenggam erat tanganku dan kami berlari dengan kencang. Seluruh penjaga yang mendapat sinyal bahaya segera berlari mengejar kami.


"Sial, kenapa bisa ketahuan sih! Ini gara-gara kamu terlalu berisik. " Seol menyalahkanku.


"Ih, kamu loh yang ngajak aku datang ke tempat ini! Kok malah balik nyalahin! " Aku tak Terima disalahkan.


Hingga akhirnya kami terhenti di depan tembok. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain memanjat tembok tersebut.


"Tidak ada waktu lagi, kita harus cepat-cepat manjat! " Ungkap Seol. Kemudian lelaki itu buru-buru mencari pijakan agar bisa memanjat duluan.


"Dasar ya! Kamu mau menyelamatkan diri sendiri! " Pekikku.


Sebelum Seol meloncat ke sisi luar tembok, ia melihatku dengan tatapan mengejek.


"Ya dong. Hari gini nolongin orang tapi diri sendiri kesusahan? Emangnya jaman ya! Ayo ratu balap, jangan sungkan. Kamu selain ratu jalanan, pasti juga jago manjat kan! " Seol segera melompat turun meninggalkanku.


"Ayo semangat!!! Aku bantu doa dari balik tembok ini! " Pekik Seol.


Aku yang masih terperangkap di dalam kebinguan setengah mati. Sementara sorot cahaya dari benda kecil yang di pegang para penjaga mulai mendekat ke arahku.


"Bagaimana ini? Terakhir kali aku memanjat ya waktu masih berumur 12 tahun. Hae Soo masa depan, tolong pinjam kekuatan memanjatmu dong... kali iniii sajaaa...." Gumamku sambil terus berdoa pada dewa.


Tiba-tiba entah datang darimana, rasa percaya diriku timbul. Aku segera memanjat dinding tanpa halangan yang berarti. Dari atas, kulihat Seol tengah duduk santai membelakangi tembok.


"Hei keparattt! Berani-beraninya kau membiarkan wanita terhormat sepertiku memanjat!!!" Teriakku.


Seketika Seol berbalik melihatku yang telah siap meloncat dari dinding yang tinggi. Aku berniat menimpanya dengan tubuh ini.


BRUK!!!!!


Aku benar-benar menimpa Seol. Tapi aku tak pernah menyangka kalau wajahku ikut berbenturan dengan wajahnya hingga satu kejadian yang memalukan terjadi.


Kedua bola mata kami saling melempar pandangan kaget, sementara bibir kami terpaut dengan "pas".


Aku buru-buru menarik diri dari Seol, tetapi lelaki itu menyambar wajahku sekali lagi dengan ciumannya. Kedua bola mataku hampir lepas sangking kagetnya saat Seol mengulum dengan pasti. Wajahku juga ikut memerah akibat debaran yang datang tiba-tiba ini.


Aku berusaha melepaskan cengkraman Seol, tetapi lelaki itu terlalu kuat untuk bisa kusingkirkan. Hingga akhirnya dia sendiri yang melepaskannya.


"Sial! Kau... kau... kau... " Aku tak dapat berkata apapun.


"Kamu sendiri yang mulai." Ungkap Seol.


"Dulu waktu aku di luar negeri, ketika seorang wanita memutuskan untuk mencium pria lebih dulu, maka pria itu harus membalasnya saat itu juga. Yah, sebagai bentuk penghargaan keberanian. Anggap saja ciuman ini bonus dariku yang menghargai keberanianmu ya. " Lanjut Seol, lelaki itu mendekatkan wajahnya sembari tersenyum.


"Heyyy bukan seperti itu! Siapa juga yang mau menciummu! " Omelku. "Ini salah paham!!! Ini kesalahan, aku tidak terimaaaaa!!! " Lanjutku.


Seol yang berjalan di depanku terus saja tertawa puas melihat aku yang kesal.


****


Setibanya di depan motor, Seol memberikan Hoodie yang ia pakai padaku. "Kenapa baru sekarang dipinjami? Kenapa tidak dari awal?!" protesku.


"Sengaja. Siapa suruh kamu dandan berlebihan gitu. Pakai rok dan baju pendek." Terang Seol, lalu ia menaiki motornya.


"Lah, kan kamu yang suruh aku ganti baju. Lagian ini juga bukan seleraku. " Ungkapku sambil menaiki motornya.


"Jujur, gaya ini benar-benar tidak seperti diriku yang biasa mengenakan sutra panjang dengan sulaman benang emas... " Gumamku perlahan. Saat itu kembali terbesit kenangan masa lalu, dimana beberapa pelayan wanita sibuk menata baju kebesaranku yang indah.


"Tadi kamu bilang apa? " Tanya Seol.


"Aku bilang baju ini gak sesuai seleraku. Kalau bukan karena Yuna, aku mana mau pakai ini!" Jawabku asal.


Greppp


Lagi-lagi Seol berulah. Ia menarik kedua tanganku untuk memeluk tubuhnya. "Eh... eh.. Seol. "


Aku segera memeluk Seol tanpa banyak berkata, sebelum akhirnya masalah lain timbul.


Motor Seol melaju meninggalkan rumah kakeknya. Kami menyusuri jalanan yang dihiasi gemerlap lampu malam hari. Perlahan-lahan aku mulai terbiasa dengan suasana modern yang tidak akan pernah kujumpai dulu.


Rasa takjub ini seakan tak ada habisnya. Seol benar-benar menunjukkan sesuatu yang baru bagiku. Ini indah sekali.


Sampai akhirnya kita berhenti di depan istana yang pernah menjadi tempat tinggalku. Aku tertegun beberapa saat sebelum membuka suara.


"Seol, kenapa kita ke tempat ini? "


"Yah, di luar negeri saat seseorang akan berkencan. Tempat pertama yang mereka kunjungi ya tempat dimana mereka bertemu pertama kali." Terang Seol.


Kemudian kami turun dan pergi ke tempat yang tidak asing bagiku. Ya, gerai sewa baju.


"Dan harus memakai pakaian yang mirip saat pertemuan pertama." Lanjut lelaki itu, kemudian ia menarikku menuju gerai sewa baju itu.


"Sudah kamu siapkan?" Tanya Seol kepada pemilik gerai.


"Tentu tuan, ini sutra terbaru. Belum ada yang pakai! Biaya sewa nya bisa berkali-kali lipat." Pria penjaga gerai itu mengangguk cepat, kemudian membawakan hanbook baru yang masih tersegel dalam kotak.


Saat kotak itu di buka, terdapat hanbook merah muda yang cantik dengan sulaman sakura, layaknya hanbook wanita remaja. Aku menyentuh hanbook itu dengan hati-hati sambil bergumam,


"Bahkan dulu aku tidak sempat memakai hanbook merah muda di masa remajaku karena sudah menikah dengan putra mahkota.... "


"Hae soo, kenapa diam saja? Ayo tukar bajumu." Seol mengagetkan lamunanku.


Kemudian aku pergi mengganti pakaian. Saat keluar Seol segera menyentuh rambutku tanpa basa basi.


"Hei heiii kenapa... "


"Dipertemuan pertama, gaya rambutmu seperti orang yang sudah menikah saja! Sini aku bantu menjalin rambut dan menatanya seperti gadis menawan."


Wajahku tersipu malu saat Seol menyentuh rambuku. Dia benar-benar menjalinnya dengan pita. Dan aku seperti terbawa ke masa lampau, dimana Seolwa adik ipar yang kusayangi memperlakukanku dengan hangat.


Joseon, musim semi 1669


[Author P. O. V]


Ratu duduk sebal di kamarnya sambil menatap bunga-bunga yang sedang bermekaran dari balik jendela.


"Ih, jadi ratu sama sekali tidak menyenangkan. Selalu pakai pakaian yang berat. Warnanya harus merah, dih aku benar-benar tidak suka. " Gerutu ratu Hae Soo.


"Yang mulia, tolong perhatikan posisi duduk anda. " Tiba-tiba Sulli pelayan ratu datang membawa camilan sambil tersenyum. Ia tahu, nyonya nya itu adalah gadis yang sembrono.


"Ya gimana gak kesal, aku baru 18 tahun tapi tiba-tiba sudah jadi ratu. Hanya boleh berdiam diri di istana, padahal ada festival bunga di kota. Aku kan ingin melihatnya jugaaaa. "


Hae Soo yang kekanakan terus merengek pada Sulli. Gadis muda itu berusaha menenangkan ratu dengan menepuk-nepuk lengan Hae Soo lembut.


"Bukannya ratu sendiri yang merengek minta dinikahkan secepatnya? Ingat tidak? " Goda Sulli.


Hae Soo terdiam. Lalu ia cemberut.


"Mama, pangeran Seolwa datang!!!"


Prajurit yang berjaga di luar meminta izin pada Hae Soo. Kemudian wajah gadis itu berubah sumringah saat tau adik ipar mengunjunginya.


"Masuk... masuk... persilahkan dia masukk. "


Ketika Seolwa masuk, Hae Soo memerintahkan seluruh pelayan yang ada di sana meninggalkan mereka kecuali Sulli.


"Adik ipar!!! Akhirnya kamu datang jugaa. " Pekik Hae Soo.


Seolwa yang lembut dan penuh perhatian membalas sambutan kakaknya dengan membungkuk hormat.


"Aku mau jalan-jalan melihat festival bunga di luar. Kamu pasti bisa bantu kan?? Ayolah kakakmu ini bisa mati kebosanan di sini. " Hae Soo memohon pada Seolwa.


"Aku tahu apa yang pasti permaisuri sukai. " Seolwa menyodorkan sebuah kotak yang berisi hanbook biru muda dengan hiasan pita warna warni yang cantik.


"Serius? Kita keluar kan? Waaaahhh Akhirnya aku bisa pakai gaun berwarna muda. " Hae Soo segera mengambil kotak tersebut dan mengenakan hanbook pemberian Seolwa.


"Gimana baguskan?" Hae Soo tampil dengan hanbook biru muda yang cantik sembari berputar. Seolwa terdiam sejenak kemudian tersenyum.


"Anda sangat cantik yang mulai, tapi... "


Seolwa mendekati Hae Soo, kemudian ia menarik perlahan konde emas yang melekat pada sanggul gadis itu. Hingga gulungan rambutnya tergelar menyentuh pinggangnya.


"Gadis yang mengenakan hanbook biru muda, cocoknya di sandingkan dengan pita biru muda juga. " Dengan lembut Seolwa menata rambut Hae Soo. Kemudian menyematkan pita di ujung jalinan rambutnya.


"Bagaimana bisa aku membawa kabur seorang gadis bersanggul. Sebaiknya jalinan rambut ini harus tetap terjulur sampai kita selesai jalan-jalan. " Terang Selowa.


Hae Soo kemudiam menatap Seolwa dengan tatapan usil. "Aku paham aku paham... hahaha, sekarang aku bukan permaisuri, tapi gadis 18 tahun yang bahagiaaaa. " Ungkap Hae Soo.


"Selama kami berada di luar, kau pasti paham tugasmu kan? Pokoknya aku percaya padamu Sulli!! "


Itulah kata-kata terakhir Hae Soo sebelum ia kabur bersama Seolwa. Sulli yang terbiasa menghadapi sikap nyonya nya yang sembrono hanya menggelengkan kepala.


*****


Back 2020


[Hae Soo P. O. V]


Aku tersadar dari lamunan tentang masa lalu. Begitupula Seol, dia telah selesai mengikat hiasan bunga mungil di atas kepalaku.


Tatapan tajam yang hangat khas adik ipar membias sangat nyata dari lelaki itu. Sampai-sampai aku tidak bisa membedakan kedua nya, mereka terlihat sama.


Kalau Seol yang ada di depanku sangat mirip dengan Seolwa adik iparku, apa kemungkinan untuk bertemu dengan orang yang mirip kaisar itu tidak mustahil? Pikirku.


-Di tempat Lain-


Jaesung yang sedang tertidur tiba-tiba membuka matanya. Kemudian pria itu bangkit untuk mengambil minuman di lantai satu.


Saat pria itu hendak menuangkan gelas, entah bagaimana ceritanya sampai gelas itu terjatuh.


"Sebenarnya badai apa yang akan datang? Kenapa aku jadi tidak tenang begini..." Gumam Jaesung dalam hati.