Oh Mama!

Oh Mama!
Prolog



Warning!


Cerita ini tidak memuat unsur historis sama sekali, semua tokoh fiktif belaka, kalau ada yang sama mungkin kebetulan....


hehehehe😄😄


Hope you enjoyed**!!!


Drap.... Drap.. Drap...


Malam itu yang mulia daebi mama (ibunda kaisar) berjalan dengan tergesa-gesa menuju Paviliun permaisuri Hae Soo. Tampak dari wajahnya yang mulai menua, daebi mama menyimpan rasa kekhawatiran yang sangat besar terhadap menantu kesayangannya.


Sementara di Paviliun lainnya, selir Chae Ryung menangis tersedu-sedu di bawah naungan pundak kaisar.


"Maafkan hamba yang mulia, telah gagal menjaga titipan yang diberikan oleh dewa. Hamba takut membawa celaka bagi negeri ini." Chae Ryung menangis tersedu-sedu, sementara para selir lainnya mengintip kamar wanita itu.


Kaisar dengan lembut membelai rambut Chae Ryung. "Bukan salahmu, tapi wanita itu yang akan membuat negeri ini celaka! Aku tidak bisa memaafkannya." Nada bicara raja berubah sinis.


"Hamba mohon ampun baginda. Permaisuri tidak bersalah, hamba yang lalai menjaga kandungan hamba." Chae Ryung yang masih dalam kondisi lemah berlutut di hadapan kaisar.


"Chae Ryung!"


Dengan sigap kaisar menarik dan memeluk Chae Ryung. "Jangan pernah berlutut seperti itu lagi!" Seru kaisar. Dalam pelukan pria itu, Chae Ryung tersenyum licik.


***


Paviliun Permaisuri


Daebi mama menerobos kamar tidur Hae Soo. Wanita itu terkejut saat daebi mama menghampiri dan kemudian menamparnya.


PLAK!!!!!


"Apa yang telah kau lakukan permaisuri!"


"Daebi mama.." Hae Soo menyentuh pipinya yang memerah.


Daebi mama segera memeluk Hae Soo dan menangis. "Sudah berapa kali kukatakan padamu permaisuri, jauhi selir sukwon (julukan selir Chae Ryung), sekarang lihat apa yang dilakukan oleh selir rendahan itu!"


"Ibu, aku....aku tidak bermaksud mencelakainya. Aku hanya mengirim bubur biasa, tapi kenapa semuanya jadi seperti ini." Hae Soo menangis di pelukan daebi mama.


"Kaisar tidak akan melakukan apa-apa padaku kan?" Hae Soo menatap dalam-dalam daebi mama.


Sebelum daebi mama melanjutkan kata-katanya, terdengar keributan dari arah luar kamar permaisuri.


BRAK!!


Tak berapa lama pengawal khusus kaisar memasuki kediaman permaisuri. Keadaan yang semula tenang berubah mencekam. Tak ada satupun orang yang mencegah pasukan itu sampai akhirnya menembus kamar permaisuri.


"Yang mulia permaisuri, saat ini anda telah ditetapkan sebagai pelaku kejahatan. Atas perintah kaisar, kami harus membawa anda ke penjara!"


Tanpa segan-segan beberapa pengawal menarik paksa permaisuri dari dekapan daebi mama. Beberapa orang lagi menahan daebi mama yang tengah menahan permaisuri.


***


[Hae Soo p.o.v]


02 Agustus 1677


Pagi itu cuaca tampak cerah, setiap permaisuri yang akan di hukum mati akan diberikan satu permintaan terakhir. Aku memutuskan untuk berdiam di Paviliun sambil sesekali membayangkan masa kecil menjelang hari kematian.


Hae Soo, setelah kau menempati Paviliun permaisuri nantinya, jadilah ibu joseon yang membawa kebanggaan bagi keluargamu dan kerajaan. Jangan pernah mengecewakan siapapun, selalu berbakti kepada suamimu, dan hormati dia sebagai kaisar. Pesan ayah padamu bunga blossomku, tetaplah mekar dan membawa kebahagiaan bagi seluruh negeri Joseon.


Surat yang ayah berikan sepuluh tahun lalu menjadi bahan bacaan terakhir sebelum akhirnya aku di bawa ke area eksekusi. Aku tidak bisa menahan air mata ketika membacanya.


"Ayah, putrimu gagal menjadi ibu joseon."


Gumamku dalam hati. Sambil menerawang jauh, kembali kuingat masa dimana aku pertama kali bertemu dengan kaisar. Saat itu perasaan suka yang membara hadir, bahkan di hari terakhir ini rasa itu tidaklah padam.


Krek.


"Permaisuri, waktunya telah tiba..."


Salah satu dayang berbaju hitam menjemputku untuk segera beranjak dari Paviliun permaisuri.


Setiap langkah yang kulalui, ada saja tempat yang mengingatkanku tentang kaisar, tentang dimana kami menghabiskan waktu 10 tahun belakangan. Tentang betapa bahagianya aku pada waktu itu.


Dan tibalah saatnya untuk mengakhiri semua.


"Atas kesalahan yang telah permaisuri lakukan karena berusaha menghabisi nyawa selir sukwon dan membunuh bakal anak kaisar, maka dengan ini sebagai hukuman, permaisuri akan di cabut gelar kebangsawanannya, serta harus di hukum gantung sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan."


Saat keputusan kaisar telah bulat, hanya tali gantung yang berada di depanku satu-satunya jalan untuk mendedikasikan kesetiaan dan ketaatanku kepadanya. Aku melemparkan pandangan terakhir pada kaisar, tetapi dia sama sekali tak membalas tatapanku.


Kali ini aku berdoa kepada yang kuasa, bila saatnya tiba, di kehidupan berikutnya biarkan aku kembali mencintai kaisar, dan dia pun hanya mencintaiku.....


krek...


Tepat sesaat setelah menggantung leher, tiba-tiba terjadi gerhana matahari dan semua berubah dengan begitu cepat.


****


"Hae Soo?"


"Hae Soo apa kamu sudah sadar?"


Terdengar suara sayup-sayup memanggil namaku. Saat membuka mata, kudapati beberapa orang asing dengan pakaian aneh menatapku.


"Hae Soo putrikuuuu!!!"


Salah seorang wanita berambut pendek memelukku dengan sangat erat, dan dia mengaku sebagai ibuku?!


"Hae Soo, akhirnya kau sadar juga!!!" Kemudian seorang wanita berkulit gelap dengan dandanan nyentrik ikut memelukku erat.


Aku menatap seluruh penjuru ruangan yang tampak asing bagiku. Sebenarnya ini di mana????


Continue. ..