
[ Hae Soo p.o.v]
"Hae Soo?"
"Hae Soo apa kamu sudah sadar?"
Terdengar suara sayup-sayup memanggil namaku. Saat membuka mata, kudapati beberapa orang asing dengan pakaian aneh menatapku.
"Hae Soo putrikuuuu!!!"
Salah seorang wanita berambut pendek memelukku dengan sangat erat, dan dia mengaku sebagai ibuku?!
"Hae Soo, akhirnya kau sadar juga!!!" Kemudian seorang wanita berkulit gelap dengan dandanan nyentrik ikut memelukku erat.
Aku menatap seluruh penjuru ruangan yang tampak asing bagiku. Sebenarnya ini di mana?
Plak
Setelah memeluk tubuhku erat, wanita yang mengaku sebagai "ibu" itu kemudian menjitak kepalaku. Raut wajah yang semula lega berubah menjadi geraman seperti sedang memendam kekesalan.
"Dasar bodoh!! apa sih yang kamu pikirkan Hae Soo, bisa kecelakaan gini. bikin ibu khawatir saja lohh." Wanita itu mengguncang-guncang tubuhku.
"Istriku!" pekik lelaki paruh baya yang tiba-tiba datang dari luar.
"Nanti Hae Soo bisa mati beneran gara-gara Kamu!!" lanjut pria tersebut sambil melepaskan cengkraman wanita itu dari tubuhku.
Akhirnya aku lepas dari wanita itu. Kemudian wanita berkulit gelap menghampiriku.
"Hae soo.."
"Tunggu!" Aku segera memberi tanda agar wanita itu tidak mendekat. Kemudian aku mulai meraba di sekitar leher.
"Ya... aku belum mati. Aku tidak akan mati!!! Raja tidak mungkin membunuhku, aku kan wangbi (istri sah kaisar a.k.a permaisuri)!!" Pekikku kegirangan sambil menggeliat di atas tempat tidur.
[Author p.o.v]
Hae Soo terlihat bahagia sambil mengusap-usap leher dan bergumam hal yang aneh. Sementara ibu, ayah dan wanita berkulit gelap kebingungan melihat sikap Hae Soo.
Hae Soo bahkan tidak menyadari kalau tempat tinggalnya saat ini berbeda dengan tempat tinggalnya dulu. Ya, jiwa gadis itu telah berpindah ke kehidupannya di masa depan.
"Pertama-tama, aku ingin berterima kasih kepada kalian semua. Tapi kalian siapa? apa kalian orang yang dikirim daebi mama?" Hae Soo mulai berbicara.
Gaya bicaranya yang formal membuat orang-orang kebingungan, apalagi ayahnya. Sampai-sampai pria itu menggusal kedua mata sangking tidak percaya.
"Dasar anak durhaka! mentang-mentang tidak sadarkan diri selama seminggu, bisa-bisanya lupa sama ayah ibu!!" pekik wanita berambut pendek itu, untung saja pria yang merupakan "ayah" Hae Soo dengan sigap menghalangi istrinya untuk menyerang Hae Soo.
"Kenapa wanita itu dari tadi menyerangku sih?! dia tau tidak siapa aku." Hae Soo sedikit mengangkat tubuhnya dengan raut wajah kesal.
"Tunjukkan rasa hormatmu pada permaisuri!" lanjut gadis itu.
Ibu Hae Soo dari masa depan tidak mampu menahan emosi, saat wanita itu hampir menyerang Hae Soo, suaminya segera menyeret ia keluar dari ruangan.
Kemudian wanita bekulit gelap yang dari tadi hanya diam pelan-pelan mendekati Hae Soo.
"Hey, apa yang sudah kau lalui selama tidur seminggu ini sih! Aku Re mi. Jang Re mi. teman kecilmu Hae Soo! kita sudah banyak melewati waktu bersama dan kau masih bertanya aku siapa?! dasar anak ini!." Re mi mengacak-acak rambut Hae Soo.
"Hey Hey Hey!!! berani sekali menyentuh rambutku!!" Hae Soo segera menepis tangan Re mi.
"Kenapa? kau mau bilang kalau dirimu itu istri raja? permaisuri? begitu!! ya.... ya..., kau itu permaisuri. ah..." Re mi menghentikan kata-katanya.
"Hae Soo, dengar...."
"Ada hal penting yang harus kau tau! ini menyangkut hidup keduamu!" Re mi mendadak serius.
"Maksudmu apa?" tanya Hae Soo.
"Ngomong-ngomong soal permaisuri, aku jadi ingat taruhan yang kau lakukan sebelum masuk rumah sakit." Lanjut gadis itu.
Hae Soo masih berfikir keras, apa yang telah ia lakukan seminggu belakangan. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di katakan Re mi.
"Ayolah, katakan dengan jelas. aku masih tidak mengerti." Gerutu Hae Soo.
Grepp!!!
Re mi mencengkram bahu Hae Soo.
"Biar kuingatkan. Hae Soo, minggu lalu kau itu taruhan sama ketua geng motor sma Selatan. Sayangnya malah kecelakaan begini. tapi sialnya..." Re mi tampak ragu untuk melanjutkan.
"Apa? aku masih tidak mengerti. Sma Selatan? geng motor? kata-kata yang baru kudengar." Hae Soo menanggapi omongan Re mi masih dengan penuh tanda tanya.
"Dengar, intinya. kau itu udah ngerusakin motor yang kau pinjam waktu balapan. Jadi, sekarang gimana caranya buat ganti motor itu!" Terang Re mi.
"Motor? benda apa lagi itu." Hae Soo masih bingung.
Re mi menghela nafas sembari menggusal rambut panjangnya.
"Hae Soo, jangan pura-pura lupa kamu. ah, aku tau dari dulu kau memang pandai lari dari masalah. tapi masalah kali ini gak semudah itu! kudengar, motor yang kau pinjam dari tae Jun kawan sekolah kita itu, milik sepupunya yang lagi liburan ke Amerika!" Re mi bersikeras membuat Hae Soo sadar, tanpa tahu kalau Hae Soo yang ada di hadapannya saat ini berbeda dari Hae Soo yang ia kenal.
"Dan kudengar, sodara tae Jun itu berasa dari keluarga super kaya yang paling berpengaruh di korea. pasti gak bakal mudah lepas darinya kalau sampai buat masalah!!" Re mi menekan kata-kata terakhir yang keluar dari mulutnya.
"Akh! tolong lah. Sebenarnya dari tadi aku sulit untuk mencerna kata-katamu. keluarlah, aku ingin sendiri saja. kalau daebi mama tiba tolong katakan padanya aku baik-baik saja." Hae Soo sama sekali tidak menggubris perkataan Re mi, kemudian menarik selimutnya untuk tidur.
"Satu lagi, kalau raja datang segera bangunan aku. Aku ingin berterima kasih....., karena memberiku kesempatan hidup sekali lagi.." Setelah menuntaskan kata-katanya, Hae Soo terlelap dengan sangat pulas. Re mi menatap punggung Hae Soo sambil memukul pelan kepalanya beberapa kali.
***
Sementara itu,
Lobby bandara korea Selatan.
Seorang lelaki keluar dengan beberapa orang pengawal di belakangnya. dandanan lelaki itu cukup menarik perhatian siapapun yang melihatnya.
Lelaki itu mengenakan celana selutut, kaos bermotif macan tutul berbalut jaket tebal bulu-bulu, dan menggunakan sepatu yang senada dengan warna rambut golden brownnya.
Tentunya, hal paling menarik yang dikenakan lelaki itu adalah kacamata fashion berukuran besar menghiasi wajah tampannya. Semua barang yang ia kenakan adalah barang branded dan sangat eksklusif.
"Selamat datang tuan, apa ada hal yang ingin. anda lakukan?" tepat di pintu kedatangan, seorang pria paruh baya berpakaian rapi menyambut lelaki nyentrik tersebut.
"Hello Pak seolim, Aku mau bertemu rebecca. apa kau membawanya?" tanya lelaki itu sambil mengunyah kacang2 an yang ia kantongi di jaket mahalnya.
"Soal itu..."
lelaki nyentrik itu segera menahan kata-kata yang keluar dari pak seolim dengan memberikan seluruh kacang yang ada di tangannya.
"Ah, Tae Jun.. Rebecca pasti ada padanya. hmmm, kayaknya memang harus mampir ke rumah bibi..." Lelaki nyentrik tersebut segera masuk ke dalam mobil yang telah di sediakan.
Paham atas permintaan tuan mudanya, pak seolim segera memerintahkan bawahannya yang lain untuk bersiap mengantar lelaki nyentrik itu ke rumah Tae Jun..
Bersambung..