
[Author P.OV]
*Kediaman Seol
BRAK!
Tiba-tiba pintu kamar Seol dibuka paksa oleh sekelompok pengawal, tak berapa lama muncul kakek Seol dengan raut wajah penuh amarah. "Penghinaan apalagi yang kamu berikan kepadaku malam ini Seol! Sudah berulang kali aku katakan padamu untuk bisa menjaga sikap, apa kau tidak sadar-sadar juga!!!" Teriak pria tua itu.
Seol yang berambut sedkit panjang kemudian menyibaknya perlahan, ternyata pria itu menggunakan airpod, sehingga ia tidak mendengar jelas apa yang kakek ucapkan. "Maaf bisa diulangi?" Pinta Seol santai sembari melepaskan airpod itu dari telinganya.
"Cucu kurang aj...." Belum selesai sang kakek mengayuhkan tangannya untuk memukul Seol, cepat-cepat Jaesung menahannya. Lelaki itu, entah datang dari mana tiba-tiba sudah berada di sana untuk memecahkan ketegangan antara kakek dan Seol.
"Sudahlah kakek, aku yang akan berbicara padanya..." Terang Jaesung lembut.
Seol tampak kesal melihat kakaknya terlihat seperti pahlawan kesiangan. Lelaki itu memang tidak memiliki hubungan yang terlalu baik dengan Jaesung sejak kecil. Sebab. perlakuan keluarga besar antara dia dan lelaki itu berbeda jauh. Alasan yang paling masuk akal saat ini adalah, karena Seol dan Jaesung berasal dari ibu yang berbeda.
Setelah situasi cukup kondusif, Jaesung duduk ditepian tempat tidur Seol. Sementara lelaki itu sedikit memberi jarak duduk antara dirinya dengan kakak lelakinya itu.
"Seol, aku tahu ini sulit untukmu. Tapi sekali ini saja ikuti apa yang diinginkan oleh kakek. Dekatlah dengan Cahe Ryung dan nikahi dia." Pinta Jaesung.
Di dalam hati, Seol menggerutu kesal "Maksudmu, aku menikahi selingkuhanmu gitu? Aku sama sekali tidak paham apa yang kau fikirkan Jaesung. Kalau kalian saling mencintai, kenapa tidak kalian gelar saja acara pernikahan itu! Kenapa harus melibatkan aku!!!" Seol menatap tajam kakaknya masih dengan bibir terkunci rapat.
"Janga memandangku seakan kau ingin membunuhku!" Tegur Jaesung.
Kemudian tatapan Seol beralih ke kakek yang masih berdiri di dekat pintu.
"Ngomong-ngomong, Jaesung lebih tua dariku dan dia sepertinya lebih pantas dan siap untuk menikah. Kenapa kalian menyeretku dalam drama pernikahan norak ini?" Tanya Seol pada kakeknya sambil melemparkan senyuman meledek. Sementara Jaesung terlihat mencengkram sprei kasur Seol dengan sangat kuat.
"Kenapa kamu lagi-lagi melampaui batasanmu! Pria di rumah ini telah kutentukan akan menikah dengan siapa! Jangan mempertanyakan apa yang tidak seharusnya kau tanyakan! Jaesung telah kupersiapkan jodohnya, yang jelas kau harus fokus dengan jodohmu!" Kakek kembali marah, kali ini Jaesung tidak berkata apa-apa, tatapan matanya kosong.
"Ah.... sekarang aku paham kenapa lelaki ini tidak bisa seenaknya saja pamer hubungan dengan wanita itu!" Gumam Seol.
"Yasudah, kalau memang Jaesung telah kakek tentukan jodohnya, nikahi saja dia dulu! Jangan ikut campur dengan urusanku... ayolah kek, aku baru anak SMA!!! Kenapa harus aku yang mendahului Jaesung." Omel Seol tidak terima.
Kakek kali ini tidak dapat marah, ia hanya melempar tatapan sinis kepada Seol dan pergi meninggalkan mereka. Setelah kakek lenyap dari pandangan kedua lelaki itu, Jaesung bangkit dan pamit undur diri. Dia sama sekali tidak menyinggung soal pernikahan Seol lagi dan memilih diam kemudian pergi dari sana.
Kehengingan menyelimuti kamar Seol. Pria itu mengacak-acak rambutnya tanda sedang gusar. Kemudian ia teringat kembali kata-kata Hae Soo beberapa waktu lalu, "Chae Ryung.."
Setelah mengingat nama itu, ia kemudian teringat pada gadis yang dijodohkan dengannya.
"Kenapa nama mereka berdua sama ya? Selir yang Hae Soo katakan, dengan nama gadis yang akan dijodohkan denganku?" Pikir Seol.
Tak berapa lama Seol menelfon seseorang.
"Tae Jun.... Tolong lakukan sesuatu untukkku, carikan arsip dan data mengenai keluarga kita dari tahun 1600 an oke!" Terang Seol singkat, sementara suara dari ujung sana seperti menggerutu panjang setelah mendengar permintaan Seol. Lelaki itu tidak mendengarkan celotehan Tae Jun dan langsung mematikan handphonenya.
Lakukan apa yang kuminta, kupastikan hukumanmu dari paman dan bibi akan diringankan.
Begitulah pesan singkat yang Seol kirimkan kepada Tae Jun setelah ia mematikan teleponnya.
*******
[Seol P.O.V]
Ringgggg........
Telepon genggamku berbunyi,
"Siapa si yang menelpon pagi-pagi begini! Bikin kesal saja, apa Tae Jun sudah menemukan apa yang kuminta?" Gumamku sambil mengangkat telepon tanpa mengecek panggilan tersebut berasal dari siapa.
"Ah ya Tae Jun..."
"Aku Chae Ryung..."
Mendadak kedua mataku terbuka lebar. "Sial! kenapa aku angkat..." Gumamku.
"Kalau ada yang mau kau bicarakan langsung saja ke intinya! Aku tidak mau berlama-lama telponan denganmu!"
"Aku ingin bertemu..."
Belum selesai wanita itu berbicara, aku segera mematikan telepon dan mengirim sebuah pesan padanya.
Kirimkan alamatnya, aku akan datang dan kita selesaikan semuanya.
Selepas mendapat balasan pesan dari gadis itu, aku segera bersiap dan pergi menemuinya. Meski agak malas, tapi hal ini tetap harus kulakukan untuk bisa lepas darinya.
Sesuai dengan tempat yang dikatakan olehnya, aku segera duduk dengan kesal. Saat pelayan menghampiri, aku hanya mengusirnya pergi dengan beberapa kibasan tangan. Kemudia Chae Ryung tiba. Gadis itu mengenakan dress musim panas berwarna kuning segar denga rambut terurai setengah jalinan. Ia duduk perlahan dan memanggil pelayan untuk memesan sarapan pagi.
"Kamu ingin memesan sesuatu?" Tanya Chae Ryung sambil terseyum,
"Kita di sini untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk sarapan!" Aku mengingatkan.
"Ok baik. Pancake dua, kopi pahit dua." Chae Ryung segera memesan makanan.
"Kau gila?! Aku tidak mau makan apapun!" Omelku pada gadis itu, tetapi ia tidak mendegar dan memilih untuk merapikan riasannya sembari berkata, "Penampilanku hari ini menawan kan? Ah... aku baru saja membeli parfum terbaru edisi terbatas. Coba cium aromanya, menenangkan bukan..." Chae Ryung menyodorkan nadi tangannya ke arah hidungku. Segera kutepis tangan gadis itu perlahan. "Apa yang mau kamu bicarakan?!" Tandasku.
"Soal malam itu.... aku mengerti kok kamu tidak bisa hadir.... dan lebih baik juga kita ulur saja waktu bertemu denga dua keluarga." Ungkap gadis itu. Tak berapa lama makanan yang ia pesan tiba.
"Lebih baik kita akhiri saja ya pertunangan bodoh ini.."
Setelah mendengar itu, Chae Ryung yang tengah menyeruput kopi hitamnya melemparkan tatapan sedikit kaget. "Aku tahu kamu dan Jaesung punya hubungan. Kenapa kalian tidak terbuka aja sih sama keluarga itu!!!" Pungkasku lagi.
Chae Ryung tertawa tipis sembari menyeka bibirnya dengan serbet. Dia seperti tak menghiraukan perkataanku dan malah asik memotong-motong pancakenya.
"Jadi kamu tahu ya, hubunganku dan kakakmu..."
"Kalian berdua menyusahkan! Kalau saling mencintai kenapa harus menyeret aku!"
HUPPP
Saat tengah sibuk menjelaskan, Chae Ryung tiba-tiba memasukan sesendok mungil pancake miliknya padaku. Saat itu juga aku terkejut dan dia masih dengan senyuman berkata "lebih baik habiskan dulu sarapannya, aku tidak mau berdebat dengan perut kosong!"
"Pueh!!!" Sontak pancak itu kubuang. Cepat-cepat kuseka bibirku dengan serbet yang ada di sana.
"KAMU MINTA BERTEMU! TAPI HANYA OMONG KOSONG YANG KUTERIMA.... KUKIRA KITA BISA SELESAIKAN, TERNYATA MEMANGA AKU YANG HARUS BICARA PADA KAKEK!"
Saat hendak pergi, Chae Ryung menahan pergelangan tanganku dan berkata, "Temukan gadis itu, maka aku akan menikahi Jaesung."
Langkahku terdiam, tapi aku masih tidak mau mengalihkan pandanganku pada gadis itu. Kemudian Chae Ryung memberikan sebuah map pada tanganku. Gadis itu sedikit menjelaskan apa yang ada di dalamnya.
"Tunangan Jaesung adalah cucu dari teman kakek. Sayangnya keluarga mereka entah berada di mana sekarang. Kakek sedang mencarai gadis itu. Temukan dia, jangan sampai kakek menemukannya lebih dulu... Kau tau sendiri kan kekuatan kakek seperti apa. Aku dan Jaesung sejak lama mencari gadis itu, tidak ada salahnya menambah satu kekuatan lagi untuk bisa menemukannya, jangan biarkan dia menikah dengan Jaesung. Hanya itu saja. Maka pertunangan kita batal. "
Aku menggengam erat map yang diberikan oleh Chae Ryung. "Kau harus menepati kata-katamu!" setelah mengucapkan kata-kata, aku segera berlalu meninggalkan Chae Ryung.
[Author P.O.V]
Sepeninggal Seol, Chae Ryung masih duduk santai sembari menyeruput kopi hitamnya. Ia nampak sangat menikmati suasana di cafe pagi itu. Tak terhitung ada berapa pasang mata melihat keanggunannya, dia adalah sosok cantik jelita yang halus dan rapuh seperti bidadari. Wajahnya benar-benar menggambarkan karya seni kualitas tinggi yang mempesona.
Terlahir dari keluarga terhormat, membuat setiap gerak yang ia tampilkan seperti sedang menari dengan anggunnya. Sesekali ia tersenyum melihat layar handphonenya. Di sana, seseorang sedang mengirimkan beberapa foto yang di ambil secara diam-diam. Foto gadis itu bersama Seol yang romantis seperti pasangan.
Kemudian gadis itu mengirimkan beberapa pada kakek Seol lengkap dengan kata-kata manis penghibur suasana pria tua yang sempat marah pada cucunya itu.
Kakek tidak perlu khawatir, kita akan tetap menjadi pasangan serasi yang ditakdirkan oleh langit.
Tak berapa lama balasan kakek Seol datang dengan cepat, gadis itu tersenyum sambil membuka saldo terakhir rekeningnya yang bertambah.
"Hhmmm, aku tidak ingin hidup seperti ini berakhir dengan mudah. Meskipun Jaesung belum kudapatkan sepenuhnya, memainkan peran sebagai calon menantu yang manis harus terus berjalan kan...."
Gumam gadis itu sambil terseum di hadapan kopi hitamnya yang hampir habis.