Oh Mama!

Oh Mama!
Chapter 12



[ Author P.O.V]


Suasana pagi cerah di kediaman Hae Soo tampak berbeda, kali ini keluarga kecil tersebut sedang membenahi rumah mereka yang lumayan berantakan. Tak seperti biasanya, Hyung tertua di keluarga itu turut hadir meramaikan ritual bulanan tersebut. Biasanya saat hari berbenah tiba, Hae Soo yang "asli" lebih memilih menghabisakan waktu di kamar sambil tiduran, dan tidak ambil pusing dengan segala bentuk kegiatan yang terjadi di luar kamarnya. Tapi kali ini segalanya berbeda, dia benar-benar semangat turut andil membersihkan semua.


Meski saat menjadi permaisuri dahulu Hae Soo itu tidak pernah memegang tangkai sapu dan bersih-bersih, gadis itu tetap memiliki jiwa petualang yang senang hal-hal baru, jadi ia tidak keberatan untuk melakukan hal tersebut. Malah Hae Soo senang karena bebas melakukan apapun yang belum pernah dicoba tanpa aturan yang mengikat.


Perubahan sikap ini membuat seluruh keluarganya bingung sekaligus takjub. Bisa-bisanya gadis pemalas yang bahkan meletakkan baju kotornya di mesin cuci saja tidak mau, malah semangat membersihkan seisi rumah. Bahkan si perfeksionlis Yeon Seok, kakak kedua Hae Soo berdecak kagum melihat kegigihan adik bungsunya itu.


"Wah wah wah... akhirnya anak gadis di rumah ini berfungsi dengan benar...." Ledek ibu sambil mempersiapkan bakaran di halaman rumah untuk makan siang nanti bersama dengan hyung tertua mereka, Jun Woo.


"Ibu, aku sudah senang melihat preman itu akhirnya sadar. Jangan mengejeknya tidak berfungsi." Ungkap Yeon Seok, hyung kedua.


"Aiiii... ayo siapkan barbekyunya.. ayah sudah lapar ini.." Ayah tiba-tiba muncul sambil membawa sumpit dan mangkuk sendiri.


PLTAK!


"Haish! Ini untuk makan nanti siang, kita belum selesai beres-beres. Kerjakan tugasmu sana! Sudah bawa mangkuk saja." Ibu memukul tangan ayah.


Yeon Seok dan Jun Woo tertawa melihat tingkah ibu dan ayah mereka. Sementara itu Hae Soo yang masih berjibaku dengan debu dan kotoran yang menempel di atas plafon rumah menemukan sesuatu.


"Ibu...ayah... apa yang sedang kalian lakukan?" Ujar Hae Soo yang tiba-tiba datang dan mendapati keributan kecil di halaman rumah kecil mereka.


Seluruh mata tertuju pada benda mungil berkilauan yang di bawa gadis itu, termasuk Yeon Seok dan Jun Woo.


"Hae Soo.... dimana kamu menemukan benda ini?" Cepat-cepat ibu merampas sebuah kalung dengan permata kristal berbentuk tabung dari tangan Hae Soo. Gadis itu seketika tampak bingung, dan saat akan bertanya lagi cepat-cepat ibu menyuruhnya masuk untuk membersihkan daging yang belum diiris.


"Aih... sudah jangan bertanya, kamu sudah bersihkan kamar dan beberapa ruangan di rumah ini kan? Sekarang bantu Yeon mengiris daging." Ibu memberikan kode pada Yeon untuk segera membawa Hae Soo pergi.


"Iya.. tapi aku juga mau tau itu..."


"Hae Soo, kamu belum pernah kerja di dapur kan, karena aku lagi ada waktu kamu bisa belajar banyak dariku! Ayoo..." Yeon segera menarik tangan Hae Soo.


Selepas mereka pergi dari tempat itu, ibu, ayah, dan Jun Woo saling melempar pandangan, kemudian memusatkannya pada kalung kristal tersebut.


"Kupikir benda itu sudah dibuang, ternyata masih ada di rumah ini..." Jun Woo angkat bicara. Ibu melemparkan tatapan tajam kepada ayah sembari berkata, " Dimana kamu simpan benda ini? Kenapa bisa ditemukan Hae Soo!" Bisik ibu sambil menekan nada bicaranya. Ayah sesekali menelan ludah dan sulit membuka suara.


"Itu... itu... aku meletakkannya di plafon rumah, kupikir Hae Soo tidak mungkin menjelajahi tempat itu." Ungkap ayah terbata-bata.


Jun Woo dan ibu menghela nafas panjang. " Lalu kamu ingin menyeret kita kembali ke rumah besar itu? Tuhan... aku sudah hidup damai selama 10 tahun ini jauh dari wanita lampir itu!" Gerutu ibu.


"Selama ini aku dan Yeon telah berusaha tampil sempurna demi menyenangkan nenek supaya dia tidak memikirkan cucu perempuannya itu. Kalau sampai nenek tau keberadaan  ayah, ibu dan Hae Soo wanita itu benar-benar akan menyeret kalian kembali dan pertunangan dengan keluarga Yi akan segera dilakukan." Terang Jun Woo dengan nada khawatir.


Setelah cukup lama berdiri, mereka bertiga memutuskan untuk duduk layaknya seorang bermartabat dengan gaya elegan. Inilah rupa wajah sesungguhnya dari keluarga kecil Hae Soo yang terlihat seperti orang biasa, namun ternyata tidak.


"Kalung ini kenapa tidak kamu buang saja dari awal" Ungkap ibu.


"Banyak pertimbangan yang aku pikirkan, jika kalung ini dibuang sembarangan dan diambil orang yang tidak bertanggung jawab keluarga besar Yi dan Kang bisa berantakan. Sejak dulu juga aku sudah membawanya ke tempat peleburan berlian tapi sialnya benda ini terlalu solid dan tidak bisa dihancurkan." Terang ayah serius.


"Selama ini kita mengarang kematian bersama, hidup dalam kesederhanaan, merubah marga menjadi Jang, supaya nasib Hae Soo kesayangan kita tidak terkekang. Aku tidak ingin nasibnya sama seperti adik perempuanmu yang bunuh diri itu Kang Anh. Aku tidak bisa membayangkan jika ibu tirimu itu tau kalau kita berdua dan Hae Soo masih hidup!" Ibu mengusap perlahan keningnya yang mulai mengeriput.


"Kita pasti bisa menjaganya dengan baik... sampai nanti dia bisa menikah dengan kekasih pilihannya, baru kedamaian benar-benar ada dalam keluarga kecil kita." Ayah mengusap perlahan pundak ibu seraya menguatkan wanita yang kini terlihat gusar.


"Jun Woo, bagaimana pergerakan keluarga Yi dan Kang? " Tanya ayah.


"Nenek masih mengerahkan kekuatannya untuk mencari kalian, dan keluarga Yi juga terus mendesak cucu tertuanya untuk mencari Hae Soo. Memang saat ini gadis itu masih aman di tempat dan kehidupan sederhana seperti ini. Tapi aku khawatir itu tidak berlangsung lama. " Terang Jun Woo.


"Kenapa wanita tua itu tetap berambisi merebut Hae Soo dari kitaa!!" Rutuk ibu. "Sebenarnya aku tidak tahan hidup seperti ini, kehidupan si sini sangat jauh berbeda dari yang biasa aku Terima. Hae Soo juga sebenarnya bisa dibesarkan dengan layak! Kalau tidak karena perjanjian konyol antara tetua Kang dan Yi, ini pasti tidak akan terjadi!" Lanjut wanita itu dengan kesal.


"Mau bagaimana lagi, kekayaan keluarga Yi yang fantastis, background keluarga kerajaan yang dimiliki, mereka menjanjikan persembahan mahar luar biasa untuk cucu menantu perempuan keluarga Kang. Dan itu sudah di persiapkan dari jauh sebelum keturunan wanita dari keluarga Kang muncul. Wanita licik itu pasti punya rencana untuk menguasainya! Untung saja keluarga Kang hanya melahirkan putra-putra. Tapi sejauh ini hanya adikku dan Hae Soo yang perempuan... " Ayah menimpali perkataan ibu dengan raut wajah sedih.


"Konsekuensi menjadi menantu Yi itu luar biasa berat. Bahkan sejauh apa yang aku dengar bibi hampir depresi karena tempramen dan aturan keluarga Yi sangat ketat. " Jun Woo mengernyitkan dahi.


"Kenapa harus melindungiku? " Tiba2 Hae Soo datang membawa nampan besi yang berisi penuh daging.


Ayah, ibu dan Jun Woo kaget. Sementara Yeon yang berdiri di belakang Hae Soo memberikan isyarat jika ia telah sekuat tenaga untuk menghalangi Hae Soo Sampai ke tempat mereka.


"Ya, kami hanya bercerita masa-masa kamu kritis dulu. Jadi jangan sampai terulang kembali, kamu harus kami lindungi.... " Ibu berusaha menjelaskan meski agar tersendat.


Hae Soo kemudian tersenyum dan langsung menghampiri keluarga kecilnya. "Ayo, waktunya makan-makan!!!" Pekik gadis itu riang. Seketika suasana di antara mereka berubah menjadi hangat kembali.


****


Sementara itu di kediaman Kang


"Kenapa nenek bersi keras mencari sisa-sisa keluarga Kang itu.... " Seorang gadis menggerutu ketika melihat neneknya duduk di samping jendela besar yang megah sembari menatap sebuah foto kecil berisikan gambar anak perempuan bersama ayah ibu dan kedua kakaknya.


"Mereka pasti belum meninggal. Aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan besar meraup keuntungan dari keluarga Yi. " Terang wanita tua itu datar.


"Kalau ternyata mereka memang tidak ada! Bagaimana! Lagian aku, cucu cantik jelitamu ini kan juga menarik untuk keluarga Yi!" Gadis itu cemberut.


"Nara.... Aku tidak mungkin melemparkan berlian ke dalam kandang singa keluarga Yi. Mereka itu ketat sekali, sementara kau suka kebebasan. Aku tidak mungkin menaruhmu dalam kuburan hidup. " Terang nenek perlahan, sembari menghampiri gadis yang sejak tadi berada bersamanya.


Tiba-tiba kepala pelayan utama keluarga Kang datang menemui nyonya Kang.


"Ada kabar dari pergerakan tuan Yi, nyonya." Ungakap pria paruh baya itu.


"Soal Hae Soo? " Tanya wanita itu.


"Tampaknya keluarga mereka masih mencari tanda-tanda keberadaan tuan muda dan nyonya muda Kang. Mereka sampai menurunkan cucu keduanya. " Terang kepala pelayan tersebut.


"Yah, bagaimanapun, kebenaran harus terungkap. Hampir 10 tahun keluarga itu menghilang karena kecelakaan. Wajar kan mencari kerabat yang tidak ditemukan. Apapun itu, bahkan abunya harus ditemukan!. " Tegas nyonya Kang.


"Tapi aku lebih percaya mereka masih punya kehidupan lain di luar sana yang tidak aku ketahui!" Wanita itu berlalu sambil tersenyum merapikan sanggul rambutnya.


Saat kepala pelayan berjalan mengikuti nyonya Kang. Nara menahan pria itu.


"Hey pak tua! Apa spesialnya Hae Soo di mata nenek sih! " Tampaknya gadis itu tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh nenek.


Kepala pelayan menatap sinis ke arah Nara. Ia mengamati gadis itu dari atas sampai bawah dan mengulanginya lagi.


"Nona besar kami tidak sebanding dengan anda! Saya peringatkan lagi ya nona, anda masih dihargai karena anda anak dari putri bawaan Nyonya Kang. Berkat belas kasih almarhum tuan besar anda yang hanya terhitung sebagai orang luar masih berada di kediaman ini." Kepala pelayan segera berlalu meninggalkan gadis itu sendiri.


Tampak dari wajahnya yang memerah menahan amarah sembari mengepal kedua tangannya.


"Memangnya kenapa kalau aku bukan darah daging keluarga Kang? Toh nenekku adalah nyonya besar di keluarga ini! Aku pasti bisa mendapatkan apa yang harusnya jadi milikku juga. Yi punya reputasi bagus, aku bagian dari keluarga bagus, jadi aku pantas menerimanya!!!" Gerutu Jo Nara.


***


Di sepanjang koridor rumah megah keluarga Kang, tiba-tiba nyonya besar berhenti di sebuah dinding yang terpanjang gambar dirinya bersama mendiang tuan besar Kang. Di samping kiri wanita itu berdiri anak perempuannya yang cantik bernama Yoon Jeun Ahn sementara di sebelah suaminya ada Kang Ahn Seok anak pertama keluarga Kang, dan di pangkuan wanita itu ada putra hasil pernikahan mereka, bernama Kang Su Lim. Wanita itu melihat satu-satu wajah putra dan putrinya.


"Jeun Ahn, kamu memang memiliki nama yang sama dengan Kang Ahn. Sayangnya kamu tidak terlahir sebagai nona besar Kang. Meski sebesar apapun kontribusi, kecerdasan, dan kepiawaianmu mengurus keluarga Kang hingga saat ini, kamu tetap bukan yang utama. Berbanding terbalik dengan pria tidak berguna yang memiliki dua putra luar biasa itu! " Nyonya Kang melemparkan tatapan sinis pada foto Kang Ahn muda yang begitu polos dan suci.


Kemudian tatapan kebencian itu berubah menjadi kesedihan saat ia menatap foto Kang Su Lim. Satu-satunya harapan wanita itu untuk terhubung dengan keluarga Kang yang luar biasa.


"Su Lim....., Terima kasih.. berkatmu, ibu bisa berada di posisi ini sekarang. Kalau bukan karena kelahiranmu yang membahagiakan tuan, aku tidak mungkin bisa hidup menyandang gelar nyonya Kang seumur hidupku. Tapi sayangnya.... kenapa kau harus pergi begitu cepat... Andaikan pada saat itu bukan kau yang meninggal, tapi Kang Ahn.... " Air mata wanita jahat itu menetes. Lalu ia menyekanya dengan sapu tangan sutra yang selalu ia bawa kemanapun.


"Bagaimanapun, kehidupan tetap berjalan. meskipun aku tidak bisa membuat putriku memiliki posisi yang kuat untuk keluarga Kang. Aku harus memanfaatkan putri keluarga Kang yang asli untuk mendapatkan kekuatan Yi. Bagaimanapun sebentar lagi Jun Woo akan menjadi kepala keluarga Kang. Dan aku tidak boleh lengah! Aku harus mendapatkan Kang Hae Soo! " Nyonya Kang dengan tatapan membara membulatkan tekad dan ambisinya yang penuh dengan ketamakan.


Bersambung.....