Oh Mama!

Oh Mama!
Chapter 10



[Author P. O. V]


Hae Soo seperti kembali mendapatkan identitasnya. Meski hanbook yang dikenakan tak semewah dan semegah yang biasa iya pakai, gadis itu tetap senang.


Seol tanpa sadar ikut tersenyum ketika ia memperhatikan tingkah Hae Soo yang menari dengan riangnya. Beberapa saat kemudian ia kembali tersadar dan mulai mengatur kembali ekspresi wajahnya.


"Ayoo sini!!" Hae Soo menarik tangan Seol sambil berlari-lari kecil.


"Kita mau kemana? " Tanya Seol.


"Masuk istana!! " Ungkap Hae Soo.


Seol segera menepis tarikan tangan Hae Soo, "Ini sudah malam. Istana tidak dibuka untuk umum. Kita cuma bisa sampai di depan halaman saja. " Terang Seol.


"Tapi...., aku tau bagaimana caranya menyelinap ke sana! " Bisik Seol nakal, kali ini lelaki itu yang menarik tangan Hae Soo.


Gadis itu tersenyum. Dia benar-benar seperti kembali ke masa dimana Seolwa juga menarik tangannya untuk pergi diam-diam dari istana setiap ada festival.


Setelah berhasil menyelinap ke dalam istana, Hae Soo memperhatikan tiap sudutnya sambil membayangkan lokasi yang pernah ia jejaki, lengkap dengan puluhan pelayan dan beberapa kasim. Berjalan dengan anggun, memastikan kemegahan seorang ratu tetap melekat, meski dia bukanlah bulan yang sesungguhnya bagi kaisar.


Sorot mata gadis itu mendadak sendu. Hal ini membuat Seol sedikit bingung. Apa yang difikirkan gadis itu? Kenapa emosinya mendadak berubah?!


"Hei!"


Seol mendekatkan wajahnya di hadapan Hae Soo.


"AH! Bikin kaget saja! " Gadis itu mundur beberapa langkah sembari mengusap dadanya.


"Tadi senang, sekarang murung. Kamu kenapa? " Tanya Seol.


"Kalau aku jujur saja, apa dia bakal percaya gak ya? " Pikir Hae Soo.


"Kamu yakin mau mendengarnya? " Tanya gadis itu pada Seol.


"Memangnya apa? "


"Sebenarnya Hae Soo yang kamu tahu bar-bar itu sudah mati. " Ungakap Hae Soo.


"Ha? APA?! "


"Yah, aku ini bukan seperti yang kamu kira. Aku bukan gadis urakan yang hobi balapan, yang selalu berbicara ketus dan mengintimidasi orang. Tidak, itu bukanlah aku. " Terang Hae Soo.


"Jadi kamu apa? "


Sesaat kemudian Hae Soo mendekatkan wajahnya kemudian berbisik di telinga Seol. "Aku ini, Jang Hae Soo permaisuri Joseon yang mangkat di tahun 1677."


Seol terdiam. Dahinya mengernyit seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu.


"Jadi, kamu ini nenek-nenek yang usianya lebih dari 300 tahun gitu?" Seol balas berbisik.


Hae Soo yang kesal segera memukul pundak Seol. "Heh, bilang saja umurku lebih banyak, buka nenek-nenek. Dasar sialan! " Gerutu Hae Soo.


"Hahahahaha, kamu ini jago bercanda ya. "


"Aku tidak bercanda! "


"Lalu, kalau kamu itu yang mulia permaisuri Jang Hae Soo, berarti kamu itu nenek buyutku gitu? " Ledek Seol, lelaki itu kemudian menujukan tanda pengenal keluarga kerajaan berupa giok hijau lengkap dengan ukiran mewah.


Hae Soo terkejut saat Seol menunjukan benda itu padanya. Kemudian ia mengambil barang itu dari tangan Seol.


"Hehehehe, ini rahasia kita ya. Keluargaku itu sebenarnya termasuk keturunan kaisar Joseon. Makanya aku bisa mengakses kerajaan ini dengan mudah. " Terang Seol sembari memainkan rambutnya yang semi panjang.


"Sudah, jangan kaget gitu. Kebanyakan orang memang suka bermimpi jadi bagian dari kerajaan. Tapi percaya deh, keluarga kerajaan itu rumit. Bahkan di jaman modren begini. Ayo pulang, kayaknya kamu udah capek, jadinya menghayal kemana-mana deh. " Ledek Seol.


"Tunggu... "


Seol yang berjalan mendahului Hae Soo berhenti saat ia menyadari gadis itu tak mengikut di belakangnya, kemudian berbalik badan .


"Aku benar-benar Jang Hae Soo. Apa perlu bukti? " Kali ini tatapan mata Hae Soo begitu tajam dan dalam. Gadis itu tidak main-main.


"Hmmm, oke baiklah... " Seol menuruti perkataan Hae Soo. Lelaki itu sebenarnya juga sedikit penasaran.


"Ayo ke istana ratu! " Ungkap Hae Soo.


Kemudian mereka berjalan menyusuri istana. Seol mengikuti dari belakang dan ia merasa takjub, sebab Hae Soo begitu hafal setiap jalur yang mereka lalui menuju paviliun utama permaisuri.


Tak berapa lama, Hae Soo segera berjalan menuju sebuah pohon tua yang kini tak lagi rimbun. Gadis itu menyentuh perlahan batang pohon kemudian mengelusnya.


"Sebelumnya pohon ini begitu cantik dan menjadi favoritku... " Gumam Hae Soo, sementara Seol masih terus mengamati gelagat gadis itu.


Selanjutnya gadis itu menggali tanah yang tepat berada di balik pohon. Setelah cukup lama, Hae Soo mengeluarkan sebuah peti kayu ukiran. Disana, mata Seol terbuka lebar, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Ap.... Apa itu?!! Kenapa benda itu bisa ada di sana? " Seol buru-buru mendekat.


"Ini adalah kotak yang kusimpan sebelum aku di hukum penggal... " Terang Hae Soo. Gadis itu buru-buru membersihkan kotak lalu ia membukanya perlahan.


Di dalam kotak itu terdapat tusuk konde pohenix berlapis emas yang berkilauan. Hae Soo mencium benda itu sambil menjelaskan kepada Seol, "Tusuk konde ini adalah yang termegah di jaman nya. Bahkan benda ini lebih besar dan bersinar daripada milik ibunda kaisar. "


Seol terpana dengan tusuk konde megah milik permaisuri yang baru pertama kali ia lihat di luar kotak kaca.


"Tusuk konde ini adalah bukti cinta kasih daebi mama dan bentuk penghibur untukku.. " Lanjut gadis itu. "Sekarang kamu percaya kan? " Tanya Hae Soo.


"Uhmmm, aku gak yakin. Tapi boleh kan kubawa untuk di teliti? Itu..., itu kan harta nasional . " Terang Seol.


"Ambil saja."


Seol merapikan kembali tusuk konde itu ke dalam kotak. Kemudian ia melihat perlahan ke arah Hae Soo dengan perasaan canggung.


"Jadi..., uhm, kamu beneran nenek buyutku ya? Hahahahah" Ledek Seol. Hae Soo kesal menanggapi ledekan lelaki itu.


"Tapi kamu bukan keturunanku langsung. Karena aku sudah mati sebelum punya keturunan. " Terang Hae Soo kesal.


"Yah, memang banyak sih cerita tentang permaisuri Jang Hae Soo, tapi aku tidak begitu tahu. Mungkin bisa kita cari tahu bersama. " Ungkap Seol.


"Jadi, kamu keturunan kaisar dengan selir sialan itu ya? Hmmm, Chae Ryung? Hahaha, apa setelah kematianku dia diangkat jadi permaisuri? Aku penasaran dengan kelanjutan hidupnya."


"Ah, itu aku tidak tahu pasti. Mungkin besok kita bisa main-main ke perpustakaan dan arsip kerajaan. " Tawar Seol.


"Tidak buruk juga....., oke sekarang aku mau pulang. " Ungkap Hae Soo.


"Mari saya antar pulang mama! "


Mendadak Seol memperlakukan Hae Soo dengan lembut. Sembari menjulurkan tangannya.


"Wah wah wah, sudahlah, aku tidak terbiasa di layani dengan baik olehmu! " Gerutu Hae Soo .


"Hahahahah, oke- oke. Siapa yang peduli kau itu dulunya siapa? Yang ada sekarang kan, kau itu pacarku! " Seol merangkul Hae Soo dan membawa gadis itu pulang ke rumah.


Bersambung....