
[author P.O.V]
Joseon , 1664.
Kediaman mentri pertahanan yang tenang tiba-tiba di buat heboh saat rombongan permaisuri beserta putra mahkota memasuki tempat tersebut. Hae soo kecil yang saat itu masih berusia 12 tahun mengintip iring-iringan kerajaan dari balik tembok bersama pengasuhnya gayoul.
“Nona, aduh!!! Kalau sampai ketahuan tuan, saya bisa di hukum!” Omel Gayoul yang menyerahkan punggungnya untuk dipijaki Hae soo.
“memangnya salah ya, melihat calon suamiku datang berkunjung.” Hae soo terus mengintip dengan antusias.
“Duh nona, kita kan bisa melihat dia dengan cara yang lebih sopan. Lebih baik nona turun dan mulai bersiap.”
Gayoul segera merebahkan tubuhnya ke tanah hingga membuat Hae soo terperosok ke bawah.
“AAAAA” Pekik Hae soo saat tubuhnya terjerembab. Pengasuh lainnya buru-buru mendatangi Hae soo dan gayoul.
“Yaampun!!! Sebenarnya apa yang kalian lakukan! Duh nona Hae soo, padahal sebentar lagi harus ke perkumpulan nona bangsawan untuk belajar!!!” Pengasuh yang bernama Suli buru-buru mengangkat Hae soo.
“Lah, bukannya aku harus bertemu calon suami?” Tanya Hae soo.
Gayoul yang baru bangkit memberikan tanda silang dengan kedua tanganya kemudian menggeleng.
“Kamu belum boleh ikut pertemuan orang dewasa! Saatnya mandi, dan bersiap ke perkumpulan!” Gayoul segera mengangkat tubuh Hae Soo.
Gadis mungil itu memberontak ketika pengasuhnya itu membawa ia kembali ke kamarnya.
***
Perkumpulan putri bangsawan kala itu tidak setenang biasanya, apalagi saat Hae soo tiba. Semua orang sibuk membicarakan
pertunangan gadis itu dengan putra mahkota.
“Aku sudah dengar kabar pertunanganmu dan putra mahkota sebentar lagi akan di gelar. Beruntungnyaa!!” Puji Putri Keuangan kerajaan.
“Siapa lagi gadis di Joseon ini yang pantas jadi permaisuri selain dirimu Hae soo.” Timpal putri kepala pejabat ibukota.
“Yah, memang seharusnya seperti itu kan. Sejak aku belum dilahirkan pun takdir menjadi ibu joseon sudah berada di tanganku.” Kata-kata yang diucapkan Hae soo seketika menjadi cibiran bagi putri bangsawan lain yang kurang menyukainya. Meski begitu, gadis itu tidak menggubris tiap tatapan kurang suka dari mereka, kepercayaan dirinya benar-benar besar.
“Tapi apa tidak apa-apa? Yang mulia putra mahkota lebih tua beberapa tahun di atas Hae soo, kurasa Chang Sui, putri Jendral utama Kekaisaran lebih pantas mendampinginya.” Celetuk salah satu putri pembesar kekaisaran.
“Benar juga, Chang Sui sudah berusia 15 tahun, tata karma dan etika yang dia miliki benar-benar cocok di sandingkan dengan putra mahkota. Jarak mereka juga tidak terlalu jauh, pasti Chang Sui bisa mengimbanginya. Apa sih yang difikirkan permaisuri sampai bisa memilih Hae soo yang masih ingusan.” Timpal yang lainnya.
Mendengar kata-kata itu, wajah Hae Soo memerah kemudian ia bangkit.
“Apapun yang kalian katakan tidak akan merubah apapun. Aku adalah calon istri pangeran, dan calon ibu negara bagi joseon! Dewa telah memilih takdirku dan kalian tidak akan bisa melakukan apapun!”
Hae soo mengakhiri kata-katanya kemudian berlalu.
Di pintu keluar, ia berpapasan dengan Chang sui yang baru tiba. Saat gadis itu membungkuk memberi salam dengan elegan, Hae soo yang kekanakan semakin kesal dan berlalu begitu saja tanpa membalas salam Chang Sui.
“Ini tidak adil! Kenapa semua orang yang ada di sana mendadak mengelu-elukan chang sui! Padahal awalnya aku yang di puji.” Gerutu Hae Soo kepada Gayoul.
“Itu karena tindakan nona yang keterlaluan. Kenapa harus bersikap sombong, padahal pertunangan saja belum dilakukan.”
Gayoul menganggukkan kepala, tanda ia membenarkan perkataan Hae soo. Gadis itu menghentak-hentakkan kakinya di tanah.
“Ah, kamu dan para kakak itu sama-sama menyebalkan.” Rengek Hae soo, kemudian ia berlari meninggalkan Gayoul di belakang.
Hae Soo berlari sangat cepat, kemudian ia menyadari Gayoul sudah tidak terlihat di belakangnya. Saat hendak kembali untuk mencari pengasuhnya itu, Hae soo tertegun saat melihat sosok lelaki berjubah biru dengan lambang kekaisaran tengah berdiri membelakanginya di puncak bukit dekat dengan sebuah pohon besar.
Gadis itu yakin saat ini ia bertemu putra mahkota, calon suaminya.
Saat Hae Soo hendak mendekati putra mahkota, dari balik pohon, seorang gadis tengah memeluk putra mahkota dengan sangat erat kemudian mereka berciuman layaknya sepasang kekasih.
Saat itu Hae soo kecil tertegun. Antara malu, penasaran atau marah, gadis itu bingung akan perasaannya. Ia hanya berlari sambil menangis.
Kejadian yang begitu emosional tersebut adalah cuplikan masa lalunya yang tergambar lewat mimpi.
Tangisan yang menyakitkan itu membangunkan Hae Soo. Gadis itu bangkit dan memegang kepalanya.
“Apa ini? Kenapa ingatan menyebalkan itu mampir!” Gumam Hae Soo, kemudian ia menatap sekeliling.
***
Paginya, Ibu membangunkan Hae Soo yang baru saja tertidur setelah melewati mimpi buruk. Ayah juga telah mengemasi barang-barang gadis itu untuk bersiap pulang ke rumah.
“Hey, sudah selesai manjanya. Mau sampai kapan kamu malas-malasan di sini.” Ujar Ibu saat membangunkan Hae Soo.
“Tenanglah, kamu ini. Dia itu putri satu-satunya tahu! Waktu Hae Soo masuk rumah sakit, siapa yang paling menangisi dia!” Sentil ayah. Ibu hanya mendengus kemudian membelai lembut rambut Hae soo dan menciumnya.
“Ayo bangun.” Bisik wanita itu.
“Hmmm, apa sudah waktunya kembali ke istana? Hari ini, aku ingin mengenakan hanbook sederhana saja ibu asuh.” Hae Soo membuka mata sambil bergumam kecil.
“Hanbook? Yaampun putri ibu, sejak kapan kau memikirkan gaun itu jadi baju sehari-harimu! Bikin merinding saja! Ayo bangun, aku tidak mau membayar uang rumah sakit lebih banyak lagi!” Ibu menyeret Hae Soo dan mempersiapkan gadis itu.
“Ibu asuh, baju aneh apa ini yang aku pakai! Masa aku harus berpenampilan seperti ini untuk menghadap kaisar. Hanbook ibu, handbook, aku ini menggunakan handbook sutra sederhana!” Hae Soo mengeluh saat ibu memakaikan trening kuning miliknya.
“Wah wah wah! Padahal trening ini baju kebesaran sehari-harimu di rumah! Duh, cepatlah, ibu sedang tidak mau main kerajaan-kerajaan denganmu!” Ibu segera menarik Hae Soo meninggalkan ruangan rumah sakit, sementara ayah telah pergi lebih dulu meninggalkan mereka.
Mata Hae Soo berbinar-binar saat keluar dari kamar rumah sakit. Ia tidak pernah melihat pemandangan yang begitu menakjubkan seperti eskalator berjalan, lift, pintu otomatis yang bisa terbuka dan tertutup, dan masih banyak hal lainnya yang belum pernah ia lihat. Di sepanjang perjalanan, Hae Soo merangkul erat tangan ibunya seakan tidak mau jauh dari wanita itu.
“Hebat, aku baru tau ada tempat seperti ini di Joseon. Semuanya bergrak sendiri!!” Ungkap Hae Soo.
“Kamu kenapa sih? Dari tadi ngoceh yang tidak penting. Ah, tunggu sebentar ibu mau panggil taxi dulu!” Ibu melepaskan cengkraman Hae Soo untuk mencari taxi.
Saat gadis itu menunggu ibunya, tiba-tiba seseorang menarik tangan Hae Soo.
“Hae Soo! Ayo ikut aku, and kita selesaikan semuanya dengan benar!!”
Tae Jun menarik Hae Soo masuk ke dalam mobilnya.
Bersambung……