NOT A PERFECT WEDDING

NOT A PERFECT WEDDING
Episode 9



“Mengalahkan egoku adalah caraku untuk membuatmu bahagia.”



Pram sudah berada di ruang tunggu bandara. Menanti jadwal keberangkatannya sekitar dua jam lagi. Hanya ada satu tas yang dibawanya. Di balik kacamata hitamnya, dia terduduk lesu. Bayangan Raka yang menjemputnya di tempat ini membuat hatinya terasa pedih. Dia tidak pernah menyangka, hari itu adalah hari terakhir dia bisa merangkul dan tertawa bersama Raka.



Lagi dan lagi, saat mengingat Raka, maka pikirannya akan tersambung pada Raina. Perempuan yang telah resmi menjadi istrinya. Meski kata istri masih terasa sangat asing baginya tapi dia berusaha mencoba menjalani ini dengan tanggung jawabnya sebagai laki­laki.



Kemarin sore, dia mengantar Raina ke rumah orang­tuanya. Masih ada kecanggungan di Keluarga Winatama. Ya, istrinya itu masih bersikap seperti anak kecil. Raina sama sekali tidak menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh orangtuanya dan juga kedua kakaknya.



Pram sendiri heran, kenapa Raka bisa jatuh cinta dengan gadis keras kepala seperti itu? Tapi sudahlah, dia tidak akan membahas tentang sifat yang dimiliki Raina lagi. Baginya bisa menjalani kehidupan normal dengan perempuan itu sudah cukup.



Suara dari ponselnya berbunyi. Kode asing dari awal nomornya menunjukkannya bahwa panggilan tersebut dari Clara atau Bryan, bosnya.



“Halo, Mr. Pram. Tahukah kamu, aku sangat merindukanmu di sini?”



Tepat. Suara merdu itu milik Clara.



“Situasinya tidak semudah yang kamu bayangkan, Cla.”



“Kapan kamu akan kembali?”



“Saat ini aku sedang menunggu pesawat. Sabarlah, paling lambat besok sore kita bisa bertemu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.”



“Apa itu? Apakah kamu akan melamarku?”



Pram tersenyum getir.



“Kenapa diam, Pram? Bagaimana dengan pernikahan adikmu? Sampaikan salamku untuknya.”



Pram mengembuskan napasnya kasar. “Aku akan meneleponmu, saat aku sampai.”



“Apa ada yang terjadi? Kenapa suaramu berubah? Telepon aku kalau sudah sampai, aku akan menjemputmu di bandara.”



“Tidak. Tidak perlu. Kalau aku sudah sampai di apartemen, kamu orang pertama yang akan kuhubungi.”



“Aku menunggumu. Take care.”



Pram terdiam. Dia belum bisa memastikan apakah dia akan kembali ke London atau tidak. “Thank you, Cla.” Pram mengakhiri pembicaraannya. Satu masalah datang lagi dan harus diselesaikannya. Clara, gadis yang memiliki bola mata sebiru langit. Pram tidak tahu, bagaimana nanti dia akan menceritakan tentang pernikahannya bersama Raina.



***



Raka. Terlalu banyak hal baik dari lo yang gue nggak punya! Pram mengerang dalam hati saat mengingat betapa banyak orang­orang yang kehilangan adiknya. Raka adalah sisi koin yang berbeda dengannya. Jika Raka memiliki segala kebaikan, maka sebaliknya dengan Pram.



Saat penat seperti ini justru bayangan Raina yang muncul dalam kepalanya. Pram memejamkan mata berharap segala pikiran­pikiran yang mengusiknya segera menghilang.



Raina Winatama. Menyebutkan nama itu membuat pikirannya justru semakin menggila.



Tanpa banyak berpikir lagi, Pram segera mengambil tas dan berdiri dari kursinya. Dia tahu, tidak seharusnya dia meninggalkan Raina dalam keadaan yang masih marah dengan keluarganya. Dia harus menjemput Raina. Kalau Raina tidak mau menemaninya kembali ke London, maka dia akan memaksanya.



Pram memberhentikan taksi yang berjalan pelan di depannya. Setelah duduk di kursi belakang, dia menyebutkan alamat rumah Raina. Selama perjalanan, Pram menyesali keputusan yang dia ambil sebelumnya. Raina saat ini sedang rapuh, harusnya dia berada di samping gadis itu.



Saat tiba, keadaan rumah Raina terlihat sepi dari luar. Pram berpapasan dengan Arman dan Pasha ketika membuka pintu pagar, keduanya terlihat panik.



“Mas Pram? Bukannya hari ini Mas pergi ke London?” tanya Arman.



“Saya batalin karena saya nggak tenang ninggalin Raina. Di mana dia?” Gadis itulah yang pertama kali ditanya olehnya.



“Raina kabur,” Pasha menjawab. “Sekarang kita mau cari dia.”



“Tunggu di sini, Mas. Aku ambil kunci mobil Raina.” Arman masuk ke dalam rumah lagi.



Pram tidak akan berkeliling Jakarta untuk mencari Raina. Dia tahu ke mana harus mencari Raina. “Biar saya aja yang cari Raina.”



“Lho, Mas Pram tahu di mana Raina?” tanya Arman.



“Sepertinya begitu. Nanti akan saya kabari kalian secepatnya kalau sudah bertemu dengan Raina.”



***



Pram telah memarkirkan Honda Jazz putih milik Raina dengan sempurna. Dia langsung bertemu petugas untuk mengantarnya ke makam Raka. Ke mana lagi gadis itu kalau bukan mendatangi makam Raka, pikirnya.



Langkah Pram terhenti, benar dugaannya. Dia tersenyum tapi hatinya terasa pedih. Ketika dia melihat Raina duduk bersila tanpa alas dan tanpa payung sebagai pelindung kepalanya dari terik matahari. Tidak ada tangisan yang mengalir di pipi gadis itu. Pelan­pelan, Pram mendekat. Rasa penasaran Pram terjawab, yang dilakukan Raina lebih parah daripada menangis. Di sana Raina sedang berbicara seolah­olah Raka masih hidup.



Raka, bahkan ketika lo udah nggak ada, Raina tetap mencintai lo.



Lagi, suara hatinya meneriakkan rasa iri yang besar pada adiknya. Bahkan di usianya yang cukup matang, Pram tidak tahu apakah ada perempuan yang akan menangisinya ketika dia tiada?



“Rain….” Pram menyentuh bahu Raina. “Sudah sore, kita pulang ya.”



Raina terkesiap kaget. Dia bingung dengan kehadiran Pram yang tiba­tiba di sana. “Kamu kok ada di sini? Bukannya kamu pergi?”



Pram tersenyum. Bingung apakah dia harus jujur saat ini untuk mengatakan alasannya. Melihat Raina yang lelah, dia tidak mau menambah beban gadis itu. Kalaupun Raina tidak ingin pergi bersamanya, maka dia juga tidak akan pergi. Dia sudah rela kehilangan kariernya, toh di sini pun dia sudah memiliki perusahaan yang akan dipimpinnya.



“Kamu boleh ke sini kapan aja. Tapi harus pamit, jangan kabur­kaburan,” Pram berbicara dengan lembut.



“Aku… Aku bukannya mau kabur. Cuma takut mereka



nggak ngizinin aku untuk ketemu Raka.” Suara Raina terdengar takut­takut.



“Besok­-besok bilang sama saya kalau kamu mau ke sini. Pasti saya antar.” Pram meraih tangan Raina dan menggandengnya. “Ayo kita pulang.”



Raina langsung menarik tangannya. “Pulang ke mana?”



“Kamu maunya ke mana?”



“Aku nggak mau pulang ke rumah orangtuaku,” jawab Raina.



Pram mengangguk lalu tersenyum. Dia mencoba mengerti posisi Raina yang masih marah pada keluarganya.



“Kita pulang ke apartemen ya?” ajak Pram.



Raina hanya mengangguk. Tanda kalau dia setuju dengan ajakan Pram. Dalam perjalanan pulang Raina tertidur. Sesekali Pram melirik ke arah Raina yang terlelap. Pram menghela napas, dia sangat sadar akan jarak yang dibentangkan oleh Raina terhadap dirinya. Tapi Pram percaya semuanya butuh proses dan dia yakin akan berhasil melewati fase ini.



Kalau mereka tidak akan pernah saling mencintai, Pram tidak akan mempermasalahkan itu. Tugas terpentingnya kini adalah membuat Raina seperti dulu, saat sebelum Raka meninggal. Dia berjanji, dia akan melihat Raina tersenyum lagi. Senyum yang sama saat mereka pertama kali bertemu.



***




Menghilangkan kenangan selama dua tahun bukan perkara yang mudah baginya. Raina percaya, hanya waktu yang akan membantunya untuk menerima takdir yang kini sedang dia jalani. Meski sudah mencoba berdamai dengan dirinya sendiri, Raina masih belum mau bertemu dengan keluarganya. Bahkan dia meminta tolong pada Pram untuk mengambil perlengkapan miliknya di rumah orangtuanya. Raina cukup bersyukur karena tanpa protes Pram menyanggupinya.



Raina bukannya tidak mau memaafkan orangtua dan juga kedua kakaknya. Dia hanya ingin menghindar karena tidak ingin berkata kasar pada orang­orang yang paling dia sayangi. Itulah alasan terbesar kenapa dia memilih untuk tidak bertemu saat ini. Rasa kecewa pada keluarganya belum bisa dia lupakan begitu saja. Tapi dia berjanji, saat dirasa semua siap, maka dia akan pulang, juga meminta maaf kepada keluarganya.



Setiap pagi, Raina selalu membangunkan Pram yang tidur di kamar tamu. Hanya untuk pamitan atau memberitahukan sarapan yang sudah dia siapkan. Raina tidak pernah tahu tentang alasan Pram yang begitu bodoh karena mau menjadi tumbal dari ini semua. Ya, mungkin segalanya akan lebih baik jika Pram menolak untuk menikahi dirinya.



Beberapa kali Raina mengetuk pintu kamar Pram tapi tidak ada jawaban. Hari ini dia akan pulang malam dan Raina tidak ingin Pram khawatir. Terdengar lucu memang, tapi entahlah Raina hanya merasa perlu memberitahukan pada Pram. Bagaimanapun juga, selama ini Pram­lah yang telah menjaga dirinya.



Pintu kamar Pram tidak terkunci saat Raina mencoba membukanya. Dia langsung masuk begitu saja. Di bawah selimut tebalnya, Pram masih terlelap. Dia tidak tega untuk membangunkannya. Kesibukan Pram yang harus beradaptasi dengan perusahaan barunya membuat dia sering pulang malam karena lembur.



Satu lagi keanehan yang terjadi antara Raina dan Pram, mereka sama sekali tidak pernah bertukar nomor ponsel. Saat Raina ingin keluar kamar untuk menuliskan notes, pandangan matanya berhenti pada sebuah ponsel hitam di nakas sebelah ranjang. Pandangannya langsung terkunci. Ponsel itu milik Raka, Raina tidak mungkin salah. Dia tahu, karena dirinyalah yang menemani Raka membeli ponsel itu. Tapi kenapa Pram yang menggunakannya?



“Pram…,” panggil Raina tanpa rasa ragu atau kasihan karena Pram masih terlelap. Entah mengapa hanya melihat ponsel Raka membuat pertahanannya yang selama ini sudah terkontrol dengan baik menjadi kacau.



Raina tersenyum getir, saat mengetahui bahwa ternyata Pram­lah yang mengirimkan pesan terakhir sebelum pernikahan mereka terjadi dari nomor Raka. Jadi, Pram yang membalas pesannya? Kenapa? Kenapa, Pram melakukannya?



Pram membalikkan tubuhnya dan kaget melihat Raina ada di dalam kamarnya dengan wajah marah dan juga kesal. Yang dia tahu, Raina yang sekarang sudah lebih baik dibandingkan dulu saat dia mengetahui kabar tentang kepergian Raka. Lalu apa yang terjadi pada Raina?



“Kamu menyimpan ini?” Suara Raina bergetar saat menunjukkan ponsel Raka pada Pram.



Pram tidak bisa mengelak lagi. Entahlah apa yang dipikirkan Raina tentang dirinya. Sekarang yang dia lakukan hanyalah menjawab pertanyaan Raina dengan jujur. “Iya.”



“Kamu yang membalas pesan yang aku kirim untuk Raka?”



Pram mengangguk. “Saya hanya ingin membuat kamu tenang.” Hanya itulah niat awal yang terlintas dalam pikirannya.



“Aku pikir kamu berbeda, ternyata kamu sama aja. Kamu pembohong,” ucap Raina sambil melempar ponsel Raka pada Pram dan membanting pintu kamar saat dia keluar.



Pram yang belum sepenuhnya sadar, langsung mengejar Raina dengan langkah terhuyung. “Saya minta maaf, tolong dengarkan penjelasan saya dulu.” Pram menarik tangan Raina yang sudah mencapai gagang pintu keluar apartemen.



“Kamu sama aja, Pram. Aku yang bodoh karena sudah terlalu percaya sama kamu.”



Cara baik­baik tidak akan bisa menghentikan Raina. Akhirnya Pram mencengkeram lengan Raina dengan kasar dan menariknya untuk duduk di sofa ruang tamu. Mungkin sekarang saatnya Raina harus tahu tentang apa yang disimpannya selama ini.



Pram meletakkan ponsel itu di atas meja. “Polisi menyerahkan ponsel Raka saat kami berada di rumah sakit.” Tanpa maksud yang jelas, Pram menceritakan tentang bagaimana ponsel itu bisa ada di tangannya.



“Kamu tahu, Rain? Raka, adik saya satu­satunya,” ucap Pram sambil mencari posisi yang enak di sofa yang dia duduki. “Dulu saya hanyalah seorang anak kecil yang begitu iri melihat teman­teman saya memiliki saudara. Sampai Raka hadir. Saya menganggap dia sebagai hadiah paling berharga yang pernah saya miliki.” Pandangan Pram jauh menerawang.



“Saya menyayangi Raka melebihi diri saya sendiri….” Itulah yang Pram rasakan. “Apa pun saya lakukan asal dia bahagia termasuk menikahi kamu.”



Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Raina. Tinggal menunggu momen yang pas, maka dia akan menangis lagi.



“Kamu salah kalau kamu merasa jadi orang yang paling sedih atas kehilangan Raka.” Pram memejamkan matanya, setitik air matanya jatuh tapi segera dihapusnya. Dia tidak ingin Raina melihatnya seperti ini tapi terlambat, mata Raina lebih cepat menangkap momen itu.



“Kita sama­sama kehilangan orang yang paling berarti. Jadi bisakah kamu berhenti, seolah­olah hanya kamu yang menjadi korban di sini?” Pram sudah mengontrol emosinya. “Bukan hanya kamu yang menderita.”



Raina tetap tidak menjawab. Sampai Pram memberikan ponsel Raka pada Raina. “Simpanlah. Mungkin memang lebih baik kamu yang menyimpannya.”



Raina menggeleng. Dia tidak meraih ponsel yang diberikan Pram. Tapi justru bangun dari sofa dan meraih tas kerjanya. “Hari ini aku pulang malam,” ucap Raina sebelum meninggalkan Pram.



***



Raina mengendarai mobilnya menuju sekolah tempatnya mengajar dengan perasaan campur aduk. Setiap perkataan yang tadi disampaikan Pram justru menyakitinya. Pram yang dianggap penolong yang paling mengerti dirinya justru juga menyembunyikan kesedihan yang serupa dengannya.



Pram yang dia kenal begitu dewasa, ternyata tidak sempurna. Dan ini semakin membuatnya semakin bersalah. Tidak seharusnya Pram ada di posisi ini. Mengorbankan dirinya atas sesuatu yang bukan menjadi tanggung jawabnya.



Raina tidak bisa memungkiri betapa selama ini Pram sudah sangat sabar menghadapinya. Tidak sekalipun Pram berkata kasar saat dia melakukan hal­hal yang mengesalkan. Hanya Pram yang menjadi orang terdekatnya saat ini, dan dia tidak bisa mengubah fakta itu selamanya. Sebuah kesadaran baru muncul dalam dirinya, dia tidak boleh lebih lama lagi menyusahkan Pram.



Tapi dia harus ke mana? Itulah pertanyaan sebenarnya yang menjadi masalah untuknya. Raina bukan tipe orang yang suka bercerita tentang masalah pribadi kepada teman­temannya. Selama ini selalu Arman dan Pasha yang menjadi sandarannya. Tapi sekarang tidak mungkin dia menghubungi salah satu kakaknya.



Perasaannya kini semakin sensitif semenjak kehilangan Raka. Tidak mudah baginya untuk percaya pada orang lain. Keluarganya, orang yang dianggap paling mengerti dirinya justru membuat dia sekarang ada di posisi yang semakin sulit.



Menerima kenyataan bahwa Raka pergi selamanya sekaligus menerima bahwa dia sudah menjadi istri dari seorang laki­laki yang tidak dicintai sama sekali.



Saat memasuki ruang kerjanya. Matanya terkunci oleh sebuah kotak kue yang sangat dikenalinya. Ada amplop kecil yang menempel di atas kotak kue tersebut. Dia meraih kartu tersebut, dalam hatinya sepertinya dia tahu siapa sang pengirim.



-Have a nice day, Sweetheart. –Pasha-



Raina membuka kotak tersebut, tenyata cheese cake favorit­nya. Kalau Pasha ada di sini, pasti dia sudah kalah dan segera memeluk tubuh kakaknya. Kue ini bukan hadiah pertama yang dikirimkan oleh Pasha dan juga Arman. Minggu lalu, Arman mengirimkan tas Gucci terbaru, kakaknya yang satu itu memang lebih suka menghadiahi hal­hal yang branded.



Ponsel yang ditaruh di saku blazernya bergetar. Ternyata Pasha yang meneleponnya. Dia berpikir sejenak. Kalaupun dia harus mengangkat telepon itu, dia ingin tidak ada emosi sama sekali.



Rasa rindu itu mengalahkan segalanya.



“Halo….”



“Thanks, Sweetie. Walau cuma kata halo, aku sudah senang banget kamu mau angkat telepon dari aku. Sudah terima cheese cake­nya?”



Raina tersenyum. Bibirnya bergetar, Pasha kakak terdekatnya. Tidak mungkin dia bisa berpura­pura lagi.



“Raiiii… maafin aku. Please, aku kangen sama kamu.” Suara Pasha berubah tidak secerah tadi. “Ayo ngomong. Ngomong apa aja, pasti aku dengerin.”



“Kak….” Raina menangis. “Aku mau pulang. Tapi nggak sekarang.”



“Kami selalu menunggumu, Rai. Kapan pun itu.”



“Maafin Raina. Aku harap kalian bisa mengerti,” balasnya.



“Kami yang salah. Maafin aku ya. Mama, Papa, dan Kak



Arman semuanya kangen sama kamu.”



“Aku jugaaa... aku kangen sama semuanya.” Air mata Raina berlinang. “Nanti Kak, aku pasti pulang,” jawabnya pasti.



“Telepon aku, kapan pun kamu butuh bantuan. Jaga diri kamu baik­baik.”



“Iya, Kak.”



Raina tidak bisa mengelak lagi, dia merindukan rumahnya dan semua yang ada di tempat itu. Dia merindukan wangi masakan mamanya di setiap pagi, merindukan suara gelak tawa kakaknya yang suka menggodanya.



Mungkin sebentar lagi dia memang harus pulang dan mengakhiri semua kegilaan ini. Apalagi setelah percakapannya dengan Pram, dia tidak ingin menyusahkan laki­laki itu lebih lama lagi.