
“Kasih aku waktu, untuk terbiasa dengan kita.”
Arman dan Pasha ikut mengantar kepindahan Raina ke apartemen milk Pram. Mereka juga turut membantu mengangkat barangbarang milik adiknya itu. Bagi kedua kakaknya, meski Raina telah menikah, Raina tetaplah gadis manja yang kadang manis dan juga kadang sangat menyebalkan.
Namun, tetap saja kepergian Raina dari rumah mereka, meninggalkan ruang hampa di hati Arman dan Pasha. Tidak ada lagi suara cempreng Raina, tidak ada lagi ancamanancaman darinya saat mereka menolak permintaan Raina dan tidak ada lagi kebersamaan yang akan mereka lewati.
“Ada lagi nggak, Rai?” Arman menghitung jumlah kardus yang sudah disusun di ruang tamu.
Raina ikut menghitung juga di sebelah kakaknya. “Kayaknya sudah semua deh, Kak. Lagian kalau nanti ada yang ketinggalan kan tinggal ambil ke rumah aja.”
Sementara Pasha sedari tadi mondarmandir di dapur. Tampak ingin membuka kulkas tapi ada perasaan sungkan dalam hatinya. “Cantik, kamu nggak punya yang segarsegar dingin ya?”
Raina langsung beralih menuju Pasha. Seingatnya, sejak beberapa hari yang lalu ketika Pram mengajaknya sarapan, Pram memang belum belanja atau mengisi kulkas. Untuk memastikan, Raina membuka kulkas dua pintu itu. Dan ternyata isi kulkas kosong sama sekali.
“Payah. Masa apartemen sekeren ini cuma menyediakan air dispenser,” cibir Pasha. “Kulkas cuma buat pajangan.”
Dicubitnya dengan gemas perut Pasha oleh jemari lentik Raina. “Kak, berisik banget, sih. Malu tahu didengar Pram. Aku kan juga masih baru di sini.”
“Eh, kamu manggil suami kamu cuma nama gitu aja? Aku aja manggil dia pakai sebutan Mas. Dia kan lebih tua dari kamu, Rai. Sopan sedikit dong.” Arman ternyata ikut menyusul kedua adiknya di dapur.
“Kak Arman manggil Pram, Mas Pram gitu?”
Arman mengangguk. “Iyalah, walaupun aku kakak iparnya. Tetap aja secara usia kan tuaan dia.”
“Memang Pram umurnya berapa, Kak?” Raina mulai penasaran.
“Kalau nggak salah lima tahun di atas aku,” jawab Arman mantap.
Dalam hatinya, Raina mengingat tahun kelahiran kakak pertamanya itu. Tahun ini Kak Arman berusia 30 tahun. Jadi Pram?
“Serius, Kak? Nggak bohong? Jadi Pram sepuluh tahun lebih tua dari aku dong.” Muka Raina berubah lesu. Dia pikir, umur Pram seumuran dengan Arman ternyata salah.
“Serius. Kenapa, Rain? Saya kelihatan sudah tua banget, ya?” sahut Pram sambil membuka karduskardus yang ada di ruang tamu.
Arman dan Pasha langsung tertawa terbahak. Puas melihat adiknya pucat pasi mengetahui sedikit informasi tentang suaminya itu.
“Kita pulang dulu ya, Sweety,” ucap Pasha sambil mencubit pipi Raina dengan gemas. “Ayo, Kak. Daripada kita disuruh bantuin macammacam lagi mendingan kita kabur.” Pasha mengerling jahil pada Arman.
Tibatiba Pram mendekat. “Kalian benar mau pulang? Nggak makan malam dulu. Kalau mau, saya bisa belanja dulu sama Raina. Iya kan, Rain?”
Raina hanya mengiyakan pertanyaan suaminya.
“Terus yang masak siapa? Raina gitu, Mas?” tanya Pasha iseng. “Nih, aku kasih tahu ya, Mas. Seperempat abad umurnya Raina, dia tuh paling jago bikin omelet, itu juga lebih mirip kaya telur dadar jadinya. Paling mahirnya lagi, indomie rebus pakai telur plus cabe rawit sama spageti yang kerenan sedikit deh. Menu lainnya, ya cuma dia dan Tuhan yang tahu betapa ajaib rasa masakannya.”
Arman langsung menyikut pinggang Pasha. “Kalau kamu jujur begitu, dagangan kita nggak laku. Kalau Mas Pram minta balikin Raina gimana?”
Arman, Pasha, dan Pram tertawa bersamaan. Kedua kakak Raina puas mereka membalas dendam karena dibangunkan tadi pagi secara brutal oleh Raina.
“Ya udah, Mas. Kita pamit ya. Kalau Rai macammacam telepon saja badut ancol. Pasti dia langsung nurut.” Arman melirik sekilas ke arah Raina.
“Kalian berdua kenapa sih sama aku? Awas lho kalau besok telepontelepon aku, bilang kangen terus minta ketemuan.” Raina memasang wajah manja pada kedua kakaknya.
Baik Arman dan Pasha hanya terkikik. Lalu kompak keduanya mengangkat tubuh Raina. Suara histeris dari mulut Raina pun memenuhi apartemen.
“Turuninnnn, Kak... Kakakkk! Aku bilang sama Mama, lho.”
“Nggak ada Mama di sini,” Arman menyahut dengan cepat.
“Aku telepon Papa.”
“Papa sama Mama lagi sibuk bikin anak, buat gantiin kamu di rumah. Hayo, mau ngadu sama siapa lagi?” Pasha tersenyum jahil sambil menjawab.
“Prammmmm… Tolongin akuuuu!!!”
“Ciyeee ... ngadu sama suaminya!!” Arman dan Pasha bergantian menggoda adiknya, sampai wajah Raina merona.
Bukannya menolong, Pram ikut menertawakan aksi konyol dari kedua kakaknya Raina. Sampai di depan pintu, barulah tubuh Raina diturunkan.
“Selamat menempuh hidup baru, Raina Winatama. Jadi istri yang baik ya, jangan suka teriakteriak, jangan suka lupa matiin air keran, jangan suka makan indomie, jangan suka nangis kalau kangen sama kami….” Pasha menatap penuh sayang pada adiknya.
“Kakakkk… !” Mata Raina mulai berkacakaca.
“Give me a hug !” pinta Arman sambil melebarkan kedua tangannya. “Semoga kamu selalu bahagia, Princess. I love you.” Pertahanan Raina roboh, air matanya mengalir pelan di pipi mulusnya. Ini adalah ucapan selamat pertama atas pernikahannya dengan Pram.
“Terima kasih, Kak,” ucapnya pelan di pelukan Arman.
Saat Arman melepaskan pelukannya, gantian Pasha yang memeluk Raina. “Harus jadi Raina yang lebih kuat lagi, ya,” ucap Pasha sambil mengecup pipi Raina.
“Mas, kita pamit. Titip Raina, ya, dicium boleh, dicubit jangan,” kata Pasha menggoda adik iparnya.
Pram tertawa menanggapinya. “Seringsering main ke sini, ya.”
“Pasti, Mas,” jawab Arman sambil bersalaman.
Hidup baru? Sekaranglah harus dimulai oleh seorang Raina. Perannya kini sudah bertambah lagi. Tidak hanya menjadi seorang anak bagi kedua orangtuanya. Kini dia adalah seorang istri dari lelaki bernama Pramudya Eka Rahardi. Berulang kali nama itu disebutkan dalam hatinya. Untuk menyadarkan dia akan sebuah kenyataan baru yang harus dihadapinya. Suaminya adalah Pram bukan Raka.
***
Ada sesuatu yang mengejutkan Pram, tentang permintaan Raina yang ingin tidur di kamar terpisah dengannya. Di pikirannya adalah setelah semalam mereka berbagi ranjang, meski tidak melakukan apaapa, Raina akan menyetujui usulnya untuk tidur di kamar yang sama.
“Keberatan, ya?” Raina membaca raut wajah kaget Pram.
Pram memikirkan untuk memberikan jawaban yang tepat. Bukan masalah boleh atau tidak boleh. Tapi ini lebih kepada niat mereka yang ingin menjalani pernikahan normal. Kalau dimulainya saja, Raina sudah membangun tembok tinggi. Bagaimana dengan selanjutnya.
“Kenapa kamu mau tidur terpisah?” Pram menatap Raina. Wajah gadis itu tertangkap memerah. “Kita suami istri, kan? Apa salah untuk tidur di tempat yang sama?” Pram berusaha merendahkan suaranya. Dia berusaha untuk tidak terlihat mengintimidasi Raina.
Raina menggigit bibirnya. Berusaha untuk mengurangi kegugupannya. Setelah berbulanbulan tinggal bersama dengan Pram. Baru sekarang dia menyadari bahwa lakilaki yang ada di hadapannya, memiliki semua kriteria yang diidamkan oleh wanita di luar sana. Tampan serta dewasa. Secara keseluruhan, baik tampilan fisik dan cara berpikirnya, Pram sungguh menawan.
“Sebulan. Kasih waktu aku sebulan, untuk terbiasa dengan kita.” Kalimat itulah yang akhirnya keluar dari bibir tipis Raina. “Bisa, kan?” Kali ini dia ragu menatap wajah Pram, tapi ada sebentuk keberanian yang mengusik hati kecilnya. Dia ingin tahu, bagaimana Pram menanggapi keinginannya.
“A month? Okay. I am looking forward for it.” Pram setuju dengan permintaan Raina. “Tunggu di sini sebentar. Ada yang mau saya ambil,” katanya dan beranjak menuju kamarnya.
“Ini buat kamu,” kata Pram memberikan dua buah kartu. Kartu debit dan juga kredit dari bank ternama beserta nomor pinnya. “Setiap bulan, akan saya transfer.”
“Untuk apa?” Raina masih bingung.
“Untuk memenuhi segala kebutuhan kita dan kamu.”
“Aku kan kerja juga, Pram. Jadi nggak usah repotrepot seperti ini.” Raina mengembalikan kartu tersebut tapi Pram menolak untuk menerimanya kembali.
“Kamu itu sudah menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya. Ini bukan masalah repot atau bukan tapi suatu keharusan.”
Mata Raina berkacakaca. “Tapi ini berlebihan…!”
“Apa berlebihan jika seorang suami memberikan nafkah kepada istrinya? Ambillah, saya percaya kamu bisa menggunakannya dengan bijaksana.”
Tidak ada yang berlebihan. Dan memang harusnya seperti itu. Tapi tetap saja, Pram sudah benarbenar baik terhadapnya. “Aku harus balas kamu dengan cara apa, Pram?” tanya Raina.
Pram tertegun. “Cukup dengan kamu selalu tersenyum…. Itu sudah membuat saya senang,” jawab Pram.
Raina tertegun cukup lama. Sampai dia berbicara pelan. Sebuah kata yang tidak akan pernah cukup membalas semua kebaikan Pram. “Terima kasih.”
***
“Kaget lihat Mami datang ke sini? Mentangmentang sudah punya istri, jadi lupa ya sama Mami,” ucap Anne sambil berjalan mendekati meja kerja Pram.
Pram tertawa mendengar perkataan Anne. Tapi dia tidak memungkiri, Raina memang sudah menyita waktu dan hidupnya. Pram berdiri dari kursinya dan dia segera mencium kedua pipi Anne.
“Iya, Mami bebas marah. Aku dengerin,” kata Pram tanpa pembelaan.
“Bagaimana kabar Raina?” tanyanya penuh selidik.
“Raina? Dia sudah lebih baik. Gadis pilihan Raka memang sangat spesial ya, Mam.”
Anne menertawai Pram karena melihat ekspresi anaknya saat bercerita tentang Raina. “Mami sependapat sama kamu. Cuma Raina yang bisa bikin Raka tergilagila,” ucap Anne sambil membayangkan wajah anak keduanya yang telah tiada.
“Lalu bagaimana dengan rumah tangga kamu? Apa semuanya berjalan baikbaik saja?”
Jadi inilah maksud kedatangan Anne menemuinya. “Baikbaik aja,” jawab Pram singkat.
“Benar begitu?” Anne tampak tidak percaya.
“Mami mau dengarnya apa? Kami dua orang dewasa yang cukup sadar dengan komitmen yang kami miliki, Mam.”
Anne tersenyum puas, tidak salah Raka meminta Pram menikahi Raina. “Kapan kalian akan ke rumah? Mami ingin bertemu Raina.”
“Mami kapan mau ketemunya? Nanti biar aku yang atur.”
“Kalau Sabtu ini gimana? Kebetulan jadwal Papi juga kosong. Nanti Mami masakin yang spesial.” Suara Anne berubah sangat antusias.
Pram mengangguk. “Oke, nanti aku ajak Raina.” Dia ikut bahagia melihat maminya yang sudah merelakan kepergian Raka.
Suara ponsel Pram berbunyi tanda pesan masuk. Matanya fokus membaca sebaris pesan singkat, hampir saja dia lupa. Padahal dia yang menyuruh Pak Raden menjemput Raina di sekolah untuk bertemu dengannya di Senayan City. Kini Raina sudah sampai di tempat yang mereka janjikan.
“Mami pulang sama Papi, kan? Atau mau aku telepon Pak Raden? Aku ada janji sama Raina, nih.”
“Kalian mau pergi? Nanti Mami pulang sama Papi aja.”
“Iya tadi pagi kami janji untuk belanja bersama.” Pram langsung membereskan meja kerjanya dengan cepat. Dia takut Raina menunggunya terlalu lama.
Anne tersenyum mendengar Pram yang akan pergi bersama Raina. “Sampaikan salam Mami untuk Raina,” kata Anne saat meninggalkan Pram meninggalkannya.
“Oke, Mam.” Pram langsung berlari menuju parkiran.
***
Raina sudah berkeliling di mal tersebut, tapi Pram tidak juga datang. Perutnya yang terasa keram karena gejala datang bulan mengantarkannya pada salah satu restoran. Kalau sudah begini, dia memilih untuk makan.
“Sudah lama menunggu?” ucap Pram saat menemukan Raina yang menunggunya di Urban Kitchen.
Raina yang sedang menghabiskan minumnya langsung mendongak saat mendengar suara lakilaki yang tak asing. “Lumayan, tuh udah habis seporsi nasi, sop iga dan jus jeruk,” tunjuk Raina pada piringpiring kosong yang ada di meja makan. “Kamu mau makan dulu nggak?” tanyanya pada Pram.
“Tadi saya baru aja makan.”
Raina berjalan menuju meja kasir untuk membayar makanannya. Saat kasir tersebut menyebutkan jumlah yang harus dibayarkan, Raina mencari dompet di dalam tasnya. Berkalikali dia membuka setiap ritsleting pada bagian tasnya. Tapi dompetnya tidak ada.
“Kenapa, Rain?” tanya Pram menghampirinya.
“Hmm, dompetku kayaknya ketinggalan, deh,” jawabnya sambil menunduk dan sedikit panik.
Pram segera mengambil dompetnya dan membayar makanan Raina. “Ingatingat lagi, terakhir kamu pakai untuk apa.”
Raina mengangguk, sambil berpikir keras. Tapi dia benarbenar lupa. Untungnya tadi dia dijemput Pak Raden, jadi tidak perlu mengeluarkan ongkos taksi.
Selesai membayar makan, mereka berjalan menuju Food Hall. Pram mengambil trolley dan mereka mulai mencari segala kebutuhan. Mulai dari kebutuhan dapur, perlengkapan mandi dan perlengkapan pribadi.
Trolley mereka sudah terisi penuh. Tapi beberapa kali Raina menoleh pada sebuah rak dan terlihat ragu. Dia ingin mengambil pembalut tapi malu. Padahal persediaannya sudah habis dan tandatanda tamu bulanannya sudah akan datang.
“Ada yang masih kurang?” tanya Pram karena melihat Raina seperti mencari sesuatu.
“Hmm, nggak ada kok. Sabun, sampo, pewangi ruangan, susu, telur, sereal, keju sudah semua. Ada yang masih kamu cari?” Raina balik bertanya.
“Itu … kamu mau beli itu kan?” tunjuk Pram pada rak yang tersusun berbagai macam pembalut. “Saya perhatiin kamu dari tadi melihat ke arah situ aja. Kenapa nggak diambil sekalian?”
Wajah Raina memerah. Dia tidak tahu Pram memperhatikan gerakgeriknya. Tapi dia tidak dapat berkelit sama sekali.
“Anggap aja saya nggak lihat,” kata Pram sambil menahan senyum. “Saya tunggu di kasir ya.” Pram berjalan meninggalkan Raina lebih dulu.
Sementara Raina yang memang butuh, sudah mengesampingkan rasa malunya. Dia langsung memilih merek pembalut yang sering dipakainya. “Oh tamu bulanan, kenapa kamu datang di saat yang tidak tepat,” rutuknya
***
Raina membereskan segala kebutuhan dapur, sementara Pram membenahi perlengkapan mandi. Keduanya melakukan dengan inisiatif masingmasing. Terlebih Pram, Raina tidak menyuruhnya tetapi lelaki itu mau membantunya.
“Besok kamu mau makan apa?” tanya Raina saat Raina sedang mencuci tangannya.
“Memang kamu bisa masak?” Pram balik bertanya.
“Jadi kamu percaya katakata Kak Pasha? Diamdiam aku kan ikut les masak. Tapi tetap aja, di mata mereka aku nggak bisa masak.”
Pram malah tertawa. “Saya suka semua masakan Indonesia, apa pun itu.”
“Kalau aku masak sup ayam, kamu mau?”
“Boleh.”
“Waktu aku praktik masak sup ayam, buatanku rasanya paling enak lho,” Raina memuji dirinya sendiri. “Oke, besok aku masakin kamu sup ya….”
Dalam hati Pram tertawa. Lama tinggal di luar negeri membuatnya harus pandai dalam segala hal. Salah satunya memasak. Dan sup ayam masuk dalam kategori masakan paling mudah dibuat. Bahkan sejak lama dia sudah bisa meracik bumbu untuk berbagai macam jenis sup.
Selesai mencuci tangannya, Raina menghampiri Pram yang sedang menonton. Beberapa kali Pram menggantiganti channel, Raina tidak berkomentar sama sekali. Sampai Pram menyerahkan remot kepada Raina.
“Kamu aja yang pilih. Saya bingung mau nonton apa,” kata Pram.
Raina memilih channel secara acak, karena sejujurnya dia memang tidak memiliki acara TV yang ingin ditontonnya. Tapi remot TV berhenti saat wajah Adam Sandler dan Drew Barrymore muncul di layar kaca. Raina menoleh ke arah Pram dan meminta persetujuan. Pram mengangguk sebagai tanda setuju.
Raina hanyut melihat film yang berputar di depannya. Perjuangan Henry untuk mendapatkan Lucy membuatnya iri. Apalagi ketika Lucy kehilangan ingatannya, Henry sama sekali tidak menyerah untuk mendapatkan cinta Lucy.
“Kamu nangis?” Pram melirik ke arah Raina, yang tengah menghapus air matanya.
Raina tertawa, “Adam Sandlernya keren. Ini romantis banget tahu.”
“Itu kan cuma tokoh fiksi, nggak nyata,” kata Pram, tapi Raina tidak menggubrisnya. “Dasar perempuan.” Pram menertawai Raina yang terbawa oleh cerita yang mereka tonton.
“Tapi tetap aja keren. Lihat deh usahanya si Henry, walaupun Lucy lupa ingatan si Henry tetap cinta mati sama Lucy,” kata Raina nggak mau kalah dengan mata terfokus pada layar kaca.
Gantian Pram yang tertawa. “Kamu nggak sadar kalau kemarin jadi Lucy?” goda Pram.
Raina menoleh pada Pram dengan wajah bingung. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Pram. “Maksud kamu?”
“Coba kamu ingatingat kemarin,” kata Pram penuh tanda tanya. Dan akhirnya meninggalkan Raina. “Good night, Lucy,” ucap Pram sambil tersenyum jail.
“Dan aku harus panggil kamu Henry? Oh, Noooo…,” kata Raina terbahak sambil melempar bantal sofa saat pintu kamar Pram akan tertutup.
***