NOT A PERFECT WEDDING

NOT A PERFECT WEDDING
Episode 11



“Satu kotak kenangan, sama dengan harapan semu.”



“Honey ... kamu ingat nggak hari ini, hari apa?”



Raina tampak berpikir. “Hari Rabu,” katanya lalu sambil tertawa. “Memang ini hari apa sih?”



Pria di hadapannya hanya geleng-geleng kepala. Di mana-mana biasanya perempuan yang selalu peka dalam hal-hal kecil seperti ini. Tapi ini tidak berlaku bagi kekasihnya itu. Dijawilnya dengan lembut hidung mancung Raina.



“Hari ini kan, tepat dua tahun kita jadian.”



Raina tidak langsung menjawab dan memilih untuk membuka ponsel miliknya. Sedetik kemudian dia tertawa. “Maaf ya Kaka. Aku lupa banget kalau hari ini hari spesial kita.” Raina selalu memanggil Raka dengan sebutan Kaka. Ya, nama panggilan itu diambil dari nama Ricardo Kaka, salah satu pemain sepak bola favorit Raina yang gantengnya selangit. Buat dia, Raka sama gantengnya dengan idolanya itu.



Raka tidak akan kaget melihat ekspresi gadisnya yang tertawa tanpa dosa itu. Dia sudah hafal dengan kebiasaan Raina. Sekarang waktunya dia menjalankan sebuah rencana yang sudah disiapkannya sejak berminggu-minggu lalu. Kini hatinya sudah mantap. Gadis yang ada di hadapannya inilah yang akan menjadi pendamping hidupnya.



“Raina Winatama. Guru tercantik yang pernah aku temui. Sanggupkah kamu kehilangan fans-fans kamu demi hidup bersamaku?” tanya Raka sambil memegang kotak kayu dengan kuncup bunga di atasnya.



Pekerjaan Raina sebagai guru Bimbingan Konseling membuatnya akrab dengan siswa-siswanya. Tak ayal, ini sering membuat Raka cemburu. Kalau biasanya dia tertawa mendengar ledekan Raka tentang sebutan fans terhadap murid-muridnya, kali ini dia terdiam.



“Honey, harus ya aku ulangin lagi? Daripada kamu ngurusin fans-fans kamu itu, mendingan kamu ngurusin anak-anak kita. Aku mau punya lima anak, tiga laki-laki dan dua perempuan. Gimana menurut kamu?” Raka tersenyum serius menatap gadisnya.



“Ka, kamu ngelamar aku?” tanya Raina pelan tak percaya.



Gantian Raka yang tertawa. Dia langsung memeluk gadis itu. “Apalagi yang harus aku cari dari kamu? Cuma kamu satu-satunya perempuan yang bisa membuatku jatuh cinta sedalam



ini.”



Bukannya tersenyum, Raina malah menangis. “Kamu beneran mau punya istri kaya aku?”



Dihapusnya pipi Raina yang basah oleh air mata. “Ya, kamu satu-satunya yang aku inginkan bersamaku." Raka mengecup bibir Raina. Meyakinkan gadisnya, kalau permintaannya itu tidak main-main.



Bayangan Raka kembali menyeruak dalam lelap tidurnya. Raina langsung menggenggam erat bantalnya. Berusaha untuk tidak menangis lagi. Dia tidak mau membuat Pram yang kini terlelap di sebelahnya terbangun.



Semakin keras usahanya untuk melupakan Raka, maka semakin nyata kenangan itu muncul. Raina membalikkan badannya. Kini dia berhadapan dengan Pram. Kenapa laki­laki ini yang ada bersamanya? Dipandanginya wajah Pram yang lelah. Raina melihat wajah itu dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan.



Dalam diam, dia menilai Pram. Garis wajah Pram terlihat lebih kasar dibandingkan milik Raka, meski begitu wajahnya begitu tampan dan kokoh. Matanya tidak bisa menyangkal kenyataan itu. Satu lagi fakta dalam hidup Raina yang dia sadari, Pram adalah suaminya dan ini adalah takdir hidupnya. Tapi bolehkah dia mengingkari takdir itu?



Raina menyalahkan dirinya sendiri, tidak seharusnya dia mengagumi Pram. Dia menelan ludah dan menggeser badannya ke pinggir ranjang. Semestinya tadi, dia tidak mengizinkan Pram tidur bersamanya. Tapi ada rasa tidak tega dalam dirinya untuk menyuruh Pram tidur di sofa. Bagaimanapun juga, beberapa bulan ini ketika Raina sedang marah dengan keluarganya, Pram sudah menjaganya dengan sangat baik.



Kaka, sedang apa kamu di sana? Pikiran Raina langsung terbayang tentang Raka lagi.



Matanya sudah tidak mengantuk lagi. Apa yang harus dilakukannya saat ini? Pertanyaan­pertanyaan itu muncul dari kepalanya. Ditariknya napas dengan dalam, kemudian diikatnya dengan asal rambut panjangnya yang tergerai.



Di sinilah keberaniannya mulai muncul. Dia tidak boleh hidup dalam keadaan seperti ini. Pelan­pelan, dikumpulkannya barang­barang yang memiliki kenangan bersama dengan Raka yang ada di kamarnya.



Setiap benda­benda yang dipegangnya seakan menggoreskan luka di hatinya. Lebih dari selusin frame foto yang terpajang diambil dari tempatnya. Belum lagi boneka­boneka pemberian Raka dan juga pernak­pernik lainnya.



Tak terasa air matanya berjatuhan lagi.



Ka, maafin aku. Tunggu aku ya, sampai aku kuat untuk membuka ini semua lagi. Kepergianmu terlalu membuatku kehilangan arah. Aku nggak akan pernah ngelupain kamu, Sayang.



Raina tidak sadar kalau Pram terbangun. Sekarang gantian, Pram yang kebingungan melihat tingkah Raina. Dia menyenderkan punggungnya di kepala tempat tidur. Berusaha menerka apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.



Melihat Raina yang terduduk membelakanginya, membuat Pram semakin penasaran. “Are you okay, Rain?” Suara serak Pram mengagetkan Raina.



Tak menunggu lama, Pram langsung duduk di sebelah Raina. Dia tidak kaget sama sekali, saat melihat Raina yang sedang menangis.




Raina menggeleng lemah. “Raka sudah pergi. Dan dia tidak akan pernah kembali kan?” Suaranya terdengar putus asa.



Pram pun langsung merangkul tubuh Raina yang bergetar karena menahan tangisnya. “Seperti saya bilang, menangislah sampai puas.”



Dan tangis Raina benar­benar pecah. Dia tidak menyangka efek yang ditimbulkan dari barang­barang pemberian Raka mampu membuatnya kembali menangis lagi. Ditambah dengan Pram yang menawarkan pelukan untuk dirinya.



Setelah Raina lelah menangis, keduanya terdiam. Pram mengambil beberapa frame foto dan tertawa saat melihat foto­foto itu. Di foto­foto itu Raina dan Raka persis pasangan ABG yang tengah dimabuk cinta, berbagai macam pose diabadikan oleh mereka. Mulai dari wajah cemberut, tersenyum, tertawa bahagia sampai di momen­momen spesial mereka berpakaian rapi. Keduanya tampak begitu serasi.



“Kapan kamu pertama kali mengenal Raka?” tanya Pram.



“Dulu aku satu kampus sama dia. Tapi beda fakultas. Raka jurusan ekonomi sementara aku jurusan psikologi. Kami berteman karena sama­sama aktif di BEM kampus. Baru setahun setelah lulus, kami bertemu kembali.” Ada senyum yang merekah di wajah Raina saat membicarakan kenangan manisnya bersama Raka. “Sejak saat itu, Raka mendekatiku dan perempuan mana yang bisa menolak laki­laki seperti Raka? Kami pun berpacaran.”



Pram tersenyum. Ah Raka, dia memang anak Mami. Segala sifat baik yang dimiliki Mami diwariskan sepenuhnya pada diri Raka. Tanpa dimintanya terlebih dahulu, Raina kembali bercerita lagi.



“Dulu aku sempat nggak yakin sama hubungan kami. Kamu tahu kan? Kami sama­sama anak bungsu. Aku sempat berpikir ini hanya sesaat. Tapi aku salah, Raka justru tidak pernah menunjukkan egonya. Aku sadar, cuma dia laki­laki yang mau menerimaku apa adanya,” ucap Raina sambil tertawa karena membayangkan masa­masa indahnya bersama Raka.



“Kamu cantik dan menarik. Siapa pun laki­laki yang melihatmu pasti akan menyukaimu,” puji Pram tulus.



“Begitu ya? Berarti kamu salah satu yang tertipu.”



“Maksud kamu?”



“Aku cuma perempuan biasa. Sangat biasa dengan sifat manja, egois, dan ceroboh. Tanya aja sama Kak Arman dan Kak Pasha kalau nggak percaya,” kata Raina.



Pram tertawa. “Tanpa harus bertanya, saya tahu itu semua.”



“Raka cerita sama kamu?”



Pram menggeleng. “Dia selalu cerita yang baik­baik tentang kamu.”



“Oh ya?” Raina seperti tidak percaya.



“He’s in love with you.”



“Dulu. Tapi sekarang udah nggak.” Mata Raina berair lagi. “Maaf ya kemarin­kemarin aku pasti udah nyebelin banget. Padahal kamu udah baik banget,” ucapnya sambil menunduk, Raina tidak berani menatap wajah Pram.



“Rain ... bisa kita teruskan pernikahan ini?” Pram bertanya serius.



Seketika Raina menegang. Tidak menyangka di tengah malam seperti ini, mereka malah membahas tentang sebuah ikatan yang tak terlihat di antara keduanya.



“Kita coba semuanya dari awal.” Pram menatap dalam ke manik mata milik Raina yang sendu.



“Ini salah, Pram. Aku mohon, kamu sudah terjebak di sini. Kita tidak mencintai dan nggak akan pernah mencintai satu sama lain. Jangan pernah merasa terbebani atas kesedihanku.”



Pram kesal mendengar kata­kata Raina. Tidak bisakah Raina melihat kesungguhan hatinya untuk menjalani pernikahan ini? Meskipun awalnya ini adalah sebuah permintaan Raka. Tapi baginya, pernikahan bukanlah sebuah permainan. Yang dia tahu sekarang, dengan cara apa pun dia harus mempertahankan gadis ini, tetap menjaganya.



“Kamu istri saya, seseorang yang harus saya bahagiakan dan saya lindungi selamanya. Dan itu tidak akan pernah berubah.”



Raina tertegun sesaat. Lalu air matanya menetes lagi. Bahkan sekarang dia tidak tahu, dia menangis untuk apa. Sambil tersedu, dia hanya ingin mengakhiri ini semua.



***